
Dokter pribadi keluarga Algreat telah di panggil untuk memeriksa keadaan Shasa yang terlihat jauh dari kata baik-baik saja.
Luka-luka yang memenuhi tubuh Shasa membuat Kevan ketakutan, bocah itu bahkan menangis dalam pelukan Ziva.
Tidak, Kevan tidak takut dengan luka-luka itu. Ia hanya takut membayangkan apa yang terjadi dengan ibunya nanti dengan luka-luka yang masih basah itu.
Zevan? laki-laki itu mati-matian untuk tidak mendatangi kediaman tuan Jho dan membakar seluruh keluarga laki-laki itu di dalam sana hidup-hidup.
"Dok, bagaimana keadaan menantu saya?" Keana mendekat setelah dokter Sam selesai memeriksa keadaan Shasa.
"Keadaan nya sangat buruk nyonya, beliau sedikit dehidrasi karena kekurangan air, dan sepertinya beliau juga tidak mengkonsumsi makanan apapun selama 2 hari. Lalu luka-luka di tubuhnya ini sangat parah, saya akan memberikan resep obat untuknya." Dokter Sam membuka tas yang ia bawa, lalu memberikan beberapa obat pada Keana.
"Tolong di jaga, jangan biarkan nyonya Kesha kelelahan dan jangan bebani pikirannya dulu."
Keana mengangguk, "Terimakasih dok."
"Baiklah nyonya, kalau begitu saya permisi."
"Biar saya antar."
Keana dan dokter Sam keluar dari kamar Zevan, di ikuti Leon yang tak akan mau berpisah dengan sang istri.
Zevan mendekat, ia mendudukkan diri di sebelah Shasa dengan mata yang tak pernah lepas menatap Istrinya.
"Ehem!" Lulu berdehem, mengode mereka semua untuk keluar dari kamar dan memberikan waktu untuk Zevan dan Shasa.
"Kalau gitu kami keluar ya, Kevan kayaknya ngantuk kare capek nangis," Ucap Ziva yang hanya di angguki oleh Zevan.
Setelah semua sepupunya keluar dari kamar, Zevan langsung memeluk istrinya dengan hati-hati supaya tak menyentuh luka sang istri.
"Aku adalah suami yang tidak becus, benar-benar tidak berguna." Rutuk Zevan pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku sayang, seharusnya aku bisa menjagamu dengan baik. Tapi aku malah ceroboh dengan meninggalkan kamu sendiri."
Zevan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Shasa sambil menangis.
"Maafkan aku hiks... maafkan suami tak berguna mu ini sayang hikss..."
Elusan di kepalanya membuat Zevan mendongakkan kepala dengan air mata yang masih mengalir.
"Kamu jelek banget sih kalau nangis gini." Suara lemah Shasa membuat Zevan kembali menangis.
"Sayang~ hikss..." Zevan memeluk Shasa lagi sambil menangis. Wanita itu hanya bisa terkekeh melihat bagaimana cengengnya sang suami.
"Daddy Zevan jangan cengeng dong, udah punya anak juga." Diusapnya lembut bahu sang suami sambil di tepuk pelan.
Bukannya reda, tangisan Zevan malah makin kenceng, membuat telinga Shasa pengang aja.
•
•
•
"HUWAA~ MOMMY SHASA!"
Suara tangisan Zevan terdengar sampai ke lantai bawah karena sangking kencangnya.
Gio menyenggol Zero yang duduk diam memasang muka polos di sampingnya, "Kakak mu kenapa tuh? sedih banget kedengaran nya."
Sang empu hanya mengangkat bahu acuh, "Mungkin Kevan otw punya adik," Ucapnya dengan muka polos.
"Hah?" Nampaknya Gio sama sekali tak paham dengan jalan pikiran Zero.
"Kemarin Ero gak sengaja denger daddy nangis gitu ke mommy, dan 2 bulan setelahnya Ero dapet kabar kalau Ero mau punya adik."
"Ya Allah, polos amat tuh muka," Gio mengusap wajahnya frustasi.
"Tapi... ASTAGHFIRULLAH!! AUNTY KEANA HAMIL LAGI?!" Suara lantang Gio menggelegar di seisi rumah.
__ADS_1
"GIO!! KEVAN LAGI TIDUR ANJENG!" Balas Ziva dari lantai atas.
•
•
•
Levy mendatangi Shasa ketika dirasa keadaan nya sudah mulai membaik. Entahlah, sejak bertemu Theo hari itu, keadaan tubuh Levy tiba-tiba lemas seolah ia tak memiliki tenaga.
"Hai Sha," Perempuan itu tersenyum tipis, lalu perlahan masuk ke dalam kamar. Sedikit tak enak karena telah mengganggu waktu bermanja Zevan pada sang istri.
Melihat kedatangan Levy, Shasa pun langsung mendorong Zevan yang tengah memeluknya untuk menjauh. "Yang~" Rengek Zevan.
"Keluar dulu, aku mah bicara sama Levy."
Zevan cemberut, namun ia tetap menurut. Ia juga sempat memberikan tatapan tajam pada Levy, namun Shasa langsung meneriakinya. "ZEVAN!"
"Iya iya sayang, ini juga aku mau keluar kok."
BRAK...
Pintu di tutup kencang oleh Zevan, membuat Levy terkejut. Sedangkan Shasa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang suami, sepertinya bayi besarnya itu ngambek.
Shasa mengubah posisiku yang tadi tiduran jadi duduk, ia menepuk kasur di sampingnya, meminta Levy untuk duduk di sampingnya.
