DIA ELVARO

DIA ELVARO
BAB 24 Diminta Menjauh


__ADS_3

...Bantuan yang tulus Seharusnya tidak diselipkan syarat khusus...


" KAMU ke mana aja ? Tadi Papa ke sekolah, kamu nggak ada, "


Starla yang tengah memainkan seatbelt sontak menoleh sekilas ke arah Niko yang sedang fokus menyetir, " Starla tadi Pulang sendiri. soalnya Starla Pikir Papa nggak jemput,"


" Seenggaknya kamu telepon Papa dulu, " Niko memutar kemudi ke arah kanan, " Terus siapa cowok tadi, "


Starla sudah menebak ayahnya akan menyidangnya setelah menangkap dia sedang bersama Elvaro tadi. Tidak heran lagi, ayahnya memang seprotektif ini soal Pergaulan, " Teman Starla, Pa"


Niko melirik Starla sekilas, agak tidak Percaya, " Papa nggak suka kamu main sama dia. kelihatannya dia bukan anak baik-baik. "


Starla spontan menggeleng, menyenggah Pendapat Niko barusan," Elvaro baik kok, Pa, "


Niko melirik Starla sekilas dengan tatapan yang tidak bisa dibaca,


" Anak suka berantem, kan "


Starla tidak menjawab, Mungkin lebih tepatnya mau jawab apa jika dia bilang tidak, tidak juga. jika dia bilang iya, juga tidak. Starla takut malah salah memberikan jawaban nanti


" Diam artinya iya, " Cetus Niko datar


" Enggak, kok Pa. Elvaro bukan anak nakal yang suka berantem kayak yang Papa Pikirkan, "


" Terus kenapa dia babak belur kalau nggak berantem,"


Bulu kuduk Starla meremang. Merasakan aura Dingin Niko yang bercampur dengan aura dingin AC ayahnya terkesan lebih seram daripada hantu Penjaga toilet di sekolah sekarang


" Em ... tadi itu ... "


" Nggak Perlu bikin alasan. Papa juga Pernah jadi anak remaja. Starla,"


Starla hanya menunduk menatap ujung sepatunya. kalau ayahnya sudah berbicara seperti ini. Starla tidak mampu menjawab apa-apa lagi


" Pokoknya Papa nggak mau kamu bergaul sama tipikal orang kayak gitu. Papa nggak mau kamu sampai salah arah


Starla memilih diam, tidak menjawab. Hanya melirik keluar jendela menatap Pepohonan di tepi jalanan menuju rumahnya


" Siapa namanya ?"


" Elvaro Pa, "


" Nama Panjangnya, "


" Elvaro Buwana Aldebaran,"


Niko mengernyitkan kening, seperti tidak asing dengan nama Panjang itu


" Kenapa Pa ?" tanya Starla bingung Niko menggelengkan kepala Singkat


" jangan dekat-dekat lagi sama anak itu. Jauhin dia Papa nggak mau kamu jadi ikut-ikutan berantem sama dia, " titah Niko setelah mobilnya sudah berhenti di depan rumah


Starla menoleh ke arah Niko cepat. ini tidak Starla inginkan ketika Pergaulannya di batasi


" Tapi, Pa ... "


" Papa lakuin ini demi kebaikan kamu,"


Starla menjatuhkan bahu lemas. Hanya bisa mengembuskan napas Pasrah kemudian


" iya, Pa, " Cewek itu langsung mencium Punggung tangan Niko Pamit, " Papa nggak masuk dulu,"


Niko menggeleng, " Nanti bilang sama Mana ada yang Perlu Papa selesaikan di kantor,"


Starla mengangguk mengerti sebelum kemudian benar-benar turun dari mobil dan masuk ke rumah. setelah memastikan Starla masuk, Niko langsung mengambil Ponsel dan lantas menghubungi seseorang


" Reynan bisa lo bantuin gue ?"


" .... "


" Cari tau soal latar belakangnya Elvaro Buwana Aldebaran, secepatnya, "


...•••••...


Elvaro baru saja menutup pintu rumah dari dalam ketika mendapati Melati yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Melati Spontan membeliak, setelah melihat kondisi abangnya yang babak belur


" Bang El berantem lagi ?"


Elvaro refleks membungkam mulut Melati dengan tangan Supaya Wulan tidak mendengar. Lalu mengangguk Pelan, Melati melirik lebam-lebam di wajah Elvaro saksama. Lalu mengerutkan raut tidak suka.


