Dewi Seribu Jarum

Dewi Seribu Jarum
Bab 42 - Wanita Hebatku.


__ADS_3

Guan Lin menjauh dari ring, Pria itu tau jika dia tak bisa melarang sang kekasih. Dengan keringat dingin membanjiri punggungnya, Guan Lin hanya bisa melihat Yu Jie kembali bangun dengan wajah lebam. Guan pikir tubuh Yu Jie akan goyang karena tendangan keras, tapi tidak... sang kekasih menegakkan tubuh dengan percaya diri tanpa terlihat kesakitan sedikit pun.


"Sayang... aku mendukungmu disini. Kuat dan kalahkan wanita busuk itu!" teriak Guan menyemangati.


"Busuk katamu...! Guan, kau akan lihat siapa yang akan membusuk di dalam tanah karena mati!" mendengar dirinya dipanggil wanita busuk amarah Fen Lian terpancing, ia sudah terbiasa mendapat perlakuan dingin dan ucapan kasar dari Guan namun kali ini terasa berbeda. Hinaan yang dilontarkan dari mulut pedas Guan membuat hatinya berkobar untuk segera membunuh saingan cintanya, Yu Jie.


Tanpa memperhitungkan langkahnya, Fen Lian maju menyerang. Itu kesempatan bagi Yu Jie, disaat Fen Lian menyerangnya Yu Jie memutar tubuhnya beberapa kali ke samping menyerang Fen Lian dari belakang menerjang tengkuk wanita itu dengan kaki lincahnya. Tidak berhenti disana, disaat tubuh Fen Lian sempoyongan ke depan terkena tendangan, Yu Jie kembali menerjang menarik tangan Fen Lian memutar tubuh lawannya saat tubuh mereka berdua berhadapan dengan kuat Yu Jie meninju wajah Fen Lian dari samping.


Bukk! Bukk!! Dua kali tinjuan.


Bugh! Yu Jie lalu menendang tubuh bagian depan Fen Lian, tepat di perut lawannya.


Tubuh Fen Lian terkapar telentang di atas lantai ring dengan darah terus menyembur dari dalam mulutnya, Yu Jie tidak ingin memberi ampun dia menerjang kembali membungkuk tangannya mengepal bersiap meninju wajah Fen Lian kembali. Namun, Fen Lian menendang tubuh Yu Jie yang membungkuk hingga terjengkang ke belakang, Fen Lian berusaha bangkit dari lantai ring dengan perlahan.


"Cuihh...!!" setelah berhasil menegakkan tubuh, Fen Lian meludahkan darah yang menganggu di dalam mulut. Bua amis darah menyengat penciumannya, Ia mengusap kasar darah yang masih tersisa di sudut mulut. "Heng! Ambilkan tombak itu!" titahnya pada pengawal pribadi.


Pria tinggi dengan wajah rusak bekas-bekas sayatan mengambil salah satu peralatan yang ada disana, sebuah tombak berukuran panjang 120 cm. Heng melempar tombak berbobot sedikit berat ke atas ring dari samping, ditangkap Fen Lian dengan mudah seolah tombak adalah mainan nya sejak kecil.

__ADS_1


"Kau ambillah pedang mu!" bentak Fen Lian dengan wajah mengeras menatap tajam Yu Jie.


"Aku hanya butuh dua jarum kecil ini," Yu Jie menarik dua jarum dari kotak akupuntur dari kantong celana nya lalu melempar kotak berisi jarum-jarum itu arah Haocun. "Simpan baik-baik sisa jarum-jarum ku." Yu Jie mencapit satu jarum di sela dua jari di kedua tangannya seperti mencapit sebuah sumpit.


"Hiatt...!!!" Fen Lian maju memutar tombak di tangan lalu membungkuk menyerang titik fatal tubuh Yu Jie untuk bergerak yakni area kaki.


Yu Jie menyadari bagian tubuh kakinya di incar Fen Lian, dia bertumpu dengan kuat ke lantai ring lalu meloncat tinggi saat tombak mengarah kakinya seperti elang yang menyerang mangsa, dari atas... tubuh Yu Jie menukik ke arah Fen Lian bersiap menancapkan jarum nya ke dada lawannya. Namun, Fen Lian menjegal kedua tangan Yu Jie dengan tongkat lalu mendorong tubuh Yu Jie dengan kuat.


