
Adira telah berada di depan ruangan Ceo dengan nampan di tangan. Perempuan ini menarik napas menyiapkan diri untuk bertemu dengan lelaki dingin itu.
Setelah merasa siap, Adira masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu. Aura mencekam terasa saat Adira melihat Elgi duduk di meja dengan perhatian fokus pada layar komputer.
“Mau apa kau!” sosor Elgi saat tersadar menyadari keberadaan Adira di dalam ruangan.
“Kenapa kau bisa berada di sini!” cecar Elgi tak suka, melihat kehadiran perempuan itu. Tidak di rumah di kantor pun ada. Selalu bertemu.
“Saya mengantarkan kopi untuk bapak,” balas Adira berjalan mendekat ke arah meja.
Elgi terdiam, ia baru sadar jika perempuan ini adalah office girl tentu saja bisa masuk ke ruangannya.
Adira meletakkan secangkir kopi di meja di hadapan Elgi.
“Anda butuh sesuatu lagi pak?” tanya Adira mencoba menunjukan sikap beramah tamah dengan pemilik perusahaan.
“Keluar!” balas Elgi singkat terdengar mengusir.
Tuh, kan. Menyebalkan.
Adira mencebikkan bibirnya, dengan perlakuan dingin Elgi. Uh, gemas sekali dia, benar-benar dingin seperti kulkas nungget.
“Saya permisi pak,” pamit Adira.
Tanpa menunggu lama Adira kemudian membungkukan tubuhnya tanda hormat lalu melangkah. Saat akan keluar Adira berpapasan dengan Karin si sekertaris yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Karin menatap lekat Adira. Sedangkan Adira menarik senyum sambil sedikit membungkuk.
__ADS_1
Adira mengerutkan alisnya binggung saat melihat tatapan Karin terus tertuju padanya seakan mengintimidasi.
Bayangan Adira telah menghilang. Karin berjalan mendekat ke arah Elgi yang sibuk dengan layar komputer.
“Satu jam lagi. Kau ada pertemuan dengan klien, setelah itu meninjau pembangunan proyek. Next makan malam dengan kolega,” jelas Karin dengan banyaknya agenda yang ia susun untuk sang bos.
“Apa kau tidak lihat mejaku sudah penuh dengan banyak laporan!” keluh Elgi menunjukan berkas yang bertumpuk dengan ekor mata. Begitu banyak pekerjaan yang menunggu di jamah oleh Elgi. Dan itu masih akan di tambah lagi.
“Kau ingin aku tidur di kantor ini!” sinis Elgi.
“Semua itu agenda penting yang tidak bisa di lewatkan,” kekeh Karin.
Elgi mendengkus, mengalihkan netranya pada Karin.
“Karin, ada apa denganmu sebelumnya kau sangat santai soal pekerjaan, kenapa sekarang kau bekerja seolah tidak ingin pulang,” cibir Elgi sembari melipat tangan di dada.
“Sudahlah, siapkan dirimu. Satu jam lagi kau akan rapat dengan klien.” Hanya itu balasan dari Karin, seolah tidak nyaman dengan topik pembicaraan ini.
**
Dawai-dawai malam mulai menyambut, Adira sedang duduk di ruang tengah sambil menatap layar tv. Sebenarnya kelopak matanya telah di selimuti kantuk dia lelah, namun dia tidak bisa tidur dengan tenang. Ia akan terus gelisah jika seluruh penghuni rumah belum berada di rumah. Adira sudah terbiasa menjadi penjaga pintu.
Di temani camilan dan minuman sari kacang hijau Adira terus menunggu kedatangan penghuni rumah terakhir.
Sementara itu Elgi baru saja kembali ke rumah larut malam. Ah, jadwal yang di atur oleh Karin benar-benar padat hingga ia baru bisa pulang ke rumah di jam hampir 12 malam karena melakukan perjamuan bisnis.
Elgi masuk ke dalam rumah menyeret langkah. Tubuhnya terasa lelah.
__ADS_1
Langkah Elgi terhenti. Kening Elgi mengerut dalam, melihat Adira masih belum masuk ke dalam kamar dan malah berada di ruang tengah dengan tv menyala. Di hadapannya terdapat beberapa camilan dan minuman kotak berwarna hijau di meja.
“Anda sudah kembali pak,” sambut Adira dengan senyum lembut. Akhirnya penghuni terakhir pulang.
“Untuk apa kau masih duduk di sana?” sosor Elgi seperti biasa memasang wajah datar.
“Anda butuh sesuatu?” tanya Adira. Ya, selayaknya orang yang baru pulang. Adira memberikan tawaran.
“Kau menungguku!” tebak Elgi.
Tatapan Elgi telah berubah tak suka. Ia merasa Adira sedang mencoba mencari perhatiannya.
“Jangan bersikap sok perhatian padaku. Kita bukan suami-istri. Pernikahan ini hanya status. Apa-pun yang kau lakukan tidak akan merubah apa-pun,” ketus Elgi Menebak perilaku Adira yang belum tidur di jam larut. Bagai seorang istri yang menunggu suaminya.
“Baiklah, saya akan ke kamar! Selamat malam,” sahut Adira santai dengan senyuman.
Setelahnya berjalan melalui Elgi.
“Ah. Akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak,” batin Adira berdecak hore.
Elgi menatap kepergian Adira. Yang pergi begitu saja meninggalkannya. Seolah tidak perduli dengan sikap ketus yang baru saja Elgi tunjukan.
Elgi mendengkus
“Apa-pun yang kau lakukan untuk menarik perhatianku. Aku tidak akan tergoda, aku sama sekali tidak akan tertarik padamu,” gumam Elgi dengan seringai jahat di wajahnya. Ia sangat yakin hatinya tidak akan jatuh pada perempuan seperti Adira.
Like
__ADS_1
Coment
Ih pd banget dah nih, kulkas nugget.