
Karena berita itu yang menyebar dengan cepat, semua orang yang ada di kantor langsung memperlakukan nya dengan istimewa. Semua yang ia inginkan langsung di turuti seperti merubah sedikit style yang akan ia pakai untuk pemotretan, padahal biasanya ia harus berdebat dulu dengan sutradara soal hal itu, namun sekarang tidak.
Semua perlakuan baik dari mereka membuat Shasa jadi tidak enak hati, maksudnya, ia dan Zevan belum benar-benar resmi membangun sebuah hubungan dan ini rasanya seperti Shasa tengah membohongiku banyak orang.
Shasa cukup terkejut, ternyata hari ini Zevan telah kembali ke perusahaan, bahkan laki-laki menyempatkan diri untuk mendatanginya sambil membawakan makan siang.
"Ayo makan dulu, ini sudah jam nya makan siang." Laki-laki itu tersenyum, membuat semua orang yang ada di sana yakin jika Zevan dan Shasa menjalin sebuah hubungan. Pasalnya, Zevan itu tak pernah tersenyum pada siapapun, bahkan pada keluarganya saja jarang sekali.
"Makasih, tapi aku harus berganti baju sebentar."
Zevan mengangguk paham, "Baiklah, kita makan di ruang ganti saja."
Shasa melongo mendengar apa yang Zevan katakan, apalagi ketika laki-laki itu menggandeng tangannya.
"Berganti bajulah, aku akan menunggu mu disini." Zevan mendudukkan diri di sofa bersama beberapa barang Shasa yang sedikit berserakan.
"Ba_baiklah..."
Shasa mengambil baju-baju nya, lalu membawa tumpukan kain ke sebuah tempat ganti baju yang tertutup tirai melingkar.
Tirai itu menutupi dari atas hingga di bawah lutut saja, jadi jika Shasa berganti pakaian, maka Zevan akan bisa melihat kakinya yang di bawah.
Sebenarnya itu tidak masalah jika Zevan bukankah laki-laki normal, namun sayangnya Zevan adalah laki-laki normal yang mudah tergoda jika di suguhi pemandangan kaki telanj*ng Shasa walaupun hanya sesaat.
Laki-laki itu langsung memalingkan wajahnya yang memerah, "****, indah sekali, padahal hanya kaki nya saja."
Padahal Zevan biasanya cuek saja dengan perempuan, bahkan jika mereka t*lanjang bulat di hadapannya pun ia tidak akan meliriknya, kejantanan cuek tak bereaksi apapun. Namun kali ini berbeda, hanya melihat kaki mulus Shasa saja sudah membuat ia keras.
Zevan terlalu sibuk berdebat dengan pikiran kotornya hingga tiga sadar jika Shasa sudah selesai ganti baju, kini wanita itu menegaskan celana jeans panjang dengan kaos putih yang di padukan dengan cardigan berwarna hitam sebagai atasannya.
Pakaian yang Shasa gunakan hanya pakaian santai saja, toh setelah ini ia tak ada jadwal lagi.
"Apakah aku lama?" Zevan tersentak ketika mendengar suara lembut Shasa yang duduk tepat di sampingnya.
"Tidak, tidak lama sama sekali."
Zevan mengambang kotak bekal yang ia bawa, lalu memberikannya kepada Shasa. "Ini mommy masak sendiri khusus untuk kamu, makan sampai habis ya."
"Tentu saja, sampaikan rasa terimakasih ku kepada mommy ya."
Mereka berdua makan dengan khidmat, menghabiskan bekal dan beberapa camilan yang Keana buat.
Selesai makan, mereka rehat sebentar, bersandar pada sofa dengan mata yang menatap lurus ke depan.
"Setelah ini kamu tidak ada pemotretan kan?" Tanya Zevan pada Shasa.
"Tidak ada, kenapa?" Shasa menatap Zevan.
"Ingin pergi jalan tidak? ketempat manapun yang kamu suka, aku bakal turutin." Zevan balas menatap Shasa.
"Benarkah?"
"Tentu saja." Zevan terlihat sangat yakin, membuat Shasa terkekeh.
"Bagaimana jika aku ingin keluar Negeri?"
"Aku memiliki pesawat pribadi yang bisa langsung membawa kita ke sana."
"Oh ya, aku lupa jika dia ini adalah Zevan Lioner Algreat."