Perempuan itu pun mengangguk dan langsung mendudukkan diri di samping Shasa.
"Aku tahu apa yang mau kamu bicarakan."
Levy menatap Shasa, seolah meminta penjelasan. "Aku tidak tahu bagaimana, tapi dia tiba-tiba datang gitu aja buat nyelamatin aku."
Levy mengangguk pelan, tak lama kemudian kepalanya pun tertunduk dan Shasa faham dengan sikap Levy yang tak seperti biasanya.
"Maafkan dia, dulu itu dia memang tak terkendali."
Shasa sigap membawa Levy dalam pelukannya. Dan disaat itu juga, ia langsung menumpahkan seluruh air mata yang ia tahan sejak tadi.
"Jangan takut, ada aku yang akan selalu melindungi mu, aku janji."
Levy menumpahkan seluruh sesak di hatinya dalam pelukan Shasa, ingatan masa lalu yang selalu menghantuinya sungguh membuat Levy ketakutan setiap detik nya. Apalagi ketika ia melihat seringaian Theo hari itu.
•
•
•
Keadaan Shasa semakin membaik setiap harinya, dan setiap hari pula sikap manja Zevan selalu meningkat terhadap istrinya. Apalagi ketika sarapan, selalu ada saja drama cinta dari pasangan pengantin yang masih baru ini.
"Muka mulutnya daddy Zevan~" Shasa menyodorkan secendok nasi pada Zevan yang langsung di lahap habis oleh laki-laki itu. "Emh...enak banget mommy Caca~"
"Kresek mana kresek? pen muntah nih." Gio memasak komuk pengen muntah melihat kelakuan suami istri dihadapan nya ini.
Srek...
Sebuah plastik hitam benar tiba-tiba membungkus kepala Gio, membuat ia kebingungan. "Apaan nih?"
"Kresek!" Ucap Zero ngegas.
Levy hanya diam, pikirannya sudah melayang kemana-mana dan tentu itu tak lepas dari pengawasan mata Keana.
"Levy sayang, kenapa diam aja?"
Rasanya aneh, Levy yang biasanya suka berantem dengan Gio, tiba-tiba jadi diam seperti ini. Itu membuat Keana khawatir, karena ia sudah menganggap Levy seperti anaknya sendiri.
"Kenapa? tumben gak ngajak gelut," Gio juga heran. Ia buang plastik yang tadi membungkus kepala nya ke sembarang arah.
Wanita itu hanya menggeleng pelan, Shasa yang tahu penyebab nya pun hanya diam, sebaiknya ia tak mengatakan apapun untuk sekarang.
__ADS_1
•
•
•
Bayang-bayang sosok Theo terus berputar di kepala Levy hingga ia tak bisa fokus dalam pemotretan nya hari ini. Beberapa kali ia telah mendapatkan teguran karena tak fokus.
"Levy! ini sudah kesekian kalinya! tolong fokuslah sedikit!"
Levy bukanlah Shasa yang bekerja di perusahaan milik suaminya hingga tak ada seorangpun yang berani menegurnya. Membuat kesalahan sedikit saja, ia pasti akan mendapatkan teguran atau bahkan makian dari sang sutradara.
"Ma_maafkan saya, kita ulangi lagi ya," Mohon Levy.
Dengusan keras terdengar dari sang sutradara, "Baiklah, kali ini kamu harus fokus, ingat itu!"
Levy mengangguk, "Terimakasih pak."
Pemotretan kali ini benar-benar melelahkan karena Levy harus mengulang beberapa kali sebab dirinya yang sering fokus dan melakukan kesalahan.
Kini ia tengah beristirahat di tempat ganti baju, ia begitu lelah hingga rasanya malas untuk keluar dari sana.
Cklek...
Levy menoleh ketika mendengar suara pintu yang di buka. Alis Levy terangkat ketika melihat siapa yang baru saja masuk ke ruang ganti.
"Mau apa kamu kemari?"
"Nih." Gio mengangkat plastik berisikan makanan di tanahnya.
"Buat aku?" Tanya Levy.
"Gak, buat pocong di pojok sana noh," Jawab Gio bercanda sambil menunjuk ke pojok ruangan.
Plak...
"Aduh! sakit monyet!" Adu Gio ketika Levy memukul pahanya.
"Makanya jangan nakut-nakutin!" Emangnya Gio gak tahu apa kalau Levy itu mudah banget percaya dan takut sama yang begituan?
"Hahahaha, iya-iya, sorry deh. Nih, dimakan ya." Gio meletakkan makanan itu di meja depan Levy.
Levy bergerak membuka kantong plastik hitam itu, "Kok ada dua?" Tanyanya menatap Gio.
Deg...Deg...Deg...
Tatapan keduanya saling bertemu dan itu membuat jantung Gio menggila.
Dahi Levy berkerut ketika Gio tak kunjung menjawab pertanyaannya. "WOY!" Levy menarik tangan Gio hingga laki-laki itu terduduk di sampingnya.
"Hah? apa?"
Mendengus pelan, Levy punya menjitak kepala Gio. "Makanya fokus ogeb!!"
"Ini kenapa makanannya ada dua?" Levy mengulang pertanyaan nya.
Gio mengangguk paham dengan mulut yang membentuk huruf o. "O...ya makanya bareng aqyu dong."
Mata Levy memicing, "Bisa biasa aja gak? jijay tau!"
"Affh iyh?"
Siapa pun, tolong bawa Gio pergi sebelum Levy lepas kendali dan menjadikan nya Gio geprek sambel terasi!
... \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Kira-kira apa yang Levy takuti ya dari orang secakep ini?
__ADS_1