
Shasa sama sekali tidak mengerti, padahal yang menjadi pengantin adalah Levy dan Gio, lantas kenapa beberapa hari ini malah Zevan yang excited banget buat beli dress dan jas untuk dipakai di acara pernikahan Levy dan Gio?
Tak cukup satu stel pakaian saja yang Zevan siapkan, namun ada 3 stel pakaian dengan warna dan model yang berbeda. Bukan hanya untuk mereka, namun untuk Kevan juga, bahkan si jabang bayi yang belum lahir saja juga ia belikan, benar-benar bapak satu ini. Dan ya, semua bajunya sama, memang sengaja Couple sih.
"Astaga Zevan! Lebaran masih lama, dan ini? Satu aja cukup, kenapa beli sebanyak ini sih? Buat apa coba?" Haduh, pusing kepala Shasa kalau Zevan sudah dalam mode shopping tanpa mikir harga dan kegunaan barang yang dia beli.
"Ya buat di pakai dong sayang, biar bisa genta-genti. Lagian nantikan kita semua nginep di hotel, orang nikahannya di Bali."
Ya, Bali. Levy dan Gio memutuskan untuk menikah di kampung halaman Levy, yakni Bali, pulau yang paling terkenal di Indonesia bahkan sampai mancanegara.
"Ya tapikan gak usah gini juga, lagian aku masih punya banyak dress yang masih bagus dan jarang di pakai. Kamu jangan boros dong, hemat dikit gitu."
"Syutt..." Zevan meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Rosyi. "Sejak kapan wanita keluarga Algreat mikir soal duit dan hemat? Ayolah sayang, aku gak akan bangkrut cuma buat beliin keluarga kecil aku baju."
"Ya udahlah, terserah kamu aja, aku pusing." Tak mau berdebat lebih lama, Shasa memilih untuk naik ke tempat tidur dan langsung menyelam ke dunia mimpi.
Zevan yang melihat sang istri sudah tidur pun langsung menyusul, ia memeluk Shasa erat, seolah jika ia mengendorkan sedikit saja pelukannya maka wanita itu akan menghilang.
Plak...
"Jangan erat-erat, kasihan baby!"
"Awhh... Iya-iya, ini aku kendorin deh." Zevan mengendorkan pelukannya lalu mereka pun tidur dengan Zevan yang memeluk Shasa dari belakang.
•
•
•
Pagi ini seluruh anggota keluarga Algreat, Zergan, dan Gautama sudah siap untuk terbang ke Bali.
Mereka sengaja menggunakan pesawat pribadi supaya lebih cepat sampai. Mereka juga tak hanya menggunakan satu, tetapi ada dua pesawat.Hei! Memangnya kalian pikir mereka se-sedikit apa?
Pesawat pertama di isi oleh para orang tua, mereka berangkat lebih dulu karena para anak masih menunggu Haechal dan Zero yang entah kenapa belum sampai di bandara.
"Woy anak monyet!! Lo berdua dari mana aja hah?! Di tungguin dari tadi juga, lama amat." Kean tuh udah gak sabar buat sampai di Bali dan berwisata ke pantai, eh si Upin sama kak Ros malah telat datang.
__ADS_1
Zero memberikan koper dan tasnya para pramugari yang mendekati mereka, laki-laki itu terlihat begitu lelah dan berkeringat, seperti habis lari maraton aja.
"Nih, Haechal. Bawa mobil gak bener sampai nabrak lampu lalu lintas. Mana lampunya langsung jatoh lagi. Yang lebih parahnya lagi, dia ngajak gue buat lari gara-gara takut kena marah polisi. Gila nih anak emang." Zero ingin sekali mencekik Haechal ketika laki-laki itu menunjukkan cengiran bodohnya.
"Lha, kalian di kejar polisi?" Tanya Lulu.
"Iy_" Belum juga Zero menyelesaikan satu kata, tiba-tiba suara sirene polisi terdengar di luar bandara.
Haechal dan Zero saling pandang satu sama lain. "KABUR!!!" Sedetik berikutnya mereka langsung balapan naik ke dalam pesawat.
