
Shasa merebahkan diri setelah lelah habis dari luar bersama anak dan suaminya. Kini Zevan dan Kevan tengah mandi, jadi Shasa memilih untuk merebahkan dirinya sebentar sambil menunggu kedua laki-laki tersayang nya selesai mandi.
Dalam heningnya ruangan itu, Shasa tiba-tiba berpikir. Tentang Brigitta, apakah wanita ular itu benar-benar telah tiada atau kah belum?
Perasaan Shasa masih ragu. Jika Brigitta sudah tiada, seharusnya Shasa merasa lega dan aman. Namun entah kenapa perasaan nya masih saja gelisah, masih ada ancaman untuk kebahagiaan dan hidupnya.
"Benarkah dia sudah tiada? tapi kenapa perasaan ku berkata lain? Semoga saja semua itu tidak benar." Shasa memejamkan mata sejenak, menetralkan rasa pusing yang tiba-tiba mendera kepalanya.
•
•
•
"HAHAHAHA, PEREMPUAN SIALAN! AKU AKAN MEMBUNUH MU DAN ANAKMU SEPERTI SAAT AKH MEMBUNUH IBUMU, HAHAHAHA."
Suara tawa perempuan menggema di ruangan gelap itu. Suara itu terdengar dari setiap arah, hingga Shasa tak bisa menemukan darimana asal suara itu sebenarnya.
"Siapa itu?! siapa disana?!"
Lagi-lagi hanya suara tawa yang terdengar, membuat sekujur tubuh Shasa merinding.
Shut...
"AAA!"
Shasa segera berjongkok ketika sebuah pedang yang begitu tajam nan panjang hampir saja mengenai dadanya. Wanita itu memeluk lututnya sendiri dengan tubuh bergetar.
"Hiks...tolong hiks...Zevan..." Gumamnya pelan sambil menangis.
Shasa bisa merasakan sebuah elusan di kepalanya, namun anehnya, ada sesuatu yang basah nan lengket yang mengenai tubuh nya bersamaan dengan elusan itu.
Shasa mendongak walaupun takut, ia begitu terkejut ketika melihat Brigitta lah yang tengah mengelus kepalanya dengan tangan yang penuh dengan darah.
Dan apa itu?! Sebuah gumpalan darah yang berada di tangan Brigitta.
Reflek Shasa langsung menyentuh perutnya, ia terkejut ketika merasa ada sebuah lubang besar di perutnya dan darah yang membasahi pakaian berwarna putih yang ia kenakan.
"Lihatlah ini, anak kedua mu telah mati di tangan ku." Brigitta melempar gumpalan darah itu ke dinding hingga hancur dan berceceran dimana-mana.
•
"TIDAK!!!"
Shasa terduduk dengan nafas yang tak beraturan, jantungnya berdebar hebat, dahinya berkeringat dan tubuhnya bergetar.
"Sayang, ada apa?" Zevan yang baru saja selesai memakainya Kevan baju pun mendekati Shasa. Bocah itu juga turut mengikutinya dari belakang. "Mommy, are you okey?" Tanya si kecil Kevan.
Shasa tidak menjawab apapun, ia malah memeluk lututnya sendiri lalu menangis. Zevan dan Kevan tentu dibuat khawatir karenanya.
"Kevan, tolong panggilan Oma Keana sebentar ya sayang."
"Oke daddy." Bocah itu langsung berlari keluar dari kamar dan pergi ke lantai bawah memanggil-manggil nama sang Oma tercinta.
"Sayang..." Zevan menyentuh pundak Shasa pelan.
__ADS_1
Shasa mendongak dengan air mata yang berlinang, "Ze_zevan?"
"Iya sayang, ini aku, Zevan suami mu."
"Zevan hiks..."
Bruk...
Zevan terkejut ketika Shasa tiba-tiba saja memeluk dirinya dengan erat, namun walau begitu, Zevan juga membalas pelukan Shasa. Mungkin ini adalah pengaruh horm*n kehamilan, pikirnya.
"A_aku takut hiks...dia ingin mengambil bayi ku, dia ingin membunuh kami hiks..." Namun, sepertinya dugaan Zevan salah.
"Dia siapa sayang? siapa yang mau jahatin kamu?"
"Dia hiks... dia..."
Zevan tak mengerti, sebenarnya 'dia' siapa yang Shasa maksud? apakah itu adalah seseorang yang menculik nya tempo hari? Nyonya Brigitta? Tapi bukankah wanita itu sudah tiada? Apa arwahnya gentayangan lalu menghantui Shasa?
"Sayang, ada apa?" Keana datang dengan nafas terengah-engah, ia begitu khawatir ketika mendengar apa yang Kevan ucapkan tadi. Sedangkan bocah itu kini telah berdiri di samping Keana sambil menangis.
Keana berjalan mendekat sambil menggandeng Kevan, ia mendudukkan bocah itu di samping Shasa yang masih menangis sesegukan dalam pelukan Zevan.
"Apa yang terjadi? kenapa menantu mommy menangisi hmm?" Di usapnya kepala Shasa dengan lembut.
"Ada masalah? kamu mimpi buruk? sini cerita sama mommy. Mommy bakal jadi pendengar yang baik buat kamu."
