Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Jebakan


__ADS_3

BRAK...


Ruang itu terbuka, namun lagi-lagi yang Zevan dapatkan hanyalah kekosongan. Ia tak menemukan siapapun disana.


Setelah mengecek seluruh ruangan dan yakin bahwa orang yang ia cari tak ada disana, Zevan pun berbalik hendak meninggalkan ruangan itu, namun...


BRAK...


Ruangan itu tertutup dengan sendirinya, Zevan tentu terkejut. Laki-laki itu segera berlari menuju pintu yang tertutup.


Ctak...Ctak... Ctak...


Zevan sudah berusaha membuka pintu itu berkali-kali, namun nihil, pintu yang terbuat dari kayu itu tak bisa terbuka dengan cara biasa.


Tak ada pilihan lain, Zevan harus mendobrak pintu itu untuk bisa keluar.


BRAK...


Percobaan pertama gagal, pintu itu masih berdiri kokoh di tempatnya.


BRAK...


Percobaan kedua juga gagal.


BRAK...


Lagi-lagi gagal, Zevan sampai heran. Apakah otot-otot nya ini kurang kuat untuk mendobrak sebuah pintu kayu yang bahkan sepertinya sudah lama itu?


Namun sungguh, bahkan sampai percobaan yang ke 10 pun pintu itu tak dapat terbuka.


"Ingin mendobrak pintu ini? Kau tidak akan bisa. Hahaha, dasar bodoh." Suara gelak tawa seorang perempuan terdengar jelas di pendengaran Zevan.


Laki-laki itu menoleh kesana-kemari guna mencari seseorang yang suaranya menggema di seluruh ruangan itu.


"Mencari ku? Sayang sekali, aku sedang bersama mainan ku, jadi kita tidak bisa bertemu sekarang. Tapi segera, aku akan menemui mu untuk mengantarkan bangkai mainan ini."


"AKHH... hiks..."


Samar, namun Zevan yakin jika itu adalah suara Shasa yang tengah menangis. Seketika emosi laki-laki itu memuncak.


"SIAPAPUN KAU! JANGAN BERANI-BERANI NYA KAU MENYENTUH ISTRI KU ATAU AJAL MU AKAN SEGERA TIBA!"


Terdengar suara tawa dari sosok itu, tawanya begitu puas dan menggelegar. "Ajak ku? Apakah kau adalah tuhan yang bisa menentukan kapan aku mati dan kapan aku hidup? Hahaha."


Otot-otot rahang Zevan mengeras, tangannya terkepal kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih.


DUAGH...


Di tendangnya pintu itu dengan keras oleh Zevan untuk melampiaskan kemarahannya.





Seluruh anak buah Aden telah di lenyapkan oleh mereka semua, kini mereka tengah berkumpul di gerbang utama.

__ADS_1


Theo tak dapat menahan perasaannya ketika ia melihat ibunya, wanita yang sangat ia cintai berada disana, di dalam mobil bersama dengan Ziva dan seorang anak kecil yang entah siapa ia tak mengenalnya.


"Dimana Zevan? Kenapa dia belum kembali bersama Shasa?" Tanya Lulu yang langsung membuatnya menjadi pusat perhatian.


"Zevan mana? Bukannya tadi dia bareng you?" Tanya Haechal pada Kean.


Yang di tanya pun terlihat kebingungan, "Tadi dia emang bareng sama aku, tapi, gak tau kenapa tiba-tiba dia masuk keruangan yang ada ini perempuan, padahal perempuan ini udah ada sama aku."


"Kalian gak nemuin Shasa di ruang bawah tanah?" Kini Lulu yang bertanya.


Kean menggeleng, "Semua ruangan udah kamu periksa tapi gak ada Shasa sama sekali."


Alarm bahaya didalam kepala Theo seakan berbunyi ketika mendengar jawaban Kean. "S*al, kayaknya kita di jebak!"


"Maksudnya?" Zio menatap Theo tak mengerti.


"Zero, Kean, Gio! Kalian ikut gue! CEPET!" Theo berlari masuk setelah mengatakan itu, Zero, Kean dan Gio sempat terbengong sesaat sebelum Lulu memukul tengkuk mereka dan meneriaki mereka untuk mengikuti Theo.


"Woy, bentar napa, cepet amat Lo larinya." Nafas Gio tersenggal-senggal ketika mereka berhenti setelah sampai di ruang bawah tanah.


"Ruangan mana?" Tanya Theo pada Kean tanpa memperdulikan ucapan Gio barusan.


