Dia Adalah Wanita Malam Itu!!

Dia Adalah Wanita Malam Itu!!
*Pulang Duluan


__ADS_3

Siang itu Zevan dan keluarganya; Shasa dan Kevan memutuskan untuk pulang ke Indonesia dulu, sedangkan keluarga nya yang lain masih ingin disana dan berencana pulang 3 hari lagi.


Gio juga ikut pulang bersama Zevan, katanya, laki-laki itu merindukan kekasihnya, jadi ia memutuskan untuk ikut saja pulang bersama Zevan.


Kini, ketiganya telah sampai di Indonesia. Lebih tepatnya bandara pribadi keluarga mereka. "Mau pulang bareng gak?" Tawar Shasa ketika mobil yang menjemput mereka datang.


"Gak usah, tadi udah pesen taxi. Mau kasih kejutan sama ayang di tempat pemotretan."


"Yasudah, titip salam buat Levy ya. Besok aku bakal temui dia."


Gio mengangguk, "Taxi nya udah dateng, duluan ya." Laki-laki itu melambaikan tangan yang di balas pula oleh Shasa dan Kevan. "Dadah uncle Iyo!"


Zevan mengusap surai sang istri, "Ayo kita pulang, istirahat. Kamu pasti capek kan habis dari perjalanan."


Shasa mengangguk, namun tidak dengan Kevan yang tiba-tiba rewel. "Kevan mau pergi ke taman bermain dad~"


"Hei, jagoan daddy. Kita pergi ke taman bermainnya besok ya? sekarang kita pulang terus istirahat. Memangnya Kevan tidak lelah hmm?"


Bocah itu menggeleng, "Kevan tidak lelah dad~ Kevan mau pergi ke taman bermain sama daddy sama mommy."


Kevan tidak tahu kenapa dirinya jadi manja dan sangat rewel seperti ini. Mungkin karena dia sebentar lagi akan memiliki seorang adik, dan dia takut jika nanti kasih sayang kedua orangtuanya akan terbagi dengan sang adik, maka dari itu Kevan ingin menikmati masa-masanya bisa bermanja dengan kedua orang tuanya.


"Baiklah, ayo kita ke taman bermain dan bersenang-senang."


"YEAY!!" Kevan melompat girang ketika sang ibu menyetujui permintaannya.


"Sayang..."


Shasa tersenyum, "Tidak papa."


Zevan nampak khawatir, pasalnya ia bisa melihat raut kelelahan dari wajah Shasa, namun wanita itu malah mengiyakan ajakan anaknya untuk pergi ke taman bermain.


Shasa mengusap lengan atas sang suami pelan, lalu tersenyum, meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.


Helaan nafas pun keluar dari mulut Zevan, "Baiklah, tapi kamu jangan sampai kelelahan ya," Bisiknya pada Shasa.


Wanita itu mengangguk, "Aku tidak akan kelelahan, aku janji."





Zevan sangat khawatir, pasalnya Kevan selalu mengajak Shasa bermain permainan yang cukup melelahkan. Padahal Zevan sudah mengatakan kepada anaknya bahwa ia jangan sampai membuat Shasa kelelahan, namun Kevan begitu keras kepala dan seenaknya sendiri. Yah, sama persis seperti Zevan ketika masih kecil.


"Sayang, sudah ya. Kasihan mommy, past mommy kelelahan. Kevan main sama daddy aja ya ganteng."


Bocah itu menggeleng kuat, "Kevan mau mommy, no daddy."


"Tapi sayang, mommy sudah sangat lelah sekarang." Zevan mencoba memberikan pengertian dengan menunjuk Shasa yang sudah duduk terengah di bangku taman karena lelah. "Lihat? Kevan gak kasihan sama mommy?"


Si kecil Kevan terdiam, mata nya memanas melihat sang mommy yang begitu kelelahan. Ia tiba-tiba merasa bersalah. Air mata turun begitu saja membasahi pipinya. "Hiks...Kevan nakal, Kevan bikin mommy kelelahan hiks..."


"Sekarang Kevan tahu kan? Sebentar lagi Kevan akan jadi kakak, itu berarti Kevan harus mandiri dan kuat supaya nanti Kevan bisa jagain mommy dan adik baik."


Di peluknya sang putra dengan erat, "Saat adik bayi sudah lahir nanti, kasih sayang mommy sama daddy akan tetap sama. Kevan akan tetap bisa bermanja kok. Namun ada beberapa waktu dimana Kevan harus mengalah, dan Kevan harus siap hati dan mental untuk itu."


"Be_beneran dad?" Bocah itu sesegukan karena menangis.

__ADS_1


Zevan mengangguk, "Tentu saja, walau bagaimanapun kamu itu anak kami, sayang. Di mata daddy dan mommy, Kevan tetaplah putra kecil kami, kami akan selalu menyayangimu."


"Hiks... daddy...huwaa!" Kevan menangis keras dalam pelukan sang ayah.


"Ada apa ini? kenapa Kevan menangis?" Shasa mendekat, ia khawatir karena mendengar suara tangisan sang anak.


Kevan melepaskan pelukannya dari Zevan, lalu berganti memeluk kaki Shasa dengan erat. "Kevan sayang mommy, maafin Kevan karena Kevan nakal hiks...Kevan bandel."


Shasa berlutut untuk menyetarakan tinggi nya dengan Kevan, lalu di peluknya Kevan dengan erat. "Enggak, anak mommy gak nakal kok sayang. Kevan anak pinter, Kevan anak baik, gak mungkin Kevan nya mommy ini bandel."


