Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Di Bonceng Oma Ana


__ADS_3

Kevan tidak mengerti kenapa Ziva sejak tadi terus mengajaknya kesana kemari padahal dia itu pengen ketemu ayahnya dan membicarakan hal serius.


"Aunty, jalan-jalan nya udah ya? Kevan mau ketemu Daddy."


"Kevan sayang, daripada ketemu Daddy mu, mending kamu ikut aunty kesalon buat jemput Grandma. Katanya Kevan penasaran pengen naik motor di boncengin Grandma," Bujuk Ziva.


Bocah itu menggeleng, "Tidak aunty, Kevan mau ketemu sama Daddy!" Memang dasarnya Kevan itu bocah keras kepala, jadi mau di bujuk kayak gimanapun gak bakal bisa.


Wanita berstatus lajang itu berjongkok di hadapan Kevan, "Kevan mau adik gak?"


Bocah itu mengangguk.


"Kenapa Kevan pengen punya adik?" Tanya Ziva lagi.


"Buat di jadiin babu," Ucap bocah itu tanpa pikir dua kali, membuat Ziva tersenyum ke jengkel.


"Persis bapaknya."


Ziva masih ingat benar bagaimana dulu Zevan memaksa mau punya adik, katanya mau di jadiin babu. Dan benar aja, setelah punya adik, ia menjadikan adiknya sebagai babu bahkan sampai sekarang.


Bahkan tak jarang Zevan akan menelfon Zero untuk membelikan nya makan siang, padahal ia tahu benar jika adiknya itu masih di kawasan sekolah pada jam segitu. Tapi walau begitu, Zevan itu sangat loyal kepada adiknya, tapi dengan Ziva? laki-laki itu sangat pelit.


"Nah, kalau Kevan pengen punya adik, Kevan harus dengerin aunty hari ini. Kita jangan ganggu mommy sama daddy kamu, karena mereka sedang berusaha membuatkan kamu adik."


Kevan mengangguk, oh, ia mengerti. Walaupun di usia dini, ia sudah mengerti dengan pelajaran fisika tentang bagaimana terbentuknya seorang anak.


"Baiklah aunty, ayo kita jemput Grandma."


Bocah itu berjalan dengan ceria sembari menggandeng tangan Ziva, ia bahkan melompat-lompat kecil karena senang.


Ziva menatap bingung keponakan nya itu, seingin itukah Kevan mempunyai adik?





"Dasar bodoh, hal semudah ini saja kau tidak bisa."

__ADS_1


Nyonya Brig menatap kesal Rey yang terbaring di atas ranjang rumah sakit, laki-laki itu baru akan menjalankan operasi karena salah satu tulang tangan nya ada yang patah.


"Saya akan menjalankan operasi, tidakkah anda ingin memberikan saya semangat?"


"Untuk apa aku memberi semangat pada bocah tidak becus seperti mu? Sekarang harapan terakhir saya adalah kamu Ella, jangan sampai kamu gagal."


"Saya tidak akan gagal nyonya, anda tenang saja."


"Ck, tidak meyakinkan." Gumam Rey sambil berdecih kesal, untung saja sang empu tidak mendengar, atau wanita itu akan mulai berkicau dengan sangat berisik.





Tidak sia-sia hari libur ini Kevan habiskan dengan bepergian bersama Keana dan Ziva, kedua wanita itu mengajaknya pergi kesana kemari.


Hal yang menjadi favorit Kevan adalah bagaimana sang grandma mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata, itu sungguh sangat menyenangkan.


"YUHU YEAY! KEVAN SENANG SEKALI." Bocah itu merentangkan tangan, nikmati semilir angin dengan mata tertutup.


"PEGANGAN YANG KENCANG, KITA SALIP SEMUA KENDARAAN DI SINI!!"


BRUMM!!


"MOMMY, INGET MOM, MOMMY LAGI BAWA KEVAN!"


Bukannya memelan, Keana malah semakin cepat mengendarai motornya. Rasanya ia kembali di masa-masa mudanya, dimana ia masih merasa begitu bebas.



Puas berkendara, mereka pun memilih singgah di sebuah cafe untuk makan camilan sebentar.


Disana, mereka tanpa sengaja bertemu dengan seseorang yang dulu pernah menjadi salah orang yang berperan dalam masa lalu Keana.


Bukan, bukan manta pacar karena dia adalah seorang perempuan.


"Wah, siapa sangka aku akan bertemu dengan musuh bebuyutan ku dari bangku SMA di sini."

__ADS_1


Awalnya Keana tidak ingin menyapanya, namun mau bagaimana lagi jika wanita itu yang malah mendekat menyapa lebih dulu. Sebenarnya tidak bisa di bilang menyapa juga sih.


"Ck, aku tidak pernah menganggap mu sebagai musuhku. Hanya kau yang menganggap seperti itu karena kau iri dengan ku."


"Untuk apa aku iri dengan mu, aku memiliki segalanya."


Mendengar itu membuat Keana terkekeh sinis, "Segalanya? apakah yang kau maksud adalah suami yang kau rebut dari Ayana setelah kau membunuh dia? Cih, menjijikkan sekali. Aku jadi kasihan dengan Aya dan anaknya. Ngomong-ngomong, kau kemanakan anak malang itu?"


"Aku membuangnya tentu saja."


Keana mendelik, ia tak habis pikir dengan wanita ular ini. Ia akui jika ia juga tak suka dengan mendiang Ayana yang dulu merusak perempuan yang suka mengganggu nya di universitas, namun Keana lebih tak suka wanita menjijikkan seperti Brigitta ini.


Ya, wanita itu adalah Brigitta.


"Dari pada kau menggangguku, lebih baik kau pergi saja dari sini."


"Ya, aku akan pergi tanpa kau suruh."


Mata wanita itu melirik Kevan sekilas lalu ia menyeringai, "Cucumu tampan juga, hati-hati, takut nya ada yang pengen nyulik."


Ziva mendelik tak suka, ucapan perempuan itu sepertinya menyiratkan sesuatu. Sedangkan Keana terlihat santai sambil berucap, "Orang yang ingin menculik cucu ku pasti akan mati bahkan ketika ia baru berpikir untuk melakukan nya."


Kedua wanita itu saling bertatapan sengit sebelum Nyonya Brig pergi begitu saja.


"Sadar gila," Gumam Keana.


Sementara itu Kevan hanya terdiam, "Wanita itu, dia terlihat sangat mencurigakan."


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Nyonya Brigitta



Cantik bgttt lho



Ada yang tahu nama aku gak sih?

__ADS_1


Episode ini udah di tolak 5 kali karena adegan hotnya, jadi bagian hot di kirim di grup NT ya


__ADS_2