Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Kedatangan Jho


__ADS_3

Sudah setengah jam keduanya hanya duduk diam saling berhadapan dengan meja kecil yang menjadi pembatas di antara keduanya.


Hanya saling memandang, tak ada yang berinisiatif untuk membuka suara diantara keduanya.


Helaan nafas terdengar dari yang lebih muda, ia kembali meminum minuman yang sudah di siapkan oleh maid sebelum akhirnya mengalihkan atensinya sepenuhnya kepada pria yang duduk di hadapannya.


"Anda mendatangi saya, apakah ada hal yang penting tuan Jho?"


Jlep...


Anda? Tuan Jho? Apakah seasing itu?


Rasanya sakit, sungguh sangat sakit. Anaknya yang dulu selalu merengek manja kepadanya, kini duduk dihadapannya dengan tatapan dingin nan tajam.


"Bisakah kamu memanggil ku daddy? Seperti dulu," Tanyanya.


"Bisakah Anda mengembalikan rasa hormat dan kepercayaan saya, seperti dulu?" Bungkam, Jho bungkam.


Shasa memajukan wajahnya, kini ia menatap dekat wajah sang ayah yang sedikit tertunduk. "Bisakah Anda mengembalikan masa kecil saya? Bisakah Anda mengembalikan ibu saya? Bisakah Anda menghilang bekas luka yang telah Anda berikan kepada saya? Bisakah?"


Shasa terkekeh kecil ketika gelengan lah yang ia dapatkan. "Anda tidak bisa. Lantas bagaimana bisa Anda meminta saya untuk memanggil orang yang sudah membuang saya dengan sebutan daddy?"


Terdiam sejenak, Shasa meremat kuat ujung baju yang ia kenakan. "Anda telah membuang saya, Anda telah membuat saya kehilangan ibu saya. Lalu sekarang apa yang Anda inginkan? Anda ingin saya melupakan segalanya dan kembali menjadi putri mu yang penurut? TIDAK! ITU TIDAK AKAN TERJADI."


"Apakah Anda melihat tanaman disana itu tuan Jho?" Shasa menunjuk ke arah taman, lebih tepatnya pada tanaman yang sudah mati, yang berada tepat di bawah pohon mangga yang begitu besar.


"Tanaman itu adalah rasa hormat saya kepada Anda. Lalu pohon mangga itu, itu adalah ego Anda yang begitu besar. Sedangkan matahari di atas sana adalah kasih sayang dari Anda yang saya butuhkan, namun, ego Anda yang begitu besar menghalangi kasih sayang Anda sampai kepada saya hingga rasa hormat saya kepada Anda pun mulai mati dengan perlahan. Dan benda yang sudah mati, tidak mungkin hidup kembali. Apakah Anda mengerti?"


Tuan Jho mengangguk pelan. "Aku mengerti, namun, manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua, dan aku masihlah manusia. Jadi, maukah kamu memberikan hak ku?"


"Kesempatan kedua? Hahaha..." Shasa tertawa keras, menghapus air matanya yang sedikit keluar dengan jari telunjuknya. "Saya bahkan sudah memberikan Anda lebih dari seratus kesempatan, namun apa yang Anda lakukan? Anda menyia-nyiakannya begitu saja."


Yang lebih tua menarik tangan yang lebih muda untuk di genggam. "Sayang, kamu tahu sendirikan? Daddy terkena pelet. Daddy tidak sadar ketika melakukan semua yang membuat kamu sakit."


Shasa segera menarik tangan nya dari genggaman Tuan Jho. "Persetan dengan pelet! Jika dari awal Anda tidak memiliki niat untuk berselingkuh, semua ini tidak akan terjadi! Jika sejak awal Anda setia dan tidak suka bermain wanita, hal ini pasti tidak akan terjadi!!" Tuan Jho nampak terkejut, bagaimana Shasa bisa tahu? Bahkan Ayana sendiri pun tak tahu jika ia dulu suka sekali bermain wanita.


"Jangan hanya karena saya diam, maka saya tidak tahu apapun. Saya tahu semuanya, saya tahu! Mungkin hanya mommy saja yang terlalu bodoh, atau bahkan buta, makanya ia tak tahu tentang apa yang Anda lakukan dibelakang nya. Tapi saya tidak bodoh! Saya juga tidak buta asal Anda tahu saja!"

__ADS_1


Emosi Shasa semakin memuncak, bahkan wanita itu sudah mengeluarkan terlalu banyak air mata.