Shasa kembali membawa pandangan untuk menatap depan. Tiba-tiba wanita itu berdiri membuat Zevan kebingungan.
"Ayo." Laki-laki itu bingung sehingga yang keluar dari mulutnya hanya kata 'Hah?'
"Katanya mau jalan? Ayo jalan."
"O_oh, tentu saja." Zevan langsung berdiri, sedangkan Shasa terkekeh geli, entah menertawakan apa. Mungkin menertawakan Zevan yang terlihat gugup.
Beberapa karyawan yang mereka lewati ketika hendak keluar dari perusahaan terus menatap mereka, lalu saling bergosip.
"Wah, ternyata CEO bukanlah orang belok seperti yang di rumorkan, buktinya ia berpacaran dengan model ternama, Kesha Anarga."
__ADS_1
"Huhuhu~ Kalau saingan nya gini sih, aku bisa apa?"
"Udahlah, kalau gak dapet CEO, anaknya kak Kesha juga ganteng."
"Ck, apaan sih, palingan juga pakek pelet tuh model si*lan."
"Iri bilang kalik, gak usah fitnah-fitnah orang!"
Masih banyak lagi yang karyawan-karyawan Zevan katakan, namun keduanya memilih acuh saja, toh itu tak mengganggu mereka sama sekali.
•
•
•
Zevan pikir Shasa akan minta di ajak ke mall untuk shopping, atau benar-benar pergi keluar negeri. Namun, ia salah. Ternyata Shasa hanya mengajaknya ke taman hiburan.
"Kevan kalau aku ajak ke sini selalu saja memasang wajah datar, jadi aku harap kamu tidak."
Zevan hanya mengangguk patuh. Ngomong-ngomong soal Kevan, bocah umur lima tahun itu sedang di culik oleh Ziva.
Kembaran Zevan itu tadi pagi tiba-tiba datang ke kantor lalu membawa Kevan pergi, ia membawa bocah itu tanpa izin, membuat Shasa panik setengah mati.
"Kamu sangat suka tempat ini?"
"Tentu saja, aku selalu merasa bebas dan kembali muda jika berada di sini."
Zevan menelisik tempat itu, melihat beberapa kedai yang nampak ramai pengunjung hingga antreannya cukup panjang.
"Apakah 2 Triliun cukup untuk membeli tempat ini?"
•
Shasa mengajak Zevan menaiki beberapa wahana, Shasa terlihat sangat senang, maka Zevan pun ikut senang.
Selain menaiki wahana-wahana, mereka juga membeli beberapa makanan seperti corn dog dan yang lainnya walaupun harus antre sih.
Pada hari pertama datang ke Indonesia dulu Shasa tidak memakai penutup wajah ketika datang kesini, untuk karena ia belum terlalu di kenal di sini. Namun sekarang beda lagi ceritanya.
"Masih ingin menaiki wahana lain?"
"Tentu saja, tapi aku masih lelah."
"Yasudah, istirahatlah sebentar." Zevan membawa kepala Shasa untuk bersandar pada bahu lebarnya.
Keduanya menatap keramaian dengan perasaan damai, semilir angin yang menerpa wajah membuat keduanya memejamkan mata sesaat.
•
•
•
Ziva pusing dengan kelakuan Kevan. Ia hanya ingin mengajak keponakannya itu bermain layaknya bocah umur lima tahun pada umumnya, namun bocah itu lebih memilih bermain dengan tablet.
Tak masalah jika Kevan memainkan permainan biasa, namun bocah itu malah mengecek saham lalu meretas beberapa hal yang ia inginkan.
"Aduh keponakan ku tersayang, ayo sini main sama aunty, jangan liat gadget terus!"
Bocah itu menggeleng untuk yang kesekian kalinya, "Gak tertarik aunty."
Ziva heran, sebenarnya apa yang adik kembarnya tambahkan ketika ketika ia dan Shasa membuat Kevan? kenapa sikap bocah ini begitu dingin dan membosankan? Menyebalkan sekali.
•
•
•
Puas bermain, keduanya memutuskan untuk singgah di sebuah cafe terdekat untuk menikmatinya makanan manis kesukaan Shasa.
__ADS_1
Namun, siapa sangka jika di sana mereka malah bertemu dengan Rey tanpa di sengaja.
