Dewi Seribu Jarum

Dewi Seribu Jarum
Bab 34 - Protektif.


__ADS_3

Setelah mengecek persediaan vaksin, Guan Lin kembali ke ruangan pribadi milik Yu Jie namun ia tak menemukan keberadaan Hao Yu disana. Sepasang mata cantik tengah menatapnya, Guan Lin tersenyum menatap balik wanita yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya itu.


"Kamu sudah lama terbangun? Minumlah dulu, ini..." Guan Lin memberikan gelas berisi air putih dan diterima Yu Jie. Wanita itu langsung meneguk air minum sekali habis.


"Berikan gelas nya." Guan Lin mengambil gelas dari tangan Yu Jie lalu menyimpan di atas nakas.


"Sudah lebih baik?" Guan Lin memeriksa dahi Yu Jie, "Tidak demam, syukurlah."


Grep!


Yu Jie melingkarkan kedua lengannya di leher Guan Lin, "Terima kasih, aku senang kamu memarahiku tadi. Aku merasa diperhatikan dan disayangi." Yu Jie membenamkan kepalanya di dada Guan Lin.


Guan mengusap-usap lembut punggung Yu Jie. "Kamu tau aku sudah lama menyukaimu, saat mendengar mu tertembak hatiku teramat sakit. Jie Jie... sepertinya aku tak sanggup jika kehilanganmu. Aku tak sedang merayu mu, aku pasti terdengar seperti mengatakan omong kosong. Tapi Jie Jie... aku benar-benar merasa akan mati jika terjadi sesuatu padamu seperti tadi. Jie Jie... sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu," Guan Lin memeluk Yu Jie dengan erat, menciumi pucuk kepala wanita itu.


"Guan..." Yu Jie mengangkat kepalanya menatap wajah Guan Lin tanpa melepaskan rangkulan nya. "Aku masih belum tahu perasaan apa dalam hatiku ini untukmu, tapi yang pasti aku lebih sering memikirkan mu daripada Hao Yu. Jantungku juga selalu berdebar kencang saat di dekatmu, meskipun saat bersama Hao Yu juga ada suatu desiran aneh."


"Jie Jie! Apa maksudmu... kamu menduakan ku dengan Hao Yu? Kamu juga mempunyai perasaan pada pria itu?" Guan Lin terkejut.


"Haha, aku akui saat bersama kalian berdua ada perasaan yang berbeda. Dengan mu aku selalu salah tingkah, selalu berdebar dan mataku selalu ingin melihat wajahmu. Namun dengan Hao Yu aku nyaman, kamu tau... itu seperti akrab bagai keluarga. Bagaimana menyebutnya, aku juga bingung. Tapi sekarang aku yakin, jantungku berdebar karena mu." Yu Jie mengecup bibir Guan Lin, sebelum Guan Lin sempat memperdalam ciuman itu Yu Jie menjauhkan tubuhnya.


"Jie... Jie..." Guan Lin menelan saliva dengan susah payah, baru saja ingin lebih wanita itu malah menghindar.


"Guan, kamu tau aku pernah dikhianati. Aku pernah hidup mencintai satu pria dengan segenap hatiku sampai aku mati, diabaikan pria itu. Aku tau kamu tidak akan mengerti apa yang aku katakan, tapi Guan... aku tidak ingin lagi mencintai pria terlalu dalam. Aku masih--"


Guan Lin menutup bibir Yu Jie memotong perkataan Yu Jie dengan bibirnya, "Aku mengerti, aku tidak akan berjanji akan selalu mencintaimu karena janji itu akan membekas dalam hatimu jika suatu hari aku melanggarnya. Meskipun aku yakin seumur hidupku hanya akan ada kamu, hanya akan mencintaimu. Namun... mari kita jalani saja. Aku tidak akan selalu mengatakan aku mencintaimu, aku hanya akan membuktikan nya. Jadi, hubungan kita ini jangan menjadi beban bagimu. Jika suatu hari aku menyakitimu atau kamu sudah tak menginginkan hubungan ini lagi... aku berjanji akan melepas mu sesuai keinginan mu."


"Guan..." mata Yu Jie berkaca-kaca, kenapa ia menjadi cengeng?


"Ternyata kamu bisa menangis juga, aku kira wanita kuat sepertimu tak mempunyai air mata. Ini waktu kebahagiaan kita... kenapa harus menangis." Jemari Guan Lin menghapus air mata yang akan tumpah di sudut mata Yu Jie.


