
Kevan merasa heran, kenapa kali ini CCTV kejadian itu tidak di hapus lagi seperti yang sebelumnya? Seperti ada sesuatu yang janggal, namun apa?
Tak mau terlalu banyak berteori karena itu membuang waktu, maka Kevan pun langsung saja mencari rekaman ketika sang ibu keluar dari ruang VVIP hingga ketika kejadian itu yang ia yakini pasti terjadi di lorong sepi menuju toilet.
Rekaman itu terlihat normal, namun, tiba-tiba laptop Kevan mulai eror ketika rekaman dimana sang ibu diculik mulai terlihat. "Virus," decak bocah itu kesal.
Tangan kecilnya dengan lincah mulai bergerak di atas keyboard, tak butuh waktu lama hingga laptop nya kembali normal, namun...
Blap...
Layar laptop Kevan menjadi gelap seutuhnya. "A_apa ini?" Bocah itu terkejut.
Zevan menoleh ketika mendengar suara Kevan yang tercekat, "Ada apa jagoan?"
Sang anak menunjuk ke arah laptop nya yang sudah mati, ia juga mencoba menghidupkan nya, namun tak bisa. Zevan mengerutkan alisnya sebentar, ia memberikan laptop yang tadi ia gunakan kepada Kevan sedangkan dirinya akan mengotak-atik laptop sang anak sebentar.
"Selesaikan itu, biar daddy yang mengurus ini," Perintah Zevan yang langsung di lakukan oleh Kevan.
Drettt...Drettt...
Ponsel milik Zevan di atas meja berdering, namun sang empu pemilik ponsel terlihat sibuk dengan laptop Kevan yang ternyata sudah bisa menyala kembali.
Kevan pun inisiatif mengambil ponsel itu dan memberikannya kepada sang ayah, "Dad, dari nomor tak di kenal. Tapi, sepertinya penting."
"Terimakasih jagoan." Zevan menerima ponsel itu, ia mengangkat panggilan tanpa melepaskan pandangan dari layar yang menunjukkan titik lokasi Shasa berada. Untung saja Zevan telah memberikan sebuah GPS dalam bentuk gelang kepada Shasa.
"Siapa?"
"Aku tahu kau sudah menemukan dimana tempat kakak ku berada sekarang, tapi jangan langsung kesana, disana berbahaya. Brigitta tidak sendiri lagi." Dari suaranya saja, Zevan bisa menebak jika yang menghubungi nya ini adalah Theo, adik kandung Shasa.
"Datanglah ke kediaman ku, kita atur beberapa rencana," Ajak Zevan.
"Aku akan segera sampai."
Tuttt...
Sambungan terputus, Zevan bergegas membereskan barang-barang nya. Kevan yang melihat itupun bertanya, "Kita mau kemana dad?"
"Kita harus pulang jagoan, ayo." Di gandengnya tangan sang anak pelan lalu keduanya berjalan keluar dari sana.
Soal makanan, tenang saja, semua sudah dibayar oleh Zevan sejak bermenit-menit yang lalu.
__ADS_1
•
•
•
Semua laki-laki dari tiga keluarga besar itu telah berkumpul di sana, di ruang kerja Zevan yang begitu besar yang ada di rumah laki-laki itu tentu saja.
Theo juga telah sampai, kini mereka tengah menyusun rencana untuk menyelamatkan Shasa.
Kali ini mereka benar-benar tak bisa menyepelekan musuh mereka, karena ini bukan hanya tentang Brigitta saja, namun juga seorang mafia kelas kakap yang turut menjadi musuh mereka.
Siapa mafia itu? Mereka belum tahu, Theo juga tak tahu, karena yang ia ketahui hanyalah fakta bahwa mafia tersebut adalah ayah kandung dari Faza.
"Jadi ini yang Bu Lia maksud dengan menjaga mommy?" Sebuah gumaman namun masih bisa didengar.
Seketika seluruh pasang mata yang ada di sana langsung menatap ke arah Kevan, "Apa maksud mu jagoan?" Tanya Zevan pada sang anak?
