Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Shasa Marah (?)


__ADS_3

Sudah lima hari ini Zevan selalu tidur di ruang tengah, Shasa tak pernah mengizinkan suaminya itu untuk tidur di kamar dengan alasan ia tak mau tidur seranjang dengan suaminya itu.


Namun, anehnya Shasa selalu menghampiri Zevan ke ruang tengah ketika hari sudah mulai larut. Berakhir keduanya yang tidur bersama di sofa ruang tengah yang untungnya cukup besar walau masih sedikit sesak.


"Sayang, kita pindah ke kamar aja ya. Disini sempit."


"Gak mau! Aku gak mau satu ranjang sama kamu!"


Lalu apa bedanya dengan mereka tidur berdua di atas sofa seperti ini? bukankah lebih baik mereka tidur di atas ranjang berdua? Zevan tak habis pikir dengan cara berfikir Shasa.


"Ya sudah, lebih baik kamu tidak di kamar aja. Nanti kamu bisa sakit kalau tidur disini terus." Zevan mencoba memberi Shasa pengertian.


"Gak mau! Aku mau sama kamu." Shasa memeluk Zevan semakin erat.


Helaan nafas terdengar dari mulut Zevan, di peluknya sang istri erat. "Yasudah, ayo tidur."


Zevan tak tahu apa kesalahannya hingga Shasa tiba-tiba mendiaminya pagi ini, bahkan sapaan selamat pagi dan ucapannya cintanya tak digubris sama sekali oleh sang istri.


"Sayang, hari ini mungkin aku akan pulang malam, ada banyak pekerjaan soalnya."


Hanya deheman yang Zevan dengar sebagai jawaban. Shasa terlihat acuh saja menikmati sarapannya tanpa ada niat untuk melirik Zevan sedikit saja.


"Sayang, kamu kenapa sih? gak enak badan ya?" Zevan hendak menyentuh dahi Shasa, namun wanita itu langsung menepis pelan tangan nya. "Aku gapapa, kamu lanjutin aja makannya."


Sungguh, perasaan Zevan tak enak. Apakah ia berbuat kesalahan yang membuat Shasa marah? atau ada sesuatu yang mengganggu istri tercintanya?


"Sayang, hari ini aku yang antar kamu sama Kevan ke sekolah ya?"


"Gak usah." Tuh kan, hari ini Shasa dingin banget sikapnya sama Zevan. Apa jangan-jangan Zevan memang telah berbuat salah lagi?


"Tapi sayang..."


"Aku sama Kevan berangkat dulu." Shasa segera berdiri setelah dilihat nya sang anak telah menghabiskan susunya. Shasa tak lupa bersaliman dengan sang suami.


Zevan melirik jam tangannya sebentar setelah menyalami Shasa, ternyata Kevan sudah hampir terlambat, pantas saja Shasa terlihat terburu-buru.


"Hati-hati sayang, nanti jangan lupa makan siang ya."


"Hem," Lagi-lagi hanya deheman yang Shasa suarakan sebagai jawaban.


Kevan juga turut menyalami sang ayah sebelum berangkat sekolah, "Kevan sekolah dulu ya Daddy."


"Iya sayang, belajar yang rajin ya. Jangan nakal. Dengarkan kata guru mu, mengerti?"


"Ay-ay kapten." Kevan memberikan hormat ala upacara hari Senin.


Setelah bocah itu langsung menghampiri sang ibu dan menggandeng tangan nya. Keduanya berangkat ke sekolahan Kevan dengan menaiki mobil Shasa yang di supir oleh Pak Rojak, supir pribadi Zevan.


Kevan heran, sejak pagi tadi ibunya hanya diam saja, apakah ada sesuatu yang terjadi?


"Mommy, are you okey?"


Shasa mengangguk, lalu tersenyum. "Mommy okey, don't you worry honey."


"Tapi kenapa mommy selalu diam hari ini? mommy berantem sama Daddy?"


"Nggak sayang, mommy gak berantem kok sama Daddy."

__ADS_1


"Lalu?"


Shasa tersenyum, lalu membisikkan sesuatu kepada Kevan. Bocah itu terkejut hingga matanya membola, "Really mom?"