"Hai, Sha. Lama tak bertemu, bagaimana kabar mu?"
"Tidak selama itu juga, dan kabar ku baik, Kakak sendiri bagaimana?"
"Aku baik."
Shasa tersenyum canggung, ia ingin menyudahi obrolan basi mereka, namun Rey terus saja berbicara membuat Shasa tidak bisa mengatakan apapun selain menjawab 'iya' dan 'tidak' .
Rey terus saja mengajak Shasa berbicara, ia tak memperdulikan aura gelap yang menguar dari Zevan.
"Tuan Orion Reyhan, bisakah anda menyudahinya obrolan ini? Saya dan kekasih saya ingin menghabiskan waktu bersama." Zevan merangkul pinggang Shasa, menegaskan pada Rey bahwa wanita itu adalah miliknya.
"Kekasih?! apakah berita itu benar?" Rey tampak terkejut, dan Shasa hanya mengangguk saja. Ia tidak berbohong dengan mengangguk oke, karena ia tidak menjawab 'iya, kami berpacaran.'
Zevan tersenyum miring melihat bagaimana terkejutnya Rey, ia pun menyentuh pundak laki-laki itu lalu berbisik. "Jauhi kekasihku, atau karirmu akan jauh lebih kacau dari ini."
Model tampan itu membolakan matanya terkejut, karirnya sekarang memang sedang terancam karena ada rumor tak baik tentang nya. Juga karena sebuah perusahaan besar yang tiba-tiba membatalkannya kontrak dengan nya, apakah itu adalah Algreat Group?
"Ayo sayang." Zevan mengandeng tangan Shasa, membawa gadis itu menuju sebuah meja kosong, meninggalkan Rey yang mematung sendiri.
Zevan langsung memanggil pelayan ketika ia dan Shasa sudah duduk di tempat masing-masing.
Shasa memesan beberapa makanan manis dan kopi susu, sedangkan Zevan hanya memesan kopi hitam tanpa gula.
"Apa yang kamu katakan padanya sampai mematung seperti itu." Shasa melirik Rey yang masih mematung hingga dirinya di tegur oleh karyawan cafe.
"Tidak ada, hanya sesuatu yang tidak penting saja, jangan di pikirkan."
Wanita cantik yang berprofesi sebagai model itu hanya mengangguk paham, ia melihat sekeliling sampai tidak sadar jika Zevan memasangkan sebuah cincin di jari manisnya. Ia tersadar ketika laki-laki itu mencium lembut punggung tangan nya.
"A_apa ini?"
"Cincin keluarga yang di berikan kepada menantu perempuan pertama keluarga Algreat, kalau di generasi sekarang, itu berarti adalah istri ku."
"Lalu kenapa di berikan kepada ku?" Shasa tak mengerti, mereka bahkan tidak memiliki hubungan yang spesial.
"Karena aku ingin kamu menjadi menantu pertama keluarga Algreat, menjadi istri ku. Ibu dari anak-anakku, pasangan hidup ku yang sangat aku cintai. Will you merry me?"
Shasa begitu terkejut, ini sangat tiba-tiba sekali, ia tak tahu harus menjawab apa. Ajakan Zevan untuk berpacaran saja belum ia jawab, dan ini malah ajakan untuk menikah?!
"Bu_bukankah ini terlalu cepat? kita bahkan tidak memiliki hubungan apapun."
"Tidak, ini tidak terlalu cepat. Usia kita sudah sangat matang untuk membangun sebuah pernikahan. Dan perasaan, aku mencintaimu."
Zevan menggenggam tangan Shasa, ia melihat keraguan dari pancaran mata wanita nya. "Kamu masih belum mencintai ku ya?"
"Tidak, bukan seperti itu."
"Jadi kamu mencintaiku?"
Shasa diam, sejujurnya ia tak tahu harus menjawab apa. Ia butuh waktu.
"Bagaimana dengan Kevan? kamu akan menyayangi seperti anak mu sendiri?"
"Tentu saja." Karena Kevan kan memang anak kandung Zevan.
"Boleh aku meminta waktu? 4 hari, aku akan memikirkan nya."
"Tidak masalah, aku bisa menunggu selama apapun untuk mu."
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Rey
Ganteng bgttttttt
Couple kita
__ADS_1