
Hari-hari Levy mulai berjalan biasa, tak ada lagi bayang-bayang Theo yang menghantuinya karena entah sengaja atau tidak, Gio selalu membuat Levy tak memiliki waktu untuk memikirkan Theo barang sedetik saja.
Namun, hari-hari itu tak berselang lama karena mereka kembali di pertemukan dan sebuah pemotretan yang mengejutkan.
Pemotretan berpasangan, Levy tidak tahu dan sama sekali tak menduga jika Theo akan menjadi pasangannya dalam pemotretan kali ini.
Sepanjang pemotretan Levy terus saja gelisah, dan tentu itu mengganggu pekerjaan nya sekarang. Ia bahkan sudah puluhan kali mendapatkan teguran karena tidak profesional dengan menunjukkan sikap tak nyaman ketika berada di dekat Theo.
Levy bahkan reflek menjauh ketika Theo menyentuh tangannya.
"LEVY! KAMU NIAT KERJA GAK SIH?!" Bentak sang sutradara kepalang marah.
"Ma_maafkan saya, sepertinya saya tidak bisa melanjutkan pemotretan ini." Levy menunduk.
"Apa maksud mu dengan tidak bisa melanjutkan?! apakah kamu sanggup membayar kompensasi nya?! 2M! kamu sanggup?!"
Levy hanya diam, ia hanya model biasa yang tidak begitu terkenal. Gajinya juga tak seberapa, hanya 200 jt untuk sekali pemotretan, berbeda dengan Shasa yang memiliki gaji 1M untuk sekali pemotretan. Ia mana mungkin mampu membayar kompensasi itu dengan waktu singkat.
Ingin meminjam pada Shasa? ia sudah sering meminjam uang pada sahabatnya itu, bahkan 3 bukan terakhir ini Shasa lah yang telah membayarkan uang sewa apartemen nya.
"Permisi, biar saya berbicara dengan Levy sebentar."
Theo menarik tangan Levy, membawa perempuan itu keluar walaupun Levy sudah berulangkali berusaha melepaskan genggaman nya.
"Lepas!" Akhirnya cengkraman tangan Theo terlepas juga.
Tatapan penuh takut itu, Theo merasakan dadanya sesak ketika melihat tatapan itu. "Lev."
Levy segera menghindar ketika Theo berusaha ingin meraih tangan nya, ia pun perlahan mundur. "Jangan dekat-dekat aku lagi," Ucapnya dengan suara bergetar.
"Aku_"
"Lev."
Entah dari mana datangnya Gio yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Levy dan memeluk pinggang perempuan itu, membuat sang empu merasa sedikit aman.
Bruk...
Tanpa aba-aba, Levy langsung memeluk erat Gio. Gio terkejut, begitu juga Theo yang masih berada di sana.
"Aku gak mau ketemu dia," Lirik Levy.
"Lev." Theo ingin menyentuh Levy, namun Gio segera menghalangi nya.
"Saya gak suka kalau milik saya disentuh atau bahkan di ganggu oleh orang lain."
Tatapan keduanya bertemu, tatapan tak biasa seolah menyatakan perang untuk satu sama lain.
"Punya hak apa Anda terhadap dia?" Tanya Theo tak suka.
"Telinganya masih berfungsi dengan baik kan? atau otaknya? bukankah saya sudah mengatakan dengan jelas jika dia ini mi-lik sa-ya!" Ucap Gio penuh penekanan di akhir.
•
•
•
Gio membawa Levy pergi bersamanya, tak peduli jika perempuan itu belum mengganti baju yang ia gunakan untuk pemotretan.
Gio tak memaksa Levy, ia membiarkan perempuan itu cerita jika ia mau. Dan ya, entah kenapa Levy dengan mudahnya menceritakan apa yang terjadi.
Namun, ia tak menceritakan tentang kenapa ia bisa seperti itu kepada Theo, dan Gio pun sekali lagi tak mau memaksa walaupun ia benar-benar penasaran
"Baiklah, kamu tenang saja, aku yang akan mengurus nya. Uang segitu bukanlah masalah."
