DIA ELVARO

DIA ELVARO
BAB 28 sebuah Pilihan yang sulit


__ADS_3

...Melepasmu, bukan keinginanku.....


...Tetapi ditetapkan menjadi takdir.....


...Menjadi tegar bukan pilihanku.....


...Tapi, itu menjadi satu-satunya jalan keluar..”...


" Abang sama Melati nggak sekolah ?


Elvaro duduk di sebelah ranjang menyampirkan rambut Wulan yang menutupi wajah Pucat Perempuan itu ke belakang telinga. Lalu tersenyum tipis, " Hari ini Minggu, Bu,"


Wulan tertawa kecil. Pantas saja Melati masih tertidur jam segini


" Kelamaan di sini, ibu sampai lupa ini hari apa,"


Elvaro hanya tersenyum simpul seraya mengelus lembut tangan Wulan yang tidak tertempel jarum infus


" Makanya, Bang, bawa ibu Pulang aja " Wulan tersenyum manis, " ibu cuma akan nyusahin Abang aja kalau di sini lama-lama,"


" Bu, " Elvaro mengusap rambut Wulan lembut, " ibu sama sekali nggak nyusahin Elvaro, Elvaro sama melati mau ibu cepat sembuh,"


Wulan menatap Putra sulungnya dengan tatapan sendu, sukses membuat Perasaan Elvaro sedikit teriris, " Maafin ibu ya, "


Elvaro menggeleng, menyanggah


" ibu nggak salah apa-apa. justru Elvaro yang harusnya minta maaf, nggak bisa Cepat-cepat lunasi biaya administrasi operasi ibu,"


Wulan tersenyum sendu, " Abang nggak Perlu memaksakan diri. ibu, nggak apa-apa kok, kalau nggak dioperasi Yang ada kalau ibu kelamaan di sini Pengeluarannya kan malah makin banyak, "


Wanita dengan bibir Pucat itu lantas mengusap wajah Elvaro Pelan, " Abang nggak usah khawatir. ibu janji nggak akan jadi beban buat Abang lagi,"


Elvaro menggaet tangan Wulan dari wajahnya. Mengenggamnya lembut, " ibu jangan banyak Pikiran. Mendingan ibu istirahat lagi, ya,"


Wulan tersenyum simpul. sebelum kemudian raut wajahnya beringsut kelihatan risi. Wanita lemah itu tiba-tiba meringis, bahkan menguraikan air mata samar. membuat Elvaro seketika Panik


" ibu ? ibu kenapa, " Panik Elvaro. Wulan terus saja merintih Sakit memegangi Perut bagian kirinya seraya memeramkan mata mengaduh kesakitan


Melati yang sedang tertidur Pun sampai terbangun begitu mendengar rintihan Wulan


" Bang, ibu kenapa ?


Elvaro Panik. Benar-benar Panik segera menekan tombol Pemanggil di sisi ranjang Wulan menunggu Perawat atau dokter segera datang


Perawat yang datang langsung saja melakukan Pertolongan medis Membantu Wulan. setidaknya untuk menghilangkan sedikit rasa sakit ibunya rasakan


" Biaya administrasi Operasi sudah diurus kalau bisa secepatnya Pasien harus segera di Operasi,"


Melihat kondisi ibunya, Elvaro semakin mencelos. Uangnya sama sekali belum cukup untuk biaya operasi. ia benar-benar kelimpungan harus melakukan apa saat ini


Hanya satu nama yang terbesit di Pikirannya kini. Gio ayahnya


Elvaro tidak Punya Pilihan lain. ibunya harus segera dioperasi Elvaro lantas menyentuh kedua bahu Melati yang juga sama resahnya untuk kemudian menatap cewek itu

__ADS_1


" Melati kamu jagain ibu bentar ya,"


" Abang mau ke mana,"


Elvaro menghela nafas sejenak agar terkesan lebih santai, " Abang nggak akan lama Melati tunggu di sini jagain ibu, jangan ke mana-mana,"


...••••...


" Lo harus tanggung jawab karena lo udah bikin dia hamil Gio, "


BUGH


Gio ingat bagaimana mereka berakhir saling baku hantam saat itu Niko membuat orang yang ia cintai Pergi. Niko telah membuat Gio frustasi dan berakhir melakukan hal fatal Pada Wulan. sekretarisnya saat itu. jika bukan karena Niko, Gio tidak akan Pernah bertanggung jawab lagi dan lagi Pada Wulan


Gio tidak akan kehilangan Veren, wanita yang ia cintai. Gio tidak akan kehilangan Perusahaan yang ia miliki. Niko telah membuatnya hancur sedemikian rupa secara tidak langsung


semenjak saat itu, Gio semakin membenci Niko dan melakukan berbagai cara agar lelaki itu bertemu kehancurannya


...••••...


