Dewi Seribu Jarum

Dewi Seribu Jarum
Bab 54 - Dua Ayah.


__ADS_3

Di dalam kediamannya, To Mu sedang berbaring kesakitan. Kaki yang setiap hari di terapi dengan tusukan jarum-jarum oleh Yu Jie, kini kaki itu seolah merindukan sentuhan wanita itu.


"Dimana kamu Nuan..."


Dengan merindu To Mu terus memanggil nama yang ia sematkan pada Yu Jie.


"Tuan, saya masuk."


"Hm."


Pengawal pribadi To Mu masuk membuka pintu lebar, mendekati ranjang dengan cepat. "Nyonya Nuan kembali bersama Nona kecil Zhi Yang."


"Hah! Benarkah dia kembali?! Kau ti-tidak bohong?" seketika To Mu bangun dari baringan tidur nya.


"Ya, t-tapi--"


" Ada apa?"


"Nyonya dan Nona kecil datang bersama Tuan Guan, mereka ada di ruang tamu." Lapor si pengawal kembali.


Mata To Mu menggelap, dia sudah menduga Yu Jie dibawa lelaki itu. "Bantu aku bersiap."


"Baik, Tuan."


Sekitar 10 menit kemudian, To Mu sudah duduk di kursi roda memimpin ke ruang tamu. Baru saja dia akan memijit tombol kursi roda untuk masuk ke dalam ruangan, suara tawa Yu Jie terdengar menguar.


"Haha, apa benar Jia Chan sudah menikah dan sangat takut pada istrinya. Tapi, dia memang tipe lelaki penurut." Yu Jie tergelak mendengar penuturan Guan tentang Jia Chanp yang sering mengeluh pada Guan karena terlalu mencintai sang istri.


"Jia Chan memang tipe lelaki penurut, tapi aku berani menjamin... selain akan menjadi suami penurut aku juga akan menjadi pelayan pribadimu, sayang." Guan melembutkan suaranya mengecup tangan Yu Jie yang pria itu genggam.

__ADS_1


Diluar ruangan, To Mu mencoba melepaskan rasa sesak di dada. Hal yang dia bayangkan selama ini jika Yu Jie mengigat kembali semua ingatan, kini telah menjadi kenyataan.


"Ba-ba..." suara putrinya, Tidak! Suara gadis kecil yang To Mu rawat dan sayangi sejak lahir terdengar dari arah samping. Melihat wajah familiar yang sudah hidup bersamanya selama 6 tahun, semakin menyesakkan dada ketika ia membayangkan Zhi Yang pun akan pergi meninggalkan nya.


"Kesayangan Baba, darimana?" bibir To Mu bergetar menahan kesakitan hatinya, sekuat apapun ia menahannya akhirnya air matanya menetes.


"Ba-Baba me-menangis?" Zhi Yang mendekat, jemari kecilnya mengusap setiap tetesan air mata yang tumpah.


Grep!


Dengan erat To Mu memeluk tubuh Zhi Yang, "Jangan tinggalkan Baba, kamu tau bukan Baba sangat menyayangimu. Sepertinya Baba tidak bisa hidup tanpamu, putriku."


Tangan kecil Zhi Yang menepuk-nepuk lembut punggung pria yang selama hidup dianggap Ayah kandung nya itu. Tanpa suara atau kata-kata, gadis kecil itu seolah menguatkan sang Baba.


"Ya, jangan pergi. Yang Yang, sayang Baba 'kan?" pria itu kembali bersuara masih memeluk tubuh Zhi Yang.


Zhi Yang masih tidak menjawab, hanya mengangguk-angguk kecil.


Tatapan To Mu memerah, senyuman penuh kegetiran tercetak di bibir pria di atas kursi roda itu.


"Aku mengerti." To Mu melepaskan pelukan nya pada Zhi Yang. "Sayang, pergilah bermain." Ia mengelus rambut hitam milik sang putri.


Tanpa berbalik pada sang Mama dan Guan, Zhi Yang begitu saja pergi berlari ke arah kamar nya di kediaman itu. Gadis kecil itu seolah mengatakan, bahwa dia belum mau menerima keberadaan Guan.


"Ayo kita bicara," To Mu memijit tombol lalu melesat masuk ke dalam ruangan dengan disusul Guan dan Yu Jie berjalan di belakang.


"Aku akan membawa Yu Jie kembali, dia adalah kekasihku sekaligus Ibu dari anakku. Kamu tidak akan menghalangiku, bukan?" Guan langsung bicara pada intinya saat mereka bertiga bertatap muka saling bicara di tempat duduk.


To Mu masih bungkam, dia menatap Yu Jie. "Ada yang ingin kamu katakan padaku, Nuan? Mungkin tentang sejak kapan ingatan mu kembali dan kenapa kamu menyembunyikan nya dariku?"

