Dewi Seribu Jarum

Dewi Seribu Jarum
Bab - 58 Mereka Terlalu Banyak Mempunyai Hutang Padaku.


__ADS_3

Makan malam di kediaman Zhu, dihadiri Yu Jie serta Guan tentu saja. Lelaki itu bertekad akan terus menempel pada Yu Jie meskipun wanita itu terlihat kuat namun hatinya benar-benar akan terasa lega jika Yu Jie terus berada dalam pandangannya.


"Quon, apa ada sesuatu di wajah ku?" Yu Jie bertanya karena terus ditatap oleh suami Li Mei.


"Tidak... tidak, maafkan saya Nona Yu Jie ah maksudku kakak ipar. Aku merasa pernah melihat Anda dimana? Saya tau Anda menghilang tujuh tahun lalu, tapi saya merasa pernah melihat Anda."


"Mungkin karena selama tujuh tahun itu saya tinggal bersama seseorang yang kamu kenal, adik ipar. Kamu pasti mengenalnya, dia adalah Tuan To Mu."


"Ah! Saya ingat sekarang, saat saya datang ke rumah Tuan To Mu Anda menyapa saya sebentar. Kenapa saya tidak mengenali Anda sebagai kakak Li Mei, padahal saya pernah melihat foto Anda di rumah ini. Jika saya mengenali Anda, tentu Anda akan lebih cepat kembali kesini. Maaf, kakak ipar." Ucap Quon dengan penuh ketulusan.


Quon memang lelaki baik, dulu dia dilarang berhubungan dengan Li Mei karena sudah dijodohkan. Lantas ia selalu berjanji temu sembunyi-sembunyi dengan Li Mei di suatu tempat, karena Li Mei mengandung anaknya orang tua Quon akhirnya menyetujui pernikahan mereka.


"Santai saja adik ipar, bukankah sekarang aku ada disini. Kapan-kapan kita mengobrol, ayo makan makananmu nanti dingin." Yu Jie membalas dengan senyuman hangat.


Tuan Huang selaku Ayah sangat bahagia, kedua putrinya kini berkumpul kembali dengan baik. Mempunyai dua cucu perempuan di usianya yang semakin lanjut, membuatnya hanya ingin hidup dengan damai dan tenang tanpa memikirkan hal-hal yang dianggapnya tidak lebih penting dari kebersamaan.


Malam hari Yu Jie merayap ke kamar Li Mei yang tengah terbaring, sang Papa meminta semua menginap dengan alasan ingin sarapan pagi bersama. Kini dengan jarumnya, Yu Jie sudah berada di samping ranjang adik tirinya itu. Sedangkan Quon tidak ikut menginap dengan alasan ada meeting pagi dan malam itu harus memeriksa dokumen yang belum selesai diperiksa.


Li Mei tertidur sendiri di ranjang, tadi Ling Ling ingin tidur dengan kakeknya. Yu Jie leluasa berbuat sesuatu pada Li Mei, kini dia mencekik leher Li Mei yang sepertinya sudah bermimpi.


"Arhhght!" kedua mata Li Mei terbuka dengan membelalak, nafasnya tersengal-sengal.

__ADS_1


"Aku kembali... kau dan ibumu sudah berusaha membunuhku. Tunggu pembalasanku. Aku akan membunuhmu!" melihat Li Mei kesakitan, Yu Jie merenggangkan cekikannya.


"Arghht..." bibir Li Mei bergerak namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar.


Jleb!


Yu Jie menusuk jarum ke tubuh adik tiri nya itu membuat Li Mei seketika tak sadarkan diri. Lantas Yu Jie turun dari ranjang dengan tersenyum. "Ini baru permulaan, saat kau mengkhianati ku dulu merebut Ang Cheng aku diam saja. Kini, apa kamu pikir aku akan diam saja kamu bersandiwara mendekati Papa. Apa kau pikir aku masih bodoh?! Ckckck... Untung saat aku bertanya pada Papa, dia jujur padaku mengatakan warisan sudah dibagi rata dengan mu. Kau pikir aku akan membiarkan mu mendapatkan harta Papa, mimpi saja wanita jalllang!"


Dengan tersenyum puas, Yu Jie keluar dari kamar Li Mei. Di tengah jalan, tangannya ditarik seseorang siapa lagi kalau bukan Guan.


"Stttt!" Guan menutup bibir Yu Jie yang ingin bersuara.


"Aku kira kamu sudah tidur nyenyak," ujar Yu Jie setelah Guan melepas bekapan di mulutnya.


"Ck, kamu pikir aku akan menjadi wanita baik setelah hampir mati. Aku sekarang sudah kembali dengan sehat, tentu saja aku akan membalas semua orang yang menjahatiku. Li Mei berpura-pura menjadi putri dan adik yang baik, dia salah besar karena sudah lama aku bukan Yu Jie yang lugu lagi."


"Khee... he... tatapan matamu saat membicarakan musuh sangat menakutkan. Aku juga tidak akan segan-segan lagi memusnahkan mereka satu-persatu. Bagaimana setelah Li Mei, kita bantai Lien Hua dan kakak lelaki Feng Lian dan wanita itu pastinya?"


"Kamu bantai saja kakak Feng Lian, aku akan berurusan dengan Lien Hua dan mantan ibu tiriku serta Li Mei."


"Aku percaya padamu, sayang. Kamu pasti tidak akan berbelas kasih lagi pada mereka, bukan?"

__ADS_1


"Ya, mereka terlalu banyak mempunyai hutang padaku. Rumah yang dibakar mereka milik kakek nenekku di desa saja aku belum membalasnya, tapi mereka malah berkomplot membunuhku dalam kecelakaan itu. Siapapun, tidak akan aku ampuni!" janji Yu Jie.


"Tapi, ada seseorang yang harus kamu temui. Dia juga ikut terlibat, sekarang aku sudah mengurungnya di ruangan rumah pribadiku. Aku masih bingung menghukumnya, aku masih ingin menghargai mu." Jujur Guan.


"Siapa?"


"Itu..."


"Ada apa? Kenapa kamu ragu?" tanya Yu Jie semakin penasaran melihat mimik Guan yang tak nyaman.


"Dia seseorang yang sudah kamu anggap keluarga."


"Apa dari keluarga mu?" terka Yu Jie.


"Bukan."


"Lalu?"


"Dia, Ang Bei."


Mulut Yu Jie terkunci rapat, namun matanya memerah dan akhirnya ia menghela nafas panjang. "Jelaskan, kenapa dia ikut andil dalam kecelakaan ku?"

__ADS_1


Kemudian dengan perlahan agar Yu Jie mengerti, Guan menjelaskan tentang hubungan Ang Bei dengan Lien Hua yang terjalin di belakang mereka.


__ADS_2