Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Misi Penyelamatan


__ADS_3

DOR...DOR...DOR...


Shasa terbangun dari tidurnya karena terkejut mendengar suara tembakan yang saling bersahut-sahutan.


Wanita itu menoleh kesana kemari, dengan langkah yang sedikit bergetar karena tubuhnya yang lemas akibat tak di beri makan, Shasa berjalan menuju pintu. Di bagian atas pintu itu ada jendela yang biasa Shasa gunakan untuk melihat keadaan sekitarnya.


Biasanya di depan ruangan sana, ada sekitar 5 orang yang menjaga, namun ini? Seorang pun tak ada.


Shasa jadi keheranan, kemana para penjaga itu pergi? Lalu apa yang terjadi di luar sana? apakah ada musuh laki-laki si*lan itu yang tengah menyerang?


Nyonya Algreat itu mengusap perutnya yang terlihat lebih besar dari kemarin, "Tenanglah sayang, kita akan baik-baik saja, mommy tidak akan membiarkan kamu terluka."



Sedangkan itu, di luar sana Zevan sudah di kepung oleh 6 orang penjaga bersenjata api dari segala sisi.


"S*al," Umpat laki-laki itu di dalam hati.


"Keroyokan kok pakek senjata, tangan kosong dong," Ucapnya meremehkan.


Para penjaga itu sama sekali tak gentar, tak peduli dengan Zevan yang terus berusaha memprovokasi mereka dengan cara meremehkan.


Dor...Dor...


Dua orang di antara ke-enam penjaga itu tumbang akibat tembakan dari seseorang yang baru saja masuk.


Zevan segera menoleh, seringaian nya mengembang ketika melihat Kean disana. "Cepet cari Shasa, mereka biar jadi urusan ku."


Pria itu mengangguk, "Thanks."


Zevan pun berlari pergi, di bukanya satu persatu pintu ruangan itu, sedangkan Kean tengah bertarung dengan empat orang yang masih tersisa.


Anak kedua dari Keane dan Leon itu telah berdiri di ruangan yang paling ujung, itu adalah ruangan terakhir, ia berharap bisa menemukan Shasa di dalam sana.


BRAK...


Pintu ruangan itu terbuka dengan begitu lebar. Tubuh Zevan menegang seketika, melihat apa yang ada didepan matanya.





BRAK...


"AKHH!" Aden dan seorang wanita telanjang yang berada di atas tubuhnya terkejut, mereka dengan buru-buru langsung menarik selimut ketika melihat pintu yang sudah terbuka lebar karena ulah Theo.

__ADS_1


Laki-laki tampan itu menatap keduanya tajam, terutama pada wanita yang ada di samping Aden. Siapa lagi dia, kalau bukan Brigitta?


"APAKAH SOPAN MEMASUKI KAMAR ORANG LAIN TANPA PERMISI?!" Bentak Brigitta.


Theo terkekeh dengan sinis, "Lucu sekali, apakah sopan bermain dengan mantan kekasih di belakang suami sendiri?"


Ckrek...


Mata Brigitta seketika melotot ketika Theo mengambil gambar dirinya dan Aden yang tengah dalam keadaan seperti ini. "Bukankah bagus jika aku menyebarkan foto ini ke publik?" Theo memutar-mutar ponselnya dengan begitu lihai.


"HAPUS FOTO ITU! CEPAT!" Aden tak bisa membiarkan Theo menyebarkan foto itu ke publik karena dirinya sekarang tengah menjadi buronan polisi karena tindakan penyeludupan narkoba yang ia lakukan.


"Tidak semudah itu."


Theo menodongkan pistol ke arah mereka, tatapan nya begitu dingin dan penuh dendam.


"Jangan lakukan itu, atau aku akan benar-benar membunuh ibumu."


Ancaman Brigitta membuat pergerakan Theo terhenti, tiba-tiba tubuhnya terasa kaku dan tak bisa di gerakkan. "A_apa yang kau katakan? I_ibuku?"


"Ya, ibumu masih hidup, dan hanya kamu yang tahu dimana dia kini berada."


