
Malam telah menyambut, angka jarum jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Adira berada di ruang keluarga sedang duduk santai menonton siaran televisi. Sambil menikmati beberapa bungkus camilan. Tidak lupa minuman sari kacang hijau yang menjadi kesukaan Adira.
Sebenarnya Adira sudah ingin beristirahat setelah menjalani aktifitas melelahkan seharian sebagai office girl. Namun, rasanya tak pantas ia bersantai. Adira kan sekarang sudah menjadi seorang istri, Dia harus menunggu kedatangan sang suami.
Derap langkah kaki membuat perhatian Adira teralihkan. Perempuan ini terjengkit kaget lalu seketika berdiri saat melihat lelaki tampan berkemeja putih dengan lengan tangan di gulung telah pulang ke rumah.
Irama jantung Adira berdetak dua kali lebih cepat saat Elgi berjalan mendekatinya sambil menatap dengan tatapan tajam seolah menyiratkan permusuhan.
“Aku sudah tahu semua tentang data dirimu. Kehidupan dan latar belakang pendidikanmu!” papar Elgi langsung pada inti masalah.
Sedangkan Adira tertunduk lemah pertemuan mereka tadi di kantor membuatnya telah tahu siapa Elgi dan merasa kecil di depan lelaki itu. Ya dia og sedangkan di hadapannya Ceo.
“Seperti yang kau lihat tadi. Aku adalah pemimpin perusahaan!” ucap Elgi dengan bangga meninggikan posisinya.
“Lihatlah perbedaan kita sangat jauh. Aku tidak tahu bagaimana office girl sepertimu membujuk papaku untuk memaksaku menikah denganmu,” tuduh Elgi.
Adira mengangkat pandangannya.
“Saya tidak melakukan apa-pun!” sangkal Adira. Dia kan juga baru bertemu dengan Wisnu. Mengapa dia di tuduh bermain intrik.
__ADS_1
“Aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini!” sosor Elgi memasang wajah dingin.
“Saya mengerti!” balas Adira. Bukankah dia di posisi yang sama dengan Elgi terpaksa menikah dengan orang yang tidak di kenali.
“Baiklah jika kau memang mengerti tentang pernikahan ini. Papaku pasti tidak terima jika kita langsung berpisah. Karena itu pernikahan ini hanya akan berjalan selama satu tahun,” ucap Elgi lagi mendominasi pembicaraan membuat Adira tak bisa berkata. Aura pemimpin tak terbantahkan begitu terasa pada Elgi.
“Satu tahun!” ulang Adira pernikahan ini punya jangka waktu.
“Iya. Setelah itu kita akan mengurus perpisahan. Kita akan mengatakan pada papaku jika kita tidak cocok. Papaku pasti mengerti,” jelas Elgi.
Adira diam mengamati penjelasan Elgi.
Ya ampun, Bukan hubungan suami dan istri tapi atasan dan bawahan. Beginilah jika pernikahan tidak di hendaki.
"Saya mengerti pak,” balas Adira mengiyakan. Akhirnya dia telah punya panggilan yang cocok untuk lelaki itu. Ya. pak. Diakan hanya anak buah di kantor Elgi.
“Bagus,” balas Elgi dengan seringai mengerikan di wajahnya.
“Oh iya kamar yang kau tempati sekarang itu adalah kamarku. Cepat kemasi barang-barangmu dan pindah ke kamar yang ada di lantai bawah. jangan berharap kita akan tidur bersama,” Usir Elgi.
__ADS_1
Tadinya Elgi ingin belajar mencoba menerima pernikahan ini dan perempuan pilihan papanya, namun melihat latar belakang Adira keinginan itu sirna. Dia tegas menolak pernikahan ini.
Setelah selesai memberi aturan dan tekanan pada Adira. Elgi hendak berlalu, akan tetapi baru beberapa langkah Elgi terhenti, tubuhnya berbalik kembali menatap Adira.
“Dan satu lagi rahasia pernikahan ini jangan sampai ada yang tahu. Tutup mulutmu rapat-rapat. Jika sampai pernikahan ini terbongkar. Kau akan mendapatkan masalah. Termaksud pekerjaanmu,” ancam Elgi.
Pecat
Oh tidak bisa, Ini sumber kehidupan Adira.
“Bapak tenang saja saya tidak akan bicara apa-pun tentang pernikahan ini,” sahut Adira.
“Baguslah,” Ucap Elgi setelahnya melanjutkan langkah meninggalkan Adira.
Adira mengepalkan tangannya erat. Ya ampun. Andai dia bukan bos Adira. Mode galak Adira pasti sudah akan bangkit. Tapi dia harus menahan diri jika ingin tetap bertahan di dalam pekerjaan. Ingat masih ada 2 adik pembuat onar yang harus ia tanggung.
Sabar Adira ...
Masih sya pantau nih
__ADS_1