
Di kantor seperti biasa Adira bekerja menjalankan tugasnya sebagai Og. Kini dia telah membawa nampan, yang di atasnya tersuguh secangkir kopi.
Sejak tadi lelaki ini, meminta Adira untuk membawa kopi ke ruangannya.
Adira masuk ke dalam ruangan manajer keuangan setelah mengetuk pintu.
Lelaki itu menghentikan kegiatannya menatap layar sejenak saat tahu Adira telah datang bersama dengan kopi pesananya. Senyum mengembang menghiasi wajah tampan itu. Menyambut kehadiran Adira.
“Pagi pak. Saya membawakan kopi untuk bapak,” ucap Adira berjalan mendekat ke arah meja.
Raga menatap lekat, setiap gerakan Adira yang berjalan mendekat lalu meletakkan cangkir di meja kerja.
“Silakan pak,” ucap Adira saat secangkir kopi telah berada di meja.
“Terima kasih,” balas Raga tanpa melepaskan tatapannya pada wajah cantik Adira. Seakan terpukau.
“Saya permisi pak,” pamit Adira.
Pamit
Raga seketika tersentak. Perempuan ini akan keluar dari ruangannya.
“Tunggu,” tahan Raga.
Adira yang akan beranjak, terhenti, mendekap nampan.
“Ada lagi pak?” tanya Adira.
“Tolong kau carikan map dokumen berwarna biru di lemari berkas,” ujar Raga sembari netra menatap ke arah lemari berkas.
“Baik pak,” balas Adira patuh, berjalan ke arah lemari.
Raga menarik senyum. Arah tatapan Raga pun menuju Adira yang sibuk mencari berkas. Lelaki itu menopang dagu menatap Adira sibuk membuka laci lemari.
Tidak membutuhkan waktu yang lama Adira telah menemukan apa yang di perintahkan Raga. Perempuan itu pun berjalan mendekat ke arah Raga dengan map laporan.
“Ini pak,” ucap Adira sambil menyodorkan laporan di hadapan Raga yang terlihat sedang termenung sambil menatapnya.
“Pak Raga!” panggil Adira saat melihat pemuda itu hanya diam saja.
“Pak Raga!”
“Ha.” Raga tersentak.
“Ini Laporannya.”
Raga menghela napas berat, secepat itu Adira menemukannya.
“Oh sudah ketemu,” balas Raga.
“Saya permisi pak,” pamit Adira hendak keluar dari ruangan karena merasa tak ada lagi yang harus ia kerjakan.
__ADS_1
“Tunggu!” tahan Raga. Dengan cepat tangannya meraih map laporan di meja.
“Ada lagi pak?” tanya Adira.
“Tolong kau ke ruangan pak Elgi antarkan berkas ini,” ucap Raga. Hanya itu yang terpikir saat ini.
Adira tercengung dengan perintah yang di terima.
Ruangan pak Elgi.
Ah, tempat di mana lelaki dingin itu. Kenapa dia harus mendapatkan tugas seperti itu.
"Saya pak?" tanya Adira seakan tak percaya.
"Iya tolong kau antarkan ke ruangan pak Elgi setelah itu kembali kemari," ucap Raga.
Adira menghela napas berat, menjalankan tugas dari Raga.
***
Adira telah berada di depan ruangan pemimpin perusahaan dengan berkas laporan. Perempuan cantik itu menarik napas panjang mencoba mengumpulkan kekuatan. Entah perlakuan dingin apa yang akan di terima jika berhadapan dengan lelaki dingin itu.
Ah, kenapa dia harus mendapatkan tugas ke ruangan neraka ini gerutu Adira di dalam hati.
Setelah menyiapkan diri Adira masuk ke dalam ruangan.
“Permisi pak,” ucap Adira setelah masuk ke dalam. Ia melihat Elgi sedang sibuk dengan layar komputernya.
“Saya di minta mengantarkan laporan oleh pak Raga,” ucap Adira menunjukan laporan di tangan.
Elgi mendengkus, menggerutu dalam hati karena Raga mengutus perempuan yang ingin dia hindari ke ruangannya untuk mengantar laporan.
“Letakkan saja di meja sana!” ketus Elgi dingin tak ingin Adira semakin mendekat ke arahnya.
