
"Hai," Sosok yang tengah Kevan ikuti menyapa seseorang.
Laki-laki itu terbalik dan langsung memeluk wanita yang baru saja menyapanya, "Aku kangen kamu."
Wanita itu terkekeh, ia balas memeluk si lelaki, "Baru juga kemarin ketemu, masa udah kangen aja sih?"
Kevan memperhatikan keduanya dalam diam. Seharusnya ia tak usah peduli dengan dua orang itu, namun entah kenapa laki-laki yang tengah bersama Lia itu sungguh membuat Kevan penasaran.
Ya, orang yang Kevan ikuti itu adalah Lia, guru yang selalu sok akrab dengan nya ketika di sekolah.
Kedua orang itu akan beranjak pergi, Kevan juga akan mengikuti mereka, namun sebuah suara menghentikan nya.
"Kevan! di cariin juga, malah di sini."
Levy dan Gio datang, mereka tadi sudah kalang kabut kare tidak melihat keberadaan Kevan di sekitar mereka. Takutnya ponakan jenius mereka ini malah di culik orang lagi.
"Uncle dan aunty berantem terus sih, Kevan males liat kalian debat," Ucap bocah itu dengan nada jengkel.
"Dan kalian ganggu aku buat ngikutin mereka."
Levy berjongkok dihadapan Kevan, "Maafin aunty ya, lain kali kami gak akan berantem kok."
Gio yang berdiri di belakang Levy pun mengangguk, membenarkan.
"Baiklah, ayo kita lanjut. Kevan ingin pergi kemana lagi sekarang?" Tanya Gio pada ponakannya.
"Ke perpustakaan kota aja uncle, Kevan mau baca buku."
"Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi!"
Perpustakaan kota, mungkin Levy dan Gio hanya akan menemani Kevan membaca sambil bermain HP nanti, karena sungguh, mereka itu sama sekali tidak suka membaca.
•
•
•
*Disisi Lain
Lia bernafas lega ketika dua orang dewasa dan satu anak kecil itu telah pergi meninggalkan taman kota.
"Aku sungguh tidak tahu jika ada Kevan yang mengikuti ku, untung kamu segera menyadarinya."
Laki-laki yang tadi bersama Lia itu adalah Faza, ia mengusap rambut perempuan itu pelan.
"Kevan seperti penasaran denganku." Faza menjeda ucapannya, lalu ia tersenyum. "Dia itu anak yang pintar, jika tadi ia sampai melihat wajah ku, aku yakin, malam ini dia akan langsung tahu siapa aku ini."
Lia mengangguk, "Ya, dia anak yang sangat pintar."
Faza tersenyum penuh dengan tatapan penuh arti, entahlah, apa maksud dari senyuman dan tatapan itu.
•
•
•
Tubuh Shasa sungguh lemas dan lelah, ia merasa sangat lapar setelah kejadian pagi tadi yang menguras begitu banyak tenaga.
"Makanlah yang banyak, isi energi mu untuk nanti malam."
Plak...
Pukulan sayang dari Shasa mendarat sempurna di bahu kokoh Zevan, "Kamu mau lubang ku lecet?!" Di tatap nya tajam sang suami.
"Lho, ini demi adik buat Kevan sayang." Bisa aja nih bapak satu anak!
"Tapi emang harus setiap saat? tadi pagi juga udah kan. Besok-besok aja lagi."
"Yah, kok besok-besok sih yang?" Zevan memasang muka lesu yang di buat-buat dengan bibir melengkung ke bawah.
"Terserah aku lah, tubuh-tubuh aku juga."
__ADS_1
"Tapi kan tubuh kamu punya aku."
Shasa memelototi Zevan dengan tajam, "Kamu diem atau gak ada jatah selama satu tahun?!"
Zevan langsung kicep, ia mengambil lakban dan langsung melakban mulut sendiri. Ia mengacungkan jempol pada Shasa pertanda ia telah melakukan apa yang wanita itu suruh.
"HAHAHAHA," Tawa Shasa meledak begitu saja, Zevan ini memang dingin, namun di balik sifat dinginnya itu, ada bakat terpendam yang ia sembunyikan.
Ya, bakat sebagai pelawak profesional.
•
•
•
Shasa dan Zevan sedang belanja bulanan ke mall. Awalnya mereka ingin mengajak si kecil Kevan, namun sayangnya, kakak perempuan Zevan lagi-lagi menomopoli bocah berusia lima tahun itu bersama Keana.
