
"Ah...Shh..." Shasa meringis pelan merasakan nyeri pada sekujur tubuhnya. Ouh, ini sangat sakit, rasanya Shasa ingin menangis sekarang juga.
Pandangan wanita itu bergulir kesana kemari dengan gelisah, mencari seseorang. Namun, disana tidak ada seorangpun yang menjaga Shasa.
Wanita itu sempat berfikir, apakah dirinya masih di culik? Tapi, kamar ini terlihat tidak asing. Bukankah ini kamar milik suaminya yang berada di kediaman sang mertua?
Suara percikan air dari dalam kamar mandi membuat Shasa menoleh sekilas, "Apakah itu Zevan? Dia sedang mandi huh?"
Selanjutnya Shasa memilih untuk mendudukkan diri, menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang dan memejamkan mata.
Cklek...
Suara pintu kamar mandi yang di buka. Shasa membuka matanya, ia hanya melihat tanpa membuka suaranya ataupun membuat sebuah pergerakan.
Zevan berjalan melewati Shasa begitu saja menuju lemari besar di samping ranjang. Laki-laki itu terlihat sibuk mengeringkan rambutnya sampai-sampai tak menyadari jika sang istri telah sadar.
Dengan amat sangat begitu santainya, Zevan melepas handuk yang mengantung di pinggang nya lalu membuka lemari untuk mencari baju untuk dipakai.
Keadaan kedua mata Shasa sudah tak terkondisikan lagi, matanya melotot sampai mau keluar karena melihat apa yang terpampang didepan matanya.
"Woaw! Bahu yang lebar nan kokoh." Ucapan Shasa sontak membuat baju yang ada di tangan Zevan terjatuh. Laki-laki itu menoleh dalam hitungan detik dan..."AAAAAAA." Zevan berteriak nyaring seperti seorang banci.
•
•
•
Setelah kejadian pagi itu, rasanya Zevan benar-benar sudah tak memiliki muka di depan sang istri tercinta. Dirinya yang menjerit seperti perempuan, itu sungguh menjijikkan.
Jika bisa, rasanya Zevan ingin sekali bersembunyi didalam sebuah lubang sekarang juga.
"Muka kamu kenapa Zev? Kok merah gitu?" S*al, kenapa Keyla harus bertanya sih? Tak tahukah dia jika Zevan masih menahan malu saat ini?
__ADS_1
"G_gapapa aunty, Zevan baik." Shasa tertawa kecil melihat tingkah Zevan yang tak biasa. Ia tentu tahu apa yang membuat wajah laki-laki itu memerah semu bak kepiting rebus.
Theo menaikan alis curiga, "Heh buaya! Lo gak selingkuh kan?" Ia merangkul Zevan sambil menatap laki-laki itu dengan tatapan mengerikan.
"Never."
"Di mulut boleh never, tapi di hati... ALWAYS!" Gio tergelak senang ketika Zevan menatapnya tajam. Oh, Gio tak akan takut, disini ada pawangnya soalnya. Yah, siapa lagi jika bukan sang ratu Kesha Lovely Algreat dan ibu negara Keana Lauren Algreat.
"Bang, ati-ati nanti malem kalau mau tidur. Takutnya besok gak bisa bangun lagi, soalnya tatapan bang Zevan keliatan kayak mau bunuh orang." Zero menepuk bahu Gio pelan.
"Entar malem gue tinggal tidur sama pawangnya aja, pasti gue aman."
"ULANG SEKALI LAGI, BESOK GIO ALFIAN ZERGAN BAKAL TINGGAL NAMA!" Bukan hanya Zevan, namun Levy juga turut berteriak dan menatap tajam laki-laki itu.
Sang oknum yang telah membuat Zevan dan Levy kesal hanya memasang senyuman lebar dengan wajah polos.
Theo mendekati Shasa, ia berbisik pada sang kaka sebentar. "Ayahmu ingin bertemu, apakah kau mau? Jikapun tidak, aku tidak akan memaksa."
"Nanti aku atur waktunya, tunggu kakak sembuh dulu."
Shasa kembali mengangguk dan tersenyum kepada sang adik, "Terimakasih adikku sayang."