Yu Jie kembali terdorong, ia berusaha agar keseimbangannya tak goyah menancapkan kakinya dengan kuat di lantai ring. "Kau hebat juga, Nona Jiang!" Yu Jie menipiskan bibirnya, ternyata lawannya tidak mudah dan memang sangat hebat dalam bertarung.


"Siaaal...!!!" meskipun berhasil menghindar umpatan keluar dari mulut Fen Lian, telat sedetik saja menghindar jarum itu akan mengenai kakinya. Dengan marah Fen Lian mengarahkan mata tombak yang tajam ke arah Yu Jie. Mendapat serangan cepat dari Fen Lian, Yu Jie hanya bisa menahan ujung tombak sampai kedua telapak tangannya mengeluarkan darah terkena kepala tombak yang terbuat dari bahan baja yang tajam pada kedua sisinya dan runcing pada bagian ujungnya.


"Jie Jie!" sekali lagi Guan berteriak histeris, kedua tangannya sudah gatal ingin memeliintir kepallaa Fen Lian.


"Diam! Aku bilang jangan bicara padaku! Pergilah cari adikmu...!!!" Yu Jie membentak kembali Guan, dia masih menahan ujung tombak yang mengarah ke perutnya. Bicara pada Guan semakin membuat nafasnya terengah - engah karena kehabisan tenaga. Ia lalu memejamkan kedua matanya, mengingat ajaran sang kakek untuk mengumpulkan tenaga di satu titik chi. Yu Jie menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nafas berbarengan dengan membuka matanya. Dengan menumpukkan tenaga di kedua tangannya, Yu Jie memutar ujung tombak sedikit lalu menarik tombak dari tangan Fen Lian hingga tombak terlepas dari tangan sang lawan.


"Arghhh!!" teriak Fen Lian saat tangannya terkena gesekan tombak yang ditarik. "Wanita brengseekk...!!!" geramnya karena kini bahkan tombaknya terlepas dari tangannya serta telapak tangan Fen Lian mengeluarkan darah.

__ADS_1


Yu Jie melempar tombak ke luar ring, berkuda-kuda kembali bersiap menerjang Fen Lian dengan tangan kosong. Yu Jie memutar tubuhnya, satu putaran... dua putaran... tiga putaran. Bughh!!!


Kaki jenjangnya menendang leher samping Fen Lian, tubuh Fen Lian terlempar keluar arena ring melalui celah bawah penahan tali panggung terkapar tak sadarkan diri di lantai kediaman yang terbuat dari marmer.


Semua orang menarik nafas mereka, menunggu Fen Lian terbangun. Sedetik... dua detik... mereka terus menghitung dalam hati sampai akhirnya satu menit berlalu dan Fen Lian tidak terbangun lagi.


"Kamu menang! Kamu menang sayang!" teriak Guan, orang yang pertama kali bersuara dari mencekamnya situasi. Guan berteriak penuh kebanggaan, dia naik ke arena ring lalu mengangkat tubuh Yu Jie tinggi melebihi kepalanya seperti sedang mengangkat tubuh juara tinju sesungguhnya.


Tanpa disadari, Yu Jie tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Guan. Seketika melupakan kemarahannya pada sang kekasih.


"Selamat, Nona." Haocun maju mendekat, ternyata majikan yang selama ini ia jaga sangat kuat dan mampu mengalahkan legenda wanita dari barat yang selalu menjadi juara.


"Ayo pulang," senyum Guan merekah melihat Yu Jie sudah bersedia tersenyum padanya. Ikatan yang menyimpul hatinya membuatnya sesak karena kemarahan Yu Jie padanya kini sudah terurai. "Wanita hebatku, wanita kesayanganku. Mari kita pulang..." sekali lagi Guan berucap.


Yu Jie masih tersenyum lepas, senyuman yang menyilaukan mata Guan dan akan selalu terpatri di sepanjang hidup lelaki itu. "Ya, ayo pergi."


Guan menurunkan tubuh Yu Jie, lalu tanpa memberi waktu Yu Jie berganti baju dia menggenggam tangan wanitanya tanpa menoleh sekali pun pada Fen Lian yang masih terbaring tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2