Dewi Seribu Jarum

Dewi Seribu Jarum
Bab 31 - Mengganti Pewaris dan Mencoret Ang Cheng.


__ADS_3

Di Perusahaan setelah peresmian menjadi CEO, Yu Jie sedang mengurus beberapa dokumen yang belum ia mengerti. Sedangkan Tuan Huang sudah diantar pulang dengan satu mobil pengawal dan satu mobil pengawal sisanya ada di Perusahaan menjadi pengawal Yu Jie, sekitar lima orang pengawal termasuk Jiao Long.


Tok.


Tok.


Tok.


"Siapa?" tanya Yu Jie.


"Ini saya, CEO Yu Jie... Jing Yi." Sekertaris Yu Jie mengetuk pintu.


"Ya, ada apa?" Yu Jie memijit pelipisnya yang pusing dengan laporan - laporan di beberapa dokumen yang belum ia pahami.


"Tuan Lee datang, ingin bertemu Anda," sahut Sekertaris.


"Baik, buka saja pintunya." Yu Jie menegakkan tubuhnya tak ingin terlihat terlalu pusing mengurus dokumen Perusahaan.


Pintu terbuka dari luar, yang pertama kali dilihat Yu Jie adalah senyum Hao Yu ia pun membalas senyuman pria itu.


"Kamu datang," sapa Yu Jie.


"Tuan Huang tadi meneleponku, Beliau meminta ku membantu mu hari ini jika aku tidak sibuk. Kebetulan hari ini aku banyak mempunyai waktu luang, kamu sungguh beruntung Yu Jie... Nona Zhu satu-satunya pewaris tunggal." Ujar Hao Yu seraya bercanda, tadi di telepon Tuan Huang menceritakan keadaan Yu Jie sekarang dan jujur ia ikut prihatin dengan yang segala masalah yang menimpa Yu Jie.


"Hm," Yu Jie menyilangkan kedua tangan nya di depan dada, menatap Hao Yu penuh selidik dan itu hanya pura-pura ia tau mungkin Hao Yu mengetahui tentang dirinya dari sang Papa.


"Ada apa? Aku salah bicara?" Hao Yu seketika salah tingkah ditatap seperti itu oleh wanita mempesona seperti Yu Jie.


"Sudah lah, pasti Papa sudah menceritakan padamu tentang aku. Sekarang bisakah kamu membantuku menjelaskan tentang laporan di dokumen ini, sekertaris mengatakan laporan ini harus di tanda tangani secepatnya." Yu Jie menyodorkan satu dokumen pada Hao Yu. "Maaf terus merepotkan mu, apa yang harus aku balas padamu?"


Hao Yu mengambil dokumen yang disodorkan, ia tersenyum. "Aku tak akan memberatkan mu, Yu Jie. Aku ikhlas melakukannya, dulu Tuan Huang sangat baik padaku saat aku bekerja di Perusahaan ini. Kamu tau, mimpiku adalah menjadi seorang Profesor ilmiah jadi aku terus menempel pada Ayahmu agar dibebaskan melakukan penelitian di laboratorium. Namun setelah aku menggantikan posisi kakakku, aku sudah mengubur mimpiku. Jadi, aku hanya ingin balasan sedikit saja."


"Apa itu?" tanya Yu Jie.


"Jika aku memintamu makan malam sesekali dengan ku, bisakah kamu mengiyakan?"


"Tentu, hanya makan malam apa susahnya." Yu Jie tersenyum, "Sekarang, mari bekerja."


Sampai waktunya makan malam akhirnya Yu Jie menyerah memeriksa dokumen yang tersisa. "Aku akan melanjutkan memeriksanya di rumah, kurang lebih aku sudah mengerti. Aku tinggal menanyakan pada Papa jika di rumah, ayo pergi makan. Malam ini, aku yang traktir Tuan Lee."


"Dengan senang hati, Nona Zhu."


Mereka berdua sudah akrab dengan begitu cepat, panggilan dengan marga seperti saling melempar candaan.


Setelah diluar Perusahaan, Yu Jie mendekati Jiao Long. "Ini temanku, Tuan Lee. Kami akan makan malam, apa kalian sudah makan? Maaf aku melupakan kalian."


"Kami sudah bergantian makan, Nona. Silahkan menikmati makan malam Anda." Jawab Jiao Long.


"Setelah dari restoran, aku akan pergi ke rumah keluarga Lim. Kalian boleh pulang lebih dulu untuk istirahat, biar aku sendiri ke sana."


Jiao Long menggeleng, "Tugas kami adalah menjaga keselamatan Anda, kemana pun Nona pergi kami akan mengawal."


