
Drettt...Drettt...Drettt...
"Argh...siapa sih yang nelfon malam-malam begini." Tidak tahukah orang itu jika Shasa sedang ingin beristirahat setelah lelah bekerja?
Hah, terpaksa Shasa mengangkat telfon itu karena handphone nya terus berdering tanpa henti. "Halo, katakan sesuatu yang penting atau aku blokir nomor mu." Owh, sepertinya Shasa telah terkena virus keluarga Algreat.
"Halo sayang, aku sedang dirawat di rumah sakit, tidakkah kamu ingin menjengukku."
Dahi Shasa berkerut dalam, ia jelas mengenal siapa pemilik suara ini. "Tidak penting."
Tutt...Tutt...Tutt...
Wanita itu menaruh kembali handphone nya setelah mematikan sambutan telfon itu, tak lupa ia juga memblokir nomor yang baru saja menelfon nya.
"Mengganggu saja, memang siapa yang peduli jika ia di rumah sakit atau bahkan sudah masuk tanah," Gumamnya sambil memejamkan mata.
•
Sedangkan itu, disisi lain, Rey menatap tak percaya pada handphone nya. Barusan Shasa mematikan panggilan nya? bahkan wanita itu memblokir nomornya, sungguh tak bisa di percaya.
"S*al, dia adalah milikku dan akan tetap menjadi milikku, lihat saja nanti."
•
•
•
Shasa mengerutkan keningnya, ia merasa heran, untuk apa Zevan berdiri di depan pintu lobi seperti itu? Jika ia datang untuk bekerja, bukankah seharusnya Zevan sudah berada di ruangan nya?
Laki-laki itu terlihat tersenyum ketika Shasa mendekat, "Morning sayang," Sapanya.
"Morning sayang, kenapa kamu berdiri di sini? tidak ingin masuk Hem?"
Zevan memeluk pinggang Shasa dengan mesra, "Sayang, apakah mommy belum memberitahu mu jika hari ini kita akan fitting baju pengantin hari ini?"
"Hah? tidak, mommy tidak ada mengatakan apapun." Shasa yakin, pagi ini ataupun kemarin Keana tidak mengatakan apapun tentang fitting baju dengan nya.
"Baiklah, tak masalah jika mommy tidak bilang, sebaiknya sekarang kita pergi saja. Mommy sudah menunggu kita di butik."
Zevan membawa Shasa menuju mobilnya, "Ta_tapi bagaimana dengan pekerjaan ku?"
"Itu adalah hal mudah, kamu libur hari ini. Sudah, ayo masuk saja."
Zevan mendudukkan Shasa di bangku samping pengemudi a.k.a Zevan, ia melakukan mobilnya perlahan, ya untuk apalagi selain untuk berlama-lama dengan Shasa?
•
•
•
Kini bukan hanya Shasa, tapi Zevan juga turut tercengang melihat apa yang ada di depan matanya.
"Mom? Sebanyak ini?"
Untung saja disana hanya ada mereka bertiga, jika ada orang lain, mungkin orang lain akan terheran-heran melihat Zevan yang tercengang dengan mulut terbuka.
"Ini baru setengahnya sayang, besok kalian masih harus fitting jika hari ini tidak ada yang cocok."
"APA?!" Teriak keduanya bersamaan.
__ADS_1
Oh hari ini benar-benar hari yang melelahkan, Keana selalu memaksa keduanya mengenal baju ini dan itu padahal mereka sudah menentukan pilihan.
"Mom, sudah ya, kami sudah memilih." Bujuk Shasa.
"Tidak tidak, baju yang kalian pilih itu kurang waw. Kalian cobalah semuanya baru memilih, lalu besok kita bandingkan pilihan kalian dengan baju selanjutnya." Keana kukuh mau mereka mencoba semuanya, ia ingin pernikahan anaknya ini sempurna.Tidak boleh ada kesalahan, apalagi dengan baju pengantin nya.
Yah, jika Keana masih kukuh seperti ini, maka apa yang bisa Zevan dan Shasa lakukan?
•
Oh, rasanya Shasa bisa pingsan jika ini masih berlanjut. Ia sudah lelah mencoba gaun-gaun besar, panjang, nan berat itu.
"Sudah saatnya makan siang, ayo kita makan dulu. Nanti kita lanjutkan lagi, hanya tinggal 10 baju saja kan?"
Akhirnya Shasa bisa bernafas lega ketika mereka keluar dari butik untuk pergi makan siang.
Tangan berurat Zevan setia memeluk pinggang Shasa seakan wanitanya akan menghilangkan jika ia tak memeluknya. "Kamu lelah sayang?"
Shasa mengangguk pelan, "Sedikit."
Zevan sejujurnya tak tega melihat Shasa yang terlihat lelah, tapi ibunya itu...Ah sudahlah.
•
•
•
Akhirnya hari yang melelahkan itupun berakhir dan Shasa bisa bernafas dengan lega setelah ia selesai mengenakan baju terakhir.
"Baiklah, hari ini kita mendapatkan 3 baju bagus, nanti kita bandingkan dengan baju yang akan kita lihat besok."
Nah, berhubung mereka telah selesai dengan kegiatan ini dan berhubung hari masih siang menjelang sore, Zevan pun memutuskan untuk mengajak Shasa pergi.
Tapi sebelum itu, mereka pergi ke rumah Algreat untuk menjemput Kevan terlebih dahulu sebelum mereka pergi.
