
Dengan diantarkan oleh Shasa, kini Levy pun telah sampai di ruang kerja Gio.
Air mata perempuan itu tak bisa dibendung lagi ketika ia melihat sosok sang kekasih yang tengah duduk di kursi kerjanya, terkejut atas kedatangan Levy yang begitu tiba-tiba.
Dilihatnya laki-laki itu mulai berdiri, hendak menghampiri nya namun Levy sudah lebih dulu menerjang tubuh Gio dengan sebuah pelukan erat.
Grep...
"I love you, i need you, and i want you so much."
Gio nampak kebingungan, namun ia tetap membalas pelukan Levy. Di usapnya punggung sang kekasih dengan perlahan.
Laki-laki menatap Shasa dengan tatapan bertanya, sedangan yang di tatap hanya mengangkat bahu laku melambaikan tangan dan pergi dari sana.
"Honey, what's wrong? are you okey?"
Levy tidak mengatakan apapun dan ia memeluk Gio terus, tak mau melepaskan pelukannya barang sedetik saja.
Gio yang paham jika kekasihnya sedang tidak baik-baik saja pun membawa dirinya dan sang kekasih menuju sofa yang ada disana. Karena tidak akan nyaman jika mereka berpelukan sambil berdiri seperti itu terus.
Laki-laki itu membiarkan Levy memeluknya hingga perempuan itu puas, Gio tahu bahwa Levy tengah membutuhkan seseorang untuk tempat bersandar sekarang.
•
•
•
Berhubung perusahaan Zevan berada tak jauh dari sana, Shasa pun berinisiatif menghampiri sang suami ke perusahaannya. Ia juga membawa makanan, berhubung ini sudah jamnya makan siang.
"Tuan Zevan, lihatlah, saya sudah membelikan makan siang untuk anda, apakah anda tidak berselera untuk memakannya?" Wanita itu menunduk, memperlihatkan belahan dadanya yang terekspos karena kancing teratas bajunya yang tidak di kancing kan dengan benar.
Apa-apaan ini? apa yang sedang Shasa lihat sekarang?! Seorang wanita tengah menggods suaminya?
Pemandangan itu terlihat jelas dari jendela ruangan yang sedikit terbuka oleh Shasa. Wanita itu ingin masuk untuk melabrak, namun sebelum itu, ia ingin melihat bagaimana respon sang suami menghadapi wanita kurang belaian ini.
Bugh...
Tanpa diduga Zevan langsung mendorong perempuan itu menjauh hingga menabrak tembok ruangan. "Enyahlah kamu, dan bawa makanan mu itu, saya tidak mau."
Namun j*lang tetaplah j*lang, mereka tidak akan menyerah sebelum mendapatkan mangsanya.
Wanita itu kembali berdiri, ia membuka satu kancing bajunya lagi hingga gunung semeru miliknya semakin terlihat jelas. "Saya tidak percaya jika anda tidak tergoda setelah melihat ini," Wanita itu tersenyum, menunjukkan pose sesexy mungkin untuk memikat Zevan.
Bukannya tergoda, Zevan malah ilfeel melihat nya. Jika di bandingkan dengan Shasa, wanita itu bagaikan sebuah kotoran tak berharga sedangkan Shasa adalah sebuah mahkota yang selalu berada di atas kepala.
__ADS_1
"Pergilah, kau menjijikkan. Mulai hari ini kau di pecat!"
"Tidak tuan! anda tidak bisa melakukannya!" Wanita itu langsung berjalan mendekati Zevan, di tariknya tangan Zevan untuk menyentuh dadanya. "Rasakan lah tuan, bukankah dia terlihat sangat menggoda?"
SRET...
"AKHH!!!" Wanita itu menjerit ketika rambutnya di tarik kebelakang oleh seseorang. Ya, siapa lagi jika bukan Shasa?
"Berani sekali kau menggoda suamiku, KAMU SUDAH BOSAN HIDUP YA?!"
"L_lepaskan aku, tu_tuan...tolong..." Wanita itu menatap Zevan memohon, namun sang empu hanya memperhatikan dengan wajah datar.
Bugh...
"AKH!" Wanita itu kembali menjerit ketika sepatu hak tinggi milik Shasa menendang kuat betisnya. "Rasakan itu, dasar wanita kurang belaian!!"
DUAGH... DUAGH...