"Apakah dia membicarakan soal ini kepadamu siang tadi?" Kali ini Kean yang bertanya.
"Bu Lia hanya mengatakan kepada Kevan untuk menjaga mommy lebih ketat karena Nyonya Brigitta masih hidup. Kevan kaget, karena itu tadi siang Kevan buru-buru mau cari mommy."
Mereka mengangguk paham, mereka juga tadi sempat begitu terkejut ketika mendengar kamar itu dari mulut Theo.
"Ucapan Alen ada benarnya juga, bukankah itu janggal?" Balas Lucifer atas ucapan Alen.
"Lia adalah tunangan Faza, apanya yang aneh?" Jawab Theo santai seolah tak ada beban.
"What?!" Sebagian besar dari mereka menatap Theo tak percaya, "Kenapa gak cerita anjir!" Haechal memukul tengkuk Theo.
"Kalian tidak bertanya, jadi untuk apa aku ceritakan."
"Bener juga sih, tapikan..."
"Sudah-sudah, mari kita lanjut." Leon melerai perdebatan keduanya.
Mereka kembali membahas rencana mereka, namun, ada sesuatu yang berbeda. Gio, laki-laki itu sejak tadi hanya diam, matanya terus saja menatap tajam ke arah Theo dan Xion yang berada di sampingnya tentu menyadari hal itu.
"Hei, ada apa? Kenapa kau terus saja menatap laki-laki itu? Apakah ada yang salah dengan nya?" Tanya Xion yang sejak tadi sudah memperhatikan sikap Gio.
Gio tersadar, ia pun langsung menggeleng. "Tidak ada."
__ADS_1
Dahi Xion berkerut, namun ia biarkan saja, mungkin mereka memiliki masalah pribadi.
•
•
•
Shasa sudah tersadar sejak setengah jam yang lalu, namun tak ada seorangpun yang mendatangi nya.
Tepat itu terlihat sedikit aneh, lebih aneh lagi karena mereka tak mengikat tubuh Shasa di kursi atau di tempat manapun. Dan yang Shasa lihat dari jendela ruangan itu, di luar terlihat sangat gelap, padahal seharusnya ini masih sore.
Jika di perhatikan lebih sesama, Shasa merasa jika ia tidak sedang berada di daratan. Entah dimana ini, mungkin di sebuah ruang bawah tanah atau apa, Shasa tidak tahu.
Namun, beberapa kali Shasa mendengar sebuah langkah kaki, sepertinya ruangan itu di jaga oleh seseorang.
Shasa tak bisa mengintip nya karena pintu itu sama sekali tak memiliki celah.
"Sebenarnya aku sedang berada dimana sekarang?"
Shasa sudah mencari ponselnya kemana-mana, namun tidak ada, entah kenapa perginya benda pipih itu.
Shasa mengusap perutnya pelan, rasanya ada gejolak aneh di dalam sana. Sepertinya sang anak sedang aktif menendang sekarang, bahkan Shasa sampai harus terduduk karena merasakan tendangan keras dari perutnya.
"Sayang, apakah kamu baik-baik saja di dalam sana? Maaf ya, lagi-lagi kita ada di dalam suasana seperti ini." Shasa tersenyum lembut ketika sang jabang bayi merespon dengan kembali menendang perutnya.
"Sabar ya sayang, daddy dan para uncle mu pasti sedang berusaha menyelamatkan kita."
Krukkk...
Oh tidak, sepertinya bumil kita tengah lapar. Namun sayangnya, tak ada orang yang datang untuk memberikan makanan.
"Apakah mereka berencana membuat ku mati kelaparan? kenapa tak ada yang mengirim makanan?" Shasa mengerucutkan bibir kesal, cacing-cacing di perutnya sudah mendemo sekarang.
"Ah ya, sepertinya tadi aku membawa roti di dalam tas ku. Dimana tas ku sekarang?" Shasa mulai bangkit untuk mencari tasnya, namun nihil.
"YAK! MEREKA KEMANAKAN TAS KU?!" S*al, Shasa akan benar-benar kelaparan jika seperti ini terus.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Keluarga besar gak sih?