
Setelah berbincang dengan suami Li Mei, pria yang duduk di kursi roda itu berbalik. Namun sayang, To Mu tidak menemukan sosok Guan Lin disana.
"Siaal! Aku melupakan lelaki itu! Dorong kursi rodaku ke ruangan Tuan Lauw, Guan pasti menemui Nuan!" teriak To Mu, ia kesal pada dirinya sendiri bisa-bisanya melupakan keberadaan Guan Lin di ruangan pesta.
Krngggggg...
Tiba-tiba suara alarm kebakaran terdengar, alat flame detector kebakaran menyala. Seketika air dari atap ruangan membasahi setiap tamu pesta yang berlarian mencari jalan keluar, termasuk To Mu yang akhirnya di dorong keluar ruangan mengarah keluar hotel bukan ke ruangan Tuan Lauw untuk mencari Yu Jie.
"Kenapa kalian mendorong kursi rodaku keluar hotel! Istri dan anakku ada di dalam sana! Pergi...!!! Selamatkan mereka atau kalian akan mati!" geram To Mu.
Para anak buahnya berlarian kembali ke dalam mencari ruangan Tuan Lauw, menyisakan beberapa pengawal untuk bersama Tuan mereka.
.
.
.
Satu jam kemudian di sebuah Villa pribadi beberapa kilometer jauhnya dari hotel tempat pesta berlangsung, Guan Lin sedang bersitatap tajam dengan wanita yang dirindukannya selama 7 tahun itu.
"Dimana putriku!" teriak Yu Jie saat di dalam ruangan Tuan Lauw dia berhasil dilumpuhkan Guan Lin dan terpisah dari Zhi Yang.
__ADS_1
"Putrimu? Atau... Putri kita?" Guan mengulum bibirnya, merasa lucu melihat akting Yu Jie sejak ia culik lebih tepatnya ia bawa kembali padanya.
"Apa maumu? Siapa kamu?" Yu Jie mendatarkan wajahnya, tidak menampakkan raut wajah apapun.
"Hahaha... Kau pikir aku akan terkecoh dengan sandiwaramu, sayang. Hei! Ayolah... kamu sendiri yang mengajariku caranya bersandiwara. Katakan, kenapa kamu bersikap begini? Kalau kamu tidak bicara, aku tidak akan mempertemukan mu lagi dengan gadis kecil yang sangat imut itu. Siapa tadi namanya, ah... karena dia anakku itu artinya marganya Kang. Namanya, Kang Zhi Yang." Guan tersenyum seolah dia telah menang melihat raut wajah kesal Yu Jie, wanita itu sudah tak bisa menetralkan wajahnya. Sangat terlihat jelas mimik wajah marah Yu Jie pada Guan Lin.
"Yu Jie... aku sudah tak punya kesabaran lagi. Tujuh tahun mencarimu kemana-mana seperti orang gila, sekarang ketika aku menemukanmu... Kau pikir aku akan melepasmu." Guan maju untuk mempersempit jarak yang merentang diantara mereka berdua. "Sayang... Aku merindukanmu," tangan Guan naik ke pipi Yu Jie, mengelusnya lembut tatapan matanya penuh kerinduan.
Yu Jie menutup matanya, mengigit bibir menahan nafas merasakan setiap belaian Guan yang teramat ia rindukan. Tiba-tiba wajah To Mu membayangi nya, seketika mata Yu Jie terbuka lebar ia pun memundurkan tubuh menjauh dari sentuhan tangan pria yang ia rindukan.
Wajah Guan nampak kecewa, matanya seketika sendu sekaligus kebingungan. "Ada apa sayang? Apa yang membuatmu seperti menghidariku? Aku..." Guan menelan ludahnya susah payah.
"Guan..." lirih Yu Jie.
Mata Guan yang tadinya meredup kini berbinar kembali, bibirnya tersenyum lembut. "Ya, ini aku. Kekasihmu, Guan."
Yu Jie menatap mata Guan sekilas, wanita itu lalu berjalan ke arah balkon menatap pekatnya malam diluar sana menyandarkan tubuh bagian depannya ke pembatas. Ia mendengar suara langkah kaki mengikutinya, merasakan deru nafas Guan di belakang tubuhnya. Lalu, tubuhnya dipeluk dari belakang.