Shasa sudah kepalang kesal, rasanya ia ingin menghabisi wanita itu sekarang juga. Namun sayangnya, Shasa masih memiliki hati untuk tidak melakukan itu.
"Pergi! sekarang kau di pecat!!"
Wanita itu berlari tunggang langgang meninggalkan ruangan Zevan dengan keadaan yang begitu berantakan, ia terlalu takut dengan Shasa yang terlihat menyeramkan ketika marah. Wanita itu tidak segan-segan untuk main tangan dan melontarkan kata-kata pedas padanya.
Shasa mendudukkan diri di sofa dengan kencang, ia melirik sejenak makanan yang sudah ia letakkan di atas meja sejak tadi, sebelum ia menghajar wanita itu. Sekarang nafsu makannya sudah menghilang, di gantikan dengan rasa kesal.
"Sayang, duduknya pelan-pelan ya, kasihan baby."
"Kamu diem! aku lagi marah sama kamu!"
Zevan melongo, "Kok marah sama aku? kan yang salah wanita tadi."
"Ya kamu juga salah! Siapa suruh ganteng hah?! Kan banyak yang godain." Shasa kesal pokoknya, kenapa juga suaminya itu terlahir dengan wajah tampan? merepotkan saja.
Zevan hanya bisa menghela nafas pasrah, "Iya deh, aku salah. Aku minta maaf ya?"
Shasa memalingkan muka kesal, "Hump!"
Zevan tersenyum, di tariknya dagu Shasa pelan hingga wanita itu menatapnya. "Maaf ya sayang, jangan marah lagi. Kamu makin cantik kalau marah gini, nanti kalau ada yang suka gimana?"
"Biarin!" Shasa melipat tangan di depan dada, sedangkan Zevan sudah memasang muka melas. "Kamu kok jahat sih?"
"Kamu lebih jahat, kenapa juga kamu harus ganteng? kenapa gak jelek aja?"
•
__ADS_1
•
•
KRINGG....
Suara bel istirahat pertama telah berbunyi, semua murid bersorak gembira, mereka langsung berhamburan keluar dari kelas setelah sang guru menutup pembelajaran dengan salam.
Kean dan Kevan telah berdiri, keduanya akan pergi ke kantin sebelum sebuah suara menginstrupsi keduanya. "Kevan."
Keduanya menoleh, di sana ada Lia yang tengah berjalan mendekati mereka yang baru saja keluar dari kelas. "Miss Lia? what's wrong?"
"Miss Lia mau ngobrol berdua sama Kevan, boleh?" Izin perempuan itu sambil tersenyum ramah.
Kean mengerutkan kening, menatap curiga guru perempuan itu. "Kenapa tidak berbicara disini saja? Aku harus bersama Kevan karena dia adalah keponakanku, dan dia juga adalah tanggung jawab ku."
"Tapi saya butuh membicarakan ini berdua dengan Kevan, apakah boleh?" Lia menatap Kean penuh permohonan, namun laki-laki itu malah menggeleng. "No!"
"Saya mohon tuan, hanya sebentar saja, tidak akan lama."
Kean menggeleng kukuh, ia dan sepupu-sepupu nya yang lain sudah lama mencurigai Lia karena perempuan yang terlihat selalu memperhatikan Kevan diam-diam. Ia tentu tidak akan membiarkan perempuan mencurigakan itu berbicara hanya berdua dengan Kevan. Bagaimana jika keponakannya itu nanti di culik oleh Lia? bisa habis Kean sama Zevan.
"Hanya sebentar saja tuan, saya mohon."
"Uncle, Kevan mau bicara sama Miss Lia sebentar, boleh ya?" Kevan memegang tangan Kean, menatap anak dari kakaknya neneknya Kevan itu dengan tatapan memohon.
Kean menggeleng, "Tidak boleh."
"Uncle~" Bocah itu merengek, menunjukkan Poppy eyes andalannya kepada Kean.
Jika sudah begini, apakah Kean masih bisa menolak? Tentu saja tidak!
"Baiklah, tapi sebentar saja ya?"
"Oke~"
"Ayo Miss." Kevan menarik tangan Lia untuk masuk kedalam kelas, tak lupa ia juga menutup pintu kelas supaya Kean tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Katakan!" Raut wajah Kevan yang semula terlihat ceria kini tiba-tiba menjadi datar.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
A'a Bandung nih, Haechal namanya.
__ADS_1