
DOR...
"AKH!" Tara memundurkan langkahnya ketika sebuah peluru berhasil menembus lengan bagian atasnya.
"Cih, bocah ingusan." Si pelaku menyunggingkan senyuman miring. Ia melangkah mendekat Zevan.
"Dad?" Zevan menatap tak percaya pada sang ayah, bagaimana Leon bisa ada disini padahal mereka sama sekali tak membicarakan tentang rencana mereka ini kepada Leon ataupun orang tua mereka yang lain.
"Gak usah kaget. Kamu pikir daddy bakal diem aja waktu tahu kalau menantu daddy dalam bahaya?" Leon sama sekali tak menatap Zevan, agaknya laki-laki itu marah karena Zevan dan para sepupunya tidak memberitahu dirinya tentang rencana mereka.
Tara menodongkan pistol kepada Shasa, "Buang senjata mu sekarang juga atau aku akan menembak dia sekarang juga!" Ancamnya.
Yang lebih tua terkekeh, dan tentu itu membuat dahi Tara berkerut bingung. Kenapa Leon tidak takut dengan ancamannya? Bahkan pria setengah baya itu malah menodongkan pistol ke arahnya.
"Apakah kau tidak menyayangi menantu mu?! Aku akan benar-benar membunuhnya jika kau tidak membuang senjata mu itu!!"
"Baiklah."
Leon melemparkan pestol nya, namun tidak untuk di buang, melainkan di lemparkan ke arah Zevan.
Untung reflek Zevan begitu baik, ia menangkap pistol itu dan langsung menodongkan nya kepada Tara.
"Aku sudah membuangnya," Ucap Leon santai.
"Apakah anda pikir saya bodoh tuan Algreat? Anda jelas-jelas mengoperkan pistol anda pada putra anda." Tara menatap kesal Leon dengan nafas yang memburu.
Lagi-lagi Leon hanya menyeringai, "Anda memang bodoh nona Tara. Benar-benar bodoh."
"APA MAKSUD MU?!" Tara berteriak tak terima, ucapan Leon itu benar-benar membuatnya merasa terhina.
"Yah, benar-benar bodoh." Pandangan mata Tara langsung tertuju pada Theo yang entah sejak kapan sudah berada di ambang pintu, dan dia...MEMBAWA SHASA DALAM GENDONGANNYA?!
Tidak, bagaimana bisa ia kecolongan? Tara tidak bisa membiarkan ini terjadi. Ia hendak menarik pelatuknya, namun sepertinya gerakan Zevan jauh lebih cepat.
DOR...
"AKHH!!"
BRUK...
Tubuh Tara jatuh tak bernyawa di atas lantai dengan kepala yang berlubang akibat peluru yang di tembakkan oleh Zevan.
DOR...
Zevan kembali menembak ke bagian jantung Tara, berjaga-jaga jangan sampai kejadian Brigitta terulang kembali.
__ADS_1
"Sudah selesai? Ayo kita pulang," Ajak Leon.
Pria itu melirik sejenak pada Jho, "Kau boleh ikut jika mau."
Jho terkejut dengan ajakan Leon, namun seperkian detik selanjutnya, ia langsung mengangguk cepat. Ia ingin bertemu dan mengobrol dengan putrinya, untuk yang terakhir kalinya.
•
•
•
Mereka semua kembali ke kediaman Algreat, disana para ibu dan juga Levy sudah menunggu mereka dengan perasaan harap-harap cemas.
Namun, ketika suara beberapa mobil yang terparkir terdengar sampai ke telinga mereka, mereka semua langsung berdiri dan berlari keluar untuk menyambut kedatangan anak dan suami mereka.
"Ya ampun, Shasa!" Keana menutup mulutnya sendiri, hatinya sakit ketika melihat keadaan sang menantu yang begitu terlihat mengenaskan dalam pelukan Zevan.
"Apa terjadi? Kenapa Shasa bisa sampai kayak gini?!" Levy tentu saja sedih ketika melihat sahabatnya memejamkan mata tak berdaya seperti itu, di tambah dengan luka dan darah di sekujur tubuh nya.
Tak menjawab pertanyaan dari sang ibu dan sahabat dari istrinya, Zevan langsung berlari membawa Shasa ke kamar.
Theo tak ada di sana, laki-laki itu sedikit menjauh dari keramaian untuk memanggil dokter. Selain itu, ia juga tak ingin bertemu dengan Levy, ia takut jika egonya akan kembali menguasai dirinya ketika ia melihat perempuan itu.
