
Keana dan Shasa telah sampai di kediaman Algreat tepat pada jam 4 sore dini hari.
"Sayang, kamu istirahat saja sana, biar mommy yang menyiapkan makan malam."
Yang lebih muda menggeleng pelan, "Shasa bantuin mommy aja."
"Kamu pasti kelelahan, lebih baik kamu istirahat saja."
Shasa kukuh menggeleng, "Shasa bantu mommy aja."
"Ya sudah, kamu ganti baju gih, terus temui mommy di dapur."
Shasa memasang sikap tubuh hormat, persis seperti anak sekolah yang tengah melakukan upacara bendera, "Siap yang mulia!"
Keana terkekeh melihat tingkah menantunya yang tidak jauh beda dengan Zero.
•
•
•
"MOMMY~" Kevan berlari dengan ceria menyusul Shasa dan Keana yang sibuk bergelut dengan alat-alat masak di dapur.
"Kevan! jangan lari-lari, nanti jatuh," Peringat Ziva yang berjalan di belakang anak laki-laki dari adiknya itu.
Tak mendengarkan peringatan dari Ziva, Kevan malah semakin cepat berlari hingga kini tubuh kecilnya telah memeluk erat kaki sang ibu.
"Astaghfirullah," Hampir saja mie yang di masak Shasa tumpah karena sentakan kecil yang Kevan ciptakan.
"Sayang... hati-hati dong.".
Bocah berusia lima tahun itu memamerkan gigi rapihnya lalu menatap Shasa dengan puppy eyes andalannya, "Maafin Evan ya mom."
Kalau sudah begini, bagaimana bisa Shasa marah dengan Kevan?
"Baiklah, tapi jangan di ulangi ya? Jangan lari-lari kayak gitu, nanti Kevan bisa jatuh."
Bocah itu mengangguk, lalu melepaskan pelukannya pada kaki Shasa. "Mom, Kevan mau ice cream boleh?"
"Boleh, tapi jangan banyak-banyak. Maksimal dua cup kecil."
"Yeay! makasih mom." Kevan bersorak girang lalu segera membuka kulkas dan mengambil satu cup kecil ice cream kesukaannya.
Keana terkekeh melihat kelakuan Kevan, sama persis seperti Zevan dulu. "Dia sangat manis dan menggemaskan."
Shasa mengangguk, "Tapi, Kevan dulu itu dingin banget lho mom. Dulu Kevan tidak suka makanan masih dan cenderung bersikap seperti orang dewasa daripada anak kecil seusianya." Wajah Shasa sedikit murung dan sedih ketika mengingat bagaimana sikap putra nya dulu. Ia jadi merasa gagal sebagai orang tua.
"Tapi aku bersyukur, Kevan sekarang bertingkah seperti anak seusianya sejak ia bertemu dengan Daddynya," Lanjut Shasa.
Keana yang peka langsung saja mengusap bahu menantunya, "Jangan merasa gagal, kamu sama sekali tidak gagal sayang. Hanya saja keadaan yang membuat Kevan seperti dulu. Dia harus bersikap dewasa untuk mengerti keadaan ibunya."
"Terimakasih mom." Shasa memeluk Keana.
"Mommy tidak melakukan apapun, kamu tidak perlu berterimakasih." Keana mengusap bahu Shasa dengan sayang.
Keduanya sama sekali tidak sadar jika bocah yang baru saja mengambil satu cup ice cream dan memakannya di meja makan tengah mendengarkan pembicaraan mereka dalam diam.
Ziva yang duduk di hadapannya hanya bisa menghela nafas, "Teruslah berpura-pura hingga kau lelah, dasar bocah. Kau pikir dengan bersikap ceria seperti ini akan membuat ibumu senang?"
Kepala kecil itu bergerak naik turun, "Mommy senang."
"Jika dia tahu yang sebenarnya, maka dia akan sedih. Seharusnya kau bersikap biasa saja, menjadi dirimu sendiri. Bocah monoton yang membosankan."
__ADS_1
Ziva memang tak suka dengan sikap monoton Kevan yang menyebalkan, namun ia lebih tak suka dengan sikap palsu Kevan di hadapan semua orang.
Kevan tak membalas ucapan Ziva dan lebih memilih segera menghabiskan ice cream nya, walaupun ia tak suka rasa manis makanan itu.
"Asalkan mommy senang, maka apapun akan aku lakukan."
•
•
•
Keromantisan pasangan Zevan dan Shasa yang selalu membuat iri semua orang memang tak bisa di ragukan. Namun, malam ini sepertinya ruang keluarga kediaman Algreat telah menjadi saksi bisu dari sebuah momen romantis pasangan baru, Levy dan Gio.
Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja Tom and Jerry berubah menjadi Romeo and Juliet dalam waktu 20 jam.
Ada apakah ini gerangan?
Apakah ayam baru saja beranak unta, atau ikan berjalan di darat?
Kejelasan hubungan keduanya wajib di pertanyakan.
"Ehem! bau-bau uang 2 miliar bakal melayang nih," Kode Zero sambil memutar matanya ke segala arah.
Gio melirik sekilas, "Uang siapa yang bakal melayang?"
"Uang orang yang baru jadian, tapi belum ngasih adik kecil ini uang pajak."
Mata Gio memicing, "Uang 2 miliar buat PJ? sekaya apa tuh orang?"
Zero memasang muka datar, Gio ini pura-pura tak tahu atau memang tidak peka sih? Rasanya pengen Zero cekik deh.
"Orang yang gak peka tuh enaknya diapain ya?" Tanya Zero meminta saran.