"Gak usah, aku gak mau ngerepotin." Levy tak enak, sungguh.
"Gak ngerepotin, enjoy aja. Kita kan keluarga." Gio menunjukkan senyuman terbaiknya.
"Hah?" Levy membeo.
"Ma_maksudnya, aunty Keana kan udah anggap kamu kayak anak sendiri, jadi, kita keluarga dong?" Gio tak tahu kenapa ia jadi gugup seperti ini.
__ADS_1
"O_oh..."
Suasananya tiba-tiba menjadi canggung, keduanya saling lirik sambil tersenyum kekikuk. Ah, siapapun tolong bawa Levy pergi dari keadaan ini!!
•
•
•
Brigitta, apakah kalian pikir jika wanita itu telah pergi ke alam lain? Oh, tidak semudah itu.
Terkadang orang jahat memang lebih beruntung daripada orang baik.
Tuan Jho dapat menemukan istrinya tepat waktu hingga wanita itu bisa di selamat kan walaupun keadaan nya benar-benar buruk dan butuh waktu lama untuk sembuh.
Seluruh tubuhnya lumpuh total, tidak akan bertahan lama, mungkin hanya 3 bulan saja. Ia harus bersyukur karena masih di beri kesempatan hidup satu kali lagi oleh tuhan yang selalu ia hina.
"Apa yang membuat mu seperti ini sayang? katakan saja padaku dan aku akan langsung menghabisinya." Tuan Jho menatap sedih sang istri dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan lemah itu.
Brigitta ingin sekali mengadukan Theo pada sang suami, namun sayangnya tak ada kata yang bisa keluar dari bibirnya. "Emh...eng eng eng..." Hanya itu saja yang bisa ia suarakan.
"Si*l, racun bocah itu membuat ku tak bisa melakukan apapun sekarang. Aku pasti akan menghabisi nya jika aku sudah kembali sehat nanti!"
•
•
•
Shasa sudah lelah, hari ini Zevan benar-benar overprotektif. Laki-laki itu tak membiarkan Shasa berkerja atau mengerjakan beberapa pekerjaan rumah seperti mencuci piring, atau yang lainnya. Katanya ia tak mau jika sang istri kelelahan.
"Sha, ikut mommy kumpul sama temen yuk."
Zevan sigap memeluk sang istri ketika Keana yang sudah rapih dengan pakaian mahal berjalan mendekati mereka.
"Iy_"
"Tidak! Shasa hari ini mau quality time sama Zevan!" Potong Zevan cepat.
"Biarin!"
Zevan dan sikap kekanak-kanakan nya sungguh membuat kepala Shasa pusing.
Di elusnya surai sang suami pelan, "Aku mau ikut mommy, boleh ya?"
Gelengan kuat Shasa dapatkan sebagai jawaban atas ucapannya, "Gak boleh! aku mau berduaan sama kamu." Zevan memasang wajah melasnya.
"Zevan, emangnya kamu gak kerja? kata daddy kamu ada meeting nanti."
"Gak penting," Ucapnya acuh.
Drett...
Seperdetik kemudian ponsel Zevan bergetar menandakan ada panggilan masuk.
Tanpa melihat nama kontak yang menghubungi nya, Zevan langsung mengangkat panggilan itu.
"Ada ap_"
"ZEVAN! KAMU DIMANA? KAMU INGETKAN KALAU HARI INI KITA ADA MEETING PENTING."
Oh tidak, tuan besar kita telah murka!
Keana tertawa menertawakan nasib malang anaknya yang pasti akan kena marah oleh Leon nanti, "Makanya, kalau mau libur tuh izin, jangan suka seenaknya aja. Walaupun kamu CEO nya, daddy masihlah pemilik perusahaan!"
Zevan menatap sengit sang mommy, "Sayang, besok kita pulang ke rumah kita." Setelah mengatakan itu, Zevan langsung berlari ke kamar untuk bersiap pergi ke perusahaan.
"KALAU MAU PULANG KE RUMAH MU, PULANG AJA SENDIRI! JANGAN AJAK MENANTU KESAYANGAN MOMMY!"
