
Di meja makan panjang yang bisa memuat sekitar 10 orang, suasana sedikit menegangkan. Yu Jie menahan semuanya, ia ingin sang Ayah menerima Guan Lin dengan perlahan. Namun, area makan berubah menjadi area pemakaman begitu suram. Bahkan Hao Yu sudah meminta maaf karena benar-benar tidak tahu maksud Tuan Huang memintanya datang makan malam ternyata untuk dijodohkan dengan Yu Jie.
"Ya Tuhan! Aku hanya membawa kekasihku datang, kenapa wajah Papa ditekuk? Pah! Cukup aku dijodohkan dengan Ang Cheng dan Papa lihat hasilnya? Aku dikhianati! Aku tidak mengatakan Hao Yu akan mengkhianati ku di masa depan jika memang kami bersama, tapi kali ini sekali saja biarkan aku memilih lelaki yang ingin aku habiskan sisa hidupku dengan nya. Aku sangat mencintai Guan, Pah!"
Yu Jie menatap sang Ayah dengan berani, bahkan meninggikan volume suaranya dan bicara dengan berapi-api.
Mendengar emosi Yu Jie yang meledak-ledak bukan hanya Tuan Huang dan Hao Yu yang tertegun, bahkan Guan Lin lebih terkejut lagi karena itu pertama kalinya Yu Jie mengatakan mencintainya.
"Jie... Jie..." lirih Guan Lin.
Yu Jie berbalik dari sang Ayah menoleh pada Guan Lin. "Ya, aku rasa aku sudah mulai mencintaimu. Guan, jika Papa melarang kita berhubungan... aku akan keluar dari rumah dan kawin lari bersamamu. Aku--"
"Cukup! Kamu mau meninggalkan Papa dan lebih memilih dia!" telunjuk Tuan Huang mengarah pada Guan Lin.
"Jika Papa tidak keras kepala dan mengijinkan aku berhubungan dengan Guan, aku akan memilih kalian berdua. Tapi kalau Papa melarang ku, aku lebih memilih Guan! Jadi pilihan ada di tangan Papa, menerima Guan atau Papa akan kehilangan ku!" ujar Yu Jie dengan tegas, tangan nya di bawah meja menggenggam tangan Guan memberi kode pada pria itu. Tadi di dalam mobil Yu Jie menyuruh Guan untuk ikut bersandiwara apapun mengikutinya dan meyakinkan sang Ayah.
Guan mengerti, "Jie Jie... kalau kamu lebih memilihku, aku akan menjamin kehidupan mu sayang. Rumah, harta dan anak-anak kita masih akan mempunyai kakek dari pihakku juga mempunyai keluarga Lim yang akan menyayangi anak-anak kita apalagi Kakek Lim mengatakan kamu akan menjadi pewaris keluarga Lim. Kamu tidak akan kekurangan apapun, sayang." Guan Lin ikut bicara dengan raut wajah meyakinkan.
Yu Jie menahan tawanya, sandiwara Guan terlalu berlebihan dengan membawa-bawa keluarga Lim tapi sepertinya itu mempan karena sekarang wajah sang Ayah terlihat ketakutan.
"Yu... Jie... apa maksudnya barusan?! Keluarga Lim apa?" gagap Tuan Huang.
"Ekhm, Kakek Lim bilang sudah mencoret nama Ang Cheng dari hak ahli waris dan menggantinya denganku. Kini aku dalam urutan kedua menjadi pewaris di keluarga Lim, jadi maksud Guan aku tinggal meminta pengadopsian ku. Aku akan menjadi marga Lim, dan meninggalkan marga Papa lalu pergi dari Papa." Sekalian saja Yu Jie menakuti Ayahnya.
"Hah?" kini Guan terbengong, dia tidak bermaksud agar Yu Jie melepaskan marga Ayahnya.
"Yu Jie... kamu..." Tuan Huang menahan air mata kesedihan nya, putri yang mengatakan sangat menyayanginya kini malah berkata akan pergi meninggalkannya.
"Yu Jie, apa kamu tidak keterlaluan. Tuan Huang sangat menyayangimu!" Hao Yu ikut bicara menimang pria itu sangat menghormati Tuan Huang.