Shasa mengangguk, "Kevan diam aja ya, jangan kasih tahu Daddy."


"Siap laksanakan ibu negara!" Kevan melakukan hormat yang sama seperti yang ia lakukan pada Zevan beberapa saat lalu.


"Pintar nya anak mommy." Di usapnya surai sang anak dengan sayang.


Awalnya Shasa dan Levy hanya berniat untuk membeli beberapa barang saja di mall, namun entah bagaimana tiba-tiba mereka malah bertemu dengan Natheo Todhora.


"Kakak!!" Laki-laki itu berhamburan memeluk Shasa erat, Shasa pun membalas nya.


Shasa terlihat senang melihat keberadaan laki-laki itu disana, berbanding terbalik dengan Levy yang justru ketakutan.


Apa kalian mau tahu sesuatu? Natheo Todhora ini adalah adik Shasa. Mereka se-ibu tapi tak se-ayah.


"Hai, Luv," Sapanya pada Levy.


Sadar dengan ekspresi takut yang Sahabatnya perlihatkan, Shasa pun segera menggenggam tangan Levy. "Tenang, ada aku," Bisiknya pada sang sahabat.


"Theo, mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi. Tapi maaf, aku sama Levy masih ada urusan, kamu duluan ya."


Theo mengangguk pelan, "Aku harap kita bisa bertemu lagi setelah ini." Mata tajam Theo jelas menatap Levy, membuat perempuan itu menundukkan kepalanya segera.


Shasa tidak bodoh untuk tidak menyadari tatapan adiknya, begitu juga dengan Kevan yang sejak tadi hanya diam.


"Ayo mom, Kevan mau beli banyak makanan!" Bocah itu menarik tangan Shasa dengan brutal, maka mau tak mau Shasa harus mengikuti Kevan. Ia juga masih menggenggam tangan Levy yang sudah di penuhi oleh keringat dingin.


Theo menyunggingkan senyuman miringnya ketika melihat ketiganya telah pergi menjauh. "Kau adalah milikku, dan selamanya akan tetap begitu."


Zevan sudah memperkirakan bahwa dirinya akan pulang lebih cepat dari yang ia janjikan, itu karena Zevan rela tak makan siang hanya demi beberapa berkas s*alannya itu.


Tapi berkas-berkas itu benar-benar si*l, selalu saja bertambah padahal Zevan sudah sangat ingin pulang dan menemui keluarga kecilnya di rumah.


Dan kalian tahu apa yang lebih menyebalkan?


Sekertaris nya yang suka mengadu itu telah mengadukan dirinya pada Keana hingga ia mendapat ceramahan habis-habisan oleh sang ibu supaya segera makan siang, atau Keana tak akan membiarkan Zevan berdekatan dengan Shasa dalam waktu yang lama.


Kalian pasti tahulah seberapa bucinnya bapak Algreat satu ini, dia mana mau berjauhan dengan sang istri. Bahkan untuk berangkat kerja sehari-hari saja rasanya berat bagi Zevan, karena ia tak bisa bertemu dengan Shasa di tempat kerja.


"Akhirnya, berkas si*lan ini selesai juga."


Zevan menyandarkan tubuh pada punggung kursi, matanya melirik jam besar dengan foto pernikahan nya yang terpasang di dinding ruang kerjanya itu.


Sudah jam 11 lewat 30 menit, dan sebentar lagi sudah tengah malam. Zevan benar-benar terlambat pulang hari ini.


Pokoknya jika nanti Shasa semakin marah dengan Zevan, ia akan menuntut berkas-berkas itu dan menutup perusahaannya sendiri! Lihat saja nanti!


Tak mau membuang waktu lebih lama lagi, Zevan segera memakai kembali jas yang sudah ia tanggalkan sejak sore tadi. Ia bergegas keluar ruangan, meninggalkan gedung kosong yang hanya diisi beberapa karyawan lembur itu.


Zevan membawa mobil Bugatti Divo berwarna biru gelap miliknya keluar dari area perusahaan.