"Mau makan atau pulang? Aku sudah memeriksa persediaan vaksin dan antivirus dan itu banyak. Apa kamu membutuhkan nya?" Guan Lin mengelus sayang kepala Yu Jie seperti pada anak kecil.


"Beberapa rumah sakit tadi menelepon Jing Yi, mereka menanyakan persediaan. Besok aku akan menyuruh Jiao Long mengantarkan nya ke beberapa rumah sakit, dan pada Ayahmu separuhnya."


"Aku bisa bicara dengan Ayah, jika di rumah sakit membutuhkan banyak berikan lebih dulu pada mereka. Ayahku menjual hanya menginginkan keuntungan, ini adalah peraturan mu dan Ayah jadi selama ini aku tak berani ikut campur... tapi sekarang aku adalah kekasihmu, aku akan membuat Ayah mengerti asalkan kamu mengijinkan ku untuk ikut campur. Aku tidak mau menganggu privasi mu dalam masalah bisnis, namun setidaknya mulai sekarang libatkan aku. Mengerti?" melihat Yu Jie mengangguk Guan memeluk kembali tubuh Yu Jie. "Aku masih belum puas memelukmu. Sudah lama aku memimpikan memelukmu seperti ini di dalam tidurku. Haha.... akhirnya aku bisa memelukmu sekarang," Guan Lin memperat pelukan nya pada tubuh Yu Jie.


"Aku lapar, ayo makan di suatu tempat. Tapi karena disini dilarang dan dalam kondisi tangan ku begini sepertinya aku tak bisa makan di restoran." Yu Jie menghela nafas.


"Ayo ke club milikku, disana apapun akan aku sediakan untukmu. Jie Jie... ku."


"Sekali lagi panggil aku dengan nama itu," saat pertama kali dipanggil dengan nama itu oleh Guan, Yu Jie sangat menyukainya seolah ia benar-benar dicintai.


"Jie jie-ku... wanitaku, satu-satunya." Guan Lin mengecup pipi Yu Jie dengan gemas.


"Geli! Ayo pergi sekarang, aku lapar." Yu Jie mendorong tubuh Guan Lin. "Aghhh!" ia melupakan lengan nya yang tertembak.


"Sakit?" tanya Guan Lin cemas.


"Aku bukan wanita cengeng, hanya perih sedikit. Ayo pergi." Yu Jie turun dari ranjang kecil nya, dia ingin mengenakan kembali baju luaran tapi itu terkena darah.


"Pakai mantelku, ini..." Guan Lin membuka mantel hitam nya membungkus tubuh Yu Jie. "Perlu aku gendong? Eittt.. itu hanya bercanda!"


Yu Jie melotot padanya, Guan Lin tentu saja mengerti Yu Jie bukan wanita manja. Bagi Yu Jie luka tembak itu hanya lah seperti gigitan semut dan tak mungkin Yu Jie ingin terlihat lemah dengan digendong.


Club Malam...


Makan malam romantis yang ditunggu- tunggu Guan Lin akhirnya terjadi, ia menyiapkan makan malam di ruangan paling atas di club malam nya. Rooftop disihir sedemikian rupa dengan lampu - lampu indah yang tergantung di setiap sudut berpendar membuat suasana romantis juga penuh kehangatan. Yu Jie sangat terkesan karena baru pertama kalinya diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Kamu suka? Lihat pemandangan nya, lampu-lampu kota dari gedung-gedung dan lampu-lampu mobil dibawah sana sangat indah, bukan? Rooftop ini adalah tempat favoritku... sekarang aku berada bersama wanita kesayangan di tempat favoritku, kamu tau... sepertinya jantungku akan meledak karena bahagia."


Yu Jie tersenyum melihat antusiasme dan kebahagian yang dengan terbuka diperlihatkan Guan Lin padanya, tanpa dibuat-buat. "Aku heran tentang mu, apa kamu tau kalau kamu terkenal di kalangan kampus? Para wanita selalu sengaja datang ke club malam mu hanya untuk melihatmu, mencuri pandang dari jauh. Namun, para lelaki mengatakan kamu adalah pria dingin dan tidak menyukai wanita. Apa karena para pria itu cemburu padamu karena para wanita menyukaimu, jadi mereka menyebarkan rumor tak jelas tentangmu."


