
Pagi ini Shasa datang ke pemotretan dengan mata pandanya, karena ya, lagi-lagi ia tidak bisa tidur sampai pagi. Ia tidur sekitar jam 2 pagi dan bangun jam 5 subuh, benar-benar tidur yang singkat.
Levy sebagai sahabat pun sudah mencegah Shasa untuk tidak pergi syuting, melihat mata pandanya dan gerakan tubuh Shasa yang terlihat lesu, ia takut jika sahabatnya itu nanti kenapa-napa.
"Astaga, nona Shasa kantung mata anda hitam sekali." Bahkan perias nya saja mengomentari mata panda Shasa yang terlihat lebih hitam dari biasanya, ia bahkan harus mengenakan bedak yang sedikit tebal untuk menutupi mata panda nya itu.
Si model cantik hanya tersenyum, ia tak mengatakan apapun tentang mata panda nya ini, itu adalah privasinya.
•
•
•
Seperti biasa, Zevan setiap pagi akan mendatangi Shasa untuk mengucapkan selamat pagi. "Good morning sweet heart."
Shasa tersenyum tipis untuk menghormati Zevan, ia pun membalas sapaan laki-laki itu. "Morning."
"Kamu terlihat tidak bersemangat, apa kamu sudah sarapan?"
Wanita itu mengangguk pelan, ia sudah sarapan, tapi ia hanya menghabiskan setengah dari sarapan nya saja. Ia tak berselera untuk makan.
"Baiklah, tapi kamu terlihat tidak baik-baik saja, ingin aku antar ke rumah sakit?" Shasa menggeleng, "Tak usah."
"Aku memaksa, ayo kita kerumah sakit setelah pemotretan mu selesai. Aku akan di sini menunggu mu."
Karena dasarnya Zevan memang keras kepala, jadilah laki-laki itu menunggu Shasa hingga benar-benar selesai pemotretan. Padahal seharusnya Zevan hari ini ada meeting penting, namun ia malah menyuruh sekertaris nya saja yang menghandle.
Zevan di sana juga tidak hanya dia, ia mengerjakan tugasnya yang ada di laptop. Oh, ia tentu menurut sekertaris nya mengambilkan laptop untuknya sebelum pergi meeting.
Beberapa kru bahkan sutradara yang ada di sana di buat tegang dengan keberadaan Zevan, mereka jadi sungkan mengomentari Shasa jika ada yang salah, dan Shasa tentu menyadari hal itu, ia pun menghela nafas. "Berkomentar lah jika ada yang salah."
"A_itu, semuanya sudah bagus, tak akan yang perlu di komentar. Kesha Anarga tak mungkin melakukan kesalahan dalam pemotretan." Sutradara itu tertawa canggung, pasalnya Zevan langsung menatapnya tajam setelah Shasa mengatakannya hal tadi.
Laki-laki berstatus CEO itu tersenyum bangga, tentu saja Shasa itu selalu perfect di matanya.
Sang model lagi-lagi menghela nafas, sedangkan Tara hanya terkekeh, mereka lucu dengan apa yang tengah ia lihat.
•
•
•
"Insomnia, terlalu banyak pikiran, kelelahan, nafsu makan turun, ini yang kamu bilang baik-baik saja?" Zevan berkacak pinggang, ia terlihat seperti seorang ibu yang tengah memarahi anaknya yang bandel.
Mengalihkan pandangan, si cantik tak mau menatap mata Zevan yang tengah menatapnya intens. Laki-laki itu pun menghela nafas, "Apa yang membebani pikiran mu hingga seperti ini?"
"Kamu, kamu yang membuat pikiran ku terbebani."
Seolah bisa mendengar suara hati Shasa, Zevan berkata, "Jika kamu masih berpikir bahwa aku akan merebut Kevan dari mu, maka kamu salah. Aku mencintaimu, aku ingin kamu dan Kevan, berapa kali aku harus bilang?"
"Hiks..." Akhirnya air mata Shasa turun juga, wanita itu sontak memeluk Zevan dan meredam tangisannya di dada bidang sang ayah dari anaknya. Ia tak peduli jika mereka masih di lorong rumah sakit saat ini.