"Baik, kalau begitu. Terima kasih," Yu Jie membalikkan tubuh mendekati Hao Yu yang membuka pintu kemudi untuknya. "Terima kasih."

__ADS_1


Mereka sepakat memakai mobil masing - masing menuju restoran yang disepakati, karena rencananya setelah makan malam mereka akan berpisah.


Restoran yang disepakati Yu Jie dan Hao Yu lumayan terkenal, beberapa para pemimpin Perusahaan sering melakukan pertemuan sembari makan di restoran itu.


Yu Jie dan Hao Yu berjalan beriringan masuk ke dalam restoran untuk mencari meja biasa diluar tanpa ruangan private, dan mendapatkan satu meja kosong di dekat jendela.


"Ayo pesan," Hao Yu menyodorkan menu pada Yu Jie setelah mereka berdua duduk.


"Hm, aku ingin makanan yang tidak terlalu berat." Ujar Yu Jie seraya membuka buku menu.


"Yu Jie," panggil seseorang.


Tentu saja Yu Jie mengenali suara itu, Ang Cheng!


Kenapa harus bertemu manusia busuk ini! Astaga! kesal Yu Jie.


"Ya, Tuan Lim. Anda sedang makan juga, kah?" Yu Jie mau tak mau menoleh pada Ang Cheng.


"Aku sedang ada pertemuan bisnis, tak menyangka akan melihatmu disini... istriku." Ang Cheng tersenyum, lalu menoleh pada Hao Yu.


"Tuan Hao Yu, kita bertemu lagi. Bagaimana kabar mu dan Perusahaan. Tentang Tuan Max, maafkan aku karena aku berhasil mendapatkan kontrak dengan nya. Aku tidak berniat merebutnya darimu, sungguh." Ang Cheng meminta maaf tapi tatapan matanya mengatakan jika dia tidak menyesal sedikit pun dan mencemooh Hao Yu.


Tangan Hao Yu gatal ingin menarik dasi yang melingkari kerah kemeja Ang Cheng lalu mencekik saingan nya itu yang selalu curang mengambil klien nya. Apalagi sekarang ia mengetahui tentang keadaan Yu Jie yang dikhianati Ang Cheng menambah kebencian nya. Ia tau Yu Jie bukan siapa - siapa baginya, tapi dia menghormati Yu Jie karena kebaikan wanita itu dan juga menghormati Tuan Huang.


"Malam, Tuan Ang Cheng. Kita bertemu lagi, sama seperti sebelumnya kita selalu bertemu disaat aku sedang bersama istri mu. Ada apa sebenarnya, kenapa bukan kamu yang selalu bersama istrimu tapi malah aku yang seharian ini bahkan terus berada di sisinya?" skakmat, Hao Yu tersenyum penuh kemenangan. Dia sengaja mengatakan nya karena ia mengetahui jika Ang Cheng tidak mau bercerai dari Yu Jie dan tidak mau berpisah dari Yu Jie.


"Kau!" amarah Ang Cheng tersulut, dia menarik jas kerja Hao Yu membuat tubuh Hao Yu tertarik ke depan.


"Ang Cheng! Lepaskan!" Yu Jie seketika berdiri menarik tangan Ang Cheng agar melepas cekalan tangan nya dari Hao Yu.


"Apanya yang salah?! Hao Yu berkata kebenarannya! Kami seharian ini memang bersama dan kita berdua memang tidak pernah bersama! Ang Cheng, kau hanya tidak ingin harga dirimu terluka karena aku bersama pria lain!" bentak Yu Jie. "Lepas! Atau aku akan melakukan hal seperti tempo hari yang membuat mu kesakitan dan muntah darah!"


Tubuh Ang Cheng menegang, sepertinya Yu Jie tak hanya menggertak. Wanita itu sudah mengeluarkan kotak jarum nya, Ang Cheng akhirnya melepaskan cekalan nya pada jas Hao Yu.


Sial! Bahkan Yu Jie sudah memanggil akrab nama Hao Yu! Batin Ang Cheng kesal.


"Pergi! Aku sedang kelaparan dan ingin makan dengan tenang!" Yu Jie mendorong tubuh Ang Cheng agar pergi, ia benar-benar tak memberi muka pada Ang Cheng.


Ang Cheng menahan diri diperlakukan seperti itu oleh Yu Jie, tak ingin Yu Jie semakin membencinya. "Aku pergi, jaga kesehatanmu. Aku tidak ingin kamu sakit."


