
H-2 sebelum hari pernikahan Shasa Zevan, keduanya terpantau semakin lengket dan mesra setiap harinya.
Keduanya bahkan tidak segan-segan menunjukkan kemesraan mereka di depan halayak ramai, seperti di kantor atau di tempat umum lainnya.
Tapi di balik semua itu, pasti ada saja orang yang iri dengan hubungan keduanya. Seperti saat ini...
"Apa-apaan barusan? siapa wanita itu?!"
"Dia hanya rekan bisnis ku sayang, tidak lebih."
Shasa menatap Zevan tajam sambil berkacak pinggang, "Rekan bisnis biasa mana yang saling berpelukan seperti itu?!"
"Itu hanya sebuah salah paham, dia tidak sengaja jatuh dan mengenaiku," Ucap Zevan mencoba memberikan penjelasan.
Tapi karena Shasa sudah kepalang marah, akhirnya malam ini laki-laki di usir dari kamarnya dan terpaksa harus tidur di luar.
Oh, apakah aku belum memberitahu kalian bahwa sejak seminggu lalu Shasa dan Kevan sudah pindah ke rumah Algreat? dan tentu saja wanita itu satu kamar dengan Zevan.
"Hohoho, apa ini? apakah kakak ipar marah dengan kakak lagi?"
Melihat kakak keduanya duduk di sofa ruang tengah dengan membawa bantal dan selimut, Zero tentu saja tak akan menahan diri untuk meledeknya.
"Kenapa kakak tidak tidur di kamar tamu saja?" Terdengar seperti niat baik walau sejujurnya tidak.
Zero tahu benar, jika kakaknya sekarang pergilah ke kamar tamu untuk tidur, maka Shasa akan sangat marah keesokan harinya.
"Kau ingin membunuh kakak mu ini, hah?!" Zevan mendelik tajam pada sang adik.
Bocah itu mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah, "Aku hanya memberikan kakak sebuah saran."
"Saran mu bisa membunuh ku, asal kau tahu."
Zero mendelik pada kakak keduanya, berlebihan sekali.
Kevan sama sekali tak suka ketika gurunya yang satu ini selalu bersikap sok akrab dan selalu mencoba mendekatinya, ia risih tahu!
Tak tahu apa yang diinginkan wanita itu, dari hari pertama kali ia mengajar, ia sudah mulai menunjukkan sikap yang sungguh membuat Kevan tak nyaman.
"Hai, Kevan. Hari ini Bu Lia membawa nasi goreng spesial, Kevan mau gak?" Tawar wanita itu dengan senyuman cerah.
Ziva yang berada di samping Kevan nampak mengerutkan keningnya, "Keponakan saya sudah membawa bekal sendiri, terimakasihnya," Tolaknya dingin.
"Bu Lia sengaja membuat nya untuk Kevan lho, masa Kevan gak mau?" Entah tuli atau tak mengerti bahasa manusia, Amelia tetap saja menawarkan makanannya kepada Kevan.
"Gak denger yang aunty saya katakan ya?" Kevan menatap datar sang guru.
"Kevan, Bu Lia hanya ingin lebih dekat dengan Kevan," Melas wanita itu terlihat menyedihkan.
Kevan menghela nafas, lalu beranjak dari duduknya untuk keluar kelas.
Ziva tentu saja langsung mengikuti keponakan nya meninggalkan Amelia yang berada sendirian di sana.
Wanita itu mengepalkan tangan kuat, "Sepertinya menaklukkan bocah ini tak semudah yang aku pikirkan, ditambah ada orang-orang dewasa itu di dekat nya."
Ziva tak akan percaya dengan ini jika ia tak melihatnya sendiri. Keponakannya yang tampan namun sayangnya dingin itu ternyata bisa bersikap manis juga, ya walaupun bukan padanya, melainkan pada seorang gadis kecil yang seusia Kevan yang menjadi adik kelas anak laki-laki itu.
"Kamu gapapa kan?"
"Ira gapapa kak, hanya sedikit takut saja tadi. Terimakasih ya sudah menolak Ira," Gadis kecil itu tersenyum manis pada Kevan.
