Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Ice Cream Bening


__ADS_3

Shasa tak mengerti, ia pikir Keana hanya akan mengajaknya konsultasi dengan dokter lalu meminta resep diet yang baik. Tapi kenapa ia malah sekarang berbaring di atas ranjang rumah sakit, dengan dokter yang tengah memeriksa perutnya menggunakan stetoskop.


"Mom, emang harus dicek gini ya?"


"Iya sayang, harus banget." Keana tersenyum menahan tawa, Shasa ini memang tidak tau atau pura-pura tidak tau sih?


Dokter itu tersenyum setelah mengecek perut Shasa, "Kita bisa langsung melakukan USG jika ibu mau."


"Hah?" Shasa membeo. "Maksudnya dok?" Shasa tidak mengerti, sungguh.


"Ibu Kesha, selamat ya, Anda tengah mengandung."


Shasa tak bisa berkata-kata lagi, ia shock, ia tak menyangka, dirinya tengah hamil? benarkah?


Keana mengusap kepala Shasa lembut, "Kamu akan memiliki anak lagi sayang."


"Mom..." Mata wanita itu berkaca-kaca, di genggam nya sang mertua dengan erat.


Keana tersenyum, ia mengangguk, "Mommy akan menemanimu di masa-masa sulit kehamilan mu sayang, mommy janji."


"Permisi nyonya, boleh saya naikkan kemejanya?" Izin sang dokter dengan sopan.


Shasa mengangguk perlahan, memberikan izin pada sang dokter untuk menaikan kemeja garis-garis yang ia kenakan. Shasa bisa merasakan dinginnya gel yang dokter itu oleskan di atas perutnya.


Mata Shasa teralihkan pada layar yang memperlihatkan gambar hitam putih. "Ini anak ibu, usianya sudah 3 bulan didalam sana." Shasa tak kuasa menahan air matanya tak kala sang dokter menunjukkan gambar janinnya yang sudah sedikit lebih besar.


Seperti Dejavu, Shasa seolah teringat dengan waktu pertamakali ia tahu tentang adanya Kevan dalam perutnya. Saat itu ia hanya sendiri, mengecek ke dokter dengan perasaan takut-takut.


Takut jika benar ada bayi di perutnya, takut dengan masa depannya yang telah hancur, dan juga takut tentang masyarakat yang akan menghakimi dirinya.


Namun, sekarang berbeda karena Shasa memiliki Kevan, Zevan dan keluarganya, juga Levy yang sedari dulu selalu ada disisinya saat suka maupun duka.


Keana menutup mulut tak percaya, sudah tiga bulan dan tak ada satupun dari mereka yang tahu?!


Memang beberapa bulan belakangan sikap Zevan sedikit aneh, mungkin itu karena bawaan bayi. Tapi setahu Keana, baik Shasa maupun Zevan tidak pernah tuh yang namanya ngidam. Kan mereka jadi gak curiga kalau ada bayi di perut Shasa.




Sehabis dari rumah sakit, Shasa mengajak Keana untuk pergi jalan-jalan ke taman sebentar lalu siangnya mereka pergi ke sekolah Kevan untuk menjemputnya.


Disana ada Xion karena hari ini jadwal laki-laki itu untuk mengantar dan menemani Kevan bersekolah.


"Aunty? Shasa? Kalian ngapain disini?" Tanya Xion heran, bukannya hari ini Shasa seharusnya sudah mulai kembali melakukan pemotretan ya?


"Biar kita yang temani Kevan sampai pulang, kamu pulang aja."


Xion mengangguk tanpa banyak bertanya lagi, "Kalau gitu Xion pamit ya, aunty, Shasa."


"Iya, hati-hati di jalan. Titip salam buat mama kamu ya."


"Siap Aunty!"


Xion pergi, Shasa pun masuk kedalam kelas untuk menemani Kevan. "Permisi."


