
Kedua insan itu telah terbangun setelah beristirahat dari pergulatan panas mereka. Walaupun sudah terbangun, rasanya mereka enggan sekali untuk beranjak dari kasur dan lebih memilih untuk tetap berbaring sambil saling berpelukan.
"Aku gak nyangka dia akan senekat ini. Untung saja ada Ziva."
Shasa mengusap dada bidang Zevan dengan jari telunjuknya, membuat pola acak di sana.
Zevan menangkap tangan Shasa, menghentikan wanita itu dari membangunkan singa yang baru saja tertidur. Ia mengecup tangan lembut Shasa, lalu setelahnya ia pun mengecup dahi sang tunangan.
"Ayo mandi, tubuh mu pasti sangat lengket."
"Gendong~" Rengek Shasa.
Zevan terkekeh, lalu ia mengangkat tubuh Shasa dan membawa wanita nya menuju kamar mandi.
•
•
•
Selesai mandi dan berganti baju, kini kedua tengah berada di perjalanan menuju kediaman Algreat.
Kediaman itu tidak pernah sepi, bahkan sepertinya hari ini seluruh sepupu Zevan kembali berkumpul, terbukti dari suara teriakan Haechal dan Gio yang terdengar sampai luar rumah.
"Owh, aku tidak bisa membayangkan seberapa kencang suara mereka hingga terdengar sampai ke sini."
"Sangat kencang, jadi berhati-hatilah dengan suara mereka sayang, atau gendang telingamu akan pecah nanti."
Zevan memeluk pinggang Shasa, membawa wanita nya masuk ke dalam.
"Wah, datang juga kalian. Gimana adiknya Kevan? udah otw belum?"
Baru juga masuk, suara Jefrian sudah menginstrupsi mereka.
Bukankah menjawab, Zevan malah memasang wajah sinis lalu membawa Shasa duduk di sofa yang kosong.
"Aduh, kacang murah ya guys. Hahahaha."
Plak...
Gio dan Haechal tertawa puas lalu bertos ria, membuat Jefrian kesal hingga rasanya ia ingin memenggal kepala dua curut itu.
"Sabar, orang sabar pasti makin ganteng." Monolognya mengusap dada bidangnya.
"MOMMY~" Kevan yang tadinya sedang bermain dengan Xion dan Lulu pun langsung berlari mendekati sang ibu yang baru saja datang.
Shasa tersenyum, lalu membawa Kevan dalam pangkuan nya. "Anak mommy, sudah makan belum sayang?"
Bocah itu mengangguk pelan, "Sudah dong mom, mommy sendiri?"
"Tentu saja sudah, tenaganya pasti terkuras habis setelah membuat kan adik untuk mu, bukan begitu adik ipar?" Itu Ziva yang tengah mengedipkan mata pada Shasa hingga wanita itu di buat merona.
Bugh...
"Si*lan, jangan mengajarkan anakku yang tidak-tidak, bodoh!" Geram Zevan yang baru saja melempar bantal sofa pada kembaran nya.
Bugh...
Ziva balas melemparkan bantal sofa tadi kepada kembaran nya, "Siapa yang kau panggil bodoh hah?!" Ziva menatap tajam Zevan, "Aku tidak mengajarkan anak mu yang aneh-aneh, aku mengajarkan sesuatu yang penting untuk masa depannya."
__ADS_1
Bugh...
"Tapi ini bukan waktu nya!!"
Perang bantal sudah tak terelakkan lagi dari kedua anak kembar itu, lebih ramai lagi karena kini sepupu Zevan yang lain juga ikut-ikutan. Beberapa dari mereka di pihak Zevan, dan beberapa lagi di pihak Ziva.
Kevan yang berada di pangkuan Shasa pun memberontak ingin turun, "Kevan akan bantu Daddy."
Shasa dan Nayla hanya bisa terkekeh di sana melihat kelakuan mereka semua. Jangan tanyakan dimana keberadaan Keana, karena Keana, Keane dan Keyla juga turut berpartisipasi di dalam peperangan kecil ini.
Bukan hanya mereka bertiga, namun aunty dan uncle trioZ yang lainnya pun juga ikut.
"Mereka ini sudah pada besar, tapi kelakuan masih saja seperti anak kecil." Nayla terkekeh.
Shasa mengangguk setuju, "Tapi menyenangkan sekali melihat sisi mereka yang satu ini, padahal, jika di luar sana mereka selalu terlihat dingin dan kejam."
Nayla tersenyum manis lalu mengusap bahu Shasa, "Itu adalah salah satu cara kami untuk jauh lebih disegani, kalau kamu terlalu baik, maka orang akan mengambil keuntungan."
Shasa mengangguk, ia cukup paham dengan kehidupan orang kaya yang terkadang di penuhi oleh kepura-puraan.
Diam-diam Shasa melirik Leon yang hanya diam melihat tingkah keluarga nya, pria yang akan menjadi ayah mertuanya inilah yang benar-benar merupakan laki-laki yang dingin dan kejam. Sedangkan Zevan dan yang lainnya masih memiliki sifat bobrok yang diturunkan oleh Keana.
•
•
•
Entah lelah atau bagaimana, mereka semua tertidur di ruang tengah dengan sangat tidak etis.
Beberapa ada yang tertidur di sofa dengan keadaan kaki tergantung di punggung sofa dan kepala di bawah. Aku jadi heran, apakah mereka tidak lelah dengan posisi tidur seperti itu?