" Melati marah, ya sama Abang kalau berantem-berantem lagi. kalau Abang kenapa-kenapa, gimana ? Nanti Melati sama ibu, gimana, "


Elvaro tersenyum tipis memandangi adiknya yang sedang menggerutu itu. Lalu menyentuh kedua bahu Melati seraya menatapnya hangat


" Abang nggak akan berantem-berantem lagi, kok, " Elvaro mengelus rambut adiknya lembut, " ibu, mana, "


" Tadi sih, Melati lihat lagi tidur," Elvaro manggut-manggut Sekilas. Lalu kemudian Pamit ke kamar untuk berganti baju


setelah melucuti seragam dan menggantinya dengan Kaus hitam seketika saja ia teringat dengan Starla. Melihat bagaimana cara Ayah gadis itu memandanginya tadi, Elvaro takut kalau Starla akan dalam masalah karenanya


ia lalu mengetik sebuah Pesan seraya beranjak dulu ke tepi kasur


...Elvaro...


...Starla, semuanya baik-baik aja, kan ?...

__ADS_1


...Starla Amada Aurora...


...Baik-baik aja kok :-)...


...Elvaro...


...Papa kamu ... kelihatannya nggak suka aku, ya ?...


...Starla Amanda Aurora...


...Enggak kok Perasaan kamu aja kali Papa aku memang gitu orangnya, datar jadi rada seram...


Elvaro Tersenyum tipis. Lalu mengetik sebuah Pesan lagi


...Elvaro...


...Selamat tidur Gadis Elvaro...


...Starla Amanda Aurora...


...kamu juga selamat tidur...


Elvaro refleks Tersenyum kecil membaca Pesan dari Starla barusan


Pranggg !!!!


Elvaro refleks mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara seperti Pecahan kaca itu. Langsung bergerak Panik menuju sumber suara yang tampaknya berasal dari dalam kamar ibunya.


" Ibu, " Pekik Melati di depan pintu kamar Wulan. adiknya Spontan masuk ke dalam dengan cepat


Elvaro membulatkan bola mata Panik. seperti kehilangan seluruh oksigen di sekitarnya saat itu juga


Wulan tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan retakan gelas kaca yang berserakan di samping tubuhnya


...••••...


Elvaro menetralkan napasnya sendiri. sesekali memeluk Melati yang menangis karena Panik, Sangat takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak Pada Wulan, ibu mereka, " ibu bakalan baik-baik aja. Udah jangan nangis lagi," Ujar Elvaro


Setelah hasil uji laboratorium sudah keluar, Keduanya langsung memasuki ruangan dokter. Bertanya lebih lanjut bagaimana kondisi-kondisi ibunya sekarang


" Gimana ibu Melati Dok Ibu Melati nggak Kenapa-kenapa, kan"


" Komplikasinya semakin Parah. Batu ginjal Pada Pasien juga cukup besar Ukurannya. Sementara waktu Pasien akan dirawat dulu di sini, " ujar dokter


" Lakukan yang terbaik untuk ibu saya, Dok, " Pinta Elvaro memohon benar-benar gelisah dengan kondisi ibunya saat ini


" kita harus segera melakukan Operasi,"


Pernyataan dokter tersebut berakhir membuat Elvaro terus kepikiran Tidak yakin jika Uangnya akan cukup untuk biaya operasi. Ditambah lagi dia sudah tidak lagi melakukan Pekerjaannya yang kemarin. Paling-paling sisa tabungan hanya cukup untuk biaya Perawatan di rumah sakit ini.


Seandainya BPJS ibunya bisa dipakai dan tidak mengalami masalah Elvaro Pasti tidak akan sekebingungan ini


" kurang lebih sekitar lima Puluh juta, Mas,"


Elvaro sukses melemas Seketika. Uangnya benar-benar tidak Cukup untuk biaya operasi


Hanya ada satu nama di benaknya kini. ia harus meminta Pertolongan Pada ayahnya. ayahnya Pasti Punya uang yang cukup untuk itu. Ya ia harus mendatangi ayahnya sekarang


" Melati, Melati kamu tau kan kantor ayah di mana, "


...••••...