Shasa tak mau beranjak, ia malah semakin memeluk Zevan dengan erat.
Zevan dan Keana saling pandang, lalu yang lebih tua tersenyum. "Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita, kamu jangan sedih lagi ya. Semua akan baik-baik saja, mommy janji."
"Theo su_sudah bunuh wanita itu, tapi kenapa Shasa masih takut hiks... rasanya masih ada yang mengintai hidup Shasa." Perempuan itu tiba-tiba buka suara walau masih bercampur tangis.
Shasa mengangguk, "Di_dia adalah adikku mom. Kami satu ibu tapi beda ayah. Dia adalah laki-laki yang menyelamatkan Shasa waktu itu."
Keana menutup mulutnya tak percaya, "Ah, jadi laki-laki itu? dia adalah adik mu? anak dari Ayana?"
Shasa hanya mengangguk, air mata masih tak berhenti turun dari matanya. Keana pun sigap menghapus air mata Shasa, "Theo kan sudah membunuh Brigitta, lalu kenapa kamu harus khawatir? orang yang sudah mati tidak akan bisa melukai manusia yang masih hidup, sayang."
Shasa menggeleng, "Tidak mom, dia belum mati, Shasa sangat yakin. Perasaan Shasa gak mungkin salah hiks... lagipula tak ada kabar kematian di media."
Benar juga yang Shasa katakan, jika Brigitta telah meninggal dunia, beritanya pasti sudah menyebar kemana-mana. Namun ini?
"Kamu tenang saja, aku anak meminta anak buah ku untuk mengatasinya," Ujar Zevan.
"Jika pun dia masih hidup, aku akan selalu menjaga mu sayang." Pelukannya mengerat.
Shasa mengangguk, ia selalu merasa aman jika berada di pelukan Zevan. Seolah-olah laki-laki itu bisa melindungi nya dari segala sesuatu yang mencoba mencelakai nya, seperti Brigitta contohnya.
•
•
•
Semenjak kejadian Shasa yang mendapatkan mimpi buruk waktu itu, ia jadi sulit sekali tidur, baik saat siang ataupun malam hari. Rasanya Shasa terlalu takut barang untuk menutup mata. Ia takut jika mimpi itu kembali menghampirinya.
__ADS_1
Shasa tidak mau melihat mimpi mengerik itu lagi, ia tak mau. Mimpi itu menakutkan.
"Sayang, ini sudah malam. Ayo tidur. Kamu bisa sakit kalau sampai kurang tidur."
Wanita itu menggeleng, "Aku gak mau tidur, aku takut hiks...aku gak mau kalau mimpi itu datang lagi."
Zevan membawa sang istri ke dalam dekapannya, "Ada aku, kamu harus percaya. Mimpi hanyalah bunga tidur, kamu tidak perlu khawatir."
"Ta_tapi..."
"Syutt...Ayo tidur."
Shasa yakin sekali jika orang yang tengah mendekapnya adalah Zevan, namun kenapa suaranya...
Mata Shasa membulat, ia langsung mendorong seseorang yang memeluknya itu. Tidak, itu bukan Zevan, namun Brigitta. Shasa melihat nya dengan jelas.
"Ayo kita... TIDUR!"
Wanita gila itu bergerak menyerang Shasa dengan cepat.
•
"AAAAAA!! TIDAK!"
Nafas Shasa terengah, ia melihat ke sekelilingnya. "Ze_zevan..." Mata Shasa berkaca-kaca ketika melihat sang suami baru saja keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan mengenakannya celana boxer.
Zevan terheran-heran melihat reaksi Shasa yang seperti itu ketika melihat dirinya. "Ada apa sayang?"
Shasa segera bangkit dari ranjang lalu menerjangnya tubuh Zevan dengan sebuah pelukan erat, "Hiks...aku ingin pulang hiks..."
"Pulang?"
"Aku ingin pulang, aku tidak mau di sini. Aku ingin pulang sekarang." Shasa mengguncang tubuh Zevan sambil menangis.
"Baiklah-baiklah, kita akan pulang. Kamu jangan menangis lagi okey?"
Shasa mengangguk, namun ia tetap memeluk Zevan dengan erat. Zevan bisa menduganya, sang istri past baru saja bermimpi buruk lagi.
Di elusnya surai panjang sang istri tercinta dengan lembut, "Kamu jangan khawatir sayang, aku ada di sini."
Zevan bisa merasakan jika pelukan Shasa semakin mengerat, "Jangan terlalu erat sayang, kasihan baby nya terjepit."
Shasa mengangguk, ia pun sedikit melonggarkan pelukannya, memberikan sedikit ruang untuk perutnya yang sedikit membuncit.
Chup...
Zevan mencium kening sang istri lama, menyalurkan seluruh rasa sayang dan cintanya lewat ciuman itu.
Mata Shasa terpejam, ia bisa merasakan kehangatan cinta Zevan yang tersalurkan lewat ciuman di dahinya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Punya Gio nih bos, senggol dong.
__ADS_1
Yang satu sama Almarhum mommy nya, yang satu lagi sama calon mama mertua.