"Mungkin, tapi ada benarnya yang dikatakan rumor itu. Sebelum bertemu dengan mu, aku pembenci wanita. Aku... emmm," Guan Lin masih ragu menceritakan tentang masa kecilnya yang melihat Ibunya dengan pria lain, meskipun itu kesalahan Ayahnya tapi melihat secara langsung Ibunya bermesraan dengan pria yang tidak dikenalnya membuatnya tak menyukai wanita. "Lain kali aku akan menceritakan tentang kisahku, sekarang mari makan... kamu sudah kelaparan." Guan Lin mengambil steak medium well, daging sapi yang dimasak hingga hampir matang. Bagian luarnya berwarna kecoklatan hampir gosong, sementara bagian dalamnya sudah mulai pucat.


Guan Lin mengambil bagian kecil steak yang sudah dipotong, ia menyuapi Yu Jie. "Buka mulutmu, biarkan malam ini aku melayani mu, Nona Zhu..."


"Haha, aku merasa menjadi wanita manja. Tapi aku tidak akan menolak jika ini membuatmu bahagia," lalu Yu Jie membuka mulutnya dan langsung mengunyah steak yang sudah bersarang di dalam mulutnya itu. "Uuhh, ini enak..." puji Yu Jie masih sambil terus mengunyah.


"Dipadukan dengan white wine sauvignon blanc, rasanya akan semakin luar biasa. Cobalah..." Guan Lin menyodorkan gelas wine pada Yu Jie.


Yu Jie menerima gelas berisi white wine itu, menyesap nya sedikit dan benar saja itu sungguh rasa yang luar biasa. "Guan! Ini sangat... Wah!" Yu Jie bahkan tak bisa menjabarkan rasa itu.


"Aku tau kamu pasti suka, ayo makan lagi."


"Aku akan makan sendiri, kamu juga makan lah." Tolak Yu Jie saat Guan Lin ingin menyuapinya, tapi Guan Lin tidak marah lalu menyerahkan piring steak pada Yu Jie. Dia sendiri mulai memakan makanan miliknya.


Malam romantis untuk pertama kali bagi keduanya, sama - sama dengan kekasih pertamanya. Yu Jie yang tak pernah melakukannya dengan Ang Cheng di kehidupan sekarang maupun kehidupan sebelumnya, pun Guan Lin yang belum pernah mempunyai seorang kekasih.


"Kamu boleh tidur disini jika lelah untuk pulang, kamarku sangat lengkap. Aku akan membeli beberapa pakaian untuk kamu pakai besok, lagipula jika kamu pulang dengan keadaan lengan yang di perban... Ayahmu akan khawatir." Bujuk Guan Lin.


"Tidak ada maksud lain dari perkataan mu ini, kan?" Yu Jie memicingkan matanya, pasalnya Guan Lin terlalu bersemangat untuk hubungan yang masih baru bagi mereka.


"Ekhm, tentu saja. Memangnya apa yang akan terjadi? Aku pria baik, aku tak akan memaksakan sesuatu yang tidak di inginkan wanitaku. Kecuali... kamu memintanya, aku akan bertindak lebih dulu." Lain di mulut lain di hati, dia berharap hubungan mereka bisa dengan alur cepat. Guan Lin tak ingin menyia-nyiakan setiap detik waktu yang berharga baginya.


"Aku tidur di kamarmu, tapi kamu tidur di ruangan lain. Jangan macam-macam, Guan." Yu Jie menyorot tajam pria yang kini menjadi kekasihnya itu.


"Kenapa harus menatapku seperti itu, aku bilang aku akan menjadi pria baik. Ayo habiskan makan malam kita lalu kamu bisa istirahat lagi."


Ponsel di atas meja milik Yu Jie bergetar, panggilan dari Jiao Long. "Ya, bagaimana? Kamu bisa mengantongi identitas penembak nya?"


"Mereka sangat rapi sekali, mobil tanpa plat nomor. Wajah tertutup topeng kain, tapi mereka meninggalkan jejak peluru yang menyerempet Anda. Hasil indentifikasi peluru itu akan keluar besok, kita akan mengetahui siapa pemilik peluru itu. Perserikatan timur sangat mudah menemukan pemiliknya dari kaliber yang menyatakan ukuran peluru dan ukuran laras pada senapan, itu akan terlihat dari diameter atau garis tengah peluru, atau dari diameter isi lorong laras. Nona Zhu, kita akan segera mengetahui siapa dalang penembakan."


