
"MOMMY TIDAK MAU TAHU! POKOKNYA KAMU HARUS BAWA PULANG CUCU DAN MENANTU MOMMY SECEPATNYA!! Dan bulan depan kamu harus sudah menikahi dia." Keana langsung meledak-ledak setelah mendengar penjelasan putranya.
Leon berusaha menenangkan sang istri dengan memeluknya, bisa bahaya kalau Keana sudah marah seperti ini, karena wanita itu pasti...
"Bersiap ke ruang hukuman!!"
...akan menghukum Zevan.
"Sayang..."
"Diam kamu!"
Leon tidak berani melakukan apapun lagi jika Keana sudah marah begini. Biarlah sang istri mau melakukan apapun juga, lagipula itu adalah salah Zevan sendiri, jadi ia harus menerima hukuman nya.
Karena sang ibu negara telah mengeluarkan perintah, maka Zevan sebagai anak yang baik dan bertanggung-jawab pun langsung melakukan apa yang Keana perintahkan. Ziva dan Zero pun ikut menemaninya.
"Good luck my twins, mommy marah besar, jadi gue harap Lo bisa bertahan."
Tak ada respon apapun dari Zevan, laki-laki itu terlihat sibuk memasang sarung tinju di tangannya.
Ziva mengerutkan kening melihat Zevan yang sepertinya santai sekali, padahal ia akan menghadapi kemarahan seorang Keana Lauren Algreat.
"Kak Zevan santai banget, gak takut tulangnya di patahin sama mommy?" Itu adalah pertanyaan yang ingin Ziva tanyakan, namun sudah di wakilkan oleh Zero.
"Berani berbuat, harus berani menerima seluruh konsekuensinya." Zevan terlihat sangat yakin ketika mengatakan itu.
•
Keana dan Zevan sudah memasuki area tinju, Leon berdiri ditengah-tengah anak dan istrinya sebagai wasit.
"Siap?" Kedua peserta mengangguk.
"Satu...Dua...Tiga..."
Leon mundur, membiarkan keduanya mulai menyerang. Lebih tepatnya hanya Keana saja yang menyerang, dan Zevan hanya pasrah.
BRUGH...BRAK... PLAK...
Keana benar-benar bersungguh-sungguh ketika menghajar Zevan, bahkan ia tak segan membanting putra pertamanya itu dengan keras.
DuoZ yang memperhatikan dari luar ring hanya bisa meringis, sepertinya setelah ini Zevan paling tidak akan di rawat di rumah sakit selama dua hari.
•
•
•
Shasa sedang pemotretan, waktu yang bagus bagi Kevan untuk diam-diam bertemu dengan sang Daddy.
"Permisi nona sekertaris cantik, apakah Kevan boleh bertemu Daddy?"
Sekertaris CEO cantik itu menatap Kevan bingung, "Tuan muda kecil, Daddy anda sedang di rawat di rumah sakit, apakah kamu tidak tahu?"
"Ah, Daddy sakit ya? Mommy bilang semalam Daddy tidak pulang karena menginap di kantor."
Wajah Kevan terlihat sedih. Bocah itu tengah bersandiwara supaya tidak di curigai oleh sekertaris CEO ini.
"Ah, mungkin nyonya Algreat tidak ingin putranya khawatir, jadi dia berbohong seperti itu." Pikiran polos seorang sekretaris CEO.
"Baiklah nona cantik, kalau begitu Kevan pergi dulu ya, dada~" Anak umur lima tahun itu pergi sambil melambaikan tangan pada si sekertaris manis.
Keimutan Kevan membuat sekertaris CEO itu terpesona, "Benarkah jika dia adalah anak CEO? Oh, sikap mereka begitu berbeda." Dia tidak tahu saja jika Kevan tengah bersandiwara, karena pada dasarnya, Kevan benar-benar mirip Zevan. Bukan hanya wajah, sifat dan keahlian CEO muda itu pun menurun pada sang putra.
•
•
•
Setelah tahu jika sang ayah berada di rumah sakit, Kevan pun mencari segala cara untuk membuat sang ibu menjenguk ayahnya ke rumah sakit.
__ADS_1
Melihatnya hp ibunya yang menganggur, membuat sebuah ide bagus terlintas di pikiran Kevan. "Lebih baik aku telfon Daddy saja."
Kevan ingat jika Zevan pernah memberi tahu ia tentang nomor ponselnya. Ingatan Kevan cukup bagus untuk mengingat deretan nomor itu.
Drtt...drtt...
Deringan sesaat sebelum sebuah suara terdengar mengangkatnya telfon itu, "Halo." Suara perencanaan yang Kevan yakini adalah suara sang grandma.
"Halo, grandma ini Kevan."
"Ah...CUCU GRANDMA." Kevan menjauhkan HP itu dari telinga nya ketika sang grandma terdengar memekik kegirangan.
"Grandma, Daddy dimana?"
"Oh... Daddy mu sedang sakit sayang, dia terjatuh dari tangga hingga patah tulang di kaki. Tapi kamu jangan khawatir, dia akan segera sembuh, dia akan Daddy nya Kevan."
Zevan yang duduk di ranjang hanya bisa menatap jengkel sang ibu yang beberapa saat lalu menyita HP nya.
"Wanita tua ini...dia berbohong dengan sangat lancar." Zevan tak habis pikir lagi dengan sang ibu.
"Oh... begitu ya grandma, ngomong-ngomong Kevan boleh tahu gak ruangan Daddy dimana? Soalnya sehabis pemotretan nanti Kevan rencananya mau aja mommy menjenguk Daddy."
"AH, TENTU SAJA SAYANG! GRANDMA AKAN MENUNGGU KALIAN DISINI. Kamar inap Daddy mu berada di kamar VVIP khusus, rumah sakit Gauthamation." Lagi-lagi Keana memekik girang hingga Kevan harus menjauhkan HP itu dari telinga.
"Baiklah grandma, sampai jumpa. Kevan sayang grandma."
Tutt...Tutt...
Kevan mematikan sambungan, sedangkan Keana di seberang sana sudah memekik kesenangan.
"AAA... CUCU DAN MENANTUKU AKAN DATANG! DAN TADI, KAU MENDENGARNYA? KEVAN MENYAYANGI KU!"
"Mom, ini rumah sakit lho." Zevan tersenyum paksa pada sang ibu.
"Memang kenapa kalau ini rumah sakit?! Ruangan mu VVIP yang kedap suara, jadi tidak akan terdengar sampai ke luar!"
Baiklah, wanita memang selalu benar. Apalagi jika wanita itu adalah seorang ibu.
•
•
•
"Mom..." Kevan menggenggam tangan sang ibu, mereka berjalan keluar dari gedung perusahaan. Tara masih di dalam mengurus beberapa hal.
"Ya sayang, ada apa?"
"Daddy sakit, tulang kakinya patah. Bisakah kita menjenguk Daddy mom?"
Shasa terdiam sesaat, ia pun mulai berjongkok di hadapan sang anak. "Sayang, sengaja mommy. Tuan Algreat itu bukan Daddy mu."
"Mommy! Daddy adalah Daddy ku! Pokoknya siang ini Kevan mau ketemu Daddy!! mau Daddy huwaa..."
Jika wanita selalu benar, maka anak kecil selalu menang. Dan itulah yang terjadi, Shasa hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Kevan.
•
•
•
Sejujurnya Shasa sangat gugup, kini ia dan Kevan sudah berdiri di depan ruangan Zevan.
Ia tidak hanya takut bertemu laki-laki itu, namun takut jika ada anggota keluarga Algreat lainnya di dalam sana.
Mereka semua terkenal sangat dingin dan kejam, apalagi kepada orang baru yang berani lancang kepada mereka. Dan Shasa yang hari ini datang ke rumah sakit untuk menjenguk Zevan sambil membawa Kevan yang terus saja memanggil Zevan Daddy, bukan kah itu termasuk tindakan lancang?
"Mom, ayo mom... Kevan mau ketemu Daddy."
"Mommy pasti takut, tapi percayalah pada anak mu ini mom. Semuanya akan baik-baik saja, aku bisa jamin."
__ADS_1
Shasa mengangguk, ia pun mengetuk pintu ruangan Zevan dengan tangan sedikit bergetar.
Tak butuh waktu lama hingga pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang wanita setengah baya yang tengah tersenyum kepada mereka. Dia adalah nyonya Algreat, Shasa sering melihatnya di beberapa acara penting dulu.
"Ingin menjenguk Zevan ya?" Tanya wanita itu dengan nada ceria.
Shasa mengangguk pelan mendengar nya, ini tidak seperti nyonya Algreat yang seperti di katakan banyak orang. Tidak ada nyonya Algreat yang dingin, kejam, dan menyeramkan. Di sini hanya ada nyonya Algreat yang baik, penyayang dan cantik.
Model cantik itu meletakkan buah tangan yang ia bawa ke atas meja, ia melirik sekilas Zevan yang masih tidur. "Apakah dia sudah lama tidur?"
"Ya, lumayan ku rasa." Keana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oh ya, ini sudah jam nya makan siang. Apakah kalian sudah makan?"
"Ah, soal itu..." Shasa tak tahu harus menjawab apa, ia sungkan untuk bilang kalau ia dan Kevan belum makan karena sudah pasti nyonya Algreat akan...
"Oh, aku mengerti. Ayo Kevan, kita beli makan siang di kantin rumah sakit. Grandma juga belum makan."
"Tidak perlu nyonya, kami akan pergi makan setelah dari sini." Tolak Shasa tak enak.
"Hei, santai saja. Tidak masalah kok, kamu jaga saja Zevan dan aku akan membelikan makanan bersama Kevan."
"Dah~ mommy."
Keana menggandeng tangan sang cucu pergi meninggalkan ruangan VVIP khusus itu.
Shasa hanya bisa menggelengkan nafasnya saja, ia pun memilih beranjak untuk duduk di sofa, namun sebuah tangan tiba-tiba menahan tangan nya. Shasa terkejut, ia langsung menoleh pada Zevan yang masih memejamkan matanya.
"Duduk di samping ku saja, jangan pergi," Ucapnya dengan mata tertutup.
"Ta_tapi tu___"
"Zevan." Potong laki-laki itu cepat.
"Aku tidak suka dan tidak akan pernah menerima penilaian, jadi duduk lah di samping ku."
Shasa tidak punya pilihan lain selain menurut. Ia duduk di kursi samping tempat tidur dengan tangan yang masih di genggam oleh Zevan.
"Tangan ku..."
"Biarkan saja seperti ini, aku ingin memastikan jika kamu akan terus di sini dan tidak pergi meninggalkan ku."
Entah kenapa Shasa merasa jika ucapan Zevan barusan memilih arti tersendiri, seakan laki-laki itu meminta ia untuk terus bersamanya dan tidak pergi meninggalkan nya. Dan genggaman erat di tangannya, seolah ia ingin Shasa selalu dalam jangkauan nya agar ia tak bisa pergi kemanapun.
Jantung perempuan itu berdebar-debar, entah karena genggaman tangan Zevan, atau...
... karena Zevan tengah mencium punggung tangan nya.
Pipi nya memerah bak udang rebus, sangat lucu dan menggemaskan, Zevan bahkan membuat matanya hanya untuk melihat wajah Shasa yang memerah. "Kamu cantik dengan rona merah alami itu."
"A_APANYA YANG RONA MERAH ALAMI?! A_AKU TI_TIDAK."
"Oh, matilah aku. Kenapa aku sampai kelepasan meninggikan suara di hadapan nya? aku pasti sudah gila."
Shasa melirik Zevan sebentar, oh s*al, tatapan laki-laki itu sangat mengerikan hingga membuat bulukudu Shasa berdiri.
"Zevan, maaf tadi aku..."
Shasa langsung terdiam ketika mendengar sebuah kekehan dari bibir Zevan, "Tidak masalah, aku mengerti. Kamu pasti malu ya?"
"Hei! kalau tahu kenapa di perjelas?" Shasa menangis dalam hati.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Persahabatan yang menyenangkan.
Ganteng sih, tapi sayang gak bisa di milikin.
__ADS_1
Model kesayangan kita semua, nona Kesha Lovely Anarga.