
Empat hari telah berlalu, dan selama empat hari itu, Shasa benar-benar mempertimbangkan lamaran Zevan dengan sangat baik. Sampai akhirnya ia mendapatkan jawaban, jawaban yang semoga akan membuatnya bahagia kelak.
Keduanya kembali bertemu di sebuah cafe, Shasa sudah bersiap untuk mengatakan jawabannya, namun tiba-tiba Zevan menyela.
"Sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu." Shasa mengangguk, "Katakan saja."
"Hubungan yang dilandasi oleh kebohongan adalah salah, maka biarkan aku jujur. Sebenarnya..." Zevan tidak melanjutkan ucapannya, ia malah menaruh sebuah amplop coklat di atas meja.
"Bukalah kebenaran ini."
Wanita itu terlihat bingung, namun ia tetap melakukan apa yang Zevan suruh, yakni membuka amplop coklat itu.
Dari seluruh kata yang terukir di kertas yang berada di amplop itu, perhatian Shasa langsung tertuju pada tulisan '99,9% cocok, Kevan Zeovanso adalah anak kandung Zevan Lioner Algreat.'
Tubuh Shasa mematung seketika, ia menatap Zevan dengan tatapan terkejut dan penuh tanya.
"Aku minta maaf soal malam itu, aku tidak sadar. Tapi setelahnya aku sudah berusaha mencari kalian."
"Dan kamu menemukan kami?" Nada suara Shasa tidak terdengar seperti biasanya, nada suara wanita itu datar dan sangat di dingin.
CEO Algreat Group itu menggeleng, "Aku tidak tahu mengapa, tapi aku tidak bisa menemukan kalian dimanapun walaupun aku sudah mendapatkan data-data mu. Aku bahkan tidak mengenali Kevan sang kami baru pertama kali bertemu."
Laki-laki itu sedikit tertegun ketika wajah datar Shasa menatapnya tanpa perasaan, padahal biasanya tatapan wanita itu sangat lembut dan menenangkan.
"Kamu melamarku, pasti karena ungu mengambil Kevan kan? Setelah mendapatkan Kevan, kamu akan membuang ku." Shasa berdecih pelan.
Zevan tentu langsung menggeleng untuk membela diri, "Tidak, aku benar-benar mencintaimu, bahkan pada pandangan pertama. Keluarga ku juga menyukai mu, jadi aku mohon, jadilah istri dan gunakanlah nama Algreat sebagai marga mu."
"Boleh aku minta waktu lagi?"
"Tentu saja, aku akan menunggu kamu selamanya."
•
•
•
Kenyataan jika Kevan adalah anak dari Zevan membuat Shasa sedikit takut, takut jika ternyata Zevan hanya menginginkan Kevan, takut jika laki-laki itu akan merebut anaknya.
Apalagi beberapa hari ini Kevan sering sekali bermain dengan sepupu dan saudara-saudara Zevan, bahkan menginap. Shasa takut jika Kevan akan meninggalkan dan malah memilih keluarga ayahnya.
"Mommy kenapa? Tumben minta Kevan tidur bareng." Si kecil mengusap pipi ibunya, raut wajah itu terlihat sangat sedih.
"Kevan, Kevan janjikan sama mommy? Kevan harus selalu di sisi mommy, Kevan gak boleh pergi."
Bocah Lima tahun itu kebingungan ketika Shasa tiba-tiba memeluk dirinya sambil menangis. Tangan mungil itu mengusap bahu sang ibu pelan. "Kevan akan selalu di sini mom, bersama mommy."
Kevan tidak tahu apa yang membuat mommy nya seperti ini, namun yang pasti, hal itu berhubungan dengan Daddy nya, ia yakin itu.
•
•
•
Entah kenapa pagi ini sikap Kevan manis sekali, bocah laki-laki itu memasak makanan yang Shasa dan Levy suka, lalu menebar senyuman terus sedari tadi. Tak biasanya bocah dingin itu seperti ini, pasti ada sesuatu yang ia inginkan.
"Mom~" Nah, kalau dia udah manggil ibunya dengan nada manja gini, pasti mau minta sesuatu.
"Ya, sayang?"
"Mom, Kevan udah lima tahun lho. Boleh gak kalau Kevan sekolah?"