"Baik, aku percayakan padamu. Jiao Long, terima kasih. Lalu besok datanglah seperti biasa ke Lab, aku ingin kamu mengawal vaksin dan antivirus yang akan dikirim ke rumah sakit."


"Baik, Nona. Saya tidak akan menganggu Anda dan Tuan Muda Guan lagi, selamat menikmati waktu kalian."


Tutttt....


"Darimana dia tau kita sedang bersama?" Yu Jie melirik Guan Lin, kekasihnya hanya mengangkat bahu.


"Jiao Long sudah seperti tangan kanan Ayahku, dia akan selalu tau kejadian apapun di keluarga kami. Mungkin dia mempunyai banyak mata-mata, untung saja dia baik." Guan Lin juga heran karena Jiao Long selalu tau kabar apapun.


"Aku sudah selesai, mari turun." Ajak Yu Jie, angin terlalu kencang di atas sana.


"Kamu pasti kedinginan, mantelku ternyata tak bisa menghangatkan mu. Aku akan segera menghangatkan tubuhmu sebentar lagi," perkataan ambigu dari Guan membuat Yu Jie yang baru berdiri terduduk kembali.


"Aku bilang jangan macam-macam, Guan." Yu Jie cemberut.


"Kamu yang berpikir terlalu berlebihan, Nona. Maksudku ada penghangat ruangan di kamarku," Guan Lin menahan tawanya ternyata Yu Jie memang sangat lugu mudah sekali dijahili.


"Ish!" dengan kesal sekaligus malu karena dijahili, Yu Jie bangun dari duduknya berlalu pergi keluar rooftop tanpa menunggu Guan Lin.


"Haha... Jie Jie! Aku hanya bercanda! Tunggu aku!" tawa Guan Lin pecah, ternyata berhubungan asmara bisa se menyenangkan itu.


Beberapa hari kemudian hubungan Yu Jie dan Guan Lin masih berjalan di tempat, saling berpelukan dan hanya sebatas mengecap bibir pasangannya belum melebihi batasan. Masalah penembakan, Yu Jie sudah mengantongi identitas dalang nya. Guan Lin yang mengetahui nya sangat marah dan ingin membalas orang itu.

__ADS_1


"Aku bilang tidak usah, jika dia berniat membunuhku sudah dipastikan orang suruhan nya akan menembak kepalaku alih-alih menyerempet lengan ku. Bahkan lukaku hanya butuh tiga hari dan kering. Jangan buang waktumu untuk manusia brengsek seperti Dun Ming, dia marah karena aku pecat. Jika sudah waktunya aku sendiri yang akan mengambil nyawa Dun Ming dan seluruh keluarga itu!" Yu Jie masih tak ingin Guan Lin ikut terlibat, ia tahu Guan Lin mempunyai background yang kuat tapi ia masih bisa menanganinya sendiri.


"Ah, aku dipanggil datang oleh Mamaku. Aku sudah bercerita tentang Mama Ang Cheng, kan. Mama tadi telepon sambil menangis, entah apa yang terjadi jadi aku harus datang ke keluarga Lim. Hari ini pergilah mengurus bisnis mu, jangan terus menempel padaku. Tuan Guan..." ujar Yu Jie seraya tersenyum, sebenarnya dia tak memungkiri sangat menyenangkan jika mempunyai kekasih yang bisa menghargai juga begitu protektif dalam menjaganya. Dia juga tak pernah perlu menjadi pura-pura kuat ketika membutuhkan sandaran atau berpura-pura baik-baik saja ketika semua hal buruk datang. Kini, ada seseorang yang menjaganya meskipun ia masih mempertahankan kemandirian nya.


"Aku ingin ikut, kenalkan aku pada keluarga mantan suamimu itu." Tiba-tiba pikiran itu muncul dalam kepala Guan Lin, ia benar-benar ingin mengetahui apapun tentang Yu Jie dan tak ingin melewatkannya.


"Kamu yakin?" Yu Jie tak ada masalah.


"Tentu saja, kamu bercerita tentang mereka yang menyayangimu lebih dari Ang Cheng pria penghianat itu. Aku sangat penasaran, keluarga seperti apa mereka."


