
Suara decitan brankar menggema di koridor rumah sakit. Para perawat media dengan sigap menangani Starla. Elvaro tak kuasa menahan harunya cowok itu menitihkan air matanya saat menatap Starla yang tengah kesakitan. keadaan rumah sakit begitu ramai, keluarga Elvaro serta Teman-temannya datang ke sini sebelumnya Elvaro memberitahu mereka saat berada di taksi
" El, sakit ... " lirih Starla bahkan suaranya nyaris tak terdengar
Elvaro menundukkan kepalanya dan mendapati Starla yang begitu deras meneteskan air matanya. Cowok itu tak bisa berkata-kata lagi, hanya sekedar menenangkan wanitanya saja lidahnya terasa keluh
Elvaro mengusap wajahnya dengan kasar. Dokter menahan tubuh Elvaro saat cowok itu akan memasuki ruang Persalinan
" APA LAGI, " sentak Elvaro
" Tenang saya ..... "
" GIMANA GUE BISA TENANG, SEDANGKAN ISTRI SAYA KESAKITAN DI SANA , " Dada Elvaro naik turun. Emosinya meningkat saat dokter melarangnya masuk ke ruang Persalinan
" Hanya boleh satu yang masuk ke dalam ruang Persalinan, " ucap dokter
Elvaro menolehkan kepalanya, di mana anggota keluarganya berdiri tak jauh darinya. isyarat matanya seolah meminta Persetujuan dari anggota keluarganya agar ia yang masuk menemani istrinya
Rudi menganggukkan kepalanya, " Kamu aja, Nak yang masuk, biar kami yang nunggu di sini,"
Elvaro menganggukkan kepalanya, tanpa aba-aba lagi cowok itu menerobos masuk ke ruang Persalinan. Di sana ada Starla yang masih di tangani oleh dokter kandungan
" Sayang,"
Starla menoleh, " El, nggak kua ... " rintih Starla
Elvaro mengenggam kuat-kuat telapak tangan dingin Starla, kemudian ia mendongakkan kepalanya menatap sang dokter dengan tatapan berharap
" Dok, nggak bisa istri saya dioperasi sesar aja ?" tanyanya
" Dari yang saya lihat, Mbak Starla masih bisa melahirkan secara normal," kata Dokter Maya
" Tapi ... "
" saya tau ini mempertaruhkan nyawa, tapi kalau kita bertindak untuk dioperasi sesar, yang ada resikonya bertambah besar," jelas dokter Maya
" Lakukan yang terbaik, pastikan anak dan istri saya selamat," ucap Elvaro
__ADS_1
Dokter Maya mengangguk, kemudian beralih memegang alih tugasnya Dokter Maya memposisikan dirinya di depan Kaki Starla
" Sekarang udah mulai bisa, Tarik napas, lalu buang, ya, Ayo, " instruksi dari dokter Maya ia arahkan kepada Starla
Starla mendesis ngilu, " El, nggak kuat, " kata Starla dengan napas tersenggal
" kuat sayang, Coba lagi, ya ? Elvaro mengenggam erat tangan Starla
Cowok itu memberikan kecupan demi kecupan Pada dahi Starla, mengusap dahi perempuan itu dan menghilangkan keringat yang membasahi wajah cantik Starla. Beberapa kali mengejan kuat, meremas tangan Elvaro dan berteriak menahan sakit di bawah sana. Starla menangis sesenggukan, ia mendadak menjadi keingat Mamanya
" El, Mama mana ? tanya Starla menatap Starla dengan mata sayu
" Mama ada diluar sayang, " Cowok itu mengusap peluh yang membasahi dahi istrinya
isakan pedih sangat terdengar di telinga Elvaro. Mulur Starla terus berucap memanggil Mamanya
" Sayang, udah, Mama ada di luar. Nanti ya, Perjuangin malaikat kecil kita dulu ya ?"
Starla memejamkan matanya, mengambil napasnya sedalam mungkin dan mengejan sekuat mungkin
" El nggak kuat, " Starla memejamkan matanya sebentar, Napasnya naik turun akibat kelelahan
" El, sakit, " rintih Starla
Elvaro memalingkan wajahnya, menghapus air matanya dengan ujung bajunya seperti belati yang menggores hatinya, melihat Starla kesakitan membuatnya tidak tega
" Sshh ... El, Takut," lirih Starla. Tangan mungilnya meremas kuat tangan Elvaro
" Kamu nggak usah takut Starla ada aku di samping kamu, " Elvaro mengusap kening Starla
Starla menganggukkan kepalanya, sebelum ia memulai lagi, Starla menarik napas sedalam-dalamnya, kemudian mengembuskan dengan kasar. Starla meremas kencang tangan serta rambut Elvaro
kepalanya Elvaro rasanya ingin lepas saja rasanya, tarikan yang diberikan oleh Starla emang bukan main
" Sakit!"
" Ayo, sekali Mbak, " instruksi Dokter Maya
__ADS_1
Tak lama suara tangis bayi terdengar nyaring memecahkan keheningan. Semua raut wajah langsung berubah menjadi lega.
Elvaro membungkukkan badannya dengan tangan yang bertumpu Pada Pinggiran brankar. Cowok itu menundukkan kepalanya Haru lega dan. bahagia cowok itu terisak Pelan, Kemudian menghapus air matanya yang saling berjatuhan
Starla menolehkan kepalanya, kala merasakan Punggung tangannya yang terasa basah, " Kenapa nangis,"
" Sayang ini nggak mimpi kan Anak kita udah lahir ? tanya Elvaro masih tak percaya
Elvaro berharap jika semua ini hanya mimpi, maka ia akan meminta untuk tidak dibangunkan dari mimpi yang bahagia ini
Starla menggeleng, " ini bukan mimpi anak kamu udah lahir udah ya, jangan nangis, udah jadi ayah masih nangis," Elvaro menghapus jejak air mata Elvaro
Elvaro tak kuasa menahan kedutan bibirnya. Sudut bibirnya tertarik ke atasn membentuk seulas senyum. Hari ini menjadi hari bahagianya walaupun diiringi dengan air mata
" Makasih ya Sayang karena kamu udah ngelahirin malaikat kecil kita karena aku udah siapin nama buat malaikat kecil kita,"
...••••...
Elvaro menimang bayinya, seolah-olah cowok itulah yang Paling berharga Elvaro sedari tadi mengajak anaknya bicara waktu tak satu pun dibalas anaknya
" Anak Papa kalau udah gede mau jadi apa, hm ? Elvaro bertanya Pada bayinya yang sedang mengemut jempolnya
" Mau jadi maling Papa, " sahut Daniel menirukan suara anak kecil
Elvaro memelototi Daniel dengan tajam, " Diem lo,"
Suasana ruang inap, Starla hari ini cukup ramai. Usai persalinan tadi, Starla langsung ditempatkan di ruang inap yang bertuliskan VVIP
" Buaya darat gue cakep juga ya, Bibit unggul nih !"
Elvaro memamerkan wajah anaknya Kepada temen-temennya
" Cewek apa Cowok El," tanya Brian
"Alhamdulillah Cowok, " jawab Elvaro tanpa mengalihkan Pandangannya dari wajah anaknya
" Gue Yakin ini anak Pasti udah besar jadi Cowok Playboy lagian Punya wajah Ganteng gitu," gumam Brian dalam hati
__ADS_1
...••••...