
...Dalam manik matamu yang sendu dengan tanganku yang terus menggenggam erat jemarimu sesulit ini aku melepaskanmu...
Elvaro harus memilih antara ibu atau Starla, Elvaro benar-benar tidak bisa memilih keputusan yang tepat. Keduanya berarti baginya. Namun masalahnya kondisi kesehatan ibunya jauh lebih Penting
" Papa kenapa baru datang sekarang ibu sakit lagi, Pa, " keluh Melati setelah melepas Pelukan dari Gio
Gio mengusap Pelan kepala gadis lugu itu. Melirik sekilas ke arah Elvaro yang sedang duduk di bangku rumah sakit dengan raut bingung sekilas.
" Maaf ya, dari kemarin Papa sibuk terus,"
Melati hanya manggut-manggut seraya membulatkan mulut sekenanya
" Sebentar, ya, " Pamit Gio berjalan mundur mengisyaratkan Pada Elvaro untuk bicara empat mata dengannya
" Saya sudah melunasi biaya Operasi ibu kamu akan dioperasi besok Pagi,"
Elvaro menaikkan tatapan, Gio menampilkan raut liblisnya sekali lagi sebelum Pamit Pergi
" Saya tunggu janji kamu jangan Pernah mengkhianati saya,"
Kalimat itu menjadi akhir obrolan mereka. Seusai Pamit Pada Melati. Gio Pergi. Elvaro masih bergeming di tempatnya berdiri. Mengeluarkan Ponsel yang tiba-tiba bergetar Menandakan bahwa ada Pesan baru yang masuk Dari Starla. Elvaro mengembuskan napasnya gusar, menyakini Keputusannya sendiri sebelum kemudian balik badan menghampiri Melati
" Melati, Abang bisa minta tolong sama Melati, "
Melati menaikkan alis bingung,
" Apa Bang, "
" Malam ini Melati jagain ibu sendiri ya,"
Awalnya Melati mengernyit tidak mengerti. Lalu kemudian ia membuka mulutnya tiba-tiba sudah mengerti
" Pasti Abang mau kerjain tugas sekolah di rumah kan, " Tuding Melati sok tahu, " Nggak apa-apa kok, Bang, Lagian Melati udah gede, Abang nggak usah khawatir Melati Pasti bakalan jagain ibu,"
Elvaro tersenyum simpul Lalu mengusap-usap bahu Melati dengan Pelan, " kalau ada apa-apa kamu harus telepon Abang, "
" Siap Bang El,"
Elvaro Tersenyum simpul sekali lagi Kepada Melati " Abang Pergi ya, "
...••••...
" Buka aja El, Pintunya nggak dikunci kok,"
Elvaro membuka Pintu balkon kamar Starla hati-hati ke dalam kamar cewek itu memberinya izin Langsung saja menginjakkan kaki ke dalam kamar cewek itu
" Nggak usah bangun Starla, kamu tidur aja, " Ujar Elvaro mencegah Starla yang kelihatan hendak Duduk di kasurnya
__ADS_1
Starla merebahkan kepalanya kembali, lalu menyengir kuda
" Sorry banget repotin kamu malam-malam gini, "
Elvaro menggeser kursi agar mendekat ke samping kasur Starla. Meletakkan kantong obat dan bubur ayam yang baru saja ia beli
" Santai, " Ujar Elvaro hangat. Meletakkan Punggung tangannya di dahi cewek yang wajahnya agak Pucat
" Badan kamu panas. Nggak mau ke rumah sakit aja ?"
Starla menggeleng, " Ah, ini mah efeknya cuma sebentar aja kali, Paling habis dibawa minum obat nanti bakal sembuh sendiri kok, " kekeh Starla receh.
Elvaro hanya menatap Starla sembari tersenyum kecil
" Orangtua kamu nggak ada di rumah,"
Starla menggeleng lagi, " Papa di luar kota ada urusan kerja, kalau Mama ada di rumah sakit, sakitnya Mario tambah Parah soalnya, "
Cewek itu menurunkan tatapannya. Manik matanya berubah sendu
" Mario diam-diam berhenti minum obatnya. Gara-gara merasa bersalah sama aku,"
Melihat Perubahan raut wajah Starla, Elvaro spontan menatapnya luruh turut merasa bersalah untuk hal ini. Mengingat Pernyataan ayahnya kala itu Elvaro tahu bahwa Gio-lah datang membuat Mario harus menderita. Elvaro bahkan ingat saat dulu ia kecil, Gio Pernah memintanya untuk melakukan kriminal dengan mengundang kebakaran di sebuah Pabrik yang berakhir Elvaro tolak.
Seandainya Elvaro tahu ada Mario yang terjebak di dalam sana. Elvaro mungkin tidak akan membiarkan Gio yang Pada akhirnya melakukan tindakan kriminal itu sendiri. Elvaro Pasti akan mencegahnya. Sayangnya saat itu ia masih terlalu kecil untuk berpikir sejauh itu. karena itu Elvaro turut merasa bersalah atas ulah Gio Terlebih Pada Starla dan kembarannya.