"Menantu kita tidak akan kenapa-napa, kamu tenang saja. Anggota keluarga Algreat itu kuat-kuat."
"Tapi, hiks..." Keana semakin memeluk erat sang suami.
"Jangan nangis, cengeng banget sih. Ayo kita makan ice cream." Gio membujuk Levy yang masih menangis deras dalam pelukannya.
Namun, sayangnya saat ini ice cream tidak akan mampu mengobati rasa khawatir di dalam hati Levy.
"MOMMY! MOMMY!!"
"Kevan, tunggu sebentar sayang," Keane mengejar Kevan yang langsung berlari dari lantai atas ketika melihat mobil daddy dan para uncle nya memasuki area kediaman.
"Mommy mana? Mommy mana hiks..." Bocah itu mulai menangis ketika tak mendapati keberadaan sang ibu di sana.
Keana segera menyudahi tangisan nya, kini ia harus menenangkan sang cucu yang tengah menangis di tengah-tengah orang dewasa yang hanya mampu terdiam melihatnya.
Di rengkuhnya tubuh mungil Kevan dengan erat, "Mommy ada di kamar sayang, tapi Kevan jangan masuk dulu ya, biarin mommy Kevan istirahat sebentar."
"Kevan mau ketemu mommy, grandma. Kevan mau mommy hikss...Kevan mau mommy." Keana jadi panik sendiri ketika Kevan malah semakin menangis dalam pelukannya.
Sedang itu, Jho hanya mampu terdiam melihat cucunya yang menangis.
__ADS_1
Cucu? Pantaskah ia menyebut Kevan dengan sebutan itu? Pantaskah ia?
Tatapan nya sempat bertemu dengan mata sembab Kevan, namun bocah itu langsung memalingkan wajah seolah enggan melihat.
Melihat reaksi Kevan yang seperti itu, Jho jadi berpikir. Akankah Shasa mau bertemu dengan nya nanti? Apakah putrinya itu akan sudi untuk melihat wajahnya lagi? Apakah ia akan mendapatkan penolakan dari Shasa nantinya? Jikapun iya, ia memang pantas untuk mendapatkan nya.
•
•
•
Luka-luka yang ada di tubuh Shasa sudah di perban dan di obati oleh dokter khusus keluarga Algreat. Namun, wanita itu masih belum sadarkan diri.
Drs. Lea bilang Shasa akan sadar besok pagi. Dokter cantik itu juga telah memberikan beberapa obat untuk Shasa, juga vitamin dan penguat kandungan.
Setelah mengalami begitu banyak penyiksaan yang begitu kejam, bahkan tak di beri makan selama beberapa hari, sebuah keajaiban karena bayi dalam kandungan Shasa masih bisa bertahan.
Kandungan wanita itu cukup kuat, namun karena kejadian yang baru saja di alaminya membuat kandungan Shasa sedikit melemah. Drs. Lea memperingati mereka supaya jangan membuat Shasa banyak pikiran ataupun kelelahan.
Setelah Drs. Lea berpamitan, kamar Zevan tiba-tiba sepi dan hanya meninggalkan Zevan berdua dengan sang istri yang masih tak sadarkan diri.
Di genggam nya tangan lentik yang mirisnya, penuh dengan perban itu. Di kecupnya tangan itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Sayang, terimakasih. Terimakasih telah hadir dalam hidup ku. Jika tidak ada kamu, mungkin hidupku akan tetap menjadi abu-abu. Aku mungkin akan tetap menjadi laki-laki kaku yang tak pernah percaya dengan cinta."
Zevan mengecup dalam kening sang istri. "I love you."
Melihat keadaan Shasa sekarang sungguh membuat dada Zevan sakit. Ia seolah bisa merasakan sakit yang Shasa rasakan ketika berada di tempat terkutuk itu.
Jika waktu bisa di putar kembali, Zevan ingin sekali kembali ke waktu saat ia pergi ke Restoran bersama Shasa sebelum penculikan itu terjadi.
Jika waktu benar-benar bisa di putar kembali, Zevan pasti akan selalu bersama Shasa itu, ia tak akan pernah membiarkan istrinya pergi sendiri.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Tak ada gunanya ia menyesali apa yang telah terjadi. Kini, ia harus bisa belajar dari masa lalu. Jangan sampai kejadian yang sama terulang untuk kesekian kalinya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Yang satu se-ayah, yang satu lagi se-ibu. Gimana menurut kalian?
__ADS_1