"WEH, TUNGGUIN!" Tak mau ikut terseret, Kean pun ikut masuk lalu di susul yang lainnya juga.
•
•
•
Sepupu-sepupu Zevan itu memang kocak-kocak, kelakuannya itu kadang gak manusiawi. Lihat aja sekarang, kamar di dalam pesawat udah kayak salon gara-gara ulah manusia-manusia random itu.
Wajah Nabila dan Kevan sudah tak berbentuk, terlihat seperti ondel-ondel dan itu semua berkat tangan ajaib Kean, Haechal, Zero, Xion dan juga Gabriel. Sedangkan Zio dan sepupunya yang lain terlihat anteng main kartu.
"Ih sayang, kok aku pengen juga ya kamu di dandanin sama mereka." Ucapan tiba-tiba Shasa itu jelas membuat mata Zevan melotot kaget, membuat ia menjatuhkan HP nya.
"Sayang, kamu bercanda kan?" Zevan sudah was-was nih.
Kelima sepupunya yang tadi tengah sibuk memakaikan pita rambut pada Kevan dan Nabila kini sudah menatap Zevan dengan senyuman lebar.
Haechal memegang spons lalu tersenyum menyeramkan kepada Zevan, "Sini bang, gue jamin Lo pasti bakal makin cakep. Percaya deh sama gue."
Zevan menatap Haechal tajam, "Jangan berani-berani kamu!"
"Sayang~ Ayolah." Shasa menunjukkan matanya yang terlihat berkaca-kaca di hadapan Zevan.
"Honey, you are kidding right?"
Shasa menggelengkan, "No, i'm not." Wanita itu menggenggam tangan sang suami erat. "Ayolah sayang, ini untuk baby."
__ADS_1
"Tapi..."
"Please..." Oh, mata indah yang berkaca-kaca, Zevan tak mungkin bisa menahannya.
"Okey, this ia for you and our baby." Baiklah, Shasa sedang mengidam dan Zevan harus menuruti nya.
Haechal dan Zero bersorak senang, ini adalah kesempatan emas untuk mereka, tak bisa di lewatkan. Jarang-jarang kan mereka bisa menjahili seorang Zevan Lioner Algreat.
"Ayo sini bang!" Kedua bocil kematian itu terlihat bersemangat sekali ketika menarik Zevan dari atas kasur.
"Santai aja woy!!" Hampir saja Zevan nyungsep gara-gara ulah kedua adiknya itu.
Kevan dan Nabila tak mau kalah, mereka mau Zevan bernasib sama seperti mereka karena laki-laki itu tadi selalu menertawakan mereka saat dirias.
"Pakai bedak yang tebal ya uncle, biar makin ganteng." Nabila tersenyum manis, menaburkan bedak bubuk pada wajah Zevan yang sudah penuh dengan foundation yang tadi di pakaikan oleh Haechal.
Baru saja bagian permulaan, wajah Zevan sudah di buat hancur oleh mereka.
Kean terlihat bingung memilih warna blush on untuk Zevan. "Pakek warna yang mana nih? Banyak banget warna blush on nya."
Haechal tersenyum jahil. "Pink mah udah biasa ye kan. Gimana kalau pakek hijau aja? Biar beda gitu, pasti bagus."
"Heh!! Bagus dari mana?!" Oh, Zevan tak bisa membayangkan bagaimana wajahnya jika mereka benar-benar memakaikannya blush on berwarna hijau.
"Ide bagus." Kean mulai memberikannya blush pada pipi Zevan, namun laki-laki itu memberontak hingga blush on nya terjoret kemana-mana.
"Xion!! El!!" Xion dan Gabriel langsung menahan tubuh Zevan supaya laki-laki itu berhenti memberontak, di bantu dengan Zero juga.
Zevan memang kuat, tapi kalau langsung lawan tiga gini mah, dia juga gak kuat.
Di tempat tidur Shasa sudah tertawa terbahak-bahak, tak lupa ia juga merekam momen itu dengan ponselnya, berniat mengirimkannya ke grup keluar. "Pasti bakal jadi pembicaraan panas selama setahun nih, hihihi."
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Bocil kematian emang nih anak.
__ADS_1