"Oke, tunggu aku 40 menit. Aku harus memeriksa satu dokumen lagi, kalau kamu ingin kopi pergilah ke pantry dan buat sendiri." Setelah mengatakan nya, Yu Jie kembali berkutat dalam pekerjaan yang sempat terhenti karena kedatangan Guan Lin ke ruangannya di Perusahaan.


"Apa kamu mau aku buatkan kopi?"


"Jika kamu bersedia, boleh." Yu Jie menjawab tanpa menoleh.


"Jie Jie..."


"Hm."


"Tatap aku sebentar sebelum aku keluar," Guan Lin merasa diabaikan.


Pria haus perhatian! Haha! Yu Jie menertawakan Guan dalam hati, benar-benar seperti anak kecil jika sedang bersama. Namun bukan hanya kekasihnya itu terkadang dia juga.


Yu Jie mengangkat kepalanya, "Ya, Guan. Pergilah," ia memberikan senyuman terbaik.


Akhirnya Guan Lin ikut tersenyum, membalikkan tubuh lalu pergi menuju pantry dengan senyum lebar. Melihat tingkah Guan Lin, Yu Jie geleng-geleng kepala. "Tapi ini sangat menyenangkan, haha."


Sesuai ucapan Yu Jie empat puluh menit kemudian, mereka berdua keluar dari Perusahaan menuju kediaman Lim. Setelah Yu Jie bercerai apalagi disibukkan dengan jadwal-jadwalnya yang padat, Yu Jie belum sempat datang berkunjung ke kediaman Lim.


Saat sampai di kediaman Lim, pintu terbuka lebar. Para pelayan memakai masker, seperti berjaga-jaga dari sesuatu. Padahal dia sudah menyuntikkan vaksin pada mereka semua.


"Yu Jie! Kamu akhirnya datang." Nyonya Lim menarik tangan Yu Jie, "Tolong Ang Cheng! Sudah tiga hari ini dia datang kesini karena sakit, di kediamannya Li Mei bahkan tak mau mengurusnya."


"Ang Cheng sakit?"


"Ya, sepertinya terkena virus. Apa kamu tak memberikan Ang Cheng suntikan vaksin?"


Yu Jie menggeleng dan Nyonya Lim hanya berwajah pasrah. "Tidak apa-apa, Mama mengerti. Sekarang tolong berikan dia suntikan, Mama sebenarnya sudah membeli obat nya tapi Ang Cheng melempar botol nya sampai hancur. Dia menolak diobati dan selalu ingin bertemu dengan mu. Dia berkata akan mati jika kamu tak datang."


"Jadi itu maksud Mama memanggilku kesini?" Yu Jie tak perduli Ang Cheng ingin mati, itu sudah tak ada hubungan dengannya lagi.


"Yu Jie, Mama mohon. Usaha Ang Cheng mulai hancur satu-persatu, Mama membiarkan mu balas dendam. Tapi, Ang Cheng putraku juga. Jika masalah nyawa, Ibu mana yang bisa membiarkannya. Mama mohon, ya..."


"Biarkan Yu Jie mengambil keputusan sendiri! Aku bilang jangan memaksanya, jika cucu tak berguna itu ingin mati.... biarkan dia mati!" Kakek Lim muncul.


"Kakek, salam."


"Hm. Kamu pergilah... jangan urus Ang Cheng, dia pantas mendapatkannya. Ini karma untuk nya karena sudah menyakitimu, kamu berhak menolak. Kalian sudah bercerai dan tak ada hubungan apapun." Lanjut Kakek Lim.


"Tapi Ayah..." Nyonya Lim mulai terisak, dia tidak tega melihat keadaan Ang Cheng yang semakin hari semakin kurus dan pucat.


Melihat Nyonya Lim menangis, hati Yu Jie tak tega. "Guan, bolehkah aku menemui Ang Cheng?"


Guan Lin mengangguk, dia merasa senang Yu Jie menghargainya dengan lebih dulu meminta ijin darinya. "Anggap Ang Cheng seorang pasien, sembuhkan dia."


"Terima kasih." Yu Jie jadi tidak sempat mengenalkan Guan pada keluarga Lim karena Nyonya Lim menarik tangannya menuju kamar Ang Cheng yang sedang terbaring sakit.

__ADS_1


__ADS_2