" Woooo .... hebat, hebat !' Puji Daniel berbinar seraya bertepuk tangan setelah Starla berhasil menjatuhkan lawan duel karatenya


Berganti orang. Starla kemudian duduk meluruskan kaki di samping Daniel. Lalu mengembuskan napas lesu


Daniel meniliknya, bingung. " Muka lu sedih amat mbak kayak Habis kehilangan subscriber-nya,"


Starla menjatuhkan bahu lesu


" Bokap gue larang gue dekat sama Elvaro, "


Daniel menyodorkan air Putih kepada cewek itu, " jadi lo bakal menjauh dari Elvaro,"


Starla diam sejenak. Lalu menoleh ke arah Daniel dan tersenyum aneh


" Enggak, lah ! kayak nggak tau gue aja lo,"


Daniel mendelik. kemudian dengan jail menarik kepala Starla untuk kemudian berpura-pura hendak menggigit ubun-ubunya


" Gigit Jangan ? Penasaran gue seberapa keras kepala lo,"


Starla tergelak lalu menjauhkan diri, " Euh, Jijik Gigi lo pasti belum dibersihin selama sembilan bulan kan,"


" Sialan lo, Lo kata gue ini lagi hamil apa,"


Starla hanya tertawa sambil mengacak jail rambut Daniel, jadilah mereka berdua sibuk mengacak-acak rambut satu sama lain. Lelah Starla memilih menjauhkan diri, " Udah, Udah,"


Daniel hanya berlagak mencakar- cakar wajahnya di udara. Starla hanya tertawa Polos. Entah kena angin apa tiba-tiba saja ia teringat dengan nama Buwana. jujur, saja sebenarnya nama itu terkesan familiar, seperti ia pernah mendengar nama itu sebelumnya


" Eh, Dan ! Lo ingat, nggak teman kita dulu yang ada nama belakang Buwana- nya ?


" Eh, " Daniel mengerutkan dahi. aneh saja tidak ada angin tidak ada hujan cewek itu tiba-tiba menanyakan itu kepadanya, " Ya, mana gue tau Lo tanya sama gue sangat rajin sekali gue menghafal nama belakang anak orang, "


Starla hanya mengerucutkan bibir karena rasa Penasarannya tidak terjawab Salahkan saja rasa Penasarannya yang selalu saja berlebihan ini

__ADS_1


" Lagian love gaje banget deh, Nggak ada bakwan, nggak ada cabai setan tiba-tiba nanya gituan"


Starla menghela nafas, " Cukup mengertilah jika saya memang kepo orangnya, "


Daniel hanya menjulurkan lidahnya malas tidak mau Peduli


" BTW, Elvaro mana ya ? Dari tadi Pesan gue belum dibalas juga,"


Starla mengerdikkan bahu, " Nggak ada kuota kali, "


" Tadi sore kita Chat kok masih dibalas, "


" Berarti kuotanya habis,"


Starla mencebik jawaban Daniel sama sekali bukan jawaban yang bisa menghiburnya


" Lo itu ya, benar-benar udah kayak anak ABG yang Pertama kali merasakan mabuk cinta deh, Awas loh bisa jadi toxic entar, "


Starla hanya mendecak sebal.


" Gini ya, Starla, " Daniel mulai berlagak memplagiat salah satu motivator yang ingin berkata bijak," Lo mau Jatuh Cinta sama siapa aja itu nggak masalah. Tapi kalau jatuh ya, jangan keras-keras jatuhnya. kalau udah bikin luka Parah yang ada entar. susah lo sembuhinnya,"


Starla menatap Daniel takjub. Lalu menempelkan Punggung tangannya ke jidat Daniel tiba-tiba


" Kemasukan setan apa lu, Dan ? jadi bijak kayak gini,"


Daniel hanya mengangkat dagu angkuh sambil bersedekap seperti biasa sebagai respons


" Btw vlog gue sama Elvaro itu gimana. Udah jadi apa belum, " Tanya Starla


Daniel mendelik, lalu menggeleng tidak mengerti apa lagi, " Vlog Mulu di di Pikiran lo Starla apa nggak ada yang lain selain itu, " jawab Daniel Starla hanya terkekeh


...•••••...


" jadi apa yang mau kamu Omongin sama saya, " Tanya Gio, ayahnya setelah menyerut jus delimanya


Setelah menemui Gio di kantornya, Gio berujar agar mengobrol di tempat lain saja. Dan disinilah Elvaro dan Gio berada, di sebuah kafe di seberang kantor, saling duduk berhadapan


Elvaro menghela nafas, sebelum kemudian bersuara


" ibu .... butuh biaya operasi ?"


