
“Kenapa Pak Elgi menciumku?”
“Pak Elgi kan tidak ingin di sentuh. Selalu meminta menjaga jarak. Dia selalu kesal jika melihatku.”
Adira terus bermonolog sendiri akan kejadian semalam yang membuatnya bertanya-tanya dan tak habis pikir akan sikap kulkas nugget yang tiba-tiba menciumnya. Sungguh rasanya membuat jantungan.
“Apa kakinya tersandung malam itu, dia jatuh, seperti adegan di tv,” batin Adira menarik kesimpulan.
Ya, hanya itu yang masuk akal untuk Adira, lelaki dingin itu pasti tidak akan sengaja.
“Tapi jika tersandung kenapa dia menciumku lama.” Adira kembali mengingat bagaimana Elgi menyesap lembut bibirnya bukan hanya menempel.
Ah, sial. Bak ada malaikat dan setan berdialog di sisi Adira membuat perempuan itu semakin pusing. Ada apa ini?
“Kakak ipar kau melamun!” suara sapaan membelah lamunan membuat Adira tersadar kembali pada dunianya.
Ya. Adira sedang berada di ruang hrd, berdiri di depan mesin foto copy karena mendapatkan tugas dari seorang pegawai kantor untuk mencetak beberapa dokumen.
Sejak tadi pikirannya bermonolog dengan apa yang terjadi antara dia dan Elgi semalam hingga tidak menyadari dia sedang mengerjakan tugas sebagai OG.
__ADS_1
“Apa yang kakak ipar pikirkan?” tanya Fuji.
“Tidak ada,” jawab Adira cepat kepada perempuan ceria itu.
Fuji pun mengendikan bahu acuh. Tak mau mengambil pusing.
“Kakak ipar di cariin sama kak Sari tuh,'" ujar Fuji.
“Ada apa dia mencariku?” tanya Adira malas sambil tangannya membolak balik kertas di mesin foto copy. Malas sekali jika berurusan dengan perempuan yang suka berbuat seenaknya itu.
“Kakak ipar di suruh membawakan minuman dan camilan ke ruangan pak CEO,” ujar Fuji.
Adira terkesiap mendengar tugas yang ia dapatkan hingga terhenti sejenak dari kegiatannya.
“Aku!” ulangnya seakan tak percaya.
“Iya, kakak ipar,” tekan Fuji dengan nada mendayu.
Adira berdecak sebal. Ya ampun, kenapa harus ke ruangan itu, dari sekian banyak OG kenapa harus dia.
__ADS_1
“Kau saja bukankah selama aku tidak masuk, kau yang menggantikanku,” tolak Adira dengan keras.
“Aku juga tidak bisa kakak ipar, aku juga ada tugas darinya mengurus ruang rapat, kata kak Sari, harus kakak ipar yang ke ruangan CEO,” tekan Fuji.
Oh ya ampun bagaimana ini. Bertemu dengan lelaki dingin itu. Astaga, kembali bayangan ciuman semalam mengudara di atas kepala. Ah, dia belum siap bertemu dengan Elgi setelah apa yang terjadi. Adira bahkan pergi dari rumah pagi-pagi sekali demi menghindari bertemu dengan Elgi karena kejadian semalam pasti canggung sekali.
Adira terdiam kepalanya berputar cepat mencari cara agar dia tidak bertemu dengan Elgi.
“Fuji aku sangat sibuk. Lebih baik kau saja yang ke ruangan CEO, Oh iya katakan juga pada kak Sari, jika aku tidak ada, sedang keluar untuk membeli pesanan makan siang untuk karyawan,” dusta Adira sambil merapikan kertas-kertas hasil foto copy segera ingin beranjak dari tempat itu.
“Tapi, kakak ipar, kata kak Sari ....”
“Sudah lakukan saja. Kalau kau menolak jangan panggil aku kakak ipar lagi,” ancam Adira dengan mata di buat melotot galak. Dan benar saja wajah ceria Fuji surut. Terlihat cemas.
“Ya, kakak ipar jangan gitu dong. Iya baiklah. Aku akan mengatakan yang kakak ipar katakan,” ucap Fuji akur.
Adira kemudian berlalu pergi meninggalkan Fuji untuk menghindari perintah. Lebih baik dia mencari aman dari pada bertemu dengan lelaki dingin itu.
Like
__ADS_1
Coment ...