Drtt...Drtt...
Zevan mengabaikan panggilan yang masuk ke handphone nya, namun Shasa yang mendengar benda pipih itu terus berdering pun merasa risih sendiri. "Angkat gih, siapa tahu penting."
"Gak ada yang lebih penting daripada kamu." Yee, malah ngegembel nih bapack tua!
Walaupun kedengaran nya cringe, namun Shasa tetap tersipu karena nya. "Angkat sana!" Ia mendorong pelan tubuh sang suami karena malu.
Zevan terkekeh, lalu di colek nya pipi merah Shasa hingga sang empu melotot galak.
"Iya iya, ini bakal di angkat kok." Zevan langsung berjalan menjauhi istrinya untuk mengangkat telfon menyebalkan itu.
"Mengganggu saja, dasar!"
•
Shasa terlihat sibuk memilah-milah beberapa bahan makanan yang akan ia beli, namun tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya hingga membuat ia menoleh.
"Ya, ada ap_hmmpp..."
Manusia berjenis kelamin laki-laki itu membekap mulut dan hidung Shasa dengan sebuah kain, Shasa tidak tahu siapa orang itu. Ia berusaha memberontak dan meminta tolong, namun sayangnya ia tengah berada di pojok supermarket itu dan tak ada satu orang pun yang berada disana.
Sepertinya kejadian itu telah di rencanakan dengan baik, buktinya, tepat di dekat sana ada sebuah pintu yang mengarah ke tangga yang akan membawa mereka ke parkiran bawah tanah mall.
Orang itu membawa Shasa kesana, ia tak sendiri karena tiba-tiba temannya yang menyamar sebagai seorang pelayan di sana tiba-tiba datang dan membantunya.
•
•
Selesai mengangkat telfon yang ternyata dari sekertaris nya yang ingin membahas soal pekerjaan, Zevan pun kembali masuk ke supermarket di dalam mall itu untuk membantu Shasa lagi.
Laki-laki itu sudah mengelilingi seisi supermarket sambil menelfon Shasa, namun ia tak melihat sosok istrinya dimanapun, handphone perempuan itu juga tidak aktif.
"Sha! Shasa!!" Tak yang menyahut, padahal Zevan yakin jika suaranya sudah cukup keras hingga terdengar ke seluruh penjuru supermarket. Bahkan orang-orang di sana sampai menoleh pada Zevan.
Untung hari ini ia sudah memakai masker, jadi tidak akan ada orang yang mengenalinya. Yah, sepertinya.
•
Karena tak menemukan Shasa dimanapun, Zevan jadi cemas. Ia pergi ke ruang CCTV dan membayar orang untuk memperlihatkan rekaman beberapa saat lalu. Namun, si*l, rekaman itu hilang.
Bruk!!
Zevan memukul meja di sampingnya dengan kuat hingga orang yang berada di sampingnya terkejut serta ketakutan melihat tatapan menyeramkan Zevan.
"Ini jelas-jelas ada penculikan, atas dasar apa mereka menculik istri ku? Apakah mereka adalah musuh keluargaku? S*al, aku akan menghabisi siapa saja yang telah melakukan ini!"
•
•
•
Berani menculik menantu tiga keluarga besar, orang itu benar-benar tengah menggali kuburnya sendiri.
__ADS_1
Seluruh anak buah keluarga Algreat, Zergan, Gautama bahkan Joana telah di kerahkan untuk mencari keberadaan Shasa.
Seharusnya anak buah Zevan saja seharusnya cukup, namun, Leon dan yang lainnya tentu tak akan tinggal diam karena ini menyangkut anggota keluarga mereka.
Apakah kalian berpikir bahkan Kevan akan menangis lalu memanggil-manggik mommy?
Oh, tentu saja tidak bestie. Bocah itu malah ikut membantu dengan mencoba mengembalikan data rekaman di supermarket waktu itu.
Tak hanya itu, Kevan juga membantu untuk meretas rekaman semua CCTV di mall yang Zevan dan Shasa datangi siang tadi.
"Ini sudah malam, kenapa belum ada kabar dari anak buah kalian?!" Keana sangat cemas, ia mengkhawatirkan keadaan menantu yang sangat ia sayangi.
Ziva mengusap bahu sang ibu yang terlihat begitu khawatir, "Tenang mom, Shasa pasti ketemu. Kevan aja tenang, masa mommy sekhawatir ini?"