•
•
•
Ayana masih tak sadarkan diri sejak kemarin. Theo tak tahu apa saja yang telah dilakukan oleh orang-orang biadab itu kepada ibunya hingga keadaan sang ibu begitu lemah seperti sekarang. Tubuhnya begitu kurus, Theo bahkan tak kuasa untuk melihat tulang pipi sang ibu yang terlihat jelas.
Theo sengaja tidak membawa Ayana ke kediaman Algreat, ia langsung meminta anak buahnya untuk membawa ibunya ke rumah sakit dan di letakkan di ruangan pribadi setelah mereka kembali dari bangunan tua itu.
Theo meminta Zevan dan yang lain untuk tutup mulut, ia tak mau ada seorangpun yang tahu bahwa ibunya masih hidup sebelum wanita itu benar-benar sembuh, bahkan Shasa sekali pun.
__ADS_1
Ia tahu jika Shasa pasti senang jika ia bertemu lagi dengan ibunya, namun tidak dengan keadaan sang ibu yang seperti ini.
Di genggam nya tangan kurus itu dengan perlahan, seolah jika ia sedikit saja menekan nya, maka tangan itu akan rusak.
"Mommy, wake up. Ini sudah pagi, bangunlah mom. Theo rindu mommy, sangat-sangat rindu." Walaupun Theo tak pernah bertemu dengan Ayana selama ini, namun ia bisa merasakan rasa rindu yang begitu mendalam ketika menatap wanita yang telah melahirkannya itu.
Tidak, Ayana tentu tidak membuang putranya. Hanya saja, wanita itu dikabarkan meninggal pasca melahirkan Theo. Semua orang tentu percaya, apalagi ada bukti nyata berupa jasad Aya saat itu.
Sejak kematian palsu Aya itu, Theo di urus oleh Shasa di rumah ayahnya. Namun ayahnya selalu menolak keberadaan anak dari Istrinya itu.
Sebulan setelah itu, Shasa memutuskan untuk membawa Theo pergi dari rumah sang ayah. Satu-satunya harapan Shasa saat itu hanyalah Bi Lina, pembantu pribadi ibunya yang sangat setia, namun sayangnya wanita itu pensiun dua tahun lalu. Shasa tak tahu apa alasannya, padahal Bi Lina masih tergolong muda.
Bi Lina menerima kehadiran keduanya dengan tangan terbuka. Namun berita buruknya, wanita baik itu kini telah kembali ke pangkuan yang maha kuasa. Dia sudah tenang di atas sana.
Theo segera mengusap air matanya ketika kenangan masa lalu kembali menghampiri nya, ia tersenyum sambil memandang sendu sang ibu. "Mom, mommy tahu tidak? Kak Shasa sudah berkeluarga lho. Suaminya itu Zevan Lioner Algreat, anak dari teman mommy waktu kuliah. Mereka sudah punya anak, namanya Kevan Ziovanso Algreat, kakak juga tengah hamil lagi sekarang."
Laki-laki itu terdiam sesaat, memandang lamat-lamat wajah sang ibu dengan penuh kerinduan. Air matanya hampir saja menetes jika seseorang tidak memegang bahunya secara tiba-tiba.
Ia menoleh dan mendapati Jho yang tersenyum hangat ke arahnya, "Jangan nangis, kamu harus kuat. Hidup itu memang berat, namun ada saat dimana kamu pasti merasakan bahagia hingga nya hidup yang berat ini sudah tak terasa lagi."
Theo tak menjawab, namun percayalah. Ia tengah menatap kagum pada sosok Jho. Ternyata laki-laki itu adalah pria yang dewasa dan bijaksana ketika ia tak berada di bawah pengaruh pelet si wanita ular.
"Maaf karena aku telah lancang masuk, tapi aku ingin menemui wanita yang paling aku cintai, apakah boleh?"
Yang lebih muda mengangguk pelan, "Bagaimanapun, kau tak sepenuhnya salah di sini."
Jho tersenyum hangat, sangat hangat sampai Theo merindukan sosok seorang ayah.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Dia siapa sih? Ada yang kenal gak?🤭
__ADS_1