__ADS_1
Shasa terdiam sejenak, benar juga yang Kevan katakan, anaknya itu sudah lima tahun, usia yang pas untuk masuk taman kanak-kanak.
"Baiklah, nanti kita daftar ke taman kanak-kanak ya."
"Lho, kok taman kanak-kanak sih?" Kevan merenggut kesal.
Dahi Shasa dan Levy berkerut, keduanya saling pandang. "Lalu kamu mau sekolah apa?" Tanya kedua manusia berjenis perempuan itu serentak.
"Sekolah Dasar, kalau bisa langsung kelas tiga aja biar lulusnya cepet." Jawaban Kevan sukses membuat keduanya terkejut.
Sepertinya mereka melupakan fakta bahwa, Kevan adalah anak ajaib yang kepintaran nya sangat di atas rata-rata.
Melihat ekspresi kedua perempuan itu yang sepertinya tidak setuju, Kevan langsung memberikan tatapan penuh permohonan.
Kelemahan terbesar Shasa dan Levy adalah tatapan memohon Kevan ini, maka mau tak mau mereka pun akhir setuju.
"Baiklah, kamu masuk sekolah dasar, tapi kamu masuk kelas satu ya. Kelas tiga terlalu berat buat anak lima tahun."
"Mom, aku bisa kok."
"Nurut atau enggak sama sekali?!"
Pada akhirnya Kevan mengalah, tak apalah tidak masuk kelas tiga, yang pasti ia bisa langsung masuk sekolah dasar dan tidak di sekolahkan di taman kanak-kanak yang isinya hanya bermain saja. Jika pelajaran pun pasti membosankan, tidak ada soal yang sulit. Dan jika pun salah menjawab, guru pasti membenarkan agar nilainya tetap seratus. Membosankan.
Pagi itu juga Shasa di temani Levy langsung pergi mendaftar kan sekolah untuk Kevan.
Seharusnya mereka tidak terkejut lagi ketika kepala sekolah mengatakan bahwa IQ Kevan lebih cocok masuk di kelas lima, namun itu mustahil. Maksudnya, Kevan itu bocah Lima tahun.
"Anak ibu ini sangat pintar, lebih baik di masukan kelas lima saja."
Shasa menggeleng, ia masih pada pendirian nya, "Masukan kelas satu saja pak, dia akan susah beradaptasi jika langsung di masukan bersama anak-anak kelas lima yang sudah besar."
Yah, padahal Kevan sudah sangat senang bisa langsung masuk kelas lima. Tapi tak apalah.
"Terimakasih pak, kami pamit dulu."
Mereka tidak langsung pergi, namun melihat-lihat sebentar bangunan itu. Shasa ingin menilai langsung bagaimana bangunan yang akan menjadi tempat sang anak menuntut ilmu.
"Aku tahu Kevan pintar dan seharusnya aku tidak terkejut lagi dengan bocah ini, tapi bisa langsung masuk kelas lima? itu luar biasa." Levy masih tak habis pikir dengan kepintaran Kevan.
Si bocah yang di omongkan hanya mendengarkan tanpa mau merespon. Matanya sibuk menelisik seluruh gedung itu. Cukup bagus juga ternyata.
•
•
•
"Sebenarnya apa yang Daddy lakukan? kenapa mommy sampai sedih seperti itu?"
Kevan sedang menyidang Zevan, laki-laki itu bahkan sampai membatalkan meeting siang ini karena sidang dadakan dari Kevan.
"Kamu tahu kan kalau hubungan yang di landasi dengan kebohongan bukanlah hal yang baik? Daddy hanya berkata jujur pada mommy mu, Daddy tidak ingin menyembunyikan apapun."
Si kecil yang tampan mengangguk, benar juga yang Zevan katakan. "Tapi dad, sepertinya sekarang mommy malah ragu sama Daddy."
"Maksudnya, mommy pasti berpikir Daddy akan merembut aku dari mommy, dan itu membuat mommy ketakutan." Kevan turun dari meja kerja Zevan, berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota siang ini.
Entah sejak kapan, Zevan juga tengah berdiri di samping sang putra sambil menatap pemandangan di hadapannya.
"Lalu menurut mu, Daddy harus apa? Daddy sama sekali tidak berniat merebutmu dari mommy. Daddy mau kalian, bukan salah satu dari kalian."
