
Shasa dan Ziva tengah berbincang sambil memperhatikan anak-anak mereka yang tengah bermain bersama di taman belakang kediaman Algreat.
Nabila Zerin Algreat, nama anak yang Ziva angkat beberapa hari lalu. Anak perempuan cantik yang langsung memanggil nya 'mama' saat pertama kali mereka bertemu di tempat si mafia jahanam.
Asal usul Nabila tak bisa di ketahui, bocah berusia 6 tahun itu selalu menggeleng jika di tanya tentang siapa namanya dan dimana rumahnya.
Ziva tak tahu, entah kenapa hatinya terasa begitu hangat ketika melihat bocah itu. Jadi, tanpa perduli darimana Nabila berasal, Ziva langsung mengangkatnya menjadi anak dan memberinya nama yang indah.
"Nabila sayang cantik, aku rasa kalian sedikit mirip. Apakah kau yakin tidak pernah melahirkannya?" Tanya Shasa bercanda.
"Hei! Jangan bicara sembarangan! Ingatan ku itu masih sangat bagus oke!"
Shasa hanya terkekeh mendapatkan bantahan dari Ziva. Lalu tatapan nya kembali teralihkan pada dua bocah yang terlihat begitu senang dan menikmati waktu bermain mereka.
"Lihatlah, Kevan terlihat sangat senang bermain dengan Nabila. Padahal dulu kamu tahu sendirikan, Kevan tidak suka bermain dengan teman seumuran nya apalagi perempuan."
Ziva terkekeh, "Bagaimana jika kita jodohkan saja mereka?" Ia menaikan turunkan satu alisnya untuk menggoda Shasa.
Shasa pun tertawa, "Yah, boleh saja. Toh gak ada larangan nya, kan mereka cuma sepupu." Kedua wanita dewasa itu tertawa bersama.
"Tidak ada perjodohan! Biarkan mereka memilih pasangan mereka sendiri." Tiba-tiba Zevan datang entah darimana mana dan menyela obrolan keduanya.
Shasa mengusap tangan kekar sang suami yang melingkar di perutnya, "Aku tidak akan memaksa, mereka memiliki hak untuk menentukan pasangan masing-masing."
"Tapi bukankah menyenangkan jika mereka akhirnya menikah?" Zevan langsung menatap tajam kembarannya.
Bukannya Zevan tak suka dengan Nabila. Ia adalah anak yang cantik dan baik, juga penurut. Tapi, Zevan tak mau jika nantinya Kevan akan tertekan karena sebuah perjodohan, ia pernah merasakannya dan tak mau anaknya nanti merasakan hal itu juga.
Biarkan anak-anak nya nanti memilih pasangan dan jalan hidupnya sendiri, Zevan akan selalu ada di belakang dan mendukung mereka dalam setiap langkah yang mereka ambil.
Ziva hanya terkekeh menanggapi tatapan tajam dari adik kembarnya. "Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius seperti itu, wajahmu mengerikan." Ziva tak bohong, sungguh, bulu kuduknya saja sampai berdiri hanya karena tatapan tajam dari Zevan.
Memutar bola matanya malas, Zevan lebih memilih menghampiri dua bocah yang masih bermain di depan sana, meninggalkan Ziva dan Shasa yang kembali bercerita ria.
•
•
•
Nabila dan Kevan, dua bocah dengan paras rupawan itu terlihat begitu antusias ketika merasakan tendangan bayi Shasa saat mereka mengusap perut wanita itu.
__ADS_1
"Wah, adiknya menendang!!" Teriak Nabila kegirangan.
"Kevan Ndak sabar nunggu adik lahir." Kini Kevan mencium perut buncit sang ibu.
"Adiknya Kevan cewek atau cowok aunty?" Nabila menatap Shasa polos, membuat wanita itu merasa gemas dan ingin mencubit pipi tembam nya.
"Cewek sayang." Shasa mengusap lembut kepala Nabila yang terlihat antusias. "Wah! Nab punya temen buat main boneka dong?!"
"HORE!" Gadis kecil itu bersorak senang ketika Shasa mengangguk tipis kepadanya.
Alis Shasa berkerut ketika Kevan tiba-tiba membekap mulut Nabila. "Emh!!Emh!!" Si cantik memberontak namun Kevan tak kunjung melepaskan bekapan nya.