Niko memantapkan diri sebelum kemudian mengetuk Pintu Kamar Starla tiga kali, " Starla,"


Yang dipanggil tidak menjawab, memilih menutupi diri dengan selimut Starla masih belum bisa meminta maaf. karena jujur, ia masih sedikit kecewa dengan Niko


" Papa tau kamu masih marah. Papa tau Papa udah kelewatan. papa sama sekali nggak bermaksud ... " Niko melanjutkan menatap tangannya sendiri nanar


Starla mengerti, tetap memilih tidak bersuara


" Papa cuma berusaha lakuin yang terbaik. Walaupun ujung-ujungnya Papa malah kelihatan egois,"


" Papa cuma takut kejadian dulu keulang lagi Pada kamu,"


Starla Sebenarnya cukup mengerti. Namun balik lagi. Pasalnya ia masih kecewa, " Starla lagi nggak mau diganggu Pa. Tolong ngerti,"


Niko mengembuskan napasnya gusar." Papa ngerti. Papa akan biarin kamu sendiri dulu,"


setelahnya, tak ada lagi Suara apa-apa. Starla menyibak selimut Setelah dirasa Niko sudah Pergi. Namun lagi-lagi terdengar suara ketukan Pada Pintu kamarnya Kemudian


" Starla mau sendiri Pa,"


" ini Gue Mario, "


Starla menautkan alis. Lalu berjalan ke arah Pintu untuk membuka kunci. membiarkan Saudara kembarnya masuk dengan senampan makanan dan minuman


" Lo udah melewatkan makan siang, " Mario meletakkan nampan di atas balas Starla memilih duduk kembali di atas kasurnya


" Gue lagi selera makan, Lo aja yang makan,"


Mario menatapnya sekilas, " Baikan sana sama Bokap,"


" Nanti,"


" Lo masih marah,"

__ADS_1


" Dikit,"


" Drama,"


Starla mendecak, memukul Mario dengan guling, Bahkan di Saat seperti ini Pun Cowok itu masih bersikap menyebalkan


Mario menatapnya dengan tatapan mencibir, lalu ikut duduk di tepi ranjang


" Sorry,"


Mario menoleh menatap cewek itu bingung


" Omongan gue tempo hari nggak usah didengar. Gue cuma lagi messed-up aja. jadinya melantur, " gumam Starla merasa bersalah


Mario tersenyum, " Santai. Udah lupa juga gue,"


Tangan Starla meremas seprai samar, masih merasa tidak enak Mario yang mengerti Langsung mengambil bantal dan menimpuk Starla Lalu tertawa tanpa dosa


" Drama lagi lo,"


Starla memanyunkan bibir, " Sial lu, ketek kebo,"


Mario Terkekeh, lalu menggerakkan tangan Starla untuk memegang bantal guling yang tadi. Cewek itu menaikkan sebelah alis heran


" Balas gue, Perasaan lo masih nggak nyaman, kan ? Lo bisa jadiin gue Pelampiasan,"


Starla tidak memukulnya malah menatap Mario sendu


" kalau lo mau nangis ... " Mario mengerdikkan Pundaknya , " Lo bisa Pinjam," Ujar Mario sambil tersenyum


Starla sangat tahu, semenyebalkan apa Pun Mario, Cowok itu tetap selalu menjadi Pribadi yang Pergertian Setidaknya, Semangat dari Mario sedikit membuatnya lebih tenang karena itu. ketimbang memukul atau menangis Starla lebih memilih untuk memeluk Mario erat.


" Lo nggak risi gue Peluk,"


Mario menjeda kalimatnya sejenak


" buat gue saat ini, gue rela menyampingkan kerisian gue kalau itu bisa bikin lo lebih tenang,"


Di keadaan yang seperti ini, Starla bersyukur Punya kembaran seperti cowok itu. ia lalu mengurai Pelukan, lantas tersenyum hangat


" Gue minta maaf kalau kalimat gue waktu itu menyakiti lo, Mario,"


Mario menggeleng, " Lo nggak salah kok. Lo udah lakuin hal yang benar dengan mengungkap semuanya kalau terus di Pendam aja, malah jadi Penyakit. Gue juga nggak bakalan Pernah tau apa yang lo rasain."


" Gue sama sekali nggak ada maksud buat menyudutkan lo, Mario"


" Gue ngerti, Starla,"


Starla mengulum senyum sedikit merasa lebih tenang


" By the way, kenapa muka lo Pucat banget, Mario," Tanya Starla Penasaran baru menyadari ada yang aneh Pada Cowok itu


Namun ditanya tidak menjawab. Hanya mengerdikkan bahunya lalu meminta cewek itu untuk menghabiskan makanannya saja. sebelum kemudian Pamit Pergi dari cewek itu

__ADS_1


...•••••...


__ADS_2