Gadis dengan bibir Pucat itu menyengir Polos lalu menggeleng
" Aku nggak kasih tau, nanti Mama tambah khawatir, "
Starla menghela napasnya, " Aku udah biasa kayak gini. Kalau sakit Mario kambuh, Pasti aku juga ikutan nggak enak badan. Tapi aku nggak apa-apa Kok, ! Cengir Starla berusaha membuat Elvaro tidak khawatir
Elvaro mencelos, Memilih tersenyum simpul, sembari mengelus rambut gadis itu lembut,
" Makan dulu ya ? Habis itu minum obat," ujar cowok itu
Starla mengangguk setuju. Elvaro langsung saja mengangkat wadah bubut ayam dan membukanya. membantu Starla yang ingin duduk menyandar di kepala kasur, agar lebih mudah saat makan. Elvaro mulai menyuapi cewek itu dengan lembut
" Mario kena Penyakit paru-paru interstisial sejak kejadian kebakaran di gudang pabrik beberapa tahun yang lalu, " Cerita Starla setelah menghabiskan bubur di mulut
Elvaro hanya mendengarkan seraya sesekali menyuapi gadis itu
" Tapi dalang di balik kejadian itu udah dimasukkan Papa ke Penjara sih. Cuma Papa masih takut kejadian kayak gitu keulang lagi, makanya Papa protektif kebangetan,"
" Kamu masih marah sama orang itu,"
Starla spontan menatap Elvaro. Berdeham sejenak, " Kalau boleh jujur masih Meskipun Mario uda Maafin dan lupain itu sayangnya gue nggak,"
__ADS_1
" Gue masih marah sama orang itu. Dia yang udah bikin keluarga gue kayak gini,"
Elvaro terdiam. Makin merasa bersalah atas apa yang telah ayahnya Perbuat. kekhwatiran Niko benar. Pada akhirnya ayahnya masih saja berniat mengusik keluarga Starla. Di tambah lagi, kini gadisnya yang harus terlihat ke dalam Permainan yang ayahnya buat.
" Maaf,"
Starla mengernyit, " Maaf buat apa El,"
Elvaro menatap kosong, lalu menggeleng. Menyodorkan air minum karena Starla telah menghabiskan buburnya. Membuka bungkus obat tablet agar Starla lebih mudah meminumnya
Elvaro mengelus Puncak kepala Starla dengan lembut, seraya menatap gadisnya dengan tatapan teduh
" Makasih ya, aku nggak tau mau hubungi siapa lagi selain kamu," senyum Starla manis, " kamu nggak Pulang,"
Elvaro membantu Starla untuk baring kembali. Mengangkat selimut untuk menutupi tubuh Starla sampai ke leher, lalu tersenyum hangat
" Aku bakalan temani kamu. aku nggak bakal tinggalin kamu sendirian,"
Pipi Starla refleks blushing begitu mendengarnya. Tiba-tiba memikirkan hal yang tidak masuk akal
Elvaro tergelak Pelan, Seolah menebak isi Pikiran gadis itu,
" Nggak usah khawatir, aku bakalan tidur di karpet,'
Starla menyengir, " Nggak apa-apa,"
Elvaro menyampirkan anak rambut yang menggangu wajah cantik Starla," Nggak apa-apa. kamu istirahat aja Tidur sekarang,"
Starla mengangguk tersenyum senang sebelum kemudian memejamkan matanya Perlahan,
" Selamat tidur Elvaro,"
Cowok itu tersenyum tipis. Lalu mengelus kepala gadisnya Pelan membiarkan gadis itu tertidur lelap. Elvaro kemudian menatap wajah Starla sendu dengan dada yang sedari tadi terasa semakin sesak
Elvaro mengelus Pipi Starla lembut. memandang gadis itu lebih dekat kemudian. Tidak menyadari kalau matanya sudah mulai berkaca-kaca sekarang
" Aku Cinta kamu Starla, " lirih Elvaro Pelan, mencoba untuk tidak terisak Lalu mencium Puncak kepala Starla yang sudah tertidur untuk waktu yang agak lama. karena mulai besok, ia sudah tidak berhak untuk melihat gadis itu dengan jarak sedekat ini
...•••••...
Starla membuka matanya, takkala bunyi alarm terdengar. agak kaget begitu tidak mendapati siapa-siapa di atas karpet. Starla Refleks mendudukkan badannya. Mengembuskan napas lagi ketika mendapati Elvaro yang ternyata sedang berdiri di samping jendela. Ah tunggu, kenapa Starla harus merasa senang mendapati Elvaro ternyata belum Pergi ?
" Aku Pikir kamu udah Pulang buat siap-siap ke sekolah,"
" Gimana ? Masih demam, " Elvaro malah bertanya balik
Cowok itu berjalan mendekat, kemudian duduk di tepi kasur. Starla tersenyum dan bergerak agar bisa duduk juga di tepi kasur.
__ADS_1
" Udah, kok ! Nih buktinya udah gak Panas lagi, " Ujar Starla semringah seraya menyentuh dahinya sendiri