"Syuutt...udah malem, adik pasti sudah tidur, jadi jangan berisik."
Nabila mengangguk saja ketika Kevan membisikinya seperti itu, terlihat sangat polos dan penurut, bahkan gadis kecil itu langsung duduk diam tanpa berkutik sedikit pun.
Hal itu langsung membuat tawa Shasa mengudara. "Sudah-sudah, ayo tidur, ini sudah malam."
"Nab mau tidur disini sama aunty, boleh ya?" Dengan mata polos yang mempesona, Nabila membuat Shasa tak bisa berkutik.
Kevan pun tak mau kalah mengikuti jejak kakak sepupunya itu, "Kevan juga mau tidur sama mommy!"
Tapi, tatapan melas dan wajah polos itu membuat Shasa tak tega untuk menolak.
"Baiklah, kalian cuci kaki dan gosok gigi sana. Biar mommy bersihkan dulu tempat tidurnya."
"HORE!!" Sorak keduanya senang, lalu beranjak turun dari ranjang bersama untuk pergi mencuci kaki dan menggosok gigi.
Biarlah nanti Zevan menjadi urusan Shasa, pria itu pasti tak akan bisa merajuk terlalu lama dari istri tercinta.
•
•
•
Sesuai dugaan, Zevan si bayi besar pagi ini merajuk karena semalam ia terpaksa tidur di kamar tamu karena kasur dan istrinya telah di poligami oleh dua bocil kematian yang sialnya menggemaskan.
Zevan sejak tadi pagi terus saja memeluk Shasa, tak membiarkan istrinya pergi kemana-mana, bahkan ke kamar mandinya pun akan ia ikuti.
Selagi dua bocil kematian tengah bersekolah, maka Zevan bebas bermanja-manja dengan Shasa. Masa bodoh dengan bekerja, ia sudah meminta sekertaris nya untuk mengosongkan semua jadwal nya hari ini.
__ADS_1
"Zevan, lepaskan dulu, nanti gelasnya bisa jatuh."
"Ck, lagipula kamu ngapain cuci piring sih? Di rumah ada maid, kamu tinggal bersantai saja dan manjakan suami mu yang tampan ini." Zevan meletakkan dagunya di bahu Shasa dengan wajah cemberut.
"Ish! Itumah maunya kamu aja." Laki-laki itu menunjukkan cengiran lebarnya.
Setelah dari dapur, kini keduanya duduk bersantai di ruang keluarga, menonton TV bersama, tentu saja dengan Zevan yang masih bermanja pada sang istri.
"Nanti sore temenin aku periksa baby ya."
Zevan mengangguk pelan, tangan besar nan berurat nya mengusap pelan perut Shasa yang sedikit membuncit. "Sehat terus princess, daddy love you."
"Princess love daddy to." Shasa membuat suara seperti anak kecil, seolah-olah yang menjawab ucapan Zevan adalah bayi dalam perutnya.
Zevan mencubit gemas hidung Shasa lalu mereka tertawa bersama.
Siang ini, kedua pasangan suami istri itu menghabiskan waktu berdua dengan bercerita dan membicarakan tentang masa depan anak mereka nanti.
Jarang sekali mereka bisa seperti ini, meluangkan waktu bersama di tengah kesibukan Zevan sebagai pebisnis dan Shasa sebagai model walaupun wanita itu tengah Hiatus untuk beberapa tahun kedepan.
Oh, kabar kehamilan Shasa belum di publikasikan, mungkin besok mereka akan akan melakukan nya.
"Permisi nyonya, tuan." Seorang maid berjalan mendekati mereka, membuat tawa kedua insan yang saling mencintai itu terhenti.
"Ya, ada apa bi?"
"Ada yang mau bertemu dengan nyonya?"
Dahi Shasa berkerut, "Siapa?"
"Anakku."
Tubuh Shasa membeku seketika, ia menatap terkejut pada laki-laki yang kini telah berdiri sejajar dengan sang ma.id.
Dia Jho, laki-laki yang telah membuat Shasa bisa terlihat di dunia ini. Laki-laki yang membuang anaknya hanya Kate seorang wanita ular.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Nabila Zerin Algreat
__ADS_1