Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Nyonya Brigitta


__ADS_3

Rey tidak tahu siapa sosok yang beberapa hari ini selalu mengirimi nya pesan mengajak untuk bertemu.


Awalnya ia ingin abai, siapa tahu itu hanya iseng saja. Namun, si pengirim pesan tidak berhenti mengirimi nya pesan hingga satu minggu lamanya.


Menyerah, ia pun menuruti permintaan orang tersebut untuk bertemu di cafe dekat taman kota.


Setelah ia sampai dan pergi menuju bangku yang telah di pesankan, ia malah menemukan seorang perempuan yang ia kenali.


"Ngapain kamu disini?" Rey menatap Ella malas. Pasti Wanita ini yang mengajaknya bertemu.


"Kak Rey?" Apa ini? Kenapa Ella malah terlihat terkejut?


Rey melipat kedua tangan di depan dada, "Tak usah berpura-pura terkejut, pasti kamu kan yang memintaku datang kemari?"


Wanita itu sontak menggeleng, "Tidak kak, bukan aku. Aku saja di suruh datang kemari oleh seseorang yang tak di kenal."


"Jangan bohong!"


Ella tetap menggeleng, "Aku gak bohong, beneran deh."


"Saya yang memanggil kalian kemari."


Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang membuat keduanya langsung menoleh.


"Siapa kamu?" Rey menaikan satu alisnya, menatap wanita itu atas bawah.


Si wanita tersebut, "Aku Brigitta, kali bisa memanggilku nyonya Brig."


Rey berdecih pelan, wanita di hadapannya ini terlihat seperti ibu-ibu sosialita yang sombong dan haus akan hormat dari orang lain.


"Ada hal penting apa yang membuat nyonya Brig mengundang kami kemari? jik tidak begitu penting, saya permisi." Rey ingin pergi, namun ia langsung di tahan oleh anak buah nyonya Brig dan di dudukkan paksa di samping Ella.


"Jangan buru-buru, mari kita duduk."



Setelah beberapa saat berbicara, mereka pun berakhir membuat kesepakatan karena mereka memiliki tujuan yang sama.


"Gagalkan pernikahan itu dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan. Rey akan mendapatkan Shasa, Ella akan mendapatkan Zevan dan aku akan mendapat sesuatu yang menjadi hak ku." Wanita itu tersenyum misterius.


Rey dan Ella mengangguk, mereka tentu setuju dengan Brigitta. Pernikahan ini harus gagal bagaimanapun caranya.


"Tapi nyonya Brig, saya penasaran. Apa yang akan Anda dapatkan dari semua ini?" Ella bertanya dengan muka bingung.


Wanita itu menyeringai, "Yang aku dapatkan tentu saja hal yang sangat menyenangkan, dan itu bukan urusan kalian. Kalian cukup jalankan rencana kita saja dan saya akan membangun kalian dari belakang."


"Ba_baik nyonya Brig."





Untuk merayakan keberhasilan mereka dalam penjualan majalah, hari ini produser pemotretan Shasa mengajak dirinya dan semua kru untuk makan bersama.


Bukan hanya makan-makan saja, mereka juga sedikit minum karena tidak afdol rasanya kalau mereka merayakan hal seperti ini tanpa meminum alkohol.


"Hei, Shasa kenapa tidak minum? Ayo minum, akan aku tuangkan segelas untuk mu."


"Ti_tidak perlu, aku tidak minum alkohol."


Selain bisa membuat ia tak sadarkan diri, alkohol juga termasuk minuman haram di agamanya. Shasa bahkan sudah berjanji tak akan meminum cairan itu sepanjang hidupnya.


"Yah... cobalah sedikit, ini enak tahu."


"Tidak, maaf."


Sebenarnya Shasa tak enak untuk menolak, tapi mau bagaimana lagi, ia benar-benar tidak bisa meminum minuman itu.


"Ayolah Sha." Ia masih tetap memaksa.


"Model saya sudah menolak, tolong hargai dia." Akhirnya Tara pun buka suara hingga orang itu menyerah menawarkan alkohol kepada Shasa.


"Terimakasih, kak."

__ADS_1


"Tidak masalah, sudah tugas ku untuk menjaga kenyamanan mu."


Mereka lanjut makan-makan, namun rasanya ada yang sedikit aneh dengan tubuh Shasa setelah ia meminum air putih yang di sediakan. Tubuhnya terasa begitu panas membakar.


"Shasa, boleh aku berbicara sebentar?"


Shasa mendongak untuk melihat siapa yang berdiri di depan nya, awalnya pandangan nya sedikit kabur lalu mulai membaik sehingga ia bisa melihat siapa itu.


"Tidak bisa, maaf."


Wanita itu segera menolak, namun Rey tidak akan menyerah begitu saja.


"Aku ingin berbicara sesuatu, ini sangat penting."


"Tidak ada penting yang bisa aku bicarakan pada mu, lebih baik kamu pergi saja."


"Shasa, aku mohon, kali ini saja."


"Tid_" Shasa menoleh ketika merasakan tepukan di bahunya.


"Berbicaralah dengan dia sebentar, dia tidak akan menyerah sebelum kamu menuruti nya," Ucap Tara membuat Shasa menghela nafas.


"Baiklah, tapi tak lebih dari 15 menit."


"Tentu." Rey tersenyum senang.



Rey membawa Shasa keluar dari restoran. "Katakan apa yang ingin kamu katakan."


Rey memegang kedua tangan Shasa dan itu membuat Shasa merasakan sesuatu, entahlah, panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi.


"Sha, aku minta maaf jika dulu aku sempat mengabaikan mu ketika kamu butuh aku. Tapi aku mohon, sekarang aku sudah sadar, dan aku ingin membuka lembaran baru dengan mu."


Shasa menyentak tangan Rey dengan kasar, "Membuka kembaran baru? jangan bercanda! Aku sebentar lagi akan menikah."


"Sha, aku tahu kamu masih mencintai aku kan?"


"Masih mencintai mu? jangan bermimpi kamu!"


"Lepasin!"


Rey menggeleng, "Sha, dengerin aku dulu please." Rey menatap Shasa memohon.


"Tidak!"


Berulangkali ia berusaha melepaskan tangan nya dari tangan Rey, laki-laki itu malah semakin menguatkan cengkraman nya.


"Aku tidak akan melepaskan kamu sampai kapan pun Sha."


Shasa ingin memberikan, namun setiap kulitnya bersentuhan dengan kulit Rey membuat tenaganya seolah-olah habis.


Entah bagaimana, kini Rey sudah menyeret Shasa menuju mobilnya, namun sesekali dengan cepat langsung menghajar nya.


BUGH...BRUAK...


Satu tendangan mengenai perutnya membuat ia sedikit terpental cukup jauh.


"S*alan, apa yang ingin kau lakukan dengan calon adik iparku?!"


Orang itu adalah Ziva yang baru saja selesai meeting, namun secara tidak sengaja ia malah melihat Shasa yang di tarik paksa oleh Rey menuju mobilnya.


Laki-laki itu segera bangkit dan langsung menyerang balik Ziva.


Namun sayang sekali, Rey harus babak belur hingga patah tulang di tangan Ziva. Salah sendiri dia berusaha maksa Shasa buat masuk ke mobilnya.


"Sha, are you okey?"


Si model cantik mengangguk, "i'am okey, but, aku merasa tubuh ku sangat panas."


"Apa? coba buka mulut mu."


Shasa menurut, ia membuka mulutnya dan membiarkan Ziva mengendus.


Wanita itu menggeram ketika ia mencium bau obat perangsang di mulut Shasa. Ya, kalian tidak salah baca. Shasa di berikan obat perangsang, seperti obat itu di taruh di minumannya.

__ADS_1


"Kita harus segera pergi." Ziva membawa Shasa pergi dari sana, ia harus membawa calon adik iparnya menemui Zevan secepatnya.


"S*al, berani sekali bajingan ini memberikan obat perangsang pada adik ipar ku."





Zevan terlihat bingung dan tak mengerti ketika sang kembaran datang menemuinya bersama dengan Shasa yang terlihat... tidak baik-baik saja.


"Hei, terima tunangan mu."


Bruk...


Ziva melempar Shasa begitu saja pada Zevan yang masih terlihat bingung, namun untungnya laki-laki bisa sigap menangkap Shasa hingga tunangan nya itu tidak terjatuh.


"Apa yang terjadi?"


"Aku akan membereskannya, kau urus saja calon adik iparku itu."


Dengan begitu Ziva keluar dari ruangan Zevan, oh ia mengunci pintu dari luar tanpa sepengetahuan adik kembarnya.


"Panashh...tolonghh... rasanya sangat panashh." Tangan lentik Shasa sudah bergerak liar di dada bidang Zevan, mengusahakan dada tunangan nya pelan.


Tak mau lepas kendali, Zevan langsung menghentikan kedua tangan indah itu. "Sayang, ada apa dengan mu?"


Hmpp...


Bukannya menjawab, Shasa malah menyatukan bibirnya dengan bibir Zevan.


Zevan tidak akan munafik jika ia sangat menyukai apa yang tengah Shasa lakukan, ia mengambil inisiatif untuk mendominasi ciuman mereka yang semakin lama semakin dalam.


"Ahh..." Zevan mengigit bibir bawah Shasa sehingga wanita itu membuat mulutnya, kesempatan ini pun tak di sia-siakan Zevan untuk memasukkan lidahnya dan mengajak lidah Shasa untuk berperang. Dua benda lunak tanpa tulang itu saling membelit satu sama lain.


Merasa jika sang kekasih butuh oksigen, Zevan pun menurunkan ciuman nya ke leher jenjang sang tunangan. Shasa mendongakkan kepalanya, memberi akses pada Zevan untuk menjelajah leher jenjang nan putih itu.


"Akh...ahh..."


Puas dengan leher jenjang Shasa, Zevan pun memutuskan untuk menatap kekasihnya yang masih terengah.


Dari nafas Shasa ia bisa tahu jika sang kekasih baru saja meminum obat perangsang.


"Si*l, siapa yang berani melakukan ini?" Geram Zevan dalam hati.


Sementara itu, Shasa yang masih kepanasan tidak tinggal diam, tangannya mulai menjalar kebawah menyentuh kebanggaan Zevan. "Agh!"


"Shasa mau ini." Wanita itu menatap Zevan dengan binaran mata sarat akan harapan, itu membuat Zevan menelan ludah nya susah payah.


"Sayang, kamu bilang kita tidak akan melakukan sampai kita resmi menikah nanti."


"Ish...tapi aku mau sekarang, lagipula mau sekarang atau nanti, kita tetap akan menikah. Kita juga pernah melakukannya kan."


...Srek......


Tanpa banyak bicara lagi, Zevan langsung menggendong Shasa ala koala menuju kamar pribadi nya. "Kamu jangan pernah menyesalinya lho sayang, dan jangan menyalahkan aku jika kamu tidak bisa jalan selama beberapa hari nanti nya. Ini permintaan kamu, dan aku memilih saksi." Zevan melirik CCTV ruangannya sesaat sebelum ia dan Shasa benar-benar masuk ke kamar pribadinya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Uncle El



bapaknya aja cakep, apalagi anaknya.


Zion



Zion aku padamu 😍


Haechal


__ADS_1


Aduh sekeluarga cakep semua.


__ADS_2