"Cih! Terlambat untukmu mengkhawatirkan ku, jangan menghabiskan waktumu dengan berupaya mengambil hatiku lagi. Gunakan saja waktumu untuk mempersiapkan kelahiran anakmu dari Li Mei! Persiapkan mental mu saat aku menarik mu ke dalam kemiskinan yang bahkan keluargamu tak akan bisa membantumu nanti! Ini bayaran karena kau menyepelekan gertakan dan ancaman ku! Sekarang pergi!" Yu Jie kemudian duduk kembali di kursinya dan membuka buku menu sepenuhnya mengacuhkan Ang Cheng yang masih berdiri di dekat meja.


Dengan harga diri yang terluka Ang Cheng pergi dari meja Yu Jie, berjalan mencari ruangan private yang ia pesan untuk bertemu dengan klien-nya.


"Maafkan kejadian barusan," ujar Hao Yu, ia memang sengaja memanasi Ang Cheng.


"Sudahlah, Ang Cheng memang pantas diperlakukan seperti itu. Aku akan memesan sekarang, kamu juga pilihlah menu nya." Yu Jie menutup buku menu lalu menoleh ke arah luar melalui jendela, ia menghela nafas pelan.


Satu jam lebih berlalu, selesai makan Yu Jie berpamitan pada Hao Yu. Ia membawa mobilnya ke kediaman Lim, untuk memberikan vaksin dan menyuntikkan pada mereka. Para pengawal masih mengikutinya di belakang, Yu Jie sampai di kediaman Lim tidak sampai 20 menit.


Yu Jie dipersilakan masuk, dia menunggu di ruang tamu. Ia meminta kepala pelayan yang menyambutnya untuk memanggil seluruh keluarga Lim. Yu Jie menaruh kotak paramedis di atas meja yang sudah ia bawa di mobilnya, seperti peralatan suntik dan lainnya.


"Yu Jie! Kamu datang. Mama merindukan mu," Nyonya Lim menarik Yu Jie ke dalam pelukan, mengelus punggung tegap milik Yu Jie.

__ADS_1


"Aku juga merindukan Mama, maaf akhir-akhir ini aku sangat sibuk."


"Baik, baik. Asalkan kamu baik-baik saja, pasti Ang Cheng membuatmu pusing kan. Dia bersikeras mengatakan pada Mama tak ingin berpisah darimu, tapi Mama akan mendukung mu sepenuhnya sayang." Nyonya Lim melepaskan pelukan nya, "Mama sempat datang ke rumah Ang Cheng dan bicara dengan adikmu Li Mei. Mama dengan tegas mengatakan tak ingin dia menikah dengan Ang Cheng dan menjadi bagian dari keluarga kami. Jika benar anak yang dikandung Li Mei adalah anak Ang Cheng, Mama hanya akan mengambil anak itu. Maaf, tapi Mama tak menyukai adikmu sama sekali. Jika Li Mei wanita baik-baik, seharusnya sejak awal dia tidak mendekati Ang Cheng dan berhubungan dengan calon kakak iparnya sendiri. Mama tidak bisa menerima Li Mei, Mama juga malu padamu... Yu Jie."


"Aku datang kesini juga ingin bicara tentang perceraian kami, tapi lebih dulu aku ingin mengatakan sesuatu hal yang mungkin sulit Mama percayai. Dimana kakek Lim dan Ayah?"


"Kami disini," Tuan Lim dan Kakek Lim masuk ke ruangan diikuti Ang Bei.


"Halo kak Yu Jie," sapa Ang Bei, adik Ang Cheng putra kedua keluarga Lim.


"Aku sudah lama tidak melihatmu, kemarilah peluk kakakmu ini," Yu Jie bangun dari duduknya dan berdiri seraya merentangkan tangan nya.


Ang Bei nyengir, dia berjalan ke arah Yu Jie yang sudah seperti kakak perempuan kandung nya lalu memeluk dengan erat. "Aku menyesalkan perpisahan mu dengan Kak Ang Cheng, tapi karena disini kak Ang Cheng yang bersalah aku lebih mendukung mu. Ciayo...!"


"Kamu memang adikku," Yu Jie lalu melepas pelukan nya. "Ayah, Kakek mari duduk. Aku ingin mengatakan sesuatu."


Dengan menjelaskan secara detail tentang penyakit yang akan datang beberapa hari lagi, Yu Jie lalu mengeluarkan vaksin yang sudah dimasukkan ke dalam botol - botol berukuran kecil.


"Apa Mama, Ayah, Kakek percaya padaku?" tanya Yu Jie sebelum ia menyuntikkan vaksin.


"Kami tau kamu kamu tidak akan berbohong, jadi kami tentu saja percaya. Kalau pun penyakit yang kamu katakan tidak datang, obat yang akan kamu suntikkan akan baik juga untuk tubuh. Katamu, vaksin ini untuk menghasilkan kekebalan terhadap penyakit dan mencegah infeksi juga menambah vitalitas. Jadi tak ada ruginya, bukan?" jawab Kakek Lim.


