Dewi Seribu Jarum

Dewi Seribu Jarum
Bab 40 - Menabuh Genderang Perang.


__ADS_3

Guan Lin melirik Jun, "Keluarlah. Aku akan bicara dengan Yu Jie, kamu terus lacak keberadaan Xian. Hubungi Feng Ying, mungkin saja Xian sedang bersamanya."


"Baik, Tuan Muda." Jun melangkah keluar.


Yu Jie melepaskan pelukan Guan, berjalan ke kursi putar di balik meja kerja kekasihnya duduk disana dengan bersedekap sengaja mendominasi situasi agar Guan berkata jujur padanya. Menatap tajam sang kekasih, membuat Guan berdiri dengan tegap seolah sedang mendapat hukuman ditambah lagi ia memang mengkhawatirkan adik perempuannya.


"Sayang, bisakah jangan menatapku seperti ingin mengulitiku. Maaf aku merahasiakan nya selama beberapa waktu, dengarkan rekaman ini." Guan memutar rekaman hasil sadapan di laptop, Yu Jie tidak bicara apapun selama rekaman diputar.


BRAKKK!


"Brengseekk...!!! Rupanya mereka ingin mati! Aku masih menahannya selama ini! Lalu apa hubungannya rekaman ini dan Xian? Kenapa Xian bicara seperti itu padaku? Apa karena Feng Ying saudara Fen Lian? Apa kamu melarang adikmu berhubungan dengan Feng Ying hanya karena Fen Lian?! Kau bodoh! Pantas saja Xian menghilang, pasti dia kabur!"


"Jie Jie... kamu memanggilku bodoh. Ka-mu..."


"Ya! Kamu bodoh dan juga Kakak egois! Kau hanya memikirkan tentangku, iya kan?! Tapi kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan adikmu, bukankah kamu sendiri yang menjodohkan Xian dan Feng Ying karena masalahku tentang obat. Aku membenci mu saat ini... tapi aku lebih membenci diriku sendiri, Guan! Ini semua berawal dariku, dan akhirnya tetap bermasalah karena aku... kamu menyakiti adikmu! Aku akan mencarinya! Guan, jangan bicara padaku kalau kamu masih tidak merenungi kesalahanmu!" Yu Jie bangkit dari kursi berjalan melewati Guan yang berdiri.


Yu Jie benar-benar tak enak hati pada Xian, dulu gadis itu dipaksa menerima perjodohan tapi setelah berhasil malah dipisahkan dan hanya satu alasan semua itu, karena dirinya!


"Jie Jie, aku melakukan nya karena sejak awal aku tertarik padamu. Kini aku mencintaimu, apa salahku?!" Guan tidak terima.


"Siaalaan kau Guan!" Ia membuka pintu dengan tarikan keras, Yu Jie berniat pergi dari sana dengan amarah yang meledak-ledak.


"Jie Jie!" teriak Guan menyusul Yu Jie.


"Jangan bicara denganku! Jangan pernah datang padaku lagi kalau kau belum menemukan Xian! Kau dan cinta brengsekk mu itu aku tak membutuhkannya jika hanya menyakiti orang-orang di sekeliling mu!"

__ADS_1


Langkah Yu Jie terhenti saat Tuan Wan Xue berjalan ke arahnya. "Salam, Tuan. Maaf hari ini saya tidak bisa berbincang dengan Anda, saya harus segera pergi."


Tanpa menunggu lama setelah membungkuk memberi hormat, Yu Jie pergi dari kediaman timur.


Tuan Wan Xue masih menatap pintu terbuka yang dilewati Yu Jie, lalu ia menoleh pada putra tertuanya yang tidak berani mengejar Yu Jie dan hanya mematung menatap kepergian Yu Jie.


"Kalian bertengkar? Kenapa? Kamu mengkhianatinya? Iya?!" bentak Tuan Wan Xue.


Guan menghembuskan nafas tertahannya, lalu menarik nafas pelan. "Apa Ayah pikir aku akan mengkhianatinya, wanita luar biasa seperti Yu Jie? Huh! Ini masalah Xian, putrimu menghilang."


"Kenapa dia menghilang? Apa dia tidak mau melanjutkan perjodohan dengan Feng Ying?" tanya Tuan Wan Xue yang belum mengetahui apapun.


"Justru itu! Xian sepertinya sudah menyukai Feng Ying tapi aku melarang nya dan selama beberapa hari ini aku menyuruh Jun menjaga Xian agar tak berhubungan dengan Feng Ying. Mungkin Xian marah dan kabur atau dibawa kabur oleh Feng Ying, aku masih mencari tahu."


