Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Masa Lalu Levy dan Theo


__ADS_3

Shasa bingung, pagi itu tiba-tiba saja Levy sudah berada di rumahnya, memeluk dirinya sambil menangis tersedu-sedu.


Tangisan Levy tidak reda, bahkan setelah satu jam lamanya.


Zevan dan Kevan yang masih di ruang makan hanya saling pandang, heran dengan Levy. "Dad, aunty Lev kenapa ya? Apa uncle Gio nakal sampai buat aunty Lev nangis?" Tanya bocah itu dengan wajah polos.


Yang lebih tua mengangkat bahu tanda tak tahu, "Daddy gak tahu, mungkin aja iya."


"Wah, kalau gitu Kevan harus marahi uncle Gio karena udah bikin aunty Lev nangis!" Bocah itu mengepalkan tangan, berlagak ingin meninju orang dengan raut wajah yang di buat-buat.


Bukannya melarang, Zevan malah mengangguk setuju. "Daddy dukung kamu kalau emang uncle Gio nakal, nanti kita hajar uncle Gio bareng-bareng!"


Plak...


Ayah dan anak itu saling tos, lalu tersenyum bangga satu sama lain.


"Sepertinya bukan tentang uncle Gio, tapi..." Kevan melihat kebelakang, ke ruang tengah dimana Levy masih menangis dalam pelukan Shasa disana. "Ini pasti tentang adiknya mommy."


Kevan tak bodoh untuk tidak menyadari bagaimana gelagat aneh Levy yang terlihat ketakutan ketika melihat Theo. Pasti ada sesuatu, tidak mungkin tidak.


"Ehem!"


Kevan terkejut dari lamunannya ketika deheman berat Zevan terdengar. Bocah itu kembali melihat ke depan sambil tersenyum lebar.


Salah satu Alis Zevan terangkat, "Mikirin apa? serius banget kayaknya."


Bocah itu langsung menggeleng, "Gak ada kok dad, Kevan gak mikirin apapun."


"Beneran?" Zevan nampak tak percaya, namun Kevan tersenyum dengan lebar sambil mengangguk. "Beneran dong."


"Ya sudah, cepat selesain makan mu dan daddy akan mengantarmu sekolah. Nanti kamu biar di temani sama uncle Kean aja."


Bocah itu hanya bisa mengangguk mengiyakan. Ia segera menyelesaikan makannya. Lalu Zevan dan Kevan pun berpamitan pada Shasa untuk pergi bekerja dan bersekolah.


Mereka tidak mengeluarkan suara, hanya menggunakannya bahasa isyarat karena Levy masih menangis, tak enak rasanya untuk bersuara sekarang.


Shasa hanya mengangguk, lalu setelah suami dan anaknya pergi, ia kembali mengusap bahu Levy dan membisikkan kata-kata penenang untuk perempuan itu.


"Aku disini, gak akan ada yang berani nyakitin kamu. Lev, ada aku. Kamu percaya sama aku kan?"


"Aku takut hiks...di_dia tiba-tiba ada di kamar ku semalam. Dia ingin melakukannya, dia ingin menodaiku hiks..."


Tak ada yang bisa Shasa lakukan, ketakutan tentang masa lalu membuat Levy begitu trauma, Shasa pun tak bisa membantu lebih.


"Kamu memang adik kesayangan ku, namun apa yang kamu lakukan, sungguh membuat aku kecewa."


Flashback...


Dulu, Theo dan Levy adalah sepasang kekasih yang begitu mencintai. Kenyataan jika Shasa adalah kakak Theo dan sahabat Levy membuat hubungan keduanya semakin erat.


Shasa tentu merestui hubungan keduanya asalkan mereka bahagia. Namun, siapa sang jika Theo adalah laki-laki yang sangat brengsek.


Theo yang selalu terlihat lembut, peduli dan penyayang ternyata adalah singa kejam yang tengah menyamar menjadi seekor domba polos.


Di suatu malam, Theo memaksa Levy untuk menginap di rumah. Awalnya Levy tak berfikiran aneh karena ia pun sering menginap disana. Entah itu ajakan Shasa ataupun Theo.

__ADS_1


Namun..."Hari ini kakak tidak ada di rumah. Aku tahu kamu tidak berani tidur sendiri, jadi kamu tidur sama aku aja ya?" Disaat itulah Levy mulai gelisah.


Dan benar saja, Theo, laki-laki yang sangat ia percaya, berusaha menodai nya malam itu. Namun syukurnya, Shasa tiba-tiba pulang dan menyelamatkan Levy dari Theo.


Semenjak saat itu, Levy tak mau lagi bertemu dengan Theo, ia selalu ketakutan ketika melihat Theo. Lalu tak berselang lama setelah itu, Theo tiba-tiba menghilang seolah di telan bumi.