Leon duduk tenang di tempatnya, ia tengah menunggu kabar dari anak buahnya yang masih mencari Shasa hingga sekarang.
Sedangkan di kamar Zevan, anak dan ayah itu terlihat sangat serius mengembalikan data rekaman yang dihilangkan dari CCTV mall.
"Mereka merencanakan nya dengan matang, bahkan sudah menyiapkan jalan tembus ke parkiran bawah tanah." Kevan tengah menonton rekaman CCTV supermarket yang sudah berhasil ia kembalikan.
Zevan menghela nafas pelan, "Ini salah daddy, Daddy terlalu ceroboh meninggalkan mommy mu sendirian."
"Ya, itu memang benar," Ucap Kevan santai seolah tanpa beban.
Kevan bukannya tidak khawatir dengan keadaan mommy nya sekarang, ia hanya yakin jika wanita yang telah melahirkan nya adalah sosok yang kuat. Ibunya tidak akan kenapa-napa, tidak ada orang yang bisa menyakiti ibunya, ia yakin itu.
•
•
•
Shasa menatap seseorang di hadapannya dengan tatapan sengit, terlihat sekali jika ia sangat tak suka pada wanita dihadapan nya ini.
Sedangkan sosok yang ditatap hanya tersenyum remeh pada Shasa, "Hai, anakku tersayang. Kita bertemu lagi." Senyuman wanita itu sungguh memuakkan hingga Shasa rasanya ingin muntah sekarang.
"Katakan, apa yang ingin kau lakukan dengan menculikku hah?!"
"Apa yang aku lakukan? tentu saja aku akan melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan pada ibumu dulu, HAHAHAHA." Wanita itu tertawa jahat, menunjukkan wujud aslinya.
Tangan Shasa terkepal, "Apa yang dulu kau lakukan dengan mommy ku, akan aku balaskan padamu!"
Tawa wanita itu menggema, ia tertawa dengan angkuhnya, berlagak seolah ialah yang paling berkuasa dan tak ada seorangpun yang bisa mengalahkan nya.
"Kau akan melakukan apa menggunakan nama tiga keluarga sok hebat itu, Hah?!"
"Tak perlu nama mereka, aku bisa menghancurkan mu sendiri dengan tangan ku."
"Hahahaha," Wanita itu kembali tertawa, udah kayak hantu aja ygy.
BRAK...
"Omong kosong!!" Bentaknya menggebrak meja di hadapan Shasa.
"Kau tidak akan bisa menghancurkan ku, baik dengan atau tidak adanya nama tiga keluarga itu!" Tatapannya mendominasi, namun Shasa tak gentar, ia kembali berucap, "Di atas langit masih ada langit, dan di atas langit itu pula masih ada Allah. Biarkan Allah yang menentukan nantinya."
Plak...
Satu tamparan mendarat di pipi Shasa, dan jika boleh jujur, itu sakit, sungguh sangat sakit. Namun, tidak sesakit ketika ia harus melihat ibunya tewas di depan matanya sendiri beberapa tahun silam. Kenangan itu tak akan pernah terlupakan oleh Shasa, tak akan.
"Allah Allah dan selalu Allah! Apakah tuhan mu itu pernah membuat hidup mu bahagia?! Cih, dia saja tidak pernah membantu mu!"
Shasa menatap sengit nyonya Brig, "Allah tidak pernah tidur, dia akan selalu membantu semua hambanya. Dan sekarang, Allah telah membantu ku dengan memberiku keluarga yang akan selalu menjaga dan membahagiakan ku."
Dulu, ibu Shasa selalu berkata. "Ibu memang bukan hamba Allah yang patuh, sayang. Tapi, ibu selalu percaya dan meminta apapun itu hanya kepada Allah. Dan cara Ibu memintanya adalah dengan shalat. Bagaimana pun keadaan nya, kamu harus usahakan supaya shalat lima waktu selalu kamu lakukan."
Tak apa jika Shasa bukan benar-benar hamba Allah yang sangat patuh, namun setidaknya ia tak boleh melewatkan shalat wajib lima waktu. Itulah yang selalu ibunya ajarkan pada Shasa sejak kecil.
"Cih, dasar bodoh! mau-mau saja kau di bohongi oleh wanita pel*cur itu!"
"JAGA MULUT MU!!"
......\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=......
__ADS_1
Ketceh