"Apa alasanmu melarang adikmu?" tanya Tuan Wan Xue kebingungan.


***


Seperginya dari kediaman timur, Yu Jie menyuruh Haocun membawanya ke kediaman keluarga besar Chu. Dengan amarah yang tertahan dia ingin menghajar Ming Na dan Li Mei. Namun, di pertengahan jalan ia menyuruh Haocun memutar arah.


"Anda sebenarnya ingin kemana, Nona?" tanya Haocun di balik kemudi, dengan satu pengawal lainnya di samping Haocun.


"Ke Kediaman Barat, aku ingin bertemu Fen Lian dengan wajah asli wanita itu!" geram Yu Jie.


"Apa saya perlu mengabari Tuan Muda, kalau Anda nantinya berada dalam bahaya... Tuan Muda akan murka." Jawab Haocun.

__ADS_1


"Tidak perlu! Setelah aku selesai dengan urusan ku jika kamu mau melapor, laporlah! Tapi jangan melapor sekarang, aku tidak ingin dicegah apalagi diganggu Tuan Muda-mu!"


Haocun menatap rekan pengawal nya di jok samping, rekannya itu hanya mengangguk.


"Baik, Nona."


Tak butuh lama mobil yang membawa Yu Jie sampai di kediaman barat, nama Yu Jie yang sudah terkenal di kalangan pebisnis dan kalangan elit membuat ketua perserikatan bernama Tuan Zhuting bergegas keluar menyambut kedatangan Yu Jie setelah mendengar laporan dari penjaga gerbang.


"Salam, Nona Zhu. Suatu kehormatan Anda menginjakkan kaki di kediaman kami. Silahkan masuk," dengan ramah Tuan Zhuting memperlakukan Yu Jie.


"Salam, Tuan Zhuting. Sudah lama saya mendengar nama Anda, tapi baru kali ini saya bisa mengunjungi. Maafkan ketidaksopanan saya, Tuan." Yu Jie membungkuk memberi hormat.


"Ternyata selain Nona Zhu baik hati, Anda juga sangat sopan. Saya sangat beruntung didatangi wanita muda jenius seperti Anda datang kesini, sangat iri pada Ayah Anda karena mempunyai putri sepertimu. Mari masuk..." Tuan Zhuting tersenyum.


"Siapa yang datang?" tanya Fen Lian yang baru saja selesai olahraga dengan pakaian yang terbuka di sana sini memperlihatkan bagian tubuh mulus wanita kejam itu.


Ketika melihat siapa orang yang datang, mata Fen Lian membelalak. Tidak pernah ada dalam pikirannya, Yu Jie berani datang ke kediaman Perserikatan Barat. "Yu... Jie..."


"Halo, Fen Lian. Aku datang mengunjungi Ayahmu, juga ingin bertemu teman ku. Kamu sedang sibuk?" ujar Yu Jie semanis mungkin.


"Teman? Jadi kalian berdua sudah berteman. Wah, saya tidak tau Anda berteman dengan putri saya. Sangat menyenangkan mendengarnya, haha..." Tuan Zhuting merasa senang, ia menepuk bahu putrinya. "Terus berteman lah dengan Nona Zhu, bersikap baik padanya. Mengerti..." ujarnya lagi pada Fen Lian.


"B-baik, Ayah." Jawab Fen Lian tak ada pilihan lain.


"Saya ingin bicara dengan Anda, Tuan Zhuting. Mungkin ada prospek bisnis yang bisa saya tawarkan, tapi hanya kita berdua." Yu Jie kembali bicara dengan tegas.

__ADS_1


"Tentu, ayo masuk ke ruangan saya. Fen Lian, suruh pelayan membawakan makanan ringan dan teh favorit keluarga Jiang."


Setelah itu Tuan Zhuting berjalan menuju ruang kerjanya dengan Yu Jie mengikuti, tapi sebelum Yu Jie pergi ia lebih dulu berbisik di telinga Fen Lian. "Saat aku selesai dengan Ayahmu, kita harus bicara empat mata. Aku dengar kamu sangat mencintai Guan dengan menggila, ayo bicara tentang kegilaan mu pada kekasihku... Nona Jiang. Ah, Fen Lian... temanku." Senyum sinis terpapar di bibir Yu Jie, ia tak menyembunyikan maksud kedatangannya pada Fen Lian ingin menabuh genderang perang.


__ADS_2