Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Penyelamatan


__ADS_3

Persiapan Zevan dan yang lainnya sudah matang, kini mereka hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksi mereka.


Sedangkan itu, Shasa sudah benar-benar tidak tahan berada disana. Selama dua hari, ia hanya diberikan makan sekali, sedangkan untuk minum memang sudah di sediakan di dalam ruangan gelap itu.


Sebenarnya Shasa tidak terlalu mempermasalahkan soal makanan nya, tapi..."WOY! BUKAIN!! INI AKU UDAH GAK TAHAN, PENGEN BERAK HUWAA!" Pagi-pagi sekali suara jeritan Shasa sudah menggelegar.


Para penjaga yang jelas-jelas mendengar suara melengking Shasa hanya diam, mereka tidak ada inisiatif nya sama sekali untuk membantu wanita itu.


Selama belum ada perintah dari bos, maka mereka tidak bisa bergerak, bahkan untuk berpindah dari tempatnya saja tidak bisa.


Shasa sudah menahan rasa ingin buang besar sejak semalam, namun mereka semua terlalu jahat untuk membiarkan wanita itu mengeluarkan sisa makanan yang terjebak didalam usus besarnya.


DUG...DUG...DUG...


"Woy! Ini beneran, aku udah gak tahan!"


Demi apa, ini Shasa sudah benar-benar tak kuat. Ingin di buang disana, namun tidak mungkin. Bisa-bisa nanti ia tidur dengan pengharum tai selama beberapa hari disana.


"Orang begitu banyak berjejer di depan pintu, gak ada gitu yang mau berbaik hati nganterin gue ke toilet?" Gerutunya pelan.


Di balik itu, ada seseorang yang tertawa dengan terbahak-bahak melihat video CCTV yang memperlihatkan keadaan Shasa sekarang.


"Hahaha, rasakan itu! Enak kan nahan berak?" Brigitta, wanita itu menyeringai dengan jahatnya.


Seorang pria yang berdiri di samping Brigitta hanya diam memperlihatkan bagaimana frustasi nya Shasa yang tak bisa melakukan apapun disaat perutnya begitu sakit ingin mengeluarkan sisa metabolisme tubuh yang tersangkut di usus besar menuju anus.


Tatapan laki-laki itu begitu kosong, tak ada rada kasihan atau sejenisnya. Padahal ia tengah melihat penderitaan putrinya sendiri.


"Lihatlah sayang, aku berhasil balas dendam kepada anak si*lan mu itu. Setelah ini, aku akan membalas dendam kepada adik haramnya juga. Berani sekali bocah ingusan sepertinya membuat ku harus di rawat di rumah sakit selama dua bulan lebih!" Terlihat sekali sirat kemarahan dalan tatapan wanita ular itu.


Tuan Jho, sang suami hanya diam. Seolah terhipnotis, pria itu hanya diam tanpa bisa melakukan apapun, bahkan mengeluarkan ekspresi sekalipun.





Brtt...Brtt...


"Apakah kalian sudah siap?" Tanya Zevan pada rekan-rekan yang yang berada di sisi lain tempat itu.


"Gio, Kean, Haechal sudah siap di sisi kiri!" Lapor Gio dari sisi yang berlawanan dengan Zevan.


"Aku, Xion, Lulu dan Zero sudah siap di bagian depan." Balas Gabriel dari sisi yang lain.


"Jefrian, Theo, dan Zio sudah siap di depan gerbang, mereka akan menyerang secara terang-terangan," Ucap Gabriel sebagai orang yang mengatur formasi mereka.


Zevan mengangguk tanda mengerti walaupun rekan-rekannya tidak ada yang melihat.


Di tempatnya, Zevan hanya sendiri bersama Ziva. Mereka berdua saja sudah cukup untuk mengurus bagian kanan.

__ADS_1


"Ayo mulai!"


Zio menatap Theo setelah mendengar aba-aba dari Zevan, laki-laki yang berstatus sebagai adik Shasa itupun mengangguk.


DOR...DOR...DOR...


Suara tembakkan dari pistol Zio membuat beberapa laki-laki kekar bersenjata langsung keluar dari bangunan yang terlihat kuno itu.


"Siapa kalian?!"


"Halah, basi."


DOR!


Theo langsung saja menembak tepat di kepala seseorang yang baru saja menanyai mereka.