"Mending di jual aja, uncle, lumayan dapet duit." Patut di coba nih saran dari Kevan.
Levy dan Gio saling pandang, "Bener tuh kata Kevan, mending di jual, mungkin bisa laku sampai 200 miliar," Ucap keduanya bersamaan.
Ketiga orang tadi memasang muka jengah, sungguh tak habis pikir dengan Levy dan Gio.
Sedangkan Zevan dan Shasa mah udah larut dalam dunia masing-masing, begitu juga Keana yang sibuk bermesraan dengan sang suami di sofa seberang.
Menyadari keadaan sekitarnya membuat Ziva membatin, "Kenapa cuma aku yang gak punya pasangan?!"
Oh, jangan salah ya. Walaupun masih SMA, Zero ini udah punya pacar tahu. Baru aja jadian 3 bulan yang lalu.
Dan apa kalian tahu apa pj yang diminta kakak-kakak nya dari dia?
Mereka meminta Zero menjadi babu mereka selama satu minggu full!
Gila, jahat banget kan mereka semua. Inilah alasan kenapa Zero lebih ingin merahasiakan hubungan nya dari mereka semua, mereka itu pembully berkedok keluarga.
•
•
•
Faza menaiki tangga menuju rumahnya. Beberapa hari ini kedua orang tuanya sedang tak ada dirumah karena ibunya sedang sakit, dan Faza terlihat biasa saja, ia tidak khawatir sama sekali bahkan jika ibunya mati.
Kalian tak perlu bertanya kenapa Faza begitu membenci Brigitta yang nyatanya adalah wanita yang telah melahirkan nya ke dunia ini.
Brigitta adalah wanita licik dan paling jahat yang pernah Faza temui, wanita itu bahkan rela membunuh suaminya sendiri; ayah Faza, hanya karena harta.
__ADS_1
Apakah wanita seperti itu masih bisa dikatakan sebagai seorang ibu? Ibu yang seharusnya memberikan contoh baik untuk anaknya malah menjadi contoh buruk bagi Faza. Dengan membunuh suaminya sendiri di depan mata Faza, Brigitta seolah mengajarkan pada anak tunggalnya itu bahwa ia bisa melakukan apapun demi kepuasan nya.
"Mommy kamu sedang berada di rumah sakit, dan kamu sama sekali tidak ada niatan untuk menjenguknya?" Suara bariton Jho menghentikan langkah Faza.
Faza tidak ada niatan untuk menatap ayah tirinya barang sedetik pun, ia dengan acuhnya menjawab, "Aku tidak pernah memiliki ibu seorang pembunuh."
"FAZA! APA YANG KAMU KATAKAN?!" Tuan Jho naik pitam.
Faza berlalu begitu saja, ia tak berniat untuk membalas ucapan Jho, karena percuma saja. Laki-laki itu masih dalam pengaruh pelet yang sudah 10 tahun lebih ini Brigitta berikan padanya dalam bentuk kopi, jadi mau di kasih tahu bagaimana pun, tuan Jho tua itu pasti akan membela istrinya.
•
•
•
Pagi-pagi sekali kediaman Zevan sudah di ramaikan dengan suara jeritan Shasa yang menggelegar diseisi rumah, bahkan membuat terkejut beberapa tetangga.
"ZEVAN!!"
"Iya sayang, ada apa?" Zevan yang baru bangun tidur sudah harus berlari tergopoh-gopoh menuju ke tempat ganti baju untuk memenuhi panggilan Shasa.
"AKU TAMBAH GENDUT HUWE..." Adu wanita itu segera setelah suaminya memasuki ruang ganti.
"Hah?" Zevan membeo dengan kesadaran yang masih belum terkumpul sepenuhnya.
"Liat? perut aku tambah buncit." Shasa menyingkap kaosnya dan menunjukkan perut nya yang sedikit membesar kepada Zevan.
Perut Shasa memang sedikit membesar, namun itu malah membuat Zevan gemas. "Emang kenapa kalau besaran sayang? lucu tau."
"IH! TAPIKAN AKU MODEL ZEVAN, HUWAA!"
•
Setelah keributan pagi itu, Shasa dan Zevan memutuskan untuk menemui Keana untuk meminta saran diet supaya perut Shasa bisa kembali ramping seperti sedia kala. Karena sungguh, Shasa itu tidak pernah yang namanya diet.
Dulu pasca melahirkan Kevan, berat badan Shasa sama sekali tidak naik walaupun nafsu makannya begitu besar. Asinya juga lancar-lancar aja tuh.
Awalnya Zevan ingin menemani Shasa, tapi bapak kepala rumah tangga tua kita, yakni bapak Leon sudah lebih dulu menyeret Zevan dan membawanya kekantor.
"Boleh mommy pegang perut kamu sebentar sayang?"
Shasa mengangguk, "Boleh mom."
Tangan Keana berlahan terulur menyentuh perut Shasa dan mengusap nya pelan. Senyuman kecil terbit di bibir cantik Keana.
"Sepertinya kita butuh kira-kira 6 bulan untuk mengecilkan perut mu." Ucapan Keana tentu membuat Shasa terkejut. "Apakah memang selama itu mom? tapi aku harus pemotretan."
Keana terkekeh pelan, "Kita harus konsultasi dokter dulu sayang.
Shasa terlihat kebingungan, namun setelah nya ia paham. Mungkin program diet yang baik itu harus dipantau sama dokter khusus, iyakan?
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Ibu dan anak mukanya sama.
Sama-sama muka kriminal 😭
__ADS_1
Besok ya guys