Lalu ada Zevan dan Ziva yang tidur berdiri dengan mata terbuka sambil saling berpelukan, anak kembar satu ini memang benar-benar unik.
Satu-satunya orang yang tidur dengan normal adalah Zion yang tidur di sofa sambil memeluk guling, sedangkan Kevan sudah di pindahkan oleh Shasa ke kamar untuk tidur siang bersama.
Keana dan yang lainnya? mereka tak jauh beda dengan anak-anaknya yang tidur dengan berbagai gaya. Untung saja ada Leon yang dengan perhatian menggendong istrinya menuju kamar.
Shasa mengusap pelan surai sang anak, ia tersenyum mengingat bagaimana bahagia nya Kevan tadi. "Teruslah berbahagia di masa kecil mu ini sayang, mommy tidak ingin kamu memiliki masa kecil yang suram seperti mommy dulu. Nikmatilah masa kecil mu seperti anak-anak seusia mu."
Salah satu hal yang membuat Shasa begitu tidak suka dengan wajah datar Kevan dan selalu mencoba membuat anaknya itu tersenyum adalah karena dulu ia pernah merasakan masa kecil yang suram, dan ia tak mau jika anaknya juga mereka itu.
Dan karena itu juga, Shasa merasa begitu senang ketika pergi ke taman bermain, ia ingin merasakan kebahagiaan masa kecil yang belum sempat ia rasakan.
"Mommy menyayangi mu, mommy akan selalu memastikan supaya kamu selalu bahagia."
Tanpa sadar air mata menetes di pipi Shasa, ia pun langsung mengusap air matanya dengan tangan. "Sudahlah Shasa, masa lalu buruk mu jangan selalu di kenang karena itu hanya akan membuat luka hatimu terbuka," Ucapnya pada diri sendiri.
"Jangan sampai mereka tahu masa laluku, biarkan ini tetap menjadi masa laluku."
Sayang sekali, Shasa tidak tahu saja jika di luar pintu kamar yang tak tertutup itu ada Nayla yang mendengar semua ucapannya.
"Kasihan sekali cucu menantu ku, hidupnya pasti sangat menyedihkan."
•
•
•
__ADS_1
Mata tajam itu mendelik tajam pada wanita yang baru saja menerobos ruangannya begitu saja. Ia tahu jika sang sekertaris sedang tidak berada di tempat sekarang, namun sopankah jika orang menerobos masuk tanpa meminta izin?
"Pergi dari ruangan saya!" Usirnya tegas.
Bukannya pergi, wanita tak tahu malu itu malah berjalan semakin mendekat Zevan. "Tuan Algreat," Dan dengan tak tahu malunya, ia memeluk Zevan dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan?!" Bentak nya.
Lancang, sungguh lancang wanita ini mengendur leher putih nan bersih milik Zevan. "Tuan Algreat, aku mencintaimu."
BRAK...
Pintu ruangan terbuka paksa bahkan sebelum Zevan bisa menyingkirkan wanita itu dari tubuhnya.
Disana, depan pintu berdiri seorang perempuan yang sangat Zevan cintai, Kesha Lovely Anarga. Zevan bisa melihat air mata yang perlahan-lahan menetes membasahi pipi Shasa.
BRAK....
Tanpa pikir panjang kaki-kaki itu langsung mendorongnya si ulat pengganggu dan langsung menghampiri Shasa, namun wanita itu sudah lari terlebih dahulu dengan air mata yang masih mengalir deras.
"Si*l, aku akan membunuhmu Ella!" Zevan sempat menatap tajam Ella sebelum pergi menyusul Shasa.
"Cih, Kesha bodoh itu pasti akan langsung membatalkan pernikahan nya sekarang. Seperti dulu dia menjauhi kak Rey hanya karena hal sepele ini." Model cantik itu memasang senyuman miringnya.
•
•
"Shasa! tunggu aku! tunggu dulu! dengarkan penjelasannya ku sayang!"
Shasa terus berlari tanpa memperdulikan Zevan yang sejak tadi mengejar nya, ia juga tak peduli jika aksi kejar-kejaran mereka di saksikan oleh seluruh penghuni gedung itu.
Grep...
Akhirnya Zevan dapat menangkap tangan Shasa dan menarik wanita itu dalam dekapannya, "Sayang, dengarkan aku dulu."
"Tidak! lepaskan aku hiks... lepaskan!" Shasa memberontak, namun Zevan menahannya.
"Sayang, dengar kan aku, kamu tidak percaya dengan aku?"
"A_aku percaya, tapi aku tidak bisa mencegah hatiku untuk merasa sakit hiks...hiks..." Shasa berhenti berontak dan malah memeluk Zevan dengan erat.
"Sayang, maafkan aku, seharusnya aku mengusir dia lebih cepat tadi." Zevan jadi mereka bersalah, seharusnya ia bisa lebih tegas lagi. Selanjutnya ia tak akan mengulangi hal yang sama dan membuat Shasa sakit hati lagi.
Shasa tak menjawab, ia memeluk Zevan lebih erat lagi. "Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi, Zevan adalah pria setia, aku yakin itu."
•
•
Di sisi lain, seorang wanita yang baru saja melihat apa yang Zevan dan Shasa lakukan melakukan CCTV pun menggeram marah.
"Si*l, mereka berdua benar-benar tidak berguna!"
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Cie yang patah tulang
__ADS_1
Aduh, keturunan mbok Keane bener-bener gak ada lawan.