"Baiklah, aku tahu aku tidak bisa memperbaiki atau mengembalikan apapun kepadamu. Tapi soal ibumu, kamu tidak benar-benar kehilangan nya."


"Ya, aku tidak kehilangan ibuku. Dia masih ada di hatiku, untuk selamanya."


Tuan Jho menggeleng, "Kamu benar-benar tidak kehilangan dia, dia masih hidup."


"Apa maksudmu?"


"Mereka tidak memberitahu mu?" Tuan Jho malah balik bertanya.


Memberitahu apa? Tidak ada yang pernah membahas soal Ayana kepada Shasa sejak wanita itu terbangun dari pingsan nya.


Oh, s*al, sepertinya Tuan Jho lupa akan pesan dari Theo supaya tidak memberitahu Shasa tentang Ayana sebelum sang ibu benar-benar pulih





Sang suami yang sedang menyetir pun di buat tak nyaman akan tatapan sang istri. "Kamu kenapa sih? Kok natap aku gitu banget?"


"Aku pengen ketemu mommy."


"Oh, mommy kan ada di rumah. Nanti setelah check kandungan kita langsung pulang supaya kamu bisa ketemu mommy."


Shasa menggeleng, "Aku mau ketemu mommy Ayana, bukan mommy Keana."


Saat itu juga Zevan merasa bahwa ia kehilangan suaranya, tenggorokannya tercekat. Ia diam, tak tahu harus menjawab apa.


Theo sudah bilang untuk jangan memberitahu Shasa dulu tentang Ayana, Theo tak mau menambah beban pikiran kakaknya yang tengah hamil tua.


"Kok diem? Aku mau ketemu mommy Ayana!" Shasa sedikit menggoyangkan bahu Zevan.


"Sa_sayang, maksud kamu apa sih?" Zevan berusaha untuk tidak terlihat gugup, namun tetap saja sulit.

__ADS_1


"Jangan coba-coba bohong, aku tahu kok. Mommy masih hidup kan? Sekarang mommy dimana? Aku mau ketemu mommy!"


"Darimana Shasa tahu soal mommy Ayana? Oh apakah si tua itu yang mengatakannya? S*al dasar mulut ember!!"


Zevan menghela nafas pelan, "Kamu bisa ketemu mommy Ayana, tapi tidak sekarang."


Shasa semakin merapatkan tubuhnya pada Zevan. "Tapi kenapa? Aku pengen ketemu mommy sekarang!"


"Sayang, dengerin aku ya. Mommy kamu masih sakit, dia butuh perobatan insentif. Nanti kalau mommy sudah benar-benar sembuh, kamu pasti bisa kok ketemu sama mommy." Di usapnya tangan sang istri pelan, memberikan sedikit pengertian.


"Jadi, kamu jangan nakal oke? Kalau nakal, nanti tidak bisa bertemu mommy." Shasa mengangguk walaupun dengan wajah cemberut, sangat menggemaskan seperti anak kecil.





Kehilangan ayah dan ibunya dalam waktu bersamaan, tentu saja Faza pasti merasa sedih bukan? Namun, ayah dan ibunya memang pantas mendapatkan semua itu.


Dendam? Tentu saja tidak. Faza cukup sadar diri, anggap saja ini adalah karma untuk kedua orang tuanya, ia rela.


Disaat-saat terpuruknya seperti ini, untungnya masih ada Lia yang setia menemaninya. Gadis itu selalu menjadi sandaran dan rumah ternyata untuk Faza.


Ia sangat menyesal karena sempat berpikir untuk meninggalkan Lia dan memulai hidup yang baru dengan adik tirinya, Shasa yang jelas-jelas sudah memiliki kehidupan sendiri.


"Terimakasih, terimakasih untuk semuanya. Terimakasih telah menerima laki-laki egois ini dalam hatimu dan mencintainya tanpa memandang masa lalunya. Terimakasih banyak."


"Hei, apa yang kamu lakukan? Jangan berterimakasih, aku mencintaimu, dan ini adalah caraku untuk membuktikan cinta ku padamu."


Faza semakin mendekap erat wanita yang ada di pelukannya itu, "Terimakasih, dan maaf atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan."


"Aku sudah melupakannya, aku sudah melupakan segalanya, jadi jangan meminta maaf lagi."


Oh, ada bidadari di sampingnya dan Faza baru menyadarinya sekarang? Kemana saja ia selama ini?


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1



"Aku memang br*ngsek, namun Tuhan begitu baik hingga ia mengirimkan salah satu bidadari nya untuk lelaki breng*ek seperti ku." -Faza


__ADS_2