Guru yang sedang mengajar itupun menoleh. Keduanya sama-sama terkejut ketika melihat satu sama lain, namun sesaat kemudian Lia langsung tersenyum, "Ya, ada apa ibu?"


Tersadar, Shasa pun balas tersenyum walau terkesan kaku. "Saya ingin menemani anak saya, boleh Miss?"


"Tentu, silahkan."


Shasa berjalan mendekatinya bangku Kevan, lalu menduduki kursi yang sedikit lebih besar di samping bocah itu.


"Mommy? uncle Xion kemana?"


"Uncle Xion mommy suruh pulang sayang, biar mommy aja yang menemin Kevan hari ini. Kevan mau kan?"

__ADS_1


Bocah itu mengangguk lucu, "Mau banget dong mommy!"


Beberapa teman kelasnya langsung menoleh pada Kevan. Aneh sekali, bocah dingin itu tiba-tiba terlihat ceria membuat mereka terheran-heran.


Prok...Prok...


Lia menepuk tangannya untuk meminta kembali perhatian semua muridnya, "Mari kita lanjutkan..."




Sejak tadi Shasa hanya diam sambil memperhatikan Lia yang tengah mengajar, dan tentu guru cantik itu menyadari tatapan Shasa padanya.


Pikiran Shasa berkecamuk, kenapa bisa Lia menjadi guru di sekolahan Kevan? menjadi guru bahasa Inggris lagi. Padahal Shasa tahu benar jika gadis itu sarjana hukum S2, lulusan Singapura. Ia pikir Lia akan menjadi pengacara atau semacamnya, ia tak menyangka jika gadis itu akan berakhir menjadi guru sekolah dasar.


Kring...Kring...Kring...


Bel berbunyi sebanyak tiga kali, itu berarti ini sudah saatnya pulang.


"Baiklah anak-anak, kita lanjutkan minggu depan. Pekerjaan rumahnya jangan lupa dikerjakan ya."


"Siap Miss," Balas para murid serentak.


Anak-anak berhamburan dari bangkunya untuk menyalimi Lia lalu keluar dari kelas, dan murid yang terakhir menyalimi Lia adalah Kevan yang di dampingi oleh Shasa.


Awalnya Shasa ingin bersikap acuh saja seolah mereka tak saling kenal, namun sialnya, Lia malah menyapa dirinya lebih dulu.


"Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabar mu?"


"Sudah jauh lebih baik dan juga sudah berkeluarga. Bagaimana denganmu? dia sudah menikahimu atau belum setelah melakukan nya?" Kalimat tanya yang keluar dari mulut Shasa lebih terdengar seperti kalimat sarkastik.


Lia hanya tersenyum lembut walaupun kalimat Shasa barusan benar-benar membuat hatinya terluka, "Apakah kamu menemukan sebuah cincin pernikahan di jariku?"


"Oh, benar-benar tidak bertanggungjawab." Shasa berdecih kesal ketika tak menemukan sebuah cincin pernikahan tersemat dijari manis Lia.


"Boleh, tapi gak sekarang. Nanti kalau aku ada waktu."


"Kapan?"


Shasa mengangkat bahunya, "Entahlah, mungkin nanti ketika aku menemani Kevan sekolah lagi. Permisi." Shasa membawa Kevan untuk keluar kelas, dimana Keana masih duduk di bangku depan kelas menunggu mereka.


"Mau langsung pulang atau mau kemana lagi?"


"Kevan pengen makan ice cream, tapi ice cream nya harus bening, terus pakek toping sosis ya Grandma." Kevan menatap Keana dengan mata berkaca-kaca.


"Hah?" Dua wanita dewasa di sana membeo. Apakah Kevan terkena dampak kehamilan Shasa hingga dialah yang mengidam sesuatu?


"Kenapa? Grandma gak mau beliin Kevan ice cream ya?" Air mata Kevan sudah hampir lolos jika Keana tidak segera mengiyakan keinginannya.


