
Di dalam mobil, Yu Jie mengelus kepala putrinya yang tertidur di pangkuan. Sejak kepergian nya dari kediaman To Mu, Guan terus saja diam.
Apa Guan masih marah karena cemburu aku selama ini tidur sekamar dengan To Mu? Yu Jie terus membatin merasakan sikap dingin Guan padanya.
Sedangkan dipikiran Guan bukan lagi memikirkan tentang Yu Jie yang selalu tidur seranjang dengan To Mu, namun bagaimana dia mengatakan pada Yu Jie tentang orang yang ikut berkonspirasi akan kecelakaannya yaitu orang yang disayangi Yu Jie sebagai keluarga. Apa Yu Jie akan percaya?
"Guan, bisakah kamu tidak mendiamkan ku. Aku masih sabar menghadapi kecemburuan mu," akhirnya Yu Jie tak menahan kekesalannya lagi.
Guan yang duduk di jok depan akhirnya menoleh ke belakang, melihat Yu Jie memangku kepala putri mereka seketika ia melembutkan tatapan nya. "Putri kita sungguh manis, dia pasti kelelahan karena terus menangis tidak mau berpisah dari To Mu."
"Ya, bagaimana pun To Mu yang selama ini selalu bersama putri kita disaat aku terbaring koma. Jadi wajar saja, Yang Yang sangat keberatan berpisah dengan To Mu. Aku beruntung, kamu mengerti dengan keadaan." Yu Jie tersenyum.
"Pengertianku hanya berlaku pada putri kita, sedangkan mengenai dirimu aku tidak akan mentolelir nya. Aku tidak akan membatasi kedekatan putri kita dengan To Mu, namun kamu harus membatasi diri saat bertemu dengannya nanti. Aku mengijinkan mu mengobati To Mu bukan berarti lelaki itu bisa berbuat semaunya padamu. Mengerti?" Guan hanya tidak ingin Yu Jie terus tersentuh dengan kebaikan pria lain, hanya boleh dirinya.
"Aku mengerti, bahkan sangat mengerti jika cemburu mu sangat menakutkan. Ckckck..."
Guan hanya mengangkat bahu tidak perduli, apapun mengenai Yu Jie dia tidak bisa dan tidak akan berkompromi. Titik!
__ADS_1
Mobil akhirnya sampai di kediaman Zhu, Guan membawa Yu Jie pulang ke kediaman wanita itu. Namun saat pintu terbuka dari dalam oleh pembantu, Yu Jie mendengar gelak tawa sang Ayah dengan anak kecil. Zhi Yang sendiri sudah terbangun dan berdiri tidak jauh dari sang Mama.
"Kakek curang!" suara anak kecil perempuan.
Guan yang mengetahui siapa yang sedang bersama Tuan Huang, menahan tangan Yu Jie. "Sepertinya Li Mei dan putrinya sedang datang kesini, mungkin Ayahmu yang meminta datang karena Ayahmu sudah tau aku membawamu pulang dan ingin mempertemukan kalian. Apa kamu ingin pergi dan kembali nanti setelah Li Mei pergi dari sini?" tawar Guan.
Saat masih memikirkan apa yang akan dilakukan, suara Tuan Huang kembali terdengar. "Apa kamu cucuku? Dimana Ibumu, Yu Jie?"
Guan dan Yu Jie terkejut, ternyata disaat mereka berdua lengah Zhi Yang sudah masuk menemui kakeknya. Dengan cepat Yu Jie ikut masuk, akhirnya mau tidak mau di harus bertemu Li Mei.
Benar saja, Li Mei ada disana sedang duduk dengan gelisah seperti tidak nyaman. Saat melihat Yu Jie, dia bangkit dari kursi dengan tersenyum mulus. "Ka-kak Yu Jie, syukurlah kamu kembali. Aku mengatakan pada Papa bahwa aku melihatmu di pesta, tapi ternyata Papa sudah mengetahui lebih dulu dari Tuan Guan. Aku senang kamu kembali." Tiba-tiba Li Mei memeluk tubuh Yu Jie.
Kening Tuan Huang mengerut melihat perilaku kasar Guan pada Li Mei, dia akui putri keduanya itu memang banyak salah pada Yu Jie namun itu dulu sebelum akhirnya Li Mei kini sudah berubah dan terus menemaninya di rumah disaat Yu jie tidak ada.
"Guan, Li Mei sudah banyak berubah. Bahkan selama Yu Jie tidak ada, dia yang selalu menemani dan merawat ku. Jangan bersikap kasar padanya," Tuan Huang maju mendekat, lalu tatapan nya beralih menatap putri sulungnya yang kembali setelah tujuh tahun lamanya.
"Selamat datang kembali, putri Papa." Tuan Huang merangkul tubuh sang putri, mengelus rambut Yu Jie penuh kasih sayang.
__ADS_1
Yu Jie menahan rasa penasarannya akan sikap Li Mei, dia tidak serta merta percaya adik tirinya itu sudah berubah menjadi orang baik. Dulu, mungkin ia akan terkecoh sebelum kehidupan keduanya. Namun kini tidak lagi, apalagi dicurigai Ibu Li Mei ikut bersekongkol dalam kecelakaan meskipun nama Li Mei tidak ada dalam daftar dia tak akan begitu saja percaya seperti Papa nya sekarang.
Untuk sekarang Yu Jie lebih memilih mengikuti permainan Li Mei, itu tidak akan lama sampai kepercayaan sang Papa kembali dikhianati. Yu Jie akan mencaritahu apa keinginan Li Mei dengan mendekati sang Papa dengan sikap baiknya, yang ia yakin semuanya hanya pura-pura.
"Pah, aku dan Ling Ling harus pergi. Suamiku akan segera makan siang, aku harus mengantar ke Perusahaan." Li Mei begitu lancar bicara dengan baik pada sang Papa, benar-benar terlihat seperti putri yang baik.
"Ajak suamimu makan malam disini, menyambut kakakmu pulang kembali." Tuan Huang lalu memeluk Ling Ling sang cucu mengecup pipi gadis kecil itu. "Cucu kakek, nanti main lagi ya."
"Iya kek, dadah kakek." Kemudian mata Ling Ling mengarah pada Zhi Yang, namun tatapan mata gadis kecil itu seperti kesal karena mengingat di pesta Zhi Yang menubruknya.
"Ling Ling, dia sepupumu. Ucapkan salam, Nak." Ujar Li Mei mendekatkan putrinya dengan putri dari Yu Jie.
"Enggak mau!" dengan cepat Ling Ling berlari keluar.
"Maaf Pah, Maaf kak Yu Jie. Ling Ling emang agak manja, harap dimaklumi. Nanti malam aku bawa suamiku kesini, aku pamit."
Guan menyipitkan mata menatap kepergian Li Mei, "Dasar wanita busuk tidak tau malu!" geram Guan namun terdengar oleh Tuan Huang. Wajah pria berumur itu memerah, menahan marah.
__ADS_1
"Maaf Pah, mulut Guan memang begitu. Jangan marah, apa Papa tidak merindukanku?" Yu Jie berusaha menenangkan sang Papa. "Lihatlah, dia juga cucumu." Dengan lembut Yu Jie menarik lengan Zhi Yang mendekatkan pada Papanya.
"Ya Tuhan, maafkan kakek cucuku. Kakek melupakan kehadiranmu, sini peluk kakek." Akhirnya Tuan Huang melepaskan kemarahannya barusan dan tersenyum bahagia dengan kembalinya Yu Jie serta cucu perempuannya yang lain.