"Aku benar-benar takut, Kevan sekarang lebih dengan mu dan keluarganya mu daripada aku hiks... Aku takut jika kalian akan membawanya pergi."
Zevan memeluk Shasa dengan erat, "Tidak akan ada yang merebut Kevan dari mu, baik itu aku, keluarga ku atau orang lain."
Shasa memeluk Zevan semakin erat, ia harap semua yang laki-laki itu katakan adalah benar.
__ADS_1
•
•
•
Zevan mengajak Shasa untuk berkumpul dengan seluruh anggota keluarganya untuk menyakinkan wanita itu bahwa apa yang ia katakan adalah benar.
"Kalian semua, jika Shasa tidak mau menikah dengan ku, apakah kalian berniat merebut Kevan darinya?"
Tanpa pikir panjang semua orang yang ada di sana menggeleng serentak, terutama Keana, "Merebut seorang anak dari ibunya? aku tidak akan melakukan itu, karena aku juga seorang ibu. Aku tahu bagaimana hancurnya seorang ibu jika di jauhkan dari anaknya sendiri."
Mendengar jawaban Keana membuat Shasa tanpa sadar merasa tersentuh, mata wanita itu sudah berkaca-kaca.
Ziva yang peka pun langsung memeluk Shasa, "Hei, jangan takut, kami ini orang baik. Kami tidak akan merebut Kevan dari mu, tenang saja."
"Memangnya kak Shasa gak mau ya sama kak Zevan? Zero gak jadi punya kakak ipar cantik dong." Zero menunjukkan wajah sedih seperti anak anjing terlantar.
"Loh, Shasa gak mau sama Zevan?" Itu kakak ipar Keana yang berbicara.
"Yah, padahal aku udah nungguin undangan pernikahan kalian lho." Kakak angkat Keana, Keyla namanya.
Shasa jadi bingung sendiri liat wajah-wajah kecewa keluarga Zevan. Rasanya ia gak enak hati, tapi... "Aku belum tahu, tapi mungkin lusa aku akan memberikan jawaban ku."
"Nah, pas banget tuh. Bang El sekeluarga bakal balik lusa kan?" Celetuk Keane yang di angguki oleh mereka. Sedangkan Shasa hanya diam dengan alis berkerut, ia tidak tahu siapa itu Bang El yang aunty dari Zevan itu maksud.
•
•
•
Sebenarnya ia sudah mendapatkan jawaban itu 180 menit yang lalu ketika ia dan Zevan berada di rumah sakit, ketika laki-laki itu memeluknya erat di lorong rumah sakit.
Namun, Shasa hanya ingin memantapkan hati, karena pernikahan itu bukan main-main. Pernikahan hanya boleh terjadi sekali seumur hidup, jadi Shasa harus memikirkan nya matang-matang.
"Hei, diem aja, gak ikut renang bareng yang lain?" Lulu merangkul Shasa, perempuan itu sudah siap dengan baju renang nya.
Yang di ajak bicara hanya menggeleng, lalu tersenyum tipis, "Enggak deh, aku mau istirahat."
Lulu ingin membujuk Shasa untuk ikut ia dan yang lainnya berenang, namun Zevan tiba-tiba mendekat, membuat ia mengurungkan niatnya. "Ya udah deh, aku duluan ya."
Perempuan itu sempat menepuk bahu Zevan sebentar sebelum ia benar-benar pergi ke kolam renang.
Zevan melirik sang sepupu sebentar, lalu kembali menatap Shasa. "Istirahat di kamar aku saja, kamar tamu udah di isi sama mereka semua."
Shasa hanya pasrah saja ketika Zevan menariknya pergi dari sana, tanpa mereka ketahui, para sepupu Zevan tengah menatap mereka dari kolam renang.
"Haduh... kembaran nya Ziva bisa aja bohong nya." Kean menggelengkan kepala maklum.
"Berbohong dengan sangat mulus ya bund, padahal kamar tamu di sini ada 40 kamar lebih," Ucap Gio.
"Biasalah, keturunan grandma Nayla!"