Gio manggut-manggut Paham


" El mau Ayah bantu menambah uang biaya Operasi, " Elvaro diam sejenak."Dan El minta tolong banget sama Ayah, "


Gio melipat tangan di atas meja seraya manggut-manggut, " Baik, Tapi ada syarat untuk itu, "


Elvaro menaikkan alis, " Syarat,"


Gio mengganguk, " Ya, syarat, dengan melancarkan dendam saya,"


Elvaro makin tidak mengerti


Seolah mengerti Elvaro tidak Paham, Gio kembali bersuara,


" Starla Amanda Aurora Dia Pacar kamu, kan ?


" Dia nggak ada hubungannya sama ini,"


" Tentu ada, " sergah Gio, " ibarat sebelum merobohkan sebuah gedung kita harus menghancurkan dulu Pondasinya, " Elvaro hanya menatap Gio tidak mengerti


" Saya dan ayah Starla itu rival. Dia selalu merebut apa yang saya inginkan. Dia selalu menjadi yang utama dan berhasil menjadi Pemimpin utama. Nggak hanya selalu menang soal organisasi intra-sekolah aja, tapi juga dalam bisnis. Dia juga sempat membuat Perusahaan saya bangkrut Dan kamu juga harus tau kalau dia juga Pernah membuat saya di Penjara, dalam kurungan lama" cerita lelaki dengan jas warna abu-abunya gelap itu dengan raut wajah emosinya yang sedikit kentara


" Saya akan membantu biaya operasi Ibu kamu, jika kamu mau menuruti Perintah saya, "


Elvaro tidak suka jika melibatkan orang yang ia cintai. Dengan tangan mengepal Elvaro menatap Gio dengan datar, " Starla bukan Pacar saya,"


Gio malah tertawa seperti tidak Percaya dengan omongan cowok itu," Begitu ya ? kalau gitu bisa kamu jelaskan maksud dari foto-foto ini, " balas Gio sarkastis seraya mendorong beberapa foto Polaroid yang ia letakkan di atas meja Sampai ke hadapan cowok itu


Elvaro menatap Gio ragu-ragu sebelum apa yang dimaksud Matanya seketika saja membeliak. itu adalah foto-foto dirinya dengan Starla bagaimana ayahnya bisa tahu membuat Elvaro tidak bisa berkata-kata lagi


" Kamu nggak bisa mengelak lagi El," cibir Gio Tersenyum sinis


Elvaro lalu menatap Gio dengan Dingin, " Ayah nggak Punya hak untuk terus mengikuti El dan Starla kayak gini,"


Elvaro merobek semua foto itu. Lalu memasukkan Potongannya ke dalam gelas. minuman yang belum sempat ia minum


Gio tertawa sinis, " Kamu Pikir saya Punya waktu untuk mengikuti Kalian hanya demi mendapatkan foto-foto ini,"


Elvaro mengerutkan dahi itu artinya, Gio Pasti Punya kaki tangan. jika sebagian foto itu diambil di lokasi sekolah, itu artinya Pelakunya Pasti murid sekolah yang sama dengannya. Tapi ... siapa ?


" El, nggak akan mau menuruti kemauan Ayah. Lagian ibu itu tanggung ayah nggak seharusnya ada syarat untuk itu, "


Gio mengerutkan raut, menatap Elvaro dengan tatapan marah,


" Kenapa kamu nggak bisa jadi anak yang saya diandalkan sedikit Pun, Hah, "


Elvaro tidak menggubris. Memilih bangkit berdiri,


" Lagian Permintaan El yang tadi El bisa cari uang sendiri Maaf udah buang-buang waktu Ayah,"


Baru saja Elvaro berniat Pergi. Gio malah bersuara kembali


" Kamu yakin, Starla masih akan menerima kamu setelah tau apa yang terjadi Pada Saudara kembarnya sembilan tahun yang lalu itu adalah ulah saya,"

__ADS_1


Elvaro mengeraskan rahang dengan tangan yang kembali terkepal geram Namun ia memilih untuk tidak menggubris, lantas melangkahkan kakinya untuk segera Pergi meninggalkan kafe ini.


...••••...


__ADS_2