"Lain kali berhati-hati lah, kakak kelas yang suka menindas seperti itu selalu ada di setiap sekolahan. Tapi aku tidak menyangka jika mereka akan melakukan penindasan kepada anak kelas satu seperti mu."
Ziva Rasanya ingin menjerit melihat tangan mungil Kevan yang terangkat untuk mengusap kepala gadis kecil itu.
__ADS_1
Tak mau menyia-nyiakan momen penting ini, Ziva langsung mengambil ponselnya dan mengambil foto serta video keduanya.
Kini tangan kecil Kevan bahkan sudah bersarang di pinggang gadis itu dan membawanya ke kantin sekolahan. "Aku akan mentraktir mu, makanlah sepuasnya."
Oh, ini akan menjadi gosip panas di kalangan keluarga Algreat, Zergan dan Gautama seterusnya, sudah dipastikan, Kevan akan menjadi bahan olok-olokan aunty dan uncle nya setelah ini.
"Huhuhuhu... bocah ini sungguh membuatku iri."
Hari ini seperti nya Shasa masih marah, Zevan bahkan sudah memohon-mohon untuk di maafkan, namun tak ia gubris sama sekali permohonan calon suaminya itu.
"Sayang, aku sudah menunjukkan rekaman CCTV nya, kamu bisa melihat sendirikan? itu hanya sebuah kecelakaan."
"Bagimu itu mungkin hanya sebuah kecelakaan, tapi jelas sekali jika wanita itu sengaja melakukannya, apakah kamu tidak melihatnya?!"
Zevan menghela nafas gusar, "Lalu kamu ingin aku melakukan apa? memutuskan kontrak kerjasama dengan nya?"
Apapun itu akan Zevan lakukan asalkan Shasa berhenti marah dan mau memaafkannya.
Wanita itu menggeleng, "Jika kamu ada rapat dengan klien manapun, kamu harus membawaku, titik!!"
Senyuman Zevan mengembang, oh, tentu saja ia akan melakukan nya dengan senang hati.
"Tentu saja sayang."
Grep...
Shasa memeluk lelakinya tanpa aba-aba, membuat sang empu terkejut. Namun, sedetik kemudian langsung membalas pelukan itu.
"Aku mencintaimu, jangan pernah berpaling dari ku." Suara Shasa teredam karena ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Zevan, namun walau begitu, laki-laki itu masih tetap bisa mendengar nya.
"Aku juga mencintaimu, dan aku tak akan pernah berpaling darimu, sayang."
Entah Zevan yang terlalu peka atau Shasa yang memang tak bisa menyembunyikan perasaan nya, Zevan merasa jika wanita nya sedang takut akan sesuatu hal.
Ia tak tahu hal apa yang membuat Shasa menjadi takut, namun ia berjanji bahwa apa yang wanita nya ini takutkan tidak akan terjadi.
Kevan memeluk Shasa erat, s*alan ia sangat malu karena ulah Ziva yang menyebarkan foto serta video itu di grup keluarga mereka.
"Hei, bocah kenapa bersembunyi di balik pelukan ibumu? apakah kau malu?" Ledek Gio senang.
Kevan menguatkan pelukannya pada Shasa yang sudah terkekeh gemas dengan tingkah anak tunggalnya ini.
"Anak Daddy sudah besar ternyata, apakah kamu berencana memberi Daddy menantu secepatnya?" Oh lihatlah, bahkan sang ayah pun juga ikut mengolok Kevan.
"Hei jagoan, tunggu besar dulu baru kah boleh menikahi dia, mengerti?"
"GRANDPA, DADDY! KENAPA KALIAN JUGA IKUTAN SIH?!" Teriak Kevan frustasi.
Semua orang yang ada disana malah tertawa senang melihat si kecil yang sebal seperti ini.
"Anak kecil jangan marah-marah, nanti cepet tua lho," Ejek Haechal.
"Bodoamat!" Ketus Kevan.
"Heh!" Tegur Shasa menepuk pelan bahu sang anak. "Gak boleh gitu ah."
Bocah berusia 5 tahun itu merenggut kesal, disini ia adalah korban tahu, kenapa malah ia yang kena tegur?
"Hei, sudah-sudah, berhenti meledek cucuku, kalian ini benar-benar." Oh, Oma Nayla adalah yang terbaik, Kevan mencintai nya.