Satpam yang masih berjaga pun langsung membukakan gerbang ketika dilihatnya mobil mewah seharga 83 Miliar lebih milik bosnya itu mendekat. Zevan menyempatkan diri untuk memberikan sedikit tip kepada sang satpam.


"Terimakasih tuan, semoga anda bagaimana selalu."

__ADS_1


Zevan hanya mengangguk, lalu ia menutup jendela mobilnya dan membawa kendaraan beroda empat itu menjauh dari sana, meninggalkan sang satpam yang terlihat sangat senang karena mendapat uang tip sebanyak 1 JT rupiah dari sang bos.


"Rejeki satpam Sholeh."


Gelap, hanya itulah yang Zevan lihat ketika ia sampai di rumah nya.


Wajar saja, ini sudah sangat malam, anak dan istrinya pasti sudah tidur sekarang ini.


Zevan berjalan menaiki tangga, ia ingin mandi sebentar sebelum tidur. Namun....


Klak...


Tiba-tiba lampu rumah menyala, membuat Zevan terkejut. "Sayang..."


Laki-laki itu langsung menoleh ketika suara lembut orang yang paling ia sayangi terdengar. Disana, bisa ia lihat bukan hanya ada Shasa, namun seluruh keluarga berdiri sambil membawa sebuah kado di tangan mereka.


Hanya Shasa yang tidak memegang kado, namun wanita itu memegang sebuah kue dengan lilin berbentuk angka 2 dan 8 sesuai dengan usia Zevan sekarang.


Perlahan-lahan Zevan membawa langkah nya untuk turun dari tiga anak tangga yang sudah ia naiki. "Happy birthday my husband, semoga panjang umur, sehat selalu dan selalu cinta sama aku dan anak-anak." Shasa memberikan senyuman paling manisnya, hingga Zevan rasa ia bisa diabetes sekarang ini.


"Sayang?" Zevan tak bisa berkata-kata lagi, apalagi ketika Zero mendekat lalu memeluknya. "Happy birthday Abang."


Zevan tersenyum, ia membalas pelukannya Zero tak kalah erat.


"Ayo cepet tiup lilinnya, keburu meleleh nanti."


Zevan mengangguk, ia menutup mata. Mengucapkan permintaan nya dalam hati, lalu meniup lilin itu hingga padam.


"Semoga aku dan keluargaku di jauhkanlah dari segala marabahaya dan selalu bahagia. Semoga semuanya akan baik-baik saja. Hanya itu yang aku inginkan untuk sekarang."


Prok...Prok...Prok...


Suara tepuk tangan terdengar meriah setelah lilin itu padam. Zevan pun langsung memotong kue bertemakan emas itu, menyuapkan potongan pertama kue itu pada sang mommy.


Secinta apapun seorang suami kepada istrinya, sang ibu tetap lah ratu yang akan selalu ia utamakan, bukan begitu?


"Selamat ulang tahun sayang," Keana balik menyuapi sang anak.


"Thanks mom."


Potongan kedua tentu untuk sang istri tercinta, di kecupnya dahi sang istri setelah potongan kecil kue itu berhasil masuk ke dalam bibir seksi Shasa. "Terimakasih kejutan nya."


"Aku masih ada kejutan lagi, tapi tidak sekarang. Kamu akan melihatnya di kamar nanti."


Zevan menunjukkan senyuman miringnya ketika mendengar ucapan Shasa, "Jatah yang?" Bisiknya.


"Otaknya tolong dikondisikan ya!" Shasa melotot pada sang suami. Sedangkan sang empu hanya tersenyum seolah ia adalah bayi polos tanpa dosa.


Setelah nya, kue-kue itu di bagikan kepada anggota keluarga yang lain. Kalian tentu tidak berfikir jika kue ulang tahun Zevan hanya satu kan?


"Besok kita langsung ke Australia buat nyusul Ziva, kita juga harus merayakan ulang tahunnya juga kan."


"Siap Aunty/Mom Keana!"


Ziva dua hari lalu baru saja pergi ke Australia untuk melakukan perjalanan bisnis atas suruhan Leon, dan tentu itu adalah rencana ibu negara kita, Keana Lauren Algreat.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1



Adiknya Shasa nih bos, senggol dong


__ADS_2