Diam-Diam Suamiku Ceo

Diam-Diam Suamiku Ceo
Rumah Sakit


__ADS_3

Elgi membuka kelopak mata sayu. Netranya pun mengitari ruangan di mana dia berada. Melihat jarum infus terpasang di tangannya.


“Anda sudah bangun!”


Pandangan Elgi bergeser, terisi oleh perempuan cantik dengan rambut di cepol, berdiri di samping brankar.


Elgi terdiam mengumpulkan kilasan ingatan. Bagaimana dia bisa berada di ruangan ini. Hingga ia mengingat Adira yang membawa paksa tubuh lemahnya ke rumah sakit.


“Saya akan memanggil dokter,” ucap Adira. Setelahnya keluar ruangan meninggalkan Elgi.


Tak beberapa lama. Elgi dan Dokter telah bicara.


“Anda terkena masalah pencernaan. Anda teridentifikasi keracunan makanan yang terkontaminasi virus. Dan tubuh Anda lemah karena mengalami dehidrasi akut,” jelas dokter.


Keracunan makanan.


Otak Elgi berpikir keras, tentang makanan apa yang telah membuatnya dalam kondisi seperti ini. Dan akhirnya ia menarik kesimpulan jika Suhsi yang di sajikan oleh Og bertubuh tambun, pengganti Adira adalah penyebab semua ini. Uhg, ternyata Og itu tidak becus. Decak Elgi dalam hati.


“Sushi itu. Pantas saja. rasanya berbeda," batin Elgi.


Setelah menjelaskan tentang keadaan Elgi. Dokter itu pun pamit keluar.


Adira pun berjalan mendekat ke arah brankar. Di mana Elgi sedang dalam posisi duduk bersandar di tumpukan bantal.


“Apa Anda sudah merasa baikkan?” tanya Adira berdiri di samping ranjang rumah sakit.


“Emm,” balas Elgi dengan deheman. Pandangannya menghindari Adira. Masih tak terima jika perempuan ini telah membantunya.


“Anda belum makan. Sekarang Anda harus makan,” ucap Adira kini telah berganti posisi duduk di kursi di samping ranjang rumah sakit.


“Tidak perlu. Pergilah!” usir Elgi.


Walau lemah, sikap dinginnya masih saja menyebalkan.

__ADS_1


Tak peduli dengan reaksi Elgi. Tangan Adira kemudian beralih meraih tempat makanan pasien yang berada di atas lemari bedside cabinet.


“Anda harus makan, setelah itu minum obat,” ucap Adira.


“Aku tidak lapar!” tolak Elgi memasang wajah datar. Tak suka dengan perhatian dari Adira.


“Anda harus makan biar cepat pulih. Dan punya tenaga,” desak Adira.


Elgi mendesakan napas di udara, setelahnya berdecak sebal, perempuan ini terus saja mendesaknya.


“Baiklah, berikan padaku!” ucap Elgi pasrah, mengulur tangan kanan yang terpasang selang infus.


Senyum kemenangan terbit dari wajah Adira, kulkas dingin ini akhirnya menurutinya. Menghadapi Elgi memang sedikit harus memaksa.


Adira lalu tertunduk menatap menu makanan, kemudian mulai mengisi sendok dengan bubur dan lauk.


“Saya akan menyuapi Anda!” ucap Adira kini telah menggantung sendok berisi makanan di depan wajah Elgi. Adira mengambil inisiatif karena tubuh Elgi masih lemah di tambah lagi selang infus terpasang di tangan lelaki itu.


Elgi tersentak mendengar ucapan Adira.


Elgi menatap tak percaya.


“Aku hanya salah makan, bukan lumpuh. Tanganku masih bergerak dengan baik,” sinis Elgi menggerakkan tangan kanan yang terpasang selang infus.


“Sudah, buka mulut Anda!” desak Adira tak ingin membuang waktu. Sendok kini semakin terdorong ke mulut Elgi seakan menjejalinya . Membuat Elgi tak punya pilihan lain. Ugh, andi dia memiliki tenaga dia pasti tidak akan terdesak seperti ini.


“Pemaksa,” batin Elgi. Mau tak mau membuka mulutnya menerima suapan Adira.


Yess. Sorak hore dari Adira di dalam hati, lagi-lagi dia menang. Dia sudah mendapatkan cara untuk menghadapi Elgi. Adira kini bak berada dalam mode sebagai emak-emak, jiwa keibuannya bangkit. Ia seperti sedang merawat adiknya. Bagi Adira yang penting Elgi segera pulih. Kesehatan adalah yang utama.


Suap demi suap masuk ke dalam mulut Elgi.


“Sudah cukup,” tolak Elgi membuang pandangannya tanda sudah tak ingin lagi membuka mulut.

__ADS_1


Karena Elgi telah berhasil menghabiskan setengah isi piring. Adira pun tak memaksa Elgi lagi. Ia pun menaruh kembali tempat makan ke atas lemari cabinet.


Kini Adira beralih pada beberapa butir obat untuk Elgi.


“Buka mulut Anda,” ucap Adira. Lagi-lagi dia akan memasukkan obat ke dalam mulut Elgi.


“Berikan padaku,” ucap Elgi.


“Sudah, buka mulut Anda,” desak Adira lagi.


Adira memang sangat pandai merawat orang sakit. Terbiasa hidup sebagai pengganti orang tua dari dua adik membuat Adira tahu apa yang harus ia lakukan.


“Berikan padaku,” pinta Elgi tak ingin lagi-lagi mendapatkan perhatian oleh Adira.


“Sudah buka mulut Anda,” desak Adira.


Elgi berdecak sebal setelahnya membuka mulut. Lagi-lagi Elgi pasrah dengan keinginan Adira.


Uhg, ya ampun. Perempuan ini terus memaksanya.


Setelah membantu Elgi meneguk gelas air putih. Dan rangkaian minum obat selesai.


“Pulanglah. Kau tidak perlu melakukan ini semua, aku bisa mengurus diriku sendiri,” usir Elgi.


Adira hanya diam tak membalas ucapan Elgi. Adira kemudian semakin mendekat ke arah Elgi. Tangan perempuan itu terulur ke arah pinggang Elgi. Kali ini Elgi terdiam, tidak mengucapkan kata pedas mau pun menepis perlakuan Adira yang hendak menyentuh tubuhnya.


Adira meraih bantal di belakang Elgi, kemudian mengatur posisi yang pas. Setelahnya mendorong tubuh Elgi agar berbaring membantunya berbaring lurus di kasur. Tidak seperti biasa Elgi membatu saat Adira menyentuhnya.


“Anda istirahatlah. Agar Anda cepat pulih,” ujar Adira.


Tubuh Adira semakin menempel dengan Elgi. Kini Adira berada di berada di atas kepala Elgi, sedang menarik selimut untuk menutupi tubuh Elgi. Elgi hanya termenung diam, Netranya menatap lurus ke wajah Adira.


Ahh. Perempuan ini merawatnya!

__ADS_1


Like


Coment


__ADS_2