"MOMMY hiks...huwaa!"


Sang kepala keluarga hanya tersenyum haru melihat anak dan istrinya yang berpelukan seperti ini. Kevan memang bocah yang pintar, tapi dia tetaplah seorang anak kecil yang pasti akan selalu membutuhkan kasih sayang dari kedua orangtuanya.





"SURPRISE!"


Levy terkejut sekaligus senang ketika melihat keberadaan Gio disana, kekasihnya itu memberikan kejutan dengan datang ke tempat pemotretan dan membawa sebuah kantung belanja di tangannya.


"SAYANG?!"


Bruk...


Langsung saja Levy berlari dan menubrukkan diri kedalam pelukan Gio. Masa bodoh dengan pemotretan nya yang masih berjalan, ia sudah kepalang rindu dengan kekasihnya ini.


"I Miss you so much! Kenapa baru pulang? aku kangen banget tau!"


Levy hanya mengangguk, ia diam menikmati pelukan Gio. Beginilah jika Tom and Jerry bertransformasi menjadi Romeo and Juliet. Dulu kalau ketemu selalu kesal, sekarang ditinggal sebentar saja rasanya pengen meninggoy.


Laki-laki bermarga Zergan itu melirik sang produser dan staff yang masih menunggu Levy untuk melanjutkan pemotretan. Ia menggerakkan jarinya.


Paham dengan kode dari atasannya, sang produser pun menghentikan pemotretan untuk sementara. "Kita break dulu ya, istirahat selama satu jam, nanti kita lanjut lagi."


"Baik pak."


Satu persatu dari mereka mulai membereskannya beberapa peralatan lalu pergi dari sana meninggalkan Levy dan Gio berdua.


"Sini duduk dulu, aku punya hadiah buat kamu."


Levy mengangguk, ia mendudukkan diri di sofa, di ikuti oleh Gio juga tentu saja.


Laki-laki itu mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dari dalam kantung belanja yang ia bawa. "Apa itu?" Tanya Levy penasaran.


"Bukalah," Gio menyerahkan kotak hitam itu kepada Levy. Perempuan itu menerimanya, "Boleh ku buka?"


"Of course, itu kan buat kamu."


Levy mengucapkan terimakasih sebelum membuka kotak itu. Mulut nya menganga lebar ketika melihat benda apa yang ada didalam sana.


Jika orang yang tidak tahu, mungkin akan berpikir jika itu hanyalah sebuah jam biasa. Namun, Levy tentu tahu jam apa dan berapa harga jam itu.



Patek Philippe - Ref. 1518. Sebuah jam mahal dengan harga fantastis, 11 juta Swiss Francs atau setara dengan 115,9 Miliar Rupiah.

__ADS_1


Levy tak tahu apa yang membuat jam itu sebegitu mahalnya, ia pun juga tak terlalu tertarik sebenarnya dengan benda-benda mahal seperti ini. Terlalu membuang-buang uang.


"Kamu membelinya? Ini terlalu mahal. Lebih baik digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna kan."


Gio memeluk Levy dari samping, lalu bergumam, "Aku pikir jam itu bagus buat kamu. Harganya gak terlalu mahal juga."


Gak terlalu mahal?! boleh gak sih kalau Levy cekik Gio sekarang juga?! Sejak kapan jam seharga ratusan miliar itu gak terlalu mahal? SEJAK KAPAN?!


"Kata mommy, jam itu akan bagus jika diberikan kepada calon istri ku."


Plak...


"AWW! sakit tahu!" Ringisnya pelan karena Levy yang memukul lengan atasnya tiba-tiba, dan itu cukup kuat hingga terasa panas di lengan Gio.


"Makanya jangan gombal terus!"


"Siapa yang gombal? aku jujur kok."


Keyla benar-benar mengatakan itu ketika mereka pergi ke pelelangan, menemani Zayyan membeli sesuatu untuk urusan bisnis.


"Dih, gak percaya. Masa aunty Keyla ngomong gitu."


"Aku jujur sayang, suer deh." Gio mengangkat dua jari ke atas.


"Eh, beneran? Aduh, maaf ya sayang. Sakit gak tadi pukulan nya?" Tiba-tiba Levy merasa bersalah, ia sudah salah paham menganggap ucapan Gio hanyalah gombalan belaka.


Di usapnya lengan sang kekasih yang tadi ia pukul, "Sakit gak?" Tanyanya khawatir.


Gio tersenyum, menahan tawa.


"Sakit gak Yang?" Tanyanya lagi semakin khawatir.


"Hahahaha," Tawa Gio meledak. Levy langsung menatap Gio heran. "Kenapa tertawa?"


"Kamu lucu kalau khawatir gitu." Gio masih tertawa.


"GIO! GAK LUCU IH! AKU KAN KHAWATIR!" Teriak Levy kesal.


"Iya-iya sayang, aku minta maaf. Aku gapapa kok, jangan marah ya." Gio memeluk Levy erat.


Levy acuh, ia sedang kesal sekarang.


Chup...


Gio mengecup pipi Levy, lalu terkekeh geli. "Jangan marah ya honey."


"Hem."


"Kok cuma 'hem'?"


"Iya my honey bunny sweety, aku gak marah kok."


"AWWW! Cantik banget sih pacar aku!" Gio mencubit pipi Levy gemas.


"Aww!"


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


__ADS_1


Punya ku, titik!


__ADS_2