"Baiklah-baiklah, grandma bakal beliin, Kevan jangan nangis ya sayang."


"Beneran grandma?!" Kevan tersenyum cerah.


Keana mengangguk, "Bener dong."


"YEAY!!" Bocah itu bersorak gembira.





Shasa menatap aneh sang anak yang terlihat begitu menikmati ice cream nya, ice cream rekomendasi tak lazim yang membuat sang chef kebingungan.


"Enak sayang?"

__ADS_1


Kevan mengangguk, "Enak! mommy mau?" Tawarnya, namun Shasa menggeleng. "Buat Kevan aja, habisin ya."


Bocah itu kembali menikmati ice cream nya, sedangkan Shasa dan Keana malah saling pandang. "Ajaib." Ucap keduanya berbarengan dengan wajah aneh.


Tak lama kemudian, keduanya tertawa karena merasa jika ini lucu.





Shasa dan Keana sepakat untuk tidak memberitahukan kabar gembira ini kepada siapapun, mereka akan membuat kejutan untuk mereka nanti, terutama Zevan yang akan kembali menjadi seorang ayah.


Zevan menjemput istri dan anaknya di rumah keluarga Algreat ketika hari menjelang malam. Kedatangan nya di sambut riang oleh Kevan.


Entahlah, tak biasanya bocah itu bersikap seperti ini.


"Hei, jagoannya Daddy. Gimana hari ini? seru?"


"Emh..." Kevan mengangguk. "Sangat seru dad, tadi mommy sama grandma datang ke sekolahan, mereka nemenin Kevan, lalu kita pergi makan ice cream sebelum pulang." Kevan bercerita dengan begitu antusias.


"Wah, benarkah? Kevan pasti senang ya di temani mommy dan grandma."


Bocah itu kembali mengangguk, "Kevan senang dad."


Shasa hanya terkekeh kecil melihat bagaimana antusias nya Kevan bercerita kepada sang ayah.


"Baiklah putra Daddy, ayo kita pulang." Zevan menggendong Kevan.


"Ayo dad, Kevan juga mau ngerjain pekerjaan rumah!" Balas Kevan semangat.


Zevan dan Shasa pun berpamitan dengan keluarga Zevan, lalu laki-laki itu menggandeng tangan sang istri untuk dibawa keluar dari rumah besar nan megah milik ayahnya.


"Bagaimana program dietnya? apakah berat? Kamu di suruh olahraga berat? Makan makanan sehat berwarna hijau seperti yang dimakan kambing?" Tanya Zevan bertubi-tubi setelah mereka masuk ke dalam mobil.


"Tidak."


Dahi Zevan berkerut, apa maksudnya dengan 'tidak'?


"Maksudnya?"


"Aku boleh gak, gak usah pemotretan selama beberapa bulan kedepan?" Bukannya menjawab, Shasa malah balik bertanya.


Zevan semakin di buat bingung, "Kenapa sayang? apakah menurunkan berat badan itu butuh waktu selama itu?"


Oh tidak, sepertinya Zevan salah bicara. Lihatlah perubahan wajah Shasa yang tiba-tiba suram.


"Maksud kamu aku gendut?!" Tuhkan.


"Nggak sayang, bukan gitu, aku cuma_"


"Malam ini kamu tidur di luar! gak ada penolakan dan kamu juga gak boleh tidur dikamar tamu!!"


"APA?!" Teriak Zevan membuat supir dan juga anaknya terkejut.


"Sayang, jangan dong, aku mohon," Rengeknya.


Percuma saja Zevan merengek sampai mulutnya berbusa, karena keputusan Shasa sudah bulat.


Kevan diam-diam tertawa, ia tentu tahu apa yang sedang kedua orang tuanya bicarakan. Ingat? dia adalah anak yang sangat cerdas.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...



Bumil nih.

__ADS_1


__ADS_2