
Zevan mendudukkan Shasa dengan perlahan di atas ranjang, "Kamu bisa berganti baju sendiri atau aku panggilkan Levy, Ziva dan Lulu saja?"
Jujur saja ingin menolak karena ia tak mau merepotkan mereka semua lagi, namun jika ia mengganti gaun berat ini sendiri pun tidak mungkin. Jadi, mau tak mau Shasa mengangguk menyetujui ucapan Zevan, tak mungkin jugakan jika ia meminta suaminya ini untuk membantu ia berganti baju?
"Baiklah, biar aku telfon mereka dulu."
Beberapa saat setelah mendapatkan telfon dari Zevan, ketiga gadis itu segera datang, benar-benar gercep bukan?
"Eh eh ehh..." Zevan ingin protes ketika Ziva tiba-tiba saja mendorong tubuhnya keluar, namun sang kakak kembar sudah lebih dahulu memelototi nya.
"Keluar, biar kami yang bantu Shasa berganti baju!!"
"Gak usah dorong-dorong juga kalik, ck." Zevan langsung pergi meninggalkan keempat perempuan itu.
•
•
Baju Shasa sudah di ganti dengan baju tidur, kini Levy tengah membantu sahabatnya itu untuk membersihkan sisa makeup nya.
"Gimana sih Sha, masa belum malam pertama tapi udah kecapean aja," Omel Levy sambil mengusapkan kapas pembersih ke pipi Shasa.
Pipi si pengantin memerah karena ucapan frontal sang sahabat, "Cie pipinya merah," Goda Lulu mencolek pipi Shasa.
"Apaan sih, kalian jangan godain aku terus ih!" Makin merahlah pipi Shasa.
Ketiga gadis itu tertawa puas melihat pipi merona Shasa.
"Udah selesai nih." Levy meletakkan kapas pembersih yang ia gunakan di atas meja rias, terhitung ada lebih dari 5 buah yang ia gunakan untuk membersihkan make up Shasa.
"Kami balik dulu ya, kayaknya kamu butuh istirahat." Ziva beranjak lebih dahulu lalu di ikuti yang lain.
"Semangat Shasa, di tunggu launching nya Kevan kedua ya!" Lulu melambaikan tangan sambil berjalan keluar kamar hotel milik si pengantin baru.
"Semangat besti! kalau gak malam ini, besok malam juga masih bisa kok." Kini Levy yang melambaikan tangan pada Shasa.
Wanita itu menggeleng pelan dengan pipi memerah, "Bukan pertamakalinya, tapi kenapa aku sangat malu ya?"
•
•
Zevan kembali ke kamar setelah beberapa saat, dan ternyata Shasa sudah tertidur nyenyak di atas ranjang.
Perlahan-lahan Zevan mulai menaiki ranjang, ia tak mau membangunkan Shasa yang terlihat sangat kelelahan. Tangan kekarnya terangkat untuk mengusap surai hitam Shasa. "Pasti kamu sangat kelelahan ya sayang? tidur yang nyenyak ya, good night my wife."
Cup...
Di kecupannya sebentar dahi Shasa, lalu ia beranjak dari atas ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk berganti baju.
Tak mungkin kan kalau Zevan tidur dengan menggunakan tuxedo hitam yang masih menempel di tubuhnya?
•
•
•
Pagi ini Shasa dan Zevan sedang berkemas untuk pindah ke rumah baru mereka. Ya, rumah baru.
Mulai sekarang, Shasa tidak akan tinggal di apartemen Levy lagi, Zevan juga tak akan tinggal di ruang orang tuanya lagi. Anak kedua dari pasangan Keana dan Leon ini sudah mempersiapkan sejak beberapa bulan lalu tentang rumah yang akan ia tempati dengan keluarga.
__ADS_1
Letak nya tak begitu jauh dari kediaman Algreat, jadi Keana bisa dengan mudah datang dan berkunjung ke rumah pasangan suami-istri yang baru menikah ini.
Mereka tidak berkemas sendiri, beberapa anggota keluarga juga membantu mereka. Sebenarnya bukan membantu sih, tapi mengantarkan mereka ke rumah baru saja.
Dan ya, sekalian hari ini rumah mereka akan di doakan, jadi para wanita yang ada disana terutama mommy Keana dan Oma Nayla tengah di sibukkan dengan acara masak untuk selamatan rumah baru ini.
"Aduh, ketunda lagi nih malam pertamanya," Goda Levy.
"Apaan sih Lev, dari kemarin yang di omongin itu terus." Shasa berusaha fokus dengan apa yang ia kerjakan walaupun setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu selalu sukses membuat nya tersipu.
Levy mengambil sedikit ayam yang sudah Shasa suwir, lalu memakannya. "Ayolah Sha, aku gak sabar nih nunggu keponakan baru nya, Kevan juga kan pasti pengen adik, ya kan Kev?" Levy menatap Kevan yang nampak anteng dengan tabletnya.
Bocah itu mengangguk, "Biar bisa di jadiin babu kan aunty?" Tanyanya dengan polos.
•
•
•
Acara selametan rumah baru pasangan pengantin Zevan dan Shasa ini telah selesai dengan di hadiri beberapa tetangga yang datang.
Yang menghadiri acaranya cukup banyak hingga mereka harus menyiapkan makanan yang banyak pula.
Seharian ini Shasa di buat lelah dengan memasak beberapa jenis makanan bersama Keana.
Sebenarnya mama mertuanya itu telah melarang ia untuk ikut membantu, namun bukan Shasa namanya jika ia tak memaksa dan akhirnya Keana pun mengizinkan.