*Disisi Lain
Brigitta memeluk manja lengan suaminya, "Sayang, kamu berencana menghadirinya?"
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Kita harus menghormati undangan ini, dan bukankah kamu akan lebih mudah melancarkan aksi mu jika kita menghadirinya?"
Wanita itu nampak tersenyum senang lalu mencium pipi sang suami, "Kamu memang sangat mengerti aku."
"Tentu saja, apa yang tidak aku mengerti dari dirimu hem?" Tangan kekar laki-laki yang wajahnya bahkan tak terlihat jelas itu sudah terangkat membelai salah satu sisi pipi Nyonya Brig.
Keduanya tersenyum sambil menatap mata satu sama lain, tatapan penuh cinta? entahlah.
Tak...Tak...Tak...
Langkah itu mengalihkan atensi keduanya pada seorang pemuda yang baru saja datang sambil menuruni tangga. Pakaiannya begitu rapih dengan jas hitam yang membalut tubuh atletis nya.
"Ingin kemana kamu malam-malam begini?" Tanya sang ibu.
Laki-laki itu melirik sekilas sang ibu lalu pergi tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
"Faza! jawab pertanyaan ibumu!!" Ucap sang ayah dengan nada suara yang meninggi.
Tak menggubris ucapan sang ayah, Faza tetap pergi tanpa peduli dengan kedua orang tuanya itu.
"Anak itu, bagaimana bisa dia tidak memiliki sopan santun kepada mu?" Sang kepala keluarga memijat pangkal hidung nya pelan.
"Tak apa, jangan di pikirkan." Brigitta mengusap bahu sang suami pelan.
"Aku tidak masalah jika dia bersikap seperti kepada ku karena aku bukan ayah kandungnya, tapi kamu?" Ia tak habis pikir dengan sikap anak sambungnya itu.
Nyonya Brig menunjukkan tampang sedihnya, "Ini semua karena gadis itu, dia telah menghasut Faza hingga ia menjadi pembangkang seperti."
"Jangan sedih sayang, aku akan memberi bocah jal*ng itu pelajaran, kamu tenang saja."
Nyonya Brig mengangguk sedih, menghapus air mata buayanya dengan pelan.
"Bocah si*lan, aku akan membuat hidup mu sengsara seperti ibumu dulu."
Shasa mematung di tempatnya duduk sekarang, entah hanya khayalan nya saja, atau tadi ia memang melihat seseorang yang ia kenali baru saja memasuki restoran yang sama dengan nya saat ini.
Tatapan Shasa tak berkedip menatap pintu restoran hingga membuat Zevan yang duduk di hadapannya ikut menoleh ke arah pintu restoran, melihat apa yang Shasa lihat hingga tak berkedip. Namun, ia tak menemukan apapun yang bisa menarik perhatian seseorang disana.
"Apa yang kamu lihat sampai seperti itu?"
Suara Zevan membuat Shasa tersadar dari lamunannya, "Ah, ti_tidak ada."
Selanjutnya mereka kembali melanjutkan acara diner mereka malam ini walau beberapa kali menahan risih karena beberapa pasang mata yang jelalatan menatap mereka.
Awalnya Zevan ingin memboking restauran ini atau memesan satu ruang VIP, namun Shasa menolak, ia ingin diner biasa saja di ruangan umum. Zevan tentu tak bisa menolakkan?
"Aku izin ke kamar mandi sebentar ya, ingin buang air kecil."
"Baiklah, ingin aku temani?" Tawar Zevan.
"Tak perlu, aku bisa sendiri." Sedetik kemudian Shasa sudah berjalan pergi menuju kamar mandi.
Melegakan sekali setelah ia mengeluarkan seluruh urin yang tertahan, rasanya seperti ia baru saja membuang segala beban yang memberatkan tubuhnya.
Mencuci tangan sebentar, Shasa pun memutuskan untuk keluar setelah nya, namun siapa sang ia malah bertemu seseorang yang menjadi masa lalu nya di lorong kamar mandi.
"Shasa?"
"...Kak Faza?"
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Faza
__ADS_1
Kira-kira Faza itu siapanya Shasa ya? Dia kan bagian dari masa lalunya Shasa.