Adira yang tadinya melangkah mendekat ke meja kerja Elgi. Terhenti mendengar perintah lelaki itu.
Elgi benar-benar menjaga jarak dengan Adira.
“Baik pak,” ucap Adira sedikit membungkuk meletakkan berkas di meja sofa.
“Keluarlah!” usir Elgi tanpa mengalihkan tatapannya dari layar komputernya.
Tuh, kan Adira mendapatkan sikap dingin dari kulkas nugget itu.
Adira pun keluar dari ruangan dengan napas lega. Rasanya dia baru saja berjuang dari medan perang. Kini Adira pun kembali ke ruangan Raga untuk melapor jika tugasnya telah selesai.
***
Adira kini telah berada di ruangan Raga, melaporkan jika tugasnya telah selesai. Akan tetapi Perempuan itu tercengang dengan mulut terbuka lebar saat dia melapor dan kembali mendapatkan tugas.
“Maaf Adira, ternyata masih ada berkas yang tertinggal. Tolong kau kembali ke ruangan pak Elgi mengantarkan berkas ini,” ucap Raga.
__ADS_1
“Maaf menyusahkanmu, sebagai gantinya bagaimana jika aku traktir makan siang,” lanjut Raga dengan senyum harap.
“Tidak, perlu pak saya membawa bekal dari rumah,” tolaknya lemah, bahkan kata traktir tak dapat membuatnya bersemangat. Dan memang benar jatah sarapan yang tadi pagi di siapkan Adira untuk Elgi namun di tolak, dia bawa ke kantor.
Raut kecewa terlihat di wajah Raga mendengar penolakan Adira.
Dengan langkah lemah Adira meninggalkan Raga dengan map laporan di tangan. Ya ampun. Kembali ke ruangan mengerikan itu.
***
Elgi memasang wajah kesal masuk ke dalam ruangan Raga. Karena sejak tadi Adira mondar-mandir ke ruangan Elgi karena perintah Raga. Ada saja yang dilakukan oleh perempuan itu mulai mengatar berkas, hingga tanda tangan. Kini sudah cukup Elgi jengah.
“Hei kenapa kau terus menyuruh og itu keruanganku!” omel Elgi duduk di sofa panjang di ruangan Raga dengan menyilang kaki.
Raga beranjak dari meja kerjanya lalu duduk di samping Elgi.
“Memangnya kenapa?
“Apa dia membuat kesalahan? Aku rasa tidak mungkin. Dia sangat pintar, teliti dan cekatan. Dia tidak pernah melakukan kesalahan sekali pun,” jelas Raga.
Mendengar itu Elgi memutar bola mata malas.
“Sepertinya kau sangat mengenalnya!” sinis Elgi melipat tangan di dada.
“Iya, aku sudah mengenalnya lama,” balas Raga.
“Aku mengenalnya dari Amira adikku. Mereka teman satu sekolah,” tambah Raga lagi.
“Sekolah,” ulang Elgi dengan alis berkerut, merasa aneh dengan penjelasan Raga bukankah data yang ia dapat perempuan itu putus sekolah.
Sedangkan adik Raga selalu bersekolah di tempat yang terbaik.
“Iya, dia teman sekolah Amira di Smp. Dia sangat cerdas dan berprestasi. Bahkan juara umum,” jelas Raga semangat.
“Cerdas!” ulang Elgi sangsi seakan tak percaya dengan ucapan Raga.
“Tapi, sangat di sayangkan di berhenti di menengah pertama. Entah mengapa dia tidak melanjutkan pendidikannya? Padahal dia sangat cerdas banyak sekolah dan yayasan menawarkan beasiswa padanya. Tapi dia menolaknya. Dia kekeh tidak mau melanjutkan pendidikannya,” ungkap Raga.
“Apa alasannya menolak?” tanya Elgi sedikit penasaran.
“Kata Amira dia punya masalah keluarga,” jelas Raga.
“Masalah keluarga,” batin Elgi.
Elgi terdiam tanpa kata. Tak habis pikir. Masalah keluarga? Masalah besar apa yang di hadapi Adira hingga rela mengorbankan masa depannya.
***
Sorry, niatnya up malam. Tapi lagi buntu banget .... ini aja udah dari semalam bengong Cuma dapat segini.
Ini juga gimana gitu adegannya. Sya bingung. yang penting up date ya ...
__ADS_1