Kevan mengangguk bahunya, melirik sang ayah sekilas, "Daddy harus membuktikan itu kepada mommy, lalu banyak hal manis untuk meluluhkan hati mommy."
__ADS_1
Melakukan hal manis untuk meluluhkan hati seorang perempuan? oh itu sama sekali bukan gaya Zevan. Tapi jika ini untuk Shasa, maka baiklah, lompat dari gedung tertinggi kota ini pun akan ia lakukan demi Shasa.
•
•
•
Zevan benar-benar mengikuti saran Kevan dengan baik, laki-laki itu mulai menunjukkan perhatiannya pada Shasa secara terang-terangan.
Mulai dari mendatangi ruang pemotretan hanya untuk mengucapkan selamat pagi, lalu memberikan bekal hasil masakannya sendiri, dan tak pernah lupa memberikan semangat pada Shasa, bukankah Zevan sangat manis? Beberapa kru yang melihatnya saja di buat baper sendiri, apalagi tak jarang Zevan mencium kening Shasa sambil mengatakan 'i love you.'
Shasa sungguh sangat tersentuh dengan perlakuan manis Zevan kepadanya, namun, disisi lain ia juga takut jika laki-laki itu hanya mencoba merayunya dan berakhir merebut Kevan dari dirinya.
"Aku dengar kamu suka sekali buah, aku membuatkan kamu salad buah, cobalah." Zevan menyodorkan kota bekal kepada Shasa yang sudah kita ketahui bahwa isinya adalah salad buah buatan Zevan.
"Kamu tidak perlu repot-repot membuatkan untuk ku, aku bisa membelinya sendiri." Shasa sungguh tak enak, Zevan selalu memberinya makanan padahal mereka tidak memiliki hubungan apapun, atau belum?
"Tidak repot, aku senang membuatkan kamu makanan. Aku sedang mencoba menjadi calon suami yang baik."
Pipi Shasa sontak merona, ia memalingkan wajah. Melihat wajah tampan Zevan yang tersenyum tidak baik untuk kesehatan jantung nya.
Zevan terkekeh melihat raut wajah merona Shasa, sepertinya usahanya selama ini telah membuahkan hasil.
•
•
•
Semakin hari, Shasa merasa jika Kevan semakin lengket dengan Keana. Anaknya itu bahkan selalu merengek ingin bertemu sang nenek setelah Shasa selesai pemotretan.
Hal itu semakin membuat Shasa gelisah, Zevan memiliki semua yang tidak ia miliki. Kakek dan nenek yang menyayangi Kevan, aunty dan uncle yang menyenangkan dan dapat di ajak bercanda, juga perhatian yang melimpah.
Shasa sangat yakin, jika sekarang ia melontarkan pertanyaan apakah Kevan akan lebih memilih tinggal bersamanya atau dengar Zevan dan keluarganya, bocah itu pasti akan memilih sang ayah.
Bersama keluarga Zevan, Shasa bisa melihat sisi lain Kevan yang jarang bocah itu tunjukkan. Mulai dari senyum nya, sikap manjanya, bahkan ia tak akan ragu untuk merengek ketika di jahili oleh sepupu-sepupu Zevan. Padahal, Kevan itu tipe bocah yang memiliki gengsi tinggi. Padanya saja ia jarang merengek.
Setiap malam Shasa selalu overthinking memikirkan hal itu, ia takut kehilangan Kevan, buah hatinya, satu-satunya yang membuat ia bertahan hingga sekarang.
Tanpa sadar, jadwal tidur Shasa mulai tak teratur. Terkadang ia masih terbangun di jam 2 pagi, kadang juga ia tidur lebih awal karena kelelahan, namun terkadang ia bahkan tidak tidur malam hingga membuatnya tertidur saat pemotretan.
Tak ada yang berani menegur dirinya ketika tertidur di tempat pemotongan karena semua orang tahu, ia adalah kekasih Zevan, CEO perusahaan ini.
Namun hal itu malah membuat Shasa tak enak sendiri, pemotretan nya harus di undur karena dirinya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Kevan
Masih bocil aja udah ganteng, gimana gedenya?
Zevan
Anaknya imut, bapaknya sangar.
Shasa
__ADS_1
Emaknya s*ksi uy.