__ADS_1
"Kalau Papa menyayangiku, Papa akan selalu mendukung apapun yang membuat putrinya bahagia. Keluarga Lim saja melepaskan Ang Cheng karena ingin aku bahagia, tetapi Papa..." Yu Jie menggeleng-gelengkan kepala. "Aku sangat kecewa pada Papa."
"Yu Jie, Papa salah. Jangan meninggalkan Papa, ya..." akhirnya Tuan Huang benar-benar ketakutan Yu Jie benar-benar akan meninggalkan nya.
"Kalau begitu terima Guan sebagai kekasihku, sebagai calon suamiku dan calon menantumu." Yu Jie masih menatap sang Ayah dengan mata tegasnya.
"Baik, baik... lakukan apapun yang kamu mau, siapapun pilihan mu Papa akan setuju." Tuan Huang mengangguk, ia lalu menoleh pada Guan kini sorot tatapan matanya terlihat ramah. "Aku akan memanggil mu Guan, ayo makan. Saya akan merestui kalian berdua, asalkan jangan pisahkan aku dengan putriku."
"Umm, maaf Ayah mertua. Saya tidak mungkin memisahkan Anda dan Yu Jie, tadi saya hanya--"
Yu Jie mencubit tangan Guan, menghentikan ucapan Guan yang sepertinya ingin mengatakan tadi mereka berdua hanya sedang bersandiwara.
Guan memutuskan meneruskan sandiwaranya. "Saya berterima kasih, Ayah mertua. Saya janji jika Anda mendukung hubungan kami, saya tidak akan memisahkan Anda dengan Yu Jie."
"Bagus, bagus... ternyata kamu orang baik. Kalian berdua mendapatkan restu ku, jalani saja." Tuan Huang menghembuskan nafas panjang, ia kalah telak. Ia lalu menoleh pada Hao Yu dan menatap tak enak pada pria yang digadang-gadang akan ia jadikan menantu itu. "Maaf, Hao Yu. Saya tidak tahu akan menjadi begini."
Hao Yu mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, sekarang bahkan pendukung utamanya tak bisa berkutik. Ia masih berharap Yu Jie akan menurut pada Tuan Huang, tapi sepertinya harapannya sia-sia.
"Hao Yu, yang kamu katakan memang benar. Aku juga berkata pada Guan, jika hubungan aku dengan mu seperti saudara dan tak akan pernah lebih. Aku harap kamu melihatku sebagai Mei Mei, sebagai adik perempuan mu." Yu Jie tersenyum namun ia merasakan senyum Hao Yu dipaksakan, ia tau jika Hao Yu menaruh hati padanya tapi ia harus membatasi perasaan Hao Yu agar tak ada masalah ke depannya.
"Ya, kamu adalah MeiMei-ku." Hao Yu mengangguk mengiyakan.
Guan Lin menyorot tajam Hao Yu, ia menyadari keterpaksaan Hao Yu dalam menyetujui ucapan Yu Jie.
"Apa kamu mengenal saudara sepupu Li Mei, keluarga Chu bernama Lien Hua... Hao Yu?" tanya Guan Lin ingin melihat reaksi Hao Yu saat membongkar kebersamaan Hao Yu dan Lien Hua.
"Lien Hua? Kamu mengenal nya?" Yu Jie yang merespons, ia lalu menatap Guan Lin dan Hao Yu bergantian. Darimana kedua pria itu mengenal musuhnya nomor satu dalam hidupnya?
"Nona Lien Hua, aku tidak mengenalnya secara dekat. Tempo hari dia meminta pertemuan, karena kakaknya Tuan Xingsheng ada bisnis dengan ku akhirnya aku menyetujui pertemuan itu. Ternyata Nona Lien Hua mengetahui aku dekat dengan mu Yu Jie, dia memintaku membantu agar bisa bertemu dengan mu... katanya kamu selalu menolak untuk bertemu dengan nya. Tapi, aku langsung menolak saat itu juga." Jawab Hao Yu dengan lancar. " Begini... apa jika aku berbisnis dengan keponakan mantan Ibu tirimu, aku salah Yu Jie? Apa aku tidak boleh berbisnis dengan keluarga Chu, Tuan Huang?" Hao Yu menatap Yu Jie dan Tuan Huang bergantian.
__ADS_1
Guan Lin menautkan kedua tangannya di atas meja menopang dagunya, menatap intens wajah Hao Yu mencari kebohongan dari raut wajah Hao Yu. Namun, Hao Yu terlihat bicara dengan jujur atau terlalu pintar menyembunyikan niat aslinya.