Dor...


Perkelahiannya tak terelakan, mereka saling menembak dan menyerang satu sama lain.



BRUAK...PRANG...


Salah satu kaca jendela bangunan itu pecah akibat batu besar yang di lemparkan oleh Lulu.


Jangan salah, walaupun dirinya adalah perempuan dan seorang model. Lulu ini keturunan Zergan, perempuan itu tentu tahu teknik bela diri dan cara menggunakan senjata, khususnya senjata api.


"WOY!"


DOR...


Siapa sih yang tidak akan terpesona dengan senyuman manis seorang Lusyana Zergan? Tentu suka bukan para lelaki bertubuh kekar itu.


Sangking terpesonanya, mereka sampai tidak menyadari jika Zero sudah berdiri di belakang mereka dan siap menebas kepala mereka menggunakan pedang yang ada di tangan nya.


Sras...


Total ada 10 kepala yang habis di penggal oleh Zero dengan mudah, sisanya berhasil menghindar karena mereka sadar lebih cepat.


"S*al, berani sekali kalian!!" Umpatnya kesal.


"Makanya, jadi cowok tuh gak usah jelalatan matanya!"


Dor...


Gabriel menembak dengan begitu cepat, orang tersebut tidak memiliki kesempatan untuk menghindar dan berakhir tewas di tempat karena peluru yang menembus saraf otak nya.


BUAGH...


Xion segera menyerang sisanya sebelum musuhnya kembali berdatangan dan mereka akan kewalahan dengan jumlah mereka yang begitu banyak

__ADS_1


Beberapa anak buah yang telah mereka selundupkan pun ikut membantu.



Zevan dan Ziva mengendap masuk dengan perlahan, menaiki tembok pembatas dan langsung masuk tanpa di ketahui.


Keadaan didalam sana sudah begitu kacau, banyak orang yang berlari kesana kemari untuk melawan ataupun melarikan diri.


Si kembar Z langsung menuju lantai paling bawah, mereka sudah tahu seluruh seluk beluk tempat itu. Berterimakasih lah kepada anak buah Theo yang berhasil menyelundup dan memberikan mereka informasi lengkap tentang tempat itu.


"Periksa satu persatu ruangan itu dengan hati-hati, disini masih ada banyak penjaga." Ziva mengangguk paham atas ucapan Zevan.


Ctak...


Mereka mempersiapkan senjata api masing-masing sebelum bertindak.


Dor...


Suara tembakkan yang Ziva lancarkan tidak terlalu keras karena ia sudah menggunakan peredam.


Zevan mengacungkan jempol kepada saudari kembarnya itu, lalu ia mulai membuka satu persatu ruang tahanan itu.


Ruangan pertama, Zevan tak menemukan seorang pun didalam nya. Sepertinya ruangan itu memang masih kosong.


Ruangan kedua, diisi oleh seorang anak perempuan yang terlihat ketakutan. Keadaan anak itu cukup memprihatinkan dengan baju kucel dan penampilan yang terlihat seperti...gembel?


Zevan dan Ziva ingin melewati ruangan itu begitu saja, namun tiba-tiba anak itu memanggil Ziva dengan lirih. "Mama."


Ziva segera menoleh, sedangan Zevan menatap kakak kembarnya heran. "Kapan manak?"


Plak...


Zevan mendapatkan pukulan di tengkuknya sebagai hadiah dari ucapannya barusan. "Enak aja kalau ngomong!"


"Mama," Anak perempuan itu berjalan tertatih mendekati Ziva.


Ziva itu bukan orang yang mudah iba, ataupun tipe perencanaan yang suka anak kecil. Namun, entah kenapa, melihat anak perempuan itu membuat hati Ziva bergetar.


Bruk...Deg...


Pelukan yang ia dapatkan membuat tubuh Ziva membeku seketika. Kenapa? Kenapa pelukan anak perempuan ini begitu hangat?


Alis Zevan memicing, namun ia lebih memilih untuk meninggalkan saja Ziva dengan anak perempuan itu, sedangkan dirinya kembali mencari ruangan Shasa.


Dor...


Ups, hampir saja kepala Zevan terkena tinta panas jika ia gak segera menunduk untuk menghindar.


"S*al, ternyata mereka masih banyak!"


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1



Damage nya bapak satu ini.


__ADS_2