"Kamu kelihatan lelah banget, mau aku antar ke kamar gak?" Zevan memeluk pinggang Shasa, ia menatap cemas pada istrinya yang terlihat kelelahan.
Shasa menggeleng pelan, "Gak enak ah kalau pamit sekarang, di sini masih banyak tamu, masa kita pergi gitu aja sih."
"Sayang, aku gak mau kamu kecapean. Kita istirahat aja ya, kan masih ada yang lain yang bakal nemenin mereka semua."
•
Sepertinya Shasa benar-benar kelelahan, ini bahkan belum lewat 5 menit sejak ia merebahkan diri di atas kasur king size nya, namun ia sudah terlelap dalam tidur saja.
Zevan terkekeh gemas melihat wajah polos Shasa ketika tertidur, ia terlihat sangat menggemaskan dan begitu cantik. Zevan tak bisa berbohong, hatinya terus saja berdebar kuat setiap ia menatap wajah Shasa.
Zevan tak pernah merasakan ini sebelumnya. Tak ada objek seindah apapun yang bisa membuat Zevan menatapnya lamat hingga hingga berjam-jam lamanya, namun, Shasa adalah sebuah pengecualian.
Wanita itu selalu sukses membuat Zevan terpanah, ia seperti memiliki sebuah magnet yang mampu membuat Zevan untuk selalu tertarik, selalu menatapnya dengan penuh puja.
Bibir lembut, mata indah, hidung mancung, pipi sedikit berisi, senyuman manis dan pribadi yang lembut. Beberapa kali Zevan sempat berpikir, belahan dunia mana yang ia selamatkan di masa lalu hingga ia mendapatkan pendamping hidup sesempurna Shasa ini.
Zevan bersumpah, ia akan menjadi laki-laki paling bodoh di dunia ini jika ia sampai melepaskan sosok sebaik Shasa.
Tanpa sadar, senyuman terukir indah di wajah laki-laki itu. Matanya masih fokus menatap objek terindah yang pernah ia temui selama dirinya hidup.
"Aku mencintaimu."
•
•
•
"Emh..." Kening itu berkerut merasakan benda basah dan lunak bergerak di perpotongan lehernya.
Mata lentiknya mulai terbuka perlahan-lahan. Pengelihatan yang awalnya buram, kini terlihat sangat jelas melihat seorang laki-laki yang tengah mengurung tubuh mungilnya di atas ranjang.
__ADS_1
"A_apa yang kamu lakukan ughh..." Melenguh pelan, Shasa mencoba mendorongnya bahu Zevan untuk sedikit menjauh, namun sayangnya, tenaga nya tak sekuat itu untuk mendorong tubuh kekar Zevan.
"Sayang, bukankah kita seharusnya melakukan apa yang sudah tertunda selama 2 malam ini?" Gimana Zevan tepat di telinga Shasa.
Mendengar itu, tubuh Shasa langsung meremang, bulu kuduknya berdiri.
"Ha_haruskah sekarang? ini masih pagi," Tanyanya gugup.
"Lebih bagus melakukan nya di pagi hari, aku jadi bisa melihat wajah seksi mu lebih jelas."
"Jadi, apakah boleh?" Zevan tak akan melakukan jika Shasa tak mengizinkan, ia tak ingin memaksa istrinya, biarkan ia melakukan nya dengan suka rela tanpa ada unsur paksaan sedikit pun.
Anggukan pelan dari Shasa membuatnya senyuman Zevan kian melebar, ia langsung menyambar bibir lembut itu dengan ciuman lembut namun sedikit tergesa.
"Emh..."
•
•
Zevan menjatuhkan diri di samping Shasa, memeluk istrinya erat tanpa melepaskan penyatuan mereka.
"Ayo tidur."
"Ta_tapi lepaskan itumu dulu." Ugh, rasanya sungguh tidak nyaman tidur dengan milik Zevan yang menancap di lubangnya.
"Sudah, biarkan saja, dia sudah nyaman di sarangnya."
Shasa bisa apa? dia ya cuma bisa mengiyakan saja, lalu ikut memejamkan mata bersama Zevan karena ia sungguh sudah lelah.
Bagaimana tidak telah, mereka memulai permainan mereka jam 6 lagi dan selesai jam sepuluh lewat tiga puluh menit.
•
•
•
Oh, kalian tak perlu khawatir jika telinga Kevan akan ternodai dengan suara-suara tak manusiawi dari kedua orang tuanya karena bocah Lima tahun itu sedang bersama Levy dan Gio ketaman.
Mumpung hari minggu, jadi mereka memutuskan untuk jalan bersama saja.
"Habis ini kita ke pantai yuk, Kevan," Ajak Levy dengan penuh semangat.
"Ke pantai apaan, aku mau ajak Kevan ke Karens Diner buat adu mekanik kok!"
"Dih, anak kecil di ajak buat adu mekanik, mending ke pantai aja main pasir sama berenang."
"Alah, gak seru di pantai tuh."
Tuh kan, ini adalah salah satu alasan kenapa Levy dan Gio sebaiknya tidak berada di satu tempat yang sama, karena keduanya pasti saja selalu bertengkar di manapun dan kapanpun itu.
Jengah mendengar perdebatan dua orang dewasa itu, Kevan pun memutuskan untuk menyingkir saja.
Bocah kecil itu berjalan seorang diri di kerumunan taman di hari Minggu yang cerah ini.
Netra gelapnya tak sengaja melihat siluet orang yang sepertinya ia kenal. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung mengikutinya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Bocil pamer ABS