Yah, sebenarnya Zevan dan keluarganya beberapa hari ini tinggal di kediaman utama Algreat karena paksaan ibunda ratu Keana Lauren Algreat.
•
__ADS_1
•
•
Keana excited banget buat pamerin menantu tercintanya kepada teman-teman sosialita nya, dan tentu saja di sana ada Keyla dan Kiara, istri dari El.
"Hai semua, kenalin nih, ini menantu kesayangan ku, Kesha Lovely Anarga Algreat."
"Wah, ini toh model internasional yang berhasil naklukin tuan muda es keluarga Algreat, cantik banget ya." Puji salah seorang wanita disana, entah benar-benar sebuah pujian atau tengah menjilat belaka.
Shasa tersenyum, ia mulai menyapa dan berkenalan dengan teman-teman Keana. Sebenarnya hanya terpaksa berteman demi keuntungan bisnis saja.
Mereka terlihat seperti orang baik, atau pura-pura baik? Entahlah, yang terpenting mereka tidak membuat Shasa merasa tidak nyaman atau sebagainya.
"Eh jeng, kalian udah dengar gak sih beritanya? Tiba-tiba aja nyonya Brig menghilang, dan yang saya dengar dia itu di rawat di rumah sakit tau." Tuh kan, mulai deh gosipin orang.
"Emang iya ya jeng? sakit apa emang?" Tanya yang lain menanggapi.
"Gak tahu juga saya jeng Mirna, kayaknya sakit parah deh. Mungkin karma ya, kan dia selama ini selaku sombong."
"Hahahaha, bisa jadi jeng."
Gosip ala ibu-ibu +62 memang seperti ini ya? Seharusnya Shasa tidak heran lagi, tapi tunggu...Nyonya Brig? Brigitta? dia masih hidup?
"Em... permisi semuanya, saya pamit ke toilet sebentar ya."
"Oh, iya-iya Kesha."
"Mom, Aunty, Shasa permisi."
"Iya sayang, mau mommy temani gak?"
"Gak usah mom, Shasa bisa sendiri kok."
Shasa segera pergi setelah berpamitan dengan semua orang yang ada di sana, rasanya tubuhnya begitu lemas setelah mendengar kabar jika nyonya Brig masih hidup.
Karena itu berarti, hidup nya tidak akan bisa tenang. Brigitta pasti akan terus menerus meneror hidupnya atau bahkan berencana membunuh Shasa lagi.
Sudahlah, lebih baik ia mencuci wajahnya supaya menjadi lebih segar.
Merasa jika dirinya sudah lebih baik, Shasa pun memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
Seperti Dejavu, ia menatap kaget seseorang yang berdiri di hadapannya. Dia adalah Faza.
"Shasa," Shasa terkejut ketika tangan nya tiba-tiba di genggam oleh Faza, ia segera melepaskan tangan nya dari genggaman Faza.
"Permisi."
Shasa ingin pergi begitu saja, namun Faza langsung menghadang jalannya.
"Sha, aku cinta sama kamu. Dan selamanya, aku akan mencintai kamu."
Tubuh Shasa membeku, ia seperti merasakan Dejavu ketika kalimat itu keluar dari mulut Faza.
"Kita adalah saudara." Jawaban Shasa setiap kali Faza mengungkapkan perasaan kepadanya.
"Hanya saudara tiri, tidak akan menjadi masalah."
Dialog-dialog yang sudah tak asing dalam ingatan Shasa, sama persis seperti dialog 8 tahun yang lalu, bersama orang yang sama dengan status dan tempat yang berbeda.
"Sekarang aku sudah memiliki suami dan anak, jadi ku mohon, jangan ganggu aku lagi."
"Suami bisa cerai, dan aku bisa menerima anakmu seperti anakku sendiri."
"Aku sama sekali tidak mencintai mu, maaf, permisi."
Kali ini Faza sama sekali tak menghalangi ketika Shasa berlalu tanpa menoleh sekalipun kepadanya.
"Aku masih mencintaimu walaupun kita telah memiliki pasangan kita masing-masing."
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Gio or Theo?