"Sayang, katakan apa yang membuatmu seperti ini. Kenapa kamu tidak kembali padaku? Tujuh tahun, selama itu aku tersiksa seolah aku menunggu kamu mengembalikan jiwaku yang kamu ambil. Apa aku telah berbuat kesalahan padamu?" Guan meletakkan dagunya di pundak Yu Jie, memiringkan kepalanya menekan bibirnya di ceruk leher kekasihnya itu menyesap aroma tubuh wanita yang ia rindukan.
Nafas hangat Guan menyelubungi leher Yu Jie menembus sampai ke hatinya, bibirnya bergetar. "To Mu yang menyelamatkanku, jika tidak ada dia saat kecelakaan itu... A-aku pasti sudah mati. Aku baru lima bulan ini terbangun dari koma, awalnya dua bulan aku masih melupakan semua ingatanku. Namun, sudah tiga bulan ini aku mengingat semuanya tapi aku masih merahasiakan nya dari To Mu. Aku harus membalas budinya, Guan..."
__ADS_1
Helaan nafas dari hidung dan mulut Guan di lehernya terasa oleh Yu Jie, tubuhnya tak kuasa bergidik. "Hanya karena itu kamu selama ini belum kembali padaku? Hanya karena balas budi? Kamu tidak merindukanku..."
"Aku merindukanmu, Guan. Selama tiga bulan ini aku sangat tersiksa karena rindu padamu. Tapi... cobalah pahami aku. To Mu adalah pria baik, dia menyelamatkan dua nyawa. Nyawaku dan anakmu. Anak kita, Yang Yang." Suara Yu Jie bergetar menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam matanya, dadanya sangat sesak mengutarakan semua keinginan nya yang egois pada Guan.
Guan mengeratkan pelukannya, "Aku langsung tau jika anak perempuan yang kamu gendong adalah putriku, aku tidak pernah berpikir dia anak To Mu saat pria itu mengatakan sebaliknya bahwa kau istrinya dan anak itu putri kalian."
Yu Jie terdiam.
"Aku mengerti dan aku pasti akan ikut membalas budi pada pria itu, bersamamu." Jawab Guan dengan yakin.
Kening Yu Jie mengerut, wanita itu belum sepenuhnya paham apa yang dikatakan Guan. "Ma-maksudmu?"
"Ya, dari penjelasanmu yang singkat barusan aku sudah mengerti jika kamu selama ini bersama To Mu hanya karena balas budi. Aku akan mendukungmu membalas budi padanya, tapi... Kamu tidak harus berpura-pura menjadi istri lelaki itu," ujar Guan.
"Jie Jie, apa yang ingin kamu lakukan padanya, lakukan bersamaku. Kalau kamu masih tetap kembali padanya dan memutuskan hubungan denganku, percayalah... aku akan menggila dan membunuh siapapun untuk mendapatkan mu kembali meskipun orang itu yang telah berjasa menyelamatkan mu."
Mulut Yu Jie membulat, dia membalikkan tubuhnya menghadap Guan dengan tatapan tak percaya.
"Aku serius dengan perkataan ku, Yu Jie. Aku akan membunuh siapapun yang membawa mu pergi dariku apalagi menyakitimu, aku tidak ingin lagi menjadi Guan yang dulu yang mengikuti permintaan mu untuk tidak menyakiti siapapun. Namun pada akhirnya, aku malah kehilanganmu. Tidak akan lagi! Aku tidak akan mendengarkan mu kali ini! Apapun dan siapapun yang menghalangi kebahagian kita, aku akan memusnahkannya!" berakhirnya kalimat yang diucapkan Guan, lelaki itu menyerbu bibir Yu Jie dengan rakus penuh kerinduan dan tanpa kelembutan.
Awalnya Yu Jie menolak ciuman ganas itu, dia merasa didesak dengan paksa. Namun saat pipinya tiba-tiba basah oleh sesuatu yang ternyata adalah air mata Guan, seketika hatinya luluh. Yu Jie melihat pria itu menangis, matanya basah. Akhirnya Yu Jie menerima perlakuan Guan padanya, ia mengalungkan kedua tangan ke leher lelaki itu mulai merespons membalas pagutan yang semakin liar dan memanas. Tak lama tubuh mereka berdua tidak terbungkus apapun, setelah tujuh tahun lamanya memendam semua kerinduan akan hassraat dan cinta yang tertahan akhirnya semua tersalurkan dengan penuh kerakusan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Jie Jie," lirih Guan seraya mengeratkan pelukan pada tubuh tanpa busana Yu Jie yang tertidur dalam pelukannya. Mengecup kening wanita itu, dia pun ikut memejamkan mata dengan bibir tersenyum bahagia.