Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Keluarga Shasa?


__ADS_3

Pelukan erat di pinggang nya membuat Shasa tak bisa bergerak kemanapun. Seharusnya sebentar lagi ia masih ada pemotretan, namun Zevan malah menahannya di sini, di ruangan laki-laki itu.


"Sayang, aku masih ada pemotretan lho."


"Iya," Namun Zevan masih memeluk Shasa erat.


Model cantik itu sudah mencoba mendorong Zevan menjauh, namun laki-laki itu malah semakin erat memeluknya.


Shasa bisa merasakan hembusan nafas Zevan di lehernya, dan itu membuat ia geli. "Sayang," Panggil laki-laki.


"Iya?"


"Aku sebenarnya gak mau maksa kamu, tapi bagaimana dengan keluarga kamu? Keluarga kamu juga penting untuk pernikahan kita, nanti siapa yang jadi wali kamu saat pernikahan kita?"


Sebenarnya Zevan sudah mendengar cerita dari mulut Kevan, namun ia ingin mendengar langsung dari mulut tunangan nya.


Wanita cantik itu terdiam, ia sebenarnya masih berat untuk membicarakan keluarga nya dengan Zevan atau orang lain.


Zevan tentu paham, pada akhirnya ia kembali mengalah. "Baiklah, tidak perlu jika kamu tidak mau, aku mengerti."


"Maaf," Shasa merasa bersalah.


Zevan tersenyum, tangan berurat nya mengusap pelan rambut Shasa. "Tidak apa."


Grep...


Jika tadi Zevan yang memeluk Shasa erat, sekarang malah sebaliknya, Shasa yang memeluk Zevan erat.


"Kamu bakal selalu lindungi aku dan Kevan kan?" Pertanyaan itu membuat satu alis Zevan terangkat, "Tentu saja, kalian adalah dunia ku, dan aku akan selalu melindungi dunia ku."


"Terimakasih." Pelukan Shasa semakin erat.


"Hei, untuk apa terimakasih itu? Ini sudah menjadi kewajiban ku."


Shasa mendongak untuk menatap mata Zevan, ia ingin melihat kesungguhan atas ucapan laki-laki itu, dan ia menemukan nya. Zevan bersungguh-sungguh tentang ucapannya yang akan melindungi Kevan dan dirinya.


Shasa menarik tengkuk Zevan, mempertemukan kedua belah bibir mereka.


Zevan tentu terkejut, ini adalah pertamakali nya mereka berciuman setelah ciuman di acara tunangan mereka malam itu.


Ciuman lembut dan penuh cinta, sungguh memabukkan. Rasanya seperti narkoba yang membuat candu si pemakai hingga rasanya tak bisa berhenti untuk memakainya lagi dan lagi, itu juga kini di rasakan oleh dua insan berbeda jenis itu.





Dor...Dor...Dor...


Seharusnya ini menjadi quality time cucu dan nenek yang menyenangkan jika penjahat sialan ini tidak menyerang mereka.


Buaghhh...BRUAK...


Penjahat malang, apakah mereka tidak melihat dulu siapa yang mereka hadapi? ini Keana Lauren Algreat, wanita tangguh yang sangat pandai dalam beladiri.


"Kevan, kenapa aunty lama sekali? kamu sudah menelfon nya kan?"


"Sudah grandma, aunty masih di jalan."


Walaupun Keana sangat jago beladiri, ia juga tak mungkin mengalahkan orang sebanyak ini sambil melindungi Kevan yang selalu menjadi sasaran mereka.


BRUM...BRUAK...


Seseorang datang menggunakan motor R25 berwarna merah dan langsung menabrak beberapa penjahat itu tanpa pikir panjang.


Kalian tentu tahu siapa pengendara motor itu, ia adalah Ziva.


Turun dari motornya, perempuan itu langsung menghabisi beberapa orang bersama sang ibu.


Kerjasama luar biasa antara ibu dan anak perempuan nya membuat mereka berhasil mengalahkan seluruh penjahat itu.


Keana langsung memeluk cucu tercintanya ketika seluruh penjahat telah tumbang, "Cucu grandma, kamu gapapa kan sayang?"


Kevan menggeleng, "Kevan gak apa-apa grandma, cuma sedikit takut aja."


"Sepertinya mereka orang suruhan keluarganya Mommy," batin bocah itu.


"Baiklah, lebih baik kita pulang saja, dan mereka biar di urus oleh anak buah Daddy mu."


"Baik, mommy."

__ADS_1


Keana mengulurkan tangan, "Sini kunci mobil, biar mommy yang di depan."


"Kayaknya gak usah deh mom, biar Ziva aja yang di depan." Ziva tuh masih sayang nyawa ya, dia itu tahu benar bagaimana ibunya kalau ngendarain motor. Grandma Nayla aja udah capek nasehatin mommy nya.


Ya, walau Ziva sama Daddynya kadang-kadang kalau ngendarain motor juga suka gitu, tapikan mereka gak separah Keana.


"Kamu mau ngebantah mommy?!"


"Enggak mom, enggak. Ini kuncinya." Sudahlah, lebih Ziva ngalah daripada di marahin mommy nya kan.


WUUSSS...


"YEAY!! SERU BANGET~"


Sudah Ziva duga jika Keana akan menggila, namun ia tak habis pikir bagaimana Kevan bisa menikmati ini?Jelas-jelas Keana sekarang tengah menantang maut.





Satu-satunya orang yang berhasil bertahan setelah kelompoknya di tumbangkan oleh Keana dan Ziva pun melapor kepada bos nya.


"Mas bos, kami gagal menangkap nya. Dia di lindungi oleh dua wanita yang pintar beladiri." Orang itu bersujud di hadapan bos nya.


Bugh...


Suara dari aluminium mendarat di kepala orang itu, membuat ia di dera pening seketika.


"DASAR TIDAK BECUS, MENCULIK SEORANG ANAK KECIL SAJA KALIAN TIDAK BISA!" Marah seorang laki-laki.


"Sudah sayang, tenang lah." Seorang wanita menenangkan laki-laki itu dengan mengusap bahunya.


Wanita itupun menatap bawahan suaminya tadi, "Jika tidak bisa di bawa dalam keadaaan hidup, maka bawa saja dalam keadaan mati."


"Ba_baik nyonya besar."


Sedangkan itu, satu lagi laki-laki yang duduk di pinggir ruangan hanya menatap datar mereka tanpa minat.





Ia pun memutuskan untuk menceritakan hal itu dengan semua orang.


Mendengar cerita Keana, Shasa jadi takut dan langsung memeluk Kevan.


Zevan yang sadar pun langsung mengusap punggung Shasa.


"Kita harus melakukannya tindakan! ini sudah mengancam keselamatan cucu ku!"


"Kamu benar Ana, Abang akan kerahkan seluruh anak buah Abang untuk mencari dalang dari semua ini."


"Aku juga akan melakukan nya, Kevan adalah cucuku," Nio menimpali.


"Tentu kami semua juga akan mengerahkan anak buah kami. Mereka telah membuat kesalahan karena berurusan dengan kita.".


Jika tiga keluarga ini telah bersatu, maka semut sekali pun tidak akan bisa melarikan diri dari mereka.


Zevan sebenarnya tahu jika ini pasti ulah keluarga Shasa, namun melihat wanita itu bungkam membuat ia tak bisa melakukan apa-apa. Ia tak mungkin mengatakan nya tanpa persetujuan dari Shasa.


Ia pun memilih untuk memeluk anak dan tunangan nya, mereka saling menguatkan satu sama lain.


Kevan menatap sang ayah, "Ini ulah mereka."


Zevan mengiyakan dengan kedipan mata, "Ya, aku tahu."


Kevan menatap ayahnya penuh tanya, "Lalu bagaimana?"


Zevan mengangkat bahunya pelan, "Entahlah."


Gerak gerik anak dan ayah itu tentu tak luput dari perhatian Keane, wanita setengah baya itu mengangkat satu alisnya. "Sepertinya mereka tahu sesuatu."


"Berarti kita harus selalu bersama dengan Kevan, jangan pernah membiarkan dia sendirian," Mendengar usulan Grandpa Prince membuat Keane menoleh.


"Tentu uncle, kami akan selalu bersama Kevan dan mengetatkan penjagaan nya," Ucap Keane.


"Lalu bagaimana jika di sekolah aunty?" Pertanyaan Gio membuat semua orang menatap nya datar.

__ADS_1


"Apa gunanya uang hah?! Kita bisa menyuap pihak sekolah supaya kita bisa di izinkan menemani Kevan di dalam kelas." Kean rasanya ingin sekali memotong leher sepupunya ini.


"Oh..." Gio mengangguk-angguk seperti orang bodoh.





Mulai hari ini mereka akan bergantian menemani Kevan di sekolahan nya, dan hari ini adalah jadwal Lulu untuk menemani Kevan, mumpung model cantik itu sedang libur bekerja.


Dan pas sekali, hari itu sekolah tempat Kevan menimba ilmu ternyata kedatangan seorang guru baru yang akan menjadi wali kelas di kelas Kevan.


"Selamat pagi anak-anak, saya Bu Amelia, mulai hari ini saya akan menjadi wali kelas kalian menggantikannya Bu Sesilia yang berpindah tugas ke Surabaya." Guru cantik itu menyapa anak-anak yang akan menjadi tanggung jawabnya mulai hari ini.


Para murid menyambut guru baru mereka dengan cerita kecuali Kevan yang sejak tadi hanya diam menatap datar guru itu.


Entah mungkin hanya Kevan yang terlalu percaya diri atau benar jika guru cantik itu sejak tadi tengah menatapnya.


Oh, namun sepertinya bukan hanya Kevan saja yang menyadari hal itu, tapi Lulu juga. Terbukti dari tatapannya ketika menatap guru itu.



*Jam Istirahat


Lulu menemani Kevan makan siang di ruang kelasnya, bocah laki-laki itu menolak untuk makan di kantin. Lebih baik ia makan siang di kelas yang sepi dan menghabiskan bekal dari mommy nya daripada makan di kantin sekolah yang sudah pasti sangat ramai.


"Hai, boleh aku bergabung?"


Lulu mendongak untuk melihat siapa orang itu, ternyata ia adalah guru baru yang menjadi wali kelas Kevan.


Perempuan itu mengangguk, memperbolehkan Amelia untuk duduk. Oh, jangan berharap bahwa Lulu akan tersenyum kepada orang asing seperti guru cantik ini, karena itu mustahil. Apalagi Lulu sudah menaruh kecurigaan padanya saat mereka pertamakali bertemu beberapa jam yang lalu.


"Hai, Kevan? nama kamu Kevan kan?"


Bocah itu hanya mengangguk tanpa menatap Amelia, dingin sekali memang.


Wanita itu masih tetap tersenyum, "Mulai sekarang aku adalah wali kelas kamu, semoga kita bisa dekat ya."


Tak ada jawaban dari sang empu, namun Amelia tetap terlihat sabar dan masih memasang senyuman manisnya.





Hari-hari berlalu, Amelia masih berusaha mendekati Kevan, namun bocah itu sangat sulit di dekati, terlebih karena adanya orang dewasa yang selalu menemaninya.


"Hai, Kevan. Bu guru punya coklat nih, Kevan mau gak?"


"Maaf, aku tidak mengonsumsi makanan manis."


Sudah ribuan kali Amelia mencoba mendekati Kevan dengan menggunakan makanan, namun sudah lebih dari jutaan kali pula Kevan menolak nya.


"Baiklah kalau Kevan gak mau, nanti malam teman-teman kamu mau les ke rumah ibu lho, kamu gak ikut?"


Bocah itu menggeleng singkat, "Udah pinter, ngapain harus les."


Levy hampir meledakkan tawanya jika ia tidak menghormati perempuan yang menjabat sebagai wali kelas Kevan itu.


Amelia bungkam seribu bahasa, tak ada yang bisa ia katakan lagi untuk merayu Kevan supaya mereka bisa menjadi lebih dekat.


"Wanita ular, kau pikir aku tidak tahu siapa dirimu? Cih, menjijikkan."


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Amelia



Senyuman nya mencurigakan ygy



Lulu cantik banget 😍



Kangen bang Zergan gak sih kalian?

__ADS_1


__ADS_2