"HAHAHAHA" Suara tawa mereka begitu ramai hingga para orang tua yang berada di dalam ruang dibuat geleng-geleng kepala.
•
•
__ADS_1
•
Shasa berbaring di kasur atas arahan Zevan, laki-laki itu menaikan selimut untuk nya. "Kamu ingin minum dulu atau langsung istirahat."
"Aku langsung istirahat aja."
"Baiklah." Zevan mengangguk, kemudian ia beranjak ia pergi dan membiarkan Shasa istirahat dengan tenang. Namun, tiba-tiba wanita itu menahan tangan nya.
"Jangan pergi, temani aku di sini?"
Satu alis laki-laki itu terangkat, "Kamu yakin? kamu gak risih kalau aku di sini?"
Si model cantik menggeleng pelan, "Ikut tidur di samping ku ya."
Oh, rasanya seperti kejatuhan segepok uang di siang bolong, Zevan merasa senang. Hatinya berbunga-bunga hingga ia tidak tahan untuk terus tersenyum.
Laki-laki itu tentu langsung melakukan apa yang Shasa suruh sebelum ibu dari anaknya itu berubah pikiran. Shasa pun mati-matian menahan malu, ia menutup setengah wajahnya dengan selimut supaya Zevan tak melihat wajah memerah nya.
"Hei, kenapa wajahnya di tutup gitu? nanti kamu susah nafas." Zevan menarik turun selimut dari wajah Shasa, namun perempuan itu langsung menahannya. Tak tahukah Zevan jika sekarang pipi Shasa tengah memerah karena malu?
"Ken_"
Grep...
Zevan mematung di tempat ketika Shasa tiba-tiba memeluknya erat, "Boleh aku tidur sambil memeluk mu?"
"Hah?" Otak cerdas Zevan berhenti berfungsi untuk sesaat sebelum ia mengangguk kaku, "Y_ya, tentu saja."
Shasa tersenyum tipis dalam pelukannya, ia pun mengeratkan pelukannya pada Zevan yang di balas tak kalah erat oleh laki-laki itu.
Keduanya mulai menjelajahi alam mimpi tanpa menyadari bahwa ada banyak sekali pasang mata tengah mengintip mereka dari luar kamar.
"Wow, lampu ijo nih," Ucap Gio yang berjongkok paling bawah, di atasnya, sepupunya yang lain mengangguk setuju.
"Yes, jadi punya kakak ipar cantik kayak kak Shasa." Zero senang sekali, ia akan memiliki kakak ipar cantik nan baik hati yang bisa di pameran pada teman-temannya di sekolah nanti.
Di sisi lain Ziva merasa terancam, bukan apa. Jika Zevan dan Shasa sudah menikah nanti, ia pasti jadi sasaran seluruh tetua keluarga untuk segera menikah, pasalnya ia ini anak tertua walau hanya beda beberapa menit saja dengan Zevan.
Haduh, harus siap-siap jadi bulan-bulanan nih Ziva.
"ASTAGA! KALIAN SEMUA INI!! LANTAINYA JADI BASAH TAU!"
Mereka semua langsung berhamburan melarikannya diri melihat Keana sudah berdiri di depan mereka dengan tangan di pinggang, wanita setengah baya itu terlihat sangat marah. Kenapa tidak? bahkan mereka belum mengeringkannya tubuh membuat lantai rumah menjadi basah dan licin.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, menghela nafas sebentar. "Sudahlah, biar maid yang membersihkan nya."
Mata tajamnya melirik sekilas kamar sang anak, "Mengintip pasangan yang sedang bermesraan itu dosa tau," Monolog nya lalu terkekeh. Ia pun menutup pintu kamar Zevan yang sedikit terbuka karena ulah bocah-bocah nakal itu.
Keana turun ke lantai bawah dengan senyuman riang, padahal tadi ia terlihat sangat marah.
"Hihihi, akhirnya punya mantu juga."
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Ada yang masih ingat dia gak? Sekarang udah kakek-kakek hihihi.
__ADS_1
Zevan buat aku aja deh, ganteng banget soalnya 😭