"Sudahlah, kita akhiri obrolan ini. Makanan benar-benar akan dingin jika kita mengobrol lagi." Yu Jie menepuk lengan Guan agar kekasihnya itu menghentikan apapun yang membuat penasaran tentang Hao Yu.
"Ya, ayo kita nikmati makan malam ini." Timpal Tuan Huang, tak ingin mempermasalahkan urusan Hao Yu dan keluarga dari mantan istrinya. Itu hak Hao Yu, ia merasa tak ada hak untuk melarang.
Keempat orang itu menunduk ke arah piring yang sudah berisi santapan malam, mulai mencapit dengan sumpit makanan ala rumahan itu. Sesekali Yu Jie menyapitkan makanan untuk Guan, pun sama dengan Guan Lin sesekali ia menyuapi Yu Jie yang memang kini sudah menjadi kebiasaan mereka berdua jika sedang makan bersama.
Namun kelakuan Yu Jie dan Guan Lin ditanggapi lain oleh Hao Yu, hatinya memanas ingin sekali ia membunuh Guan dengan kedua tangannya saat itu juga. Perasaan cintanya yang sudah mendalam pada Yu Jie, malah semakin tertanam lebih dalam lagi saat ia tak bisa mendapatkan Yu Jie.
Makan malam berakhir dengan pikiran-pikiran Guan Lin yang mengganjal tentang Hao Yu, namun Yu Jie menepis kecurigaan Guan.
Ya, setelah makan malam Yu Jie menyuruh Guan Lin menginap di kediaman Zhu namun tidak Hao Yu. Pria itu menolak saat diminta menginap oleh Tuan Huang, dan sudah pergi sekitar 35 menit lalu.
Kini Yu Jie sedang memeluk Guan Lin di kamar yang disediakan untuk kekasihnya itu menginap. Ia tau sang Ayah tidak akan berani menganggu setelah sandiwara mereka berdua tadi di meja makan.
"Masih memikirkan Hao Yu? Dengar, Hao Yu orang baik. Dia rela membantuku saat pertama aku kesusahan mengurus Perusahaan dan tentang obat yang bermasalah. Kenapa orang baik harus dicurigai?" Yu Jie merasa nyaman dalam pelukan Guan, ia memejam mata ingin merasakan kehangatan tubuh kekasihnya sebelum nanti pindah ke kamarnya sendiri.
"Apa kamu tidak tau suatu pepatah?" jawab Guan Lin karena tetap curiga pada Hao Yu.
"Pepatah?"
"Orang jahat terbentuk dari orang baik yang tersakiti, mungkin Hao Yu membenciku karena merasa aku merebut mu darinya. Padahal dia lebih dulu hadir di hidupmu sebelum aku," ujar Guan menguatkan alasan kecurigaan nya pada Hao Yu.
"Aish! Itu tidak mungkin, dia lelaki sejati. Kamu tidak dengar tadi di meja makan, aku sudah mengikatnya menjadi Gege-ku. Saat dia ingin menyakitimu, dia akan berpikir lagi karena itu sama saja dia menyakitiku. Jadi, kamu bisa tenang dan tidak mencurigai Hao Yu lagi."
Tetap saja kecurigaan Guan Lin tak bisa hilang, apalagi Hao Yu mengatakan tengah bekerja sama dengan Xingsheng.
"Sayang... sekarang pidah lah ke kamarmu sendiri atau Ayah mu nanti masuk kesini dan menyeret ku keluar rumah." Ujar Guan.
__ADS_1
"Tidak mungkin Papa begitu, biarkan aku tidur sebentar disini. Aku ngantuk sekali dan lelah... aku juga masih memerlukan kehangatanmu." Yu Jie malah semakin mengeratkan pelukan tangannya di perut Guan, kepalanya sudah sejak awal disandarkan di dada kekasihnya.
Guan Lin akhirnya membiarkan nya, bahkan keinginan awal untuk bercintta dengan Yu Jie pun telah sirna. Ia menatap wajah Yu Jie yang memang seperti kelelahan. "Selamat malam kasihku... " Guan mengecup kening Yu Jie lalu ikut menutup mata dan juga ikut tidur bersama sang kekasih bahkan semakin mengetatkan pelukannya.