Yu Jie merasa lega dengan pikiran terbuka keluarga Lim, sama hal nya seperti pikiran Tuan Wan Xue.


"Aku akan memeriksa lebih dulu kesehatan semuanya, jika ada yang sedang sakit aku tidak bisa menyuntikkan vaksin ini." Ujar Yu Jie.


"Tentu, mulai lah." Jawab Tuan Lim, Ayah Ang Cheng.


Satu - persatu diperiksa Yu Jie, dimulai dari kakek Lim dan untung saja kakek Lim sedang sehat. Usinya yang sudah menginjak usia 88 tahun masih bisa mendapat vaksin karena Yu Jie mencampur dengan formula yang ia temukan dari kotak di rumah desa. Setelah meneliti formula itu bersamaan meneliti vaksin, ternyata khasiat formula itu untuk meningkatkan vitalitas tubuh. Formula itu sangat cocok untuk pria maupun wanita diatas usia 45 tahun, untuk meningkatkan vitalitas hidup agar terlihat lebih segar dan kuat apalagi meningkatkan vitalitas bagi pria.


"Oke, Kakek pertama. Apa Kakek siap?" Yu Jie sudah siap dengan suntikan nya.


"Tentu, kamu pikir aku akan takut." Namun dalam hatinya, Kakek Lim ada sedikit ketakutan tapi ia berusaha terlihat kuat.


"Hihi..." Yu Jie cekikikan melihat bulir - bulir keringat di pelipis Kakek Lim menandakan Kakek Lim memang merasa takut. "Aku mulai."


Setelah Kakek Lim, berlanjut pada Tuan Lim lalu Nyonya Lim dan Ang Bei. Lalu seluruh pelayan di kediaman Lim, termasuk supir dan para pria pekerja kasar di kediaman besar Lim.


"Selesai, aku harus pulang. Papa pasti sedang menunggu ku." Yu Jie membereskan peralatan medis memasukkan kembali ke dalam kotak medis yang ia bawa.


"Katamu ada yang ingin kamu katakan tentang perceraian mu dengan Ang Cheng," Nyonya Lim mengingatkan.


"Ah, aku lupa. Singkat saja, begini... Ang Cheng sangat menyusahkan ku dalam perceraian kami. Dia memberikan syarat yang tidak bisa aku tolerir, jadi... aku meminta ijin untuk menggugat Ang Cheng ke pengadilan. Mungkin akan mempermalukan keluarga besar Lim, apa tidak apa-apa? Aku juga mungkin melakukan hal yang akan dibenci, misalnya menghancurkan usaha Ang Cheng."


Semua orang terdiam, bahkan mungkin sedang menahan nafas. Yu Jie menunggu, dia hanya ingin menghargai keluarga yang sudah baik padanya jadi sengaja mengatakan niatan nya.


"Hhhhhh...." Kakek Lim mendesaahh pasrah. "Kami sudah berjanji akan mendukung mu, Yu Jie. Jadi, apapun keinginan mu kami akan tetap mendukung. Jika memang itu sudah keputusan mu, kami tak akan ikut campur. Tapi... jangan mengganggu usaha besar keluarga Lim. Ang Cheng mempunyai usahanya sendiri, kamu mengerti bukan?"


"Ya, Kakek. Aku mengerti. Aku berjanji tak akan menyentuh usaha dan kekayaan keluarga Lim. Aku hanya ingin membuat kapok Ang Cheng."


Nyonya Lim sebenarnya kasihan pada putra pertamanya, namun Ang Cheng memang sudah keterlaluan pada Yu Jie. Ia sudah menanyakan kembali pada peramal tentang kelanjutan keluarga Lim setelah Ang Cheng dan Yu Jie berpisah, peramal mengatakan asalkan semua keinginan Yu Jie dipenuhi maka keluarga Lim akan aman dari malapetaka. Bahkan Kakek Lim sudah menyuruh Putranya Tuan Lim untuk mengganti pewaris dan mencoret nama Ang Cheng, warisannya nanti hanya akan diberikan pada Ang Bei sebagai putra kedua dan pada Yu Jie pengganti Ang Cheng. Pengacara masih sedang merevisi dan setelah selesai baru akan diumumkan pada Ang Bei dan Yu Jie serta Ang Cheng.


_____

__ADS_1


All, meskipun 1 bab tapi 2000 kata lebih ya. Jadi Up hanya satu Bab 🫰🫰🫰


__ADS_2