
Di sekitar bawah jurang, Guan Lin masih terus menyusuri rerimbunan tanaman tinggi untuk mencari keberadaan sang kekasih. Saat lima jam lalu dia menemukan mobil terbalik milik Yu Jie di bawah jurang, tanpa pikir panjang dia turun ke bawah menggunakan tali bersama para petugas penyelamat yang datang setelah ditelepon.
Drrtttt... Drrt...
"Ya." Guan mengangkat panggilan dari Jun.
"Haocun masih terselamatkan tapi dalam kondisi kritis, Chen meninggal." Ujar Jun mengabarkan salah satu pengawal yang bersama Yu Jie tak bisa terselamatkan.
"Adakan upacara pemakaman segera untuk Chen, telepon keluarganya. Berikan tanggungan seumur hidup untuk keluarganya, aku percayakan padamu." Jawab Guan.
"Nona Xian juga sudah dibawa pulang dengan selamat oleh Tuan Feng Ying, Paman Liu sudah datang memeriksa tapi Nona Xian masih sering menangis. Tuan Feng Ying masih bersama Nona," ujar Jun kembali.
"Apa Jia Chan belum kembali?" tanya Guan.
"Belum, Tuan muda. Tuan Jia Chan masih dalam perjalananan, dia akan segera kembali." Jawab Jun.
"Saat Jia Chan datang, bantu dia mengurus semuanya. Aku... ak-ku akan terus mencari keberadaan Yu Jie." Guan menahan sakit di dadanya yang terus membelit membuatnya sesak karena kekasihnya telah hilang. Ya, Yu Jie tak ada di dalam mobil hanya ponsel dan genangan darah yang diperkirakan adalah darah milik Yu Jie. Bahkan petugas mengatakan dengan darah sebanyak itu, tak ada kesempatan Yu Jie bisa selamat. "Aku yakin Yu Jie masih hidup, kamu juga tau kan... dia wanita kuat. Aku yakin dia selamat..."
"Saya yakin Nona masih hidup. Jaga kesehatan Tuan, saya akan mengurus semuanya disini." Jun merasa kasihan.
"Hm."
__ADS_1
Sambungan telepon terputus.
Guan Lin menghela nafas panjang, dadanya semakin terasa sakit. Matanya mulai menelisik lagi area sekitar, beberapa pengawal sudah berpencar dan hanya tiga orang bersamanya berada di belakang.
"Tuan Muda, Anda harus istirahat. Sudah lima jam Anda mencari, minum dulu." Seorang pengawal memberikan sebotol minuman kemasan.
Guan menggeleng, keringat sudah membasahi pakaian dalam dan luarnya tapi saat ia membayangkan Yu Jie tergelatak di suatu tempat dengan kesakitan rasa haus dan rasa lelah tak ia hiraukan.
Akhirnya matahari tenggelam di ufuk barat, cahaya senja tergantikan dengan pekatnya malam. Sorot cahaya - cahaya dari para pengawal di belakangnya, mempermudah Guan masuk semakin dalam ke hutan.
"Arghhh!"
Tiba-tiba Guan berteriak, punggung tangannya kesakitan. Para pengawal bergegas memeriksa sang majikan, ada seekor ular berukuran kepalan tangan manusia melilit di sebuah pohon dan sepertinya mematuk punggung tangan Guan.
"Tuan Muda, sebaiknya kita pulang hari ini atau menginap di hotel terdekat. Besok kita bisa kembali kesini, saya mohon."
Guan menatap semua para pengawal yang sudah kelelahan, sepertinya dia tidak bisa egois karena mereka pasti juga sudah kelaparan. "Baik, besok kita akan kembali lagi pagi-pagi sekali. Tandai wilayah yang sudah kita lewati, jangan sampai besok kita berputar-putar lagi."
"Baik, Tuan Muda!"
***
__ADS_1
Di sebuah kediaman besar jauh sekali dari tempat kejadian di sebuah kota lain, seorang wanita terbaring koma di atas pembaringan. Wanita yang tak lain adalah Yu Jie, dengan berbagai alat medis terhubung ke beberapa bagian tubuh wanita itu.
Seorang pria dengan tinggi 188 cm berusia 33 tahun, duduk di kursi roda. Pria itu lumpuh saat berusia 25 tahun karena sebuah kecelakaan yang disengaja lebih tepatnya percobaan pembunuhan. Saat tergelatak tak berdaya, seseorang menolongnya tapi sayang sekali meskipun mendapatkan pertolongan tepat waktu kakinya tidak bisa digerakkan lagi. Setelah mencari kemana-mana, hari ini pria itu akhirnya menemukan sang penolong yang dulu hanyalah gadis remaja berusia 16 tahun. Ia menemukannya, itu pun dalam keadaan yang tidak pria itu sangka. Ia sedang melewati jalanan dan melihat sebuah mobil SUV hitam ditabrak dan didorong ke jurang oleh sebuah truk besar dari arah samping.
"Tuan muda, Nona ini ternyata sedang mengandung." Ujar seorang Dokter keluarga.
"Berapa bulan?" tanya Pria itu, terkejut tentunya.
"Baru beberapa minggu, tapi..."
Mata elang sedingin es itu menatap tajam sang Dokter. "Tapi?"
"Saya menemukan beberapa luka di sekujur tubuh sang Nona, itu bukan akibat dari benturan mobil sepertinya akibat pukulan-pukulan. Ditambah benturan dari kecelakaan mobil itu, sepertinya janin harus dikeluarkan karena meskipun dilahirkan akan mengalami kecacatan... juga nantinya perkembangan dari bayi ini akan mengancam nyawa sang Nona jika masih belum sadarkan diri."
PRANKKK!!!
Pria itu melempar vas di dekatnya ke dinding, tangannya mengepal erat. "Lelaki mana yang berani memukuli nya! Apalagi dia sedang hamil! Jika aku bertemu si brengseekk itu, dengan tanganku sendiri aku akan membunuhnya...!!!" geram pria itu.
"Apa keputusan Tuan Muda?" tanya si Dokter lagi.
Pria itu melirik ke arah wajah Yu Jie yang kesusahan bernafas sendiri dan mungkin sudah mati jika alat-alat medis di sekeliling tubuh wanita itu tidak ada. Wanita itu bernafas saja dibantu oleh alat pernafasan, namun kini nafas bantuan itu harus mengirim oksigen pada dua nyawa.
__ADS_1
"Keluarkan saja janin itu, sebelum berkembang bahkan akan menjadi beban bagi wanita ini. Dia saja masih bernafas dengan bantuan, aku tidak ingin nyawa wanita ini terancam dengan janin yang bahkan mungkin milik pria brengseekk yang memukulinya."
"Baik, sesuai ijin Anda. Tuan Muda."