__ADS_1


Wanita yang ditatap To Mu menatap balik pria itu, dengan tatapan penuh penyesalan dan rasa terima kasih juga tatapan kasih sayang menganggap To Mu adalah seseorang yang penting dalam hidupnya.


"Aku tidak suka kamu memandang pria lain seperti itu!" Guan menegur Yu Jie karena tidak terima wanitanya menatap dengan tatapan penuh arti pada pria lain apalagi pria itu yang sudah hidup bersama selama 7 tahun.


Yu Jie tersentak, dia sudah terbiasa menatap To Mu dengan pandangan penuh kasih. Namun, Guan salah menyalah artikan nya. Dia hanya menganggap To Mu sebagai keluarga, tidak lebih.


"Belum apa-apa, kamu sudah berani mengatur Nuan! Apa selama kalian berhubungan, seperti ini sikapnya padamu Nuan?" geram To Mu tak terima, dia menatap tidak suka pada Guan.


Baru saja Yu Jie membuka mulut untuk menengahi, namun lebih dulu dipotong oleh Guan.


"Namanya, Yu Jie. Jangan panggil dia dengan nama yang kamu buat selama Yu Jie menjadi istri palsu mu, Tuan To Mu!" Guan tidak mau kalah, suaranya sangat penuh intimidasi terkesan dingin.


"Itu terserah padaku, Nuan juga tidak akan keberatan. Iya 'kan, Nuan?" To Mu mengalihkan tatapan dinginnya dari Guan ke arah Yu Jie, bibirnya tersenyum seolah mereka masih seperti biasanya tanpa adanya Guan disana.


Yang ditatap malah salah tingkah, ingin menjawab iya namun merasakan aura dingin dari Guan akhirnya dia mengurungkan nya. Tapi, jika tidak menjawab maka To Mu akan merasa kecewa dan sakit hati. Ia hanya ingin Guan dan To Mu tidak saling menyerang dan bisa bijak mengambil keputusan.


"To Mu, mengenai Yang Yang kamu sudah mendengar pendapat Guan. Dia tidak ingin memisahkan mu dari Yang Yang, jadi bisakah jika mengenaiku kamu juga menerima keinginan kami? Aku ingin kembali bersama Guan, aku harap kamu menerima semua keinginan ku. Kamu adalah pria terbaik--" Yu Jie salah berucap saat tatapan kesal Guan menyorot tajam padanya dia mengunci mulutnya.


Yu Jie membuka mulutnya kembali. "Ma-maksudku, kamu maupun Guan adalah pria baik. Meski aku kembali bersama Guan bukan berarti aku akan meninggalkan mu begitu saja, aku masih akan menyembuhkan kakimu. Aku sudah pernah berjanji padamu, sampai kamu sembuh dan bisa berlari kencang aku tidak akan pernah meninggalkan mu." Yu Jie mendekat ke arah kursi roda, menekan lutut di atas lantai lalu tanpa meminta ijin Guan dia menarik tangan To Mu dan menggenggamnya.


"Jie Jie!" teriak Guan tidak terima.


Namun bukan menurut, Yu Jie bangkit lalu memeluk To Mu. "Aku sangat berterima kasih padamu, To Mu. Jangan mendendam, jangan juga mempersulit ku untuk bersama Guan. Aku tidak harus meminta ijin mu untuk pergi darimu, namun aku tetap ingin menghargai mu. Meskipun aku tau aku pasti menyakitimu dengan kepergianku, tapi maaf aku akan tetap memilih Guan. To Mu... ingat lah satu hal. Kamu pria ketiga dalam hidupku yang sangat berarti di hatiku, selain Ayah dan Guan kamu juga sangat penting untukku. Jadi, bisakah kita berpisah secara baik-baik?"


Tubuh To Mu bergetar, pria itu sekuat mungkin menahan perih di matanya agar tidak menangis. Ia mengepalkan kedua tangan, menghembuskan nafas dengan perlahan lalu getaran di tubuhnya berhenti.


"Aku merelakan mu pergi, Yu Jie. Berbahagialah... aku akan selalu mendukung apapun keputusan mu." Dengan senyum yang ia paksakan, To Mu membuat keputusan untuk melepaskan.


Yu Jie melepaskan pelukan nya dari pria yang sangat berjasa dalam hidupnya, "Terima kasih, To Mu. Aku pasti akan bahagia, begitu pun kamu."

__ADS_1


Guan yang sudah tersulut emosi, akhirnya membuang muka tidak ingin mengganggu perpisahan dari kedua orang itu meskipun hatinya sangat terbakar cemburu tapi ia berusaha memposisikan dirinya dengan pantas. Bagaimana pun Yu Jie telah memilih untuk bersama dirinya, ia meyakinkan diri jika kehangatan Yu Jie pada To Mu hanyalah karena rasa terima kasih.


__ADS_2