Diam-diam Aden mengeluarkan pistol dari dalam laci di samping tempat tidur, ia memasukkan peluru ke dalam benda itu dan siap membidik Theo yang masih diam tak bergeming.


DOR...


"AKHH!"


"Fokus Theo, atau misi penyelamatan kita akan gagal dan kita akan kehilanganmu Shasa untuk selamanya."


Theo yang sadar pun langsung menatap Gio, tatapan tak percaya dan entahlah, Gio tidak paham apa maksud dari tatapan itu.


Kini, Aden telah tiada dengan keadaan kepala yang sudah tak berbentuk. Lalu Brigitta? Wanita itu sudah bergetar ketakutan ketika Theo berjalan mendekat kearahnya.


"Terimakasih atas informasinya, tapi maaf, aku tidak membutuhkan mu untuk menemukan ibuku sendiri."


DOR...SRET...


Kali ini bukan hanya tembakan, namun Theo juga membelah dada Brigitta dan menusuk jantung nya dengan begitu kejam, ia akan memastikan bahwa kali ini wanita ular itu benar-benar mati.





Di ruangan terakhir itu, Zevan memang tidak menemukan Shasa, namun sepertinya ia menemukan sebuah harta karun.

__ADS_1



Zevan menemukan ibu mertua (?) dalam keadaan yang cukup memprihatinkan. Tubuh penuh luka yang di ikat di pojok ruangan dan pakaian compang-camping penuh darah.


Bagaimana Zevan tahu jika itu adalah ibu mertuanya? Tentu Shasa pernah memperlihatkan foto ibunya kepada Zevan sehingga Zevan bisa mengenali wanita itu dalam sekali lihat, walaupun ia tidak terlalu yakin karena wajah wanita itu yang penuh luka membuat wajahnya tak terlihat jelas.


Zevan bisa melihat jika wanita itu tengah menatapnya dengan tatapan putus asa.


SRET...Sret...


Tanpa pikir panjang, Zevan langsung berjalan mendekat dan melepaskan tali yang mengikat tubuh Aya.


Wanita itu hanya bisa menatap Zevan lemah tanpa bisa mengatakan apapun. Zevan disana kebingungan, bagaimana ia bisa membawa tubuh Aya sedangkan ia masih harus mencari keberadaan Shasa. Namun untungnya, Kean menyusul dirinya tepat waktu.


"Zev," Laki-laki itu berjalan mendekati Zevan dengan perlahan.


"Bawa dia ketempat yang aman." Setelah memberikan perintah, Zevan langsung pergi dari sana, membuat Kean melongo tak percaya.


Apa-apaan Zevan itu mau bawa perempuan? Oh, apa jangan-jangan Zevan mau jadiin ini perempuan selingkuhan nya lagi. Yah, seperti itulah kira-kira yang ada di pikiran Kean sekarang.



Zevan benar-benar frustasi. Semua ruangan yang ada disana sudah ia cek dan tak ada Shasa sama sekali disana.


Namun, tunggu sebentar. Sepertinya ia tadi melihat sesuatu yang aneh di ruangan dimana ia menemukan Ayana.


Laki-laki itu segera berlari kembali ke ruangan tadi, Kean yang baru saja keluar sambil menggendong Ayana pun menatap Zevan aneh, pasalnya laki-laki itu berlari seperti orang yang kesetanan.


Benar yang Zevan duga, di dinding bekas tempat Ayana di ikat, disana ada sebuah ukiran aneh yang menyerupai telapak tangan.


Zevan pun mencoba menempatkan tangan disana dan...


Bruk...


Dinding itu tergeser dengan sendirinya, memperlihatkan beberapa anak tangga menuju ke ruang bawah tanah yang lainnya.


Lagi-lagi tanpa pikir panjang, Zevan langsung masuk, tanpa rasa curiga sedikitpun.


Di bawah sana, hanya ada lorong yang begitu luas dan sebuah ruangan yang tidak dijaga sama sekali.


Semakin dekatnya dirinya dengan ruangan itu, Zevan tanpa sadar membawa dirinya untuk berlari menuju ruangan itu.


BRAK...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Enak kan di gantung?😈

__ADS_1



Ini mah mama muda, bukan ibu mertua.


__ADS_2