Dan disinilah sekarang mereka berada, taman bermain, tempat yang sangat Shasa sukai. Namun, kenapa tempat ini sepi sekali? tak biasanya sebuah taman bermain sepi seperti ini.
"Kenapa disini sepi sekali? dimana semua orang?" Shasa menoleh kesana kemari mencari manusia lain selain mereka dan beberapa petugas taman bermain.
"Tentu saja disini tidak ada orang selain kita, ini taman bermain pribadimu. Anggap saja hadiah pertunangannya kita dari ku untuk kamu. Sudah, ayo masuk." Zevan menarik tangan Shasa untuk masuk, ia juga menggendong Kevan di satu tangan nya yang lain.
"Ta_tapi..."
Zevan membawa mereka menaiki begitu banyak wahana yang ada disana, menyenangkan memang, namun rasanya sedikit aneh karena tempat itu sangat sepi.
Memang Shasa tak perlu mengantri untuk menaiki wahana ataupun mendatangi tempat makan yang ada disana, namun ini terasa aneh.
"Sayang, ada apa? kamu tidak suka?"
"Aku suka, tapi rasanya aneh kalau tempat ini sepi seperti ini, ini bukan lagi terasa seperti tempat bermain."
"Jadi kamu tidak suka karena tempat ini terlalu sepi?"
Shasa mengangguk, ya, ia lebih suka jika tempat ini ramai seperti taman bermain pada umumnya..
"Baiklah."
Zevan menurunkan Kevan dari gendongan nya, lalu ia mengangkat ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang. "Sebentar lagi mereka akan datang," Ucapnya setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam jas kantor yang ia kenakan.
"Mereka siapa?" Tanya Shasa bingung.
__ADS_1
"Kamu lihat saja nanti."
*Beberapa saat kemudian.
20 menit berlalu, tiba-tiba tempat itu menjadi cukup ramai diisi oleh beberapa orang yang Shasa kenal. Beberapa dari mereka adalah teman SMA nya yang sangat dekat dengan nya, beberapa teman modelnya juga dan ada beberapa anggota keluarga Zevan.
"Kalian semua?" Nampaknya Shasa begitu terkejut hingga ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Hai, Shasa, lama gak ketemu, kita kangen banget tau sama kamu." Rina, salah satu teman SMA Shasa mendekat dan langsung memeluk wanita itu.
Shasa tak tahu bagaimana bisa Zevan memanggil teman-temannya itu kemari karena yang ia tahu, mereka semua sekarang tinggal nya berpencar. Ada yang di luar kota, luar pulau bahkan luar negeri. Namun, sekarang mereka semua berkumpul disini.
Wanita itu menatap Zevan tak percaya seolah seluruh pertanyaan di dalam hatinya akan tersalurkan dengan ia menatap Zevan. Laki-laki itu hanya tersenyum untuk menjawab seluruh pertanyaan Shasa.
•
•
•
Hari ini Shasa begitu senang, akhirnya ia bisa berkumpul dengan teman lamanya dan bernostalgia bersama. Asal kalian tahu saja, hidup Shasa tidak semenyedihkan itu, ia masih memiliki teman-teman yang baik dan tulus kepadanya, hanya saja beberapa tahun ini mereka telah los kontak karena hal-hal tertentu.
"Terimakasih untuk hari ini, aku sangat senang." Shasa memeluk erat Zevan yang berbaring di sampingnya, pelukan itu tentu di balas dengan senang hati oleh sang tunangan. "Apapun asal kamu bahagia."
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kamu mengumpulkan mereka semua? aku bahkan tak tahu dimana mereka tinggal sekarang, tapi bagaimana kamu bisa?"
Bukannya menjawab, Zevan malah terkekeh sambil memeluk Shasa erat. "Tidak yang tidak bisa aku lakukan untuk membuat mu bahagia, sayang."
Pipi Shasa sukses di buat merona, namun tetap saja itu tak membuat rasa penasarannya hilang begitu saja. "Tapi_"
"Sudah, ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Besok masih menjadi hari yang panjang untuk kita, kita kan masih harus fitting baju pengantin."
Oh, benar juga. Shasa harus menyiapkan tenaga nya untuk hari esok yang melelahkan, semoga busana yang besok mereka kenakan akan lebih sedikit daripada hari ini.
•
•
•
Ingin sekali Shasa menangis saat ini juga melihat jumlah baju yang mungkin lebih banyak dari yang kemarin.
"Kenapa tuhan jahat sekali tidak mendengar doa ku, baju sebanyak ini? huhuhuhu"
Zevan mengusap punggung Shasa pelan, ia juga rasanya ingin menangis melihat semua ini.
Yah, baju kali ini jauh lebih banyak dari yang kemarin, namun untungnya, mereka tak perlu pergi ke butik untuk mencobanya karena ada orang yang membawakan baju-baju ini ke rumah.
Lulu dan Zero yang duduk di sofa meringis melihat banyaknya baju itu, mereka merasa kasihan dengan Shasa. Bagaimana tidak, gaun-gaun itu terlihat sangat besar dan berat, pasti lelah bergonta-ganti gaun seperti ini.
"Shasa yang malang, semau gaun mewah ini pasti membuatnya kewalahan," Bisik Lulu pada Zero.
Pemuda itu mengangguk setuju atas ucapan Lulu, "Kamu tahu sendiri bagaimana mommy."
Didalam hatinya Zero bersumpah bahwa ia tak akan membiarkan mommy nya yang membantu ia fitting baju pengantin nanti, ia tak mau bernasip sama seperti kakak keduanya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Ketebak gak mereka siapa?
__ADS_1