Hidup Levy kembali tenang, namun tidak dengan sekarang, karena laki-laki itu telah kembali. Kembali bersama masa lalu kelam yang berusaha untuk Levy lupakan.


Flashback off...





Gio terlihat mondar mandir di depan pintu apartemen Levy. Awalnya Levy memang tinggal bersama Keana dan keluarganya, namun semenjak dua minggu yang lalu, perempuan itu meminta izin untuk kembali ke apartemen lamanya.


Awalnya Keana menahan Levy, namun model cantik itu bersikeras untuk kembali ke apartemen lamanya.


Drettt...Drtt...


'Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif, mohon hubungi beberapa saat lagi.'


"Levy, sayang, kamu dimana sih?"


Gio khawatir, pasalnya ia sudah memencet bel sejak tadi, namun pintu apartemen Levy tak kunjung terbuka. Di telfon pun tak bisa.


"Gio."


Gio heran, bisa-bisanya dia terlihat pede dengan rambut berduri seperti itu. Tidak takut di tertawakan apa?


Laki-laki berambut landak itu menyentuh bahu Gio sambil tersenyum, "Gue titip Levy sama lo. Tolong jagain dia, ya."


"Dia pacar gue kalik, gak usah lo titipin juga gue bakal jagain dia selamanya."


Theo mengangguk, "Gue pegang omongan lo."


Dahi Gio berkerut ketika Theo tiba-tiba berbalik dan langsung berjalan pergi, "Udah? gitu doang?" Gumamnya bingung.


Ngomong-ngomong, Gio masih penasaran, sebenarnya ada apa antara Theo dan Levy? Apakah ada sebuah kisah masa lalu di antara mereka? Kenapa Levy terlihat sangat takut ketika melihat Theo?


Namun Gio tak mau berpikiran yang aneh-aneh, pasti ada alasan dari semua itu. Ia akan menunggu dengan sabar sampai Levy mau menceritakan sendiri kepadanya.





Ella, Zevan pikir wanita itu sudah masuk kedalam tanah karena beberapa hari ini tidak terlihat. Namun ternyata ia salah, wanita itu nyatanya masih berkeliaran dan sekarang tengah mengganggu ketenangan Zevan lagi.


"Tuan Zevan, tidakkah anda merindukan saya?" Wanita kurang belaian itu dengan kurang ajarnya malah berani mengusap dada bidang Zevan, yang mana itu adalah aset berharga milik Shasa.


Bugh...

__ADS_1


"Akh..." Wanita itu meringis dengan posisi tengkurap, dada besarnya terasa begitu sakit karena menghantam lantai dengan kuat.


Zevan benar-benar kasar, dan tak suka di sentuh.


"Berani menyentuh saya, bukankah Anda sudah siap menyerahkan nyawa Anda, nona Ella yang terhormat?" Zevan menyeringai lebar, terlihat sangat menyeramkan, tak jauh beda dengan malaikat maut.


Tubuh wanita itu bergetar ketakutan, "Ma_maaf tuan, sa_saya ti_tidak bermaksud..."


"Tidak bermaksud? Kamu pikir saya bodoh HAH?!" Ella menggeleng takut, ia menangis, berharap Zevan mau mengampuni dirinya.


Zevan menelfon seseorang. Ella tidak tahu orang itu siapa, namun apa yang Zevan ucapkan selanjutnya sungguh membuat dirinya ketakutan.


"Cepat kemari, bawa j*lang ini dan bunuh dia dengan tragis!"


Bruk...


"Tidak tuan, tidak!" Ella bersujud memeluk kaki Zevan, namun Zevan tentu tak akan membiarkan kakinya ternodai oleh tangan wanita ular ini. Ia menendang Ella hingga wanita itu kembali menghantam lantai dengan kuat.


Dugh...


"Enyahlah kau hama!"





Ketika dirasa Levy mulai tenang, Shasa pun mengajak Levy untuk pergi ke suatu tempat, tempat yang selalu membuat Shasa merasa aman. Dan dia berharap, jika tempat itu bisa membuat Levy semakin tenang.


Sebuah taman bunga yang sejuk nan teduh, tempat yang dulu Shasa temukan ketika ia pertamakali melarikan diri dari rumah ayahnya.


"Apakah kamu merasa sedikit lebih tenang sekarang?" Shasa mengusap bahu Levy.


Perempuan itu mengangguk, "Terimakasih."


"Tidak perlu berterimakasih, kita adalah sahabat."


Keduanya berpelukan dengan erat, namun suara getaran dari ponsel Levy membuat atensi keduanya teralihkan.


Drettt...Drett...


"Siapa?"


Levy terdiam sebentar, lalu ia menoleh, menatap Shasa. "Gio," Ucapnya lirih.


"Angkatlah."


Levy menggeleng, "Aku akan menemui nya saja, tolong antarkan aku ya."


"Tentu saja, ayo."


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


__ADS_1


Gantengan style rambut biasa atau landak sih?


__ADS_2