"Ruangan paling ujung sana." Kean menunjuk ke arah ruangan dimana tadi ia dan Zevan menemukan Ayana.


Tanpa pikir panjang, Theo langsung berlari kesana di susul dengan Kean dan Zero.


"Haduh, lari lagi." Kaki Gio sudah lemas dan ketiga itu kembali berlari seperti di serial India.



Kean terkejut ketika melihat sebuah lorong di dalam ruangan itu, padahal sepertinya sebelumnya tak ada lorong seperti itu di dalam sana.


Theo melihat seisi ruangan itu dengan seksama.


"Gio, ikut gue masuk. Kalian berdua tunggu disini, inget, HP kalian harus selalu aktif!" Perintah Theo yang di angguki oleh Kean.


"Kak, aku mau ikut." Zero ingin berperan dalam penyelamatan kakak iparnya ini, ia ingin membuktikan pada semua orang bahwa ia juga berguna, bukan hanya bocah yang hanya bisa menyusahkan kakak-kakaknya saja.


"Tidak, kamu berjagalah disini dengan Kean. Jika aku membutuhkan, aku akan menelfon kalian nanti."


"Tapi..." Zero menoleh pada Kean ketika dirasa sebuah tangan mendarat di bahunya. "Jangan keras kepala."


Zero menghela nafas pelan sebelum akhirnya mengangguk, "Baiklah."


Theo menepuk bahu Zero pelan sebelum dirinya dan Gio masuk kedalam lorong itu untuk menyusul Zevan.





CTAS...


"AKH...hiks..." Suara jeritan dan tangisan Shasa menggema di ruangan itu. Seluruh tubuhnya begitu sakit, luka bekas cambukan memenuhi seluruh tubuh wanita itu.


Namun, rasa sakit tubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit hatinya ketika melihat siapa yang kini berdiri dihadapannya.

__ADS_1


Dia adalah salah satu wanita yang Shasa percaya, ia sudah menganggap perempuan ini sebagai temannya sendiri, namun apa yang ia dapatkan? Penghianatan.


"Ke_kenapa kau melakukan ini hiks... apakah aku telah berbuat salah kepadamu? Apakah ada perbuatan ku yang menyakiti perasaan mu?" Shasa menatap kecewa pada perempuan itu.


Wanita itu menyeringai, "Apakah kau ingin tahu apa kesalahanmu?"


Shasa tak menjawab, namun tatapannya berfokus pada perempuan itu.


"Kesalahan mu adalah karena kau telah lahir di dunia ini. Karena kau lahir dari wanita itu, wanita yang telah merebut ayahku dari ibuku!"


"A_apa?!"





BRAK...BRAK...BRAK...


Zevan sudah mati-matian mencoba mendobrak pintu kayu itu namun ia tak kunjung berhasil.


DUG...DUG...DUG...


"Zevan! Lo di dalem?!"


Laki-laki itu segera mendekat kearah pintu ketika mendengar suara yang sangat ia kenal, itu ada suara Gio.


"Iya yo, tolong bukain pintunya!"


Mendengar sahutan dari dalam, Gio dan Theo pun langsung saling pandang. Sepertinya pintu itu terkunci, namun mereka tak menemukan kunci sama sekali di sana.


"Kita dobrak aja," Usul Theo.


Gio mengangguk setuju atas usul yang Theo berikan.


"ZEVAN, MUNDUR, BIAR KAMI DOBRAK PINTUNYA." Teriak Theo.


Zevan menurut, ia pun mundur membiarkan dua laki-laki di luar sana untuk mendobrak pintu itu.


BRAK...BRAK...BRAK...


Sudah percobaan ketiga namun pintu itu tak kunjung terbuka.


"What?! Ini pintu terbuat dari apa sih? Susah amat bukanya."


Theo menggeleng, ia tak tahu jawaban dari pertanyaan Gio. "Telfon Zero sama Kean, suruh kesini."


"Oke."



Kean dan Zero langsung datang setelah mendapatkan telfon dari Gio. Kini mereka berempat sedang berusaha membuka pintu itu bersama.


"Ini bukan pintu biasa, mana ada pintu kayu yang tidak bisa terbuka bahkan setelah berusaha di dobrak oleh empat orang laki-laki." Ucapan Kean mendapatkan anggukan setuju dari mereka semua.


"S*al, haruskah aku meminta bantuan pada si tua Bangka?"

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Kira-kira siapa ya perempuan itu?


__ADS_2