Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Aden


__ADS_3

Malam itu, Zevan, Theo, Kean dan Gio memutuskan untuk mendatangi apartemen Lia. Mereka beranggapan bahwa Lia pasti tahu sesuatu tentang penculikan ini.


Kevan juga ada disana, ia yang memberitahu mereka tentang alamat apartemen Lia.


Oh, mereka datang di waktu yang tepat. Ternyata Faza tengah berkunjung ke apartemen Lia saat itu.


Tak ada yang tahu pasti apa hubungan kedua insan berbeda jenis itu, yang pasti, mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman.


"Sebenarnya apa yang membuat tuan-tuan datang ke apartemen kecil saya?" Wanita itu tersenyum ramah seperti biasanya.


"Saya ingin anda memberitahu saya informasi tentang penculikan Shasa kali ini." Basa-basi? Zevan adalah orang yang lebih suka to the poin ketimbang harus berbasa-basi, itu membuang waktu.


Tatapan Theo tak pernah lepas dari Faza yang juga tengah menatapnya sengit. Gio tentu menyadarinya, ia tak curiga, mungkin saja kedua manusia itu memiliki dendam tersendiri mengingat Faza adalah anak kandung dari Brigitta si wanita ular dan Theo adalah anak yang hidupnya telah di hancurkan oleh wanita ular itu.


"Aku tidak tahu terlalu banyak, namun..." Lia melirik Faza yang duduk di sampingnya. Zevan dan yang lainnya pun turut menatap laki-laki itu.


Faza hanya diam padahal semua orang tengah menunggu nya buka suara.


Theo terkekeh kecil sambil menepuk tangannya, "Tidak ada anak yang akan membeberkan informasi yang akan membuat orang tuanya dalam bahaya, bukankah begitu?"


"Ah ya, bagaimana aku bisa lupa. Baiklah, lupakan saja, kami akan pergi karena tak ada hal yang perlu kami bicarakan lagi." Detik itu juga, ketika Zevan hendak berdiri, Faza langsung buka suara.


"Dia, namanya Aden. Dia seorang mafia yang kejam." Faza menjeda ucapannya, ia melirik Kevan yang terlihat begitu serius mendengarkan. Bocah itu mengingatkan nya dengan Shasa yang dulu.


"Beberapa hari yang lalu ibuku menghubungi nya untuk meminta tolong. Kau pasti tahu apa yang dia minta."


Zevan mengangguk, "Mencelakai Shasa." Tebakan yang benar dan sangat tepat.


"Ya, dan dia menerimanya asalkan..." Ingin melanjutkan ucapannya, namun Faza ragu.


"Lanjutkan, jangan berhenti di tengah jalan!" Geram Kean, ia sudah kepalang penasaran.


Faza menghela nafas sejenak, "Dia ingin aku dan Kevan ikut dengannya."


BRAK...


"Kenapa harus Kevan?" Zevan menatap Faza dengan begitu tajam.


Laki-laki itu menggeleng, ia tak tahu apa tujuan sang ayah dengan mengincar Kevan. "I don't know."


"Baiklah, maksud mu, mereka sekarang tengah mengincar Kevan dan dirimu? Itukah alasan kenapa kau ada disini? di jam segini?" Tanya Gio penuh selidik.


Faza memicing, "Tentu saja tidak, aku tidak sedang kabur okey, aku hanya datang untuk menemani tunangan ku."

__ADS_1


Oke, itu adalah sedikit informasi yang membuat mereka cukup terkejut, namun tak berlangsung lama sebab Theo buru-buru menyela.


"Berikan alamat laki-laki sialan itu!"


Dahi Faza berkerut, "Kenapa kau berpikir bahwa aku tahu dimana alamat rumahnya?"


"Cepat berikan!" Desak Theo kesal.


Laki-laki itu mendengus, "Aku tidak tahu, tapi kau bisa mengikuti ibuku besok. Dia akan bertemu dengan laki-laki itu, entah itu dirumah nya atau dimana, aku tidak tahu."


"Jam berapa?" Kini Zevan yang bertanya.


"Tujuh pagi, aku dengar dia akan berangkat jam tujuh pagi."


"Baiklah, hanya itu? Sebaiknya kita segera pulang sekarang." Merasa tak ada yang perlu di bahas lagi, mereka semua pun berdiri lalu berpamitan pulang.





Shasa benar-benar kelaparan dan orang-orang itu benar-benar jahat karena tidak segera memberikan Shasa makanan padahal wanita itu sudah berteriak meminta makanan.


"HEI KALIAN YANG DI LUAR, APAKAH KALIAN TULI?! AKU BUTUH MAKANAN!"


Cklek...


"Berisik sekali anjing baruku ini."


Seorang laki-laki dengan setelan baju serba hitam baru saja memasuki ruangan itu. Ia membawa langkahnya untuk lebih dekat dengan Shasa. Di tangan nya sudah ada segelas air dan sepiring makanan yang sepertinya diperuntukkan bagi Shasa.


"Si_siapa kau?"


Shasa seperti tak asing dengan wajah ini, namun siapa? Siapa dia?


"Masa depan mu, hahahaha." Laki-laki itu tertawa, tawa yang terdengar menyeramkan di telinga Shasa.


Tak...


Ia meletakkan nampan itu di atas meja usang yang ada disana. "Makanlah, dan berhenti berteriak, suara mu sangat berisik."


"Aku berisik karena kalian tidak segera memberikan aku makanan. Mau nyulik orang tuh di siapin makannya juga dong. Nyulik elit, fasilitas sulit!" Cibir Shasa.

__ADS_1


Laki-laki itu menatap Shasa aneh, ia belum pernah mendapatkan tawanan yang seberani wanita ini. Berani berbicara, bahkan mencibir langsung didepan nya.


Tiba-tiba laki-laki itu mengeluarkan pistol dari saku celananya, membuat Shasa terkejut. "Ngapain keluarin pistol? mau sok keren Lo?!" Bukannya takut, Shasa malah melotot pada orang itu.


"Sorry lah ya, gue udah biasa liat pistol gitu. Jadi gue gak akan takut." Lanjutnya dengan gaya slay.


DOR...


Sekali tarikan, peluru dari pistol itu langsung mengenai tembok hingga retak. Tembakan yang cukup kuat hingga keretakan yang terjadi bukanlah keretakan kecil yang biasa.


Shasa terpaku melihat kearah dinding yang retak itu.


"HEH! NGAGETIN AJA, KALAU GUE JANTUNGAN GIMANA?!" Omelnya setelah sadar dan menghadap laki-laki tadi.


"CEPAT MAKAN!"


Shasa tersentak, lalu segera menunduk ketika menyadari tatapan mematikan dari pria di hadapannya. "I_iya." Cicitnya pelan.





Semalaman Zevan tak bisa tidur, pikiran nya melayang kemana-mana. Ia mengkhawatirkan Shasa dan anak mereka yang ada di perut wanita itu.


Berbalik ke kanan, berbalik ke kiri, geser ke kanan, geser ke kiri, tak ada posisi tidur yang pas. Waktu sudah begitu malam, namun Zevan sama sekali belum tidur padahal Kevan yang ada di sampingnya sudah nyenyak tanpa terganggu dengan pergerakan rusuhnya.


"Kenapa perasaan ku sangat gelisah? semoga mereka baik-baik saja. Tunggu daddy sayang, daddy akan menyelamatkan kalian, daddy janji."


Rasanya menunggu hari esok itu lama sekali, Zevan benar-benar tak bisa tidur karena rasa khawatir yang menggerogoti hatinya.


"Hoek...Oh ****!" Laki-laki itu segera bangkit dari tidurnya dan langsung berlari ke kamar mandi.


"Hoek...Hoek..." Zevan mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Bukan penyakit, sepertinya ini adalah bawaan bayi yang ada di dalam perut Shasa. Namun, efeknya sampai kepada sang ayah, bukankah itu hal wajar? Zevan sering mengalami hal seperti ini selama kehamilan Shasa.


"Sayang, jadilah anak yang baik dan jangan merepotkan mommy mu disana oke?" Batin Zevan seolah ia bisa berbicara lewat batin dengan si